Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Murid Aneh & Kabar Buruk Dari Ibukota Provinsi
---
Pagi hari ke-35 Kedai Teh buka, Kota Batu Hitam resmi dinobatkan warga sebagai kota terbersih di wilayah timur.
Bukan karena sihir pembersih tingkat langit. Tapi karena ada 4 tim kebersihan yang bersaing tidak sehat dalam hal kebersihan.
Tim Klan Xiao menyapu jalan utama sampai batu-batunya mengkilap bisa buat ngaca.
Tim Klan Su menyapu sambil menanam bunga obat di pinggir jalan, jadi jalan wangi.
Tim Klan Giok Putih Utama yang dipimpin Su Lingtian, menyapu dengan teknik pedang, jadi sampahnya terpotong halus-halus.
Tim Selokan yang dipimpin Si Kecil Hitam, iblis tikus, membersihkan selokan sampai air selokan bisa diminum - walaupun tidak ada yang berani minum.
Mo Sha, sebagai Kepala Keamanan Kebersihan, kini punya seragam baru: celemek besar bertuliskan _KEPALA KEBERSIHAN KLAN KEDAI TEH_ yang dijahitkan Ling'er. Dia patroli pagi-pagi dengan sapu raksasa, membuat warga yang buang sampah sembarangan langsung memungutnya kembali dengan berbisik "maaf, Pak Mo".
Di dalam kedai, suasana juga berubah. Kedai Teh yang dulu hanya punya 4 meja, kini punya 10 meja karena Nenek Air Tenang menyumbang meja-meja dari tenda mewahnya. Pelanggan tidak lagi hanya warga kota, tapi juga pedagang dari kota lain yang dengar cerita kota terbersih dan teh yang bisa bikin iblis tikus insaf.
Pagi itu, saat Xiao Chen sedang mengajari 4 murid anehnya cara membedakan daun teh yang masih muda dan yang sudah tua - pelajaran yang bahkan Tetua Alkimia pun tidak pernah ajar - burung elang pos besar datang dari langit.
Bukan burung pos biasa. Burung elang ini berwarna emas, membawa segel resmi Klan Giok Putih Utama tingkat Ibukota Provinsi, 2000 kilometer dari sini. Burung itu mendarat bukan di depan Klan Su, tapi langsung di depan Kedai Teh, karena di kakinya ada surat yang ditujukan kepada: _Tuan Muda Su Lingtian, Pemimpin Tim Kebersihan Magang Kota Batu Hitam._
Su Lingtian yang sedang menyapu dengan sangat pelan di alun-alun, melihat elang emas itu, wajahnya langsung pucat. Dia tahu, elang emas hanya dipakai untuk berita sangat penting atau sangat buruk dari Klan Utama.
Dia berlari - masih dengan sapunya - ke depan kedai, mengambil surat itu dengan tangan gemetar. Mo Sha mengizinkannya masuk ke dalam kedai karena surat itu resmi.
Di dalam kedai, semua Tetua 7 Klan Besar yang sedang minum teh pagi berkumpul, karena mereka tahu lambang elang emas.
Su Lingtian membuka surat itu, membacanya keras agar semua dengar, karena itu peraturan Klan Utama: surat resmi harus dibaca keras di depan saksi.
_"Untuk Tuan Muda Su Lingtian dan Kepala Cabang Su Batian. Kabar buruk dari Ibukota Provinsi. 3 hari lalu, Jurang Iblis Kecil di Gunung Giok Putih - jurang kecil yang disegel 2000 tahun oleh Leluhur Klan Utama - tiba-tiba meledak segelnya, tanpa alasan. Gelombang iblis keluar, 2 desa hilang. Kami sudah kirim 2 Tetua Nascent Soul untuk menahan, tapi mereka terluka parah. Klan Utama memohon bantuan 7 Klan Besar wilayah timur. Jika tidak dibantu, Ibukota Provinsi akan jatuh dalam 10 hari. Dan... satu lagi... menurut pengintai kami, meledaknya segel kecil ini terjadi tepat 10 hari setelah meledaknya segel besar Jurang Iblis di Pegunungan Tujuh Pedang. Kami curiga ada yang sengaja meledakkan segel-segel ini dari dalam, untuk mencari sesuatu."_
Surat selesai dibaca. Alun-alun yang tadi ramai suara sapu, kini sunyi senyap.
Nenek Air Tenang menjatuhkan cangkirnya. _Prang!_ Tapi kali ini Mo Sha tidak menegur berisik, karena dia juga terkejut.
"Jurang Iblis Kecil meledak juga?!" bisik Tetua Api Merah. "Bukankah segel-segel itu dibuat oleh orang yang sama 5000 tahun lalu? Pendiri Klan Xiao?"
Semua mata tertuju pada Xiao Chen yang masih duduk di kursi bambunya, menyeruput teh, seolah surat itu bukan tentang dia.
Xiao Tianlong yang sedang menyapu di luar, mendengar itu, masuk dengan wajah pucat. "Benar... Pendiri Klan Xiao, Xiao Potian, 5000 tahun lalu menyegel 1 Jurang Besar dan 7 Jurang Kecil di seluruh benua. Jurang Besar dijaga Klan Xiao, Jurang Kecil dijaga 7 Klan Besar lain termasuk Klan Giok Putih Utama. Jika Jurang Besar meledak, Jurang Kecil juga akan meledak karena resonansi... tapi seharusnya butuh 100 tahun, bukan 10 hari! Kecuali... kecuali ada yang memicu dari dalam!"
Mo Sha yang mendengar kata "memicu dari dalam", tiba-tiba berdiri, tanduknya menyala merah.
"Bos Teh! Aku ingat! Di dasar Jurang Besar, ada ruangan terlarang yang bahkan aku tidak boleh masuk! Ruangan itu dijaga oleh Penjaga sebelum Bos Teh! Penjaga yang mati 1000 tahun lalu sebelum Bos Teh datang! Di dalam ruangan itu ada... ada telur!"
Kata "telur" membuat Ling'er yang sedang menggendong toples teh, merinding. Mahkota uap di atas kepalanya bergetar hebat.
Xiao Chen yang tadinya diam, akhirnya meletakkan cangkirnya. Dia menatap Mo Sha.
"Telur apa?"
Mo Sha mencoba mengingat, kepalanya yang besar memegang dahi. "Telur hitam... besar... seukuran rumah... dulu Penjaga tua itu bilang... telur itu adalah... kunci dari semua segel. Jika telur itu menetas, semua segel akan hancur bersamaan. Makanya Penjaga tua itu mati menjaganya, lalu Bos Teh yang gantikan. Tapi aku tidak pernah lihat telur itu menetas, selama 1000 tahun Bos Teh jaga, telur itu diam saja!"
Xiao Chen terdiam lama. Dia menjaga jurang 1000 tahun, tapi dia tidak pernah masuk ke ruangan terlarang itu karena Penjaga tua sebelum dia berpesan: _Jangan pernah masuk ke ruangan telur, apapun yang terjadi, bahkan jika kau mati, jangan masuk. Karena jika kau masuk, kau akan membangunkan yang di dalam._
Selama 1000 tahun, Xiao Chen patuh. Dia tidak masuk. Dia hanya menjaga di luar.
Tapi 35 hari lalu, saat dia pergi dan segel hancur, apakah... telur itu juga hancur? Atau... menetas?
Su Qing'er yang melihat wajah Bos Teh yang biasanya datar kini sedikit berkerut, bertanya pelan, "Bos Teh... telur itu... apakah masih ada di jurang?"
Xiao Chen berdiri. Dia mengambil pedang kayu pengaduk tehnya yang bersinar keemasan hitam.
"Aku harus kembali ke jurang. Sekali lagi."
Semua Tetua langsung berdiri.
"Tuan Bos Teh! Kami ikut!" kata Nenek Air Tenang.
"Kami juga!" kata Su Batian.
Ling'er langsung mengangkat tangan, mahkota uapnya menyala lebih terang. "Aku juga ikut, Bos Teh! Aku bisa merasakan Yin! Kalau ada telur iblis, aku bisa rasakan!"
Su Qing'er juga mengangguk, walaupun kakinya baru sembuh. "Aku juga! Aku bisa bantu bawa teh!"
Xiao Chen menatap 4 murid anehnya: Ling'er dengan Mahkota Yin, Su Qing'er dengan akar murni, Mo Sha Raja Iblis, dan Si Kecil Hitam yang baru saja muncul dari selokan dengan sapu lidi, mendengar kata jurang dan langsung bersembunyi di balik ember karena takut.
"Kalian semua tidak ikut," kata Xiao Chen tegas. "Kedai tetap buka. Kota ini baru bersih, jangan tinggalkan."
Dia menatap Mo Sha. "Mo Sha, kau ikut aku. Kau tahu jalan ke ruangan telur."
Mo Sha langsung berlutut, memukul dadanya. "Siap, Bos Teh! Mo Sha akan buka jalan, walaupun harus lawan yang di dalam telur!"
Xiao Chen menatap Ling'er dan Su Qing'er yang wajahnya cemberut karena tidak diajak.
"Ling'er, tugasmu selama aku pergi: jaga mahkotamu, jangan sampai meledak. Minum teh darah yang kemarin masih ada di toples kedua dari kiri, 1 cangkir sehari, jangan lebih. Qing'er, tugasmu: ajari Ling'er cara menghitung kembalian sampai 1000 koin tanpa salah, dan jaga Si Kecil Hitam jangan sampai dimakan Tetua Api Merah karena dikira tikus panggang."
Tetua Api Merah yang disebut, langsung batuk dan berbisik, "Saya tidak makan tikus, Tuan Bos Teh, saya vegetarian sekarang, sejak belajar menyeduh teh."
Xiao Chen mengangguk, lalu berjalan keluar kedai, pedang kayu di pinggang, jubah hitam compang-camping berkibar pelan.
Sebelum pergi, dia berhenti di depan Su Lingtian yang masih memegang surat dengan tangan gemetar.
"Suruh Klan Utama mu bertahan 3 hari. Jangan coba-coba segel lagi pakai cara lama, nanti meledak lebih cepat. Suruh mereka buat parit besar di sekeliling kota, isi dengan air teh basi dari kedai ku. Teh basi ku ada efek mengusir iblis kecil. Si Kecil Hitam buktinya."
Su Lingtian yang mendengar itu, langsung berlutut dan mencatat dengan cepat di buku, seperti murid mencatat PR dari guru.
Sore itu, Xiao Chen dan Mo Sha pergi lagi ke Pegunungan Tujuh Pedang, meninggalkan Kota Batu Hitam yang baru bersih.
Di belakang mereka, 4 murid aneh, 8 Klan cabang, dan seluruh warga kota berdiri di gerbang, tidak ada yang berisik, hanya melambaikan tangan pelan, sesuai peraturan nomor 1.
Ling'er berbisik pada Su Qing'er, "Kak Qing'er, Bos Teh pergi lagi, kita harus jaga kedai baik-baik ya, biar Bos Teh pulang nanti tehnya masih enak."
Su Qing'er mengangguk, menggenggam tangan Ling'er erat, mahkota uap Ling'er menyentuh rambut Su Qing'er dan membuatnya sedikit dingin, tapi hangat.
Dan di kejauhan, Gunung Giok Putih di Ibukota Provinsi terlihat ada asap hitam naik, tanda Jurang Kecil sudah mulai memuntahkan iblis.
Perang kedua akan segera mulai, tapi perang kali ini, penjaga jurangnya bukan lagi satu anak sampah sendirian, tapi satu kedai teh dengan 4 murid.