NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMANGAT HIDUP SHEN MUNCHEN

​Gua tersembunyi di bawah kaki Puncak Tianshan itu bergemetar hebat.

​Dinding-dinding batu es yang membeku selama ribuan tahun mendadak retak, menghasilkan suara berderak nyaring seperti guntur kecil yang tertahan di dalam perut bumi. Asap hitam pekat mengepul keluar dari pori-pori kulit Shen Munchen, menebarkan bau busuk belerang dan darah basi yang langsung memenuhi ruangan.

​"Cepat, A-Lin! Tuangkan ekstrak Teratai Es ke dalam cawan giok!" perintah Tabib Zhu. Wajah sang Tabib sepuh tampak pucat, butiran keringat sebesar biji jagung bercucuran dari pelipisnya. Mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan gelombang Qi destruktif yang memancar dari tubuh sang Jenderal.

​A-Lin tidak membuang waktu. Gadis itu menyambar cawan hijau giok yang mengepulkan uap dingin, lalu membawanya mendekat. Dengan gerakan cekatan, Tabib Zhu mengangkat kepala Shen Munchen dan menuangkan cairan pahit bercahaya kebiruan itu langsung ke dalam mulut sang Jenderal.

​Bum!

​Begitu cairan tersebut meluncur turun, ledakan energi tak kasat mata berhamburan ke segala arah. Pedang pusaka Klan Shen yang bersandar di dinding melesat keluar dari sarungnya, menancap dalam ke lantai batu akibat dorongan gelombang kejut Qi yang mengamuk.

​Di atas dipan, kelopak mata Shen Munchen yang tertutup rapat selama tiga bulan akhirnya bergetar hebat.

​Dua garis darah segar mengalir deras dari sudut matanya, sebelum perlahan-lahan mata itu terbuka.

​Bukan sepasang mata manusia biasa yang menatap langit-langit gua.

Sepasang bola mata itu menyala terang dengan pendar keemasan yang menyilaukan—pancaran dari Ilmu Dewa Perang Sembilan Langit yang bangkit kembali dari ambang kehancuran. Udara di dalam gua mendadak membeku seketika, membuat napas A-Lin tertahan di tenggorokan.

​"Guru..." bisik A-Lin gemetar, mundur setengah langkah karena tertekan oleh aura membunuh yang begitu pekat dan megah.

​Shen Munchen tidak langsung bersuara. Dadanya naik-turun dengan ritme yang lambat namun mematikan.

Pandangannya yang tajam menembus dinding batu gua, seolah-olah dapat melihat menembus badai salju, melintasi ribuan li pegunungan, hingga menatap langsung ke arah ibu kota Kekaisaran tempat Jenderal Zhao dan para menteri durjana bertahta.

​Bayangan tangisan bayi yang ia dengar dalam mimpi buruknya masih menggema di relung jiwanya. Rasa sakit karena racun Bunga Jiwa Kelabu memang masih mencengkeram meridian tubuhnya, tetapi amarah dan tekad seorang ayah telah membakar habis rasa sakit itu.

​Dengan gerakan perlahan yang membuat sendi-sendi tulangnya berderit keras, Shen Munchen mendudukkan dirinya di atas dipan. Suaranya serak, bagaikan gesekan pedang berkarat yang keluar dari makam tua, namun mengandung wibawa mutlak yang membuat siapapun ingin berlutut.

​"Zhao... Jenderal Zhao..." geram Shen Munchen, menyebut nama musuh dalam selimut yang telah menusuknya dari belakang. "Hutang darah ini, akan kubayar dengan nyawa seluruh keluarganya."

​Tabib Zhu menghela napas panjang, melepaskan tangannya dari pergelangan tangan sang Jenderal. Ia tahu, kebangkitan Dewa Perang ini bukanlah awal dari kedamaian, melainkan pertanda datangnya badai darah terbesar yang akan mengguncang seluruh daratan Kekaisaran.

​"Racun itu belum sepenuhnya hilang, Shen Munchen," kata Tabib Zhu memperingatkan.

"Separuh dari kekuatanmu masih terkunci di dalam kepompong es di dadamu. Jika kau memaksakan diri mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi sebelum musim semi tiba, nadimu akan pecah dan kau akan mati."

​Shen Munchen menoleh. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka pertempuran. Kepalan tangannya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Biarpun nadiku hancur berkeping-keping, dan sisa umurnya hanya tinggal satu hari..." Shen Munchen mendongak, menatap tajam ke arah langit-langit gua yang gelap, "aku harus kembali ke selatan. Ada tangisan darah anakku yang menungguku di ujung dunia."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​Langkah kaki Shen Munchen meninggalkan jejak mendalam di atas salju tebal yang membeku. Jubah hitam pekat berlapis kulit serigala—pemberian Tabib Zhu—berkibar megah diterjang angin gending yang sanggup membekukan darah manusia biasa.

Di punggungnya, pedang pusaka Klan Shen terbungkus kain kasar, menyerap hawa dingin ekstrem yang menyelimuti Jalur Abadi Tianshan.

​Tiga hari telah berlalu sejak ia bangkit. Masing-masing langkahnya terukur dan mantap, biarpun rasa terbakar akibat sisa racun Bunga Jiwa Kelabu terus menggerogoti meridian dadanya setiap kali ia menghela napas.

​"Pangeran Dewa Perang," panggil sebuah suara nyaring dari balik tebing es.

​A-Lin berlari kecil menyusul, napasnya berhembus membentuk uap putih tebal. Gadis muda itu membawa sebuah kantong kulit dan gumpalan kain sutra merah tua.

​"Guru meminta Hamba menyerahkan ini," ujar A-Lin seraya menyodorkan kantong tersebut dengan kedua tangan bergetar—bukan karena dingin, melainkan karena wibawa menakutkan yang terpancar dari raga Shen Munchen.

​"Di dalamnya terdapat tiga butir Pil Penekan Jiwa. Jika racun di dadamu bergejolak saat pertarungan, telanlah satu butir."

​"Sampaikan terima kasihku pada Tabib Zhu," ucap Shen Munchen, suaranya berat bagaikan dentang lonceng perunggu tua. "Bila langit masih mengizinkan aku bernapas setelah urusan darah ini usai, aku akan kembali untuk membalas kebaikan kalian."

​"Hati-hatilah, Jenderal," bisik A-Lin. "Para mata-mata Istana dan Pembunuh Bayangan Kerajaan Barat telah mengepung pos-pos pemeriksaan di kaki gunung sejak berita kekalahanmu menyebar."

​Shen Munchen hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Sepasang matanya berkilau tajam bagaikan mata elang yang mengintai mangsa dari angkasa.

​"Biarkan mereka menunggu," sahut Shen Munchen pelan. "Pedangku sudah terlalu lama haus akan darah pengkhianat."

​Di kaki Puncak Tianshan, tepat di mulut celah sempit yang dikenal sebagai Lembah Angin Merah, puluhan tenda kulit berdiri di antara bebatuan cadas.

Tempat ini merupakan celah tunggal bagi siapa saja yang ingin keluar dari wilayah utara menuju daratan tengah Kekaisaran.

​Di dalam tenda utama, tiga puluh prajurit berbaju zirah besi kelam sedang mengelilingi api unggun. Mereka adalah bagian dari Pasukan Serigala Hitam—pasukan elite pribadi milik Jenderal Zhao yang dikirim khusus untuk memastikan sang Dewa Perang benar-benar telah menjadi mayat di pegunungan es.

​"Sudah tiga bulan," seru salah seorang komandan pasukan seraya meneguk arak keras. "Tidak ada manusia yang bisa selamat dari racun Bunga Jiwa Kelabu dan suhu membeku Tianshan. Kita hanya membuang-buang waktu membusuk di celah gunung ini!"

​Brak!

​Tiba-tiba, tirai tenda terhempas hebat. Hembusan angin es yang begitu membekukan menerobos masuk, memadamkan kobaran api unggun dalam sekejap.

​Di ambang pintu tenda, berdiri sesosok bayangan tinggi tegap. Cahaya rembulan memantul dari sepasang mata keemasan yang menembus kegelapan malam.

​"Siapa kau?!" teriak sang Komandan seraya menyambar gagang pedangnya. Tiga puluh prajurit lainnya langsung bersiaga, menarik senjata mereka dari sarungnya.

​Sosok itu melangkah maju. Setiap pijakan kakinya meninggalkan retakan es di tanah padat, membawa tekanan aura membunuh (Shaqi) yang begitu pekat hingga membuat beberapa prajurit yang berstamina lemah mendadak muntah darah dan berlutut.

​"Kalian menunggu mayatku, bukan?" suara dingin itu bergema, menggetarkan gendang telinga semua orang di dalam ruangan.

​Sang Komandan membelalakkan mata. Wajahnya seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat saat mengenali garis wajah tegas di balik jubah serigala tersebut.

​"S-Shen... Shen Munchen?! Bagaimana mungkin kau masih hidup?!" jeritnya histeris. "Bunuh dia! Dia sedang terluka parah! Siapa pun yang membawa kepalanya pada Jenderal Zhao akan diberi gelar bangsawan dan seribu keping emas!"

​Tiga puluh prajurit elite melompat serentak, menembus kegelapan dengan mata pedang yang berkilat menakutkan.

​Shen Munchen tidak bergeming. Ia bahkan tidak menarik pedang di punggungnya.

​Ketika serangan pertama hanya berjarak sejangkauan tangan dari lehernya, Shen Munchen menghentakkan kaki kanannya ke bumi.

​BUM!

​Gelombang Qi keemasan meledak keluar dari dadanya. Udara di sekitarnya terdistorsi hebat. Puluhan senjata besi seketika patah berkeping-keping, dan tubuh para prajurit itu terlempar menerobos dinding-dinding tenda seperti daun-daun kering yang diterjang badai.

​Hanya sang Komandan yang tersisa, berdiri gemetar dengan lutut yang saling bertabrakan. Pedangnya telah hancur menjadi serpihan kecil di tanah.

​Shen Munchen melangkah mendekat, cengkeraman tangan besinya langsung mengunci leher sang Komandan dan mengangkat tubuh pria itu ke udara tanpa usaha berlebih.

​"Katakan padaku," bisik Shen Munchen, matanya menatap lurus ke dalam jiwa pria yang ketakutan setengah mati itu. "Apa yang terjadi di daratan tengah selama tiga bulan aku tertidur?"

​Dengan napas yang tersengal-sengal dan mata yang hampir melompat keluar, sang Komandan terbata-bata, "K-Kaisar telah membagikan kekuasaanmu... Jenderal Zhao diangkat menjadi Panglima Tertinggi... K-keluargamu... Klan Shen telah dibuang ke Pulau Pengasingan..."

​Jantung Shen Munchen berdegup kencang. Racun di dadanya mendadak bergejolak menanggapi guncangan emosinya, membuat setetes darah hitam meleleh dari sudut bibirnya. Namun, ia menahannya dengan kehendak baja.

​"Lalu... istriku? Anakku?" tanya Shen Munchen, suaranya kian merendah, menjadi begitu menakutkan.

"Semuanya dibawa ke Pulau Pengasingan!"

​Krak!

​Shen Munchen mempererat cengkeramannya. Leher sang Komandan patah seketika sebelum ia sempat memohon ampun lebih lanjut. Tubuh tanpa nyawa itu dilemparkannya ke tanah begitu saja.

​Shen Munchen keluar dari celah lembah. Di hadapannya, terhampar jalan berbatu yang membentang luas menuju selatan—menuju daratan tengah Kekaisaran dan lautan luas yang memisahkan daratan utama dengan Pulau Pengasingan.

"Tunggu Aku! "

1
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
Dinta Anikmah
bagus ceritanya, walaupun namanya susah banget buat nyebutinya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
menarik
Wahyuningsih
thor xiao luo dpt ruang dimensi biar mkin sru
Wahyuningsih
q mampir thor
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
seru
Aisyah Suyuti
menarik
Pa Muhsid
lanjuut 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Pa Muhsid
jangan jangan ceo nya reinkarnasi jendral shen di masa depan,
Rochmanah Setyowati
upnya ditunggu lho thor
semangat berkarya thor sampai tamat ok
Nurul Senggrong: 👍..., terimakasih dukungannya kan🙏🙏🙏
total 1 replies
Rochmanah Setyowati
thor upnya yg banyak jd hadiahnya jg banyak
Nurul Senggrong: akan diusahakan kak. Terima kasih
total 1 replies
Rochmanah Setyowati
novelnya bagus, aq suka
lanjut sampai tamat ya thor
semangat berkarya thor
Nurul Senggrong: Terima kasih dukungannya Kak🙏🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!