**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Rumor
Hikari mengayuh sepedanya dengan laju yang cukup kencang. Angin malam yang dingin berembus menerpa wajahnya, namun suasana hatinya yang campur aduk justru terasa menghangatkan perjalanan pulangnya. Ada rasa kesal karena sikap Keiran yang terlampau dingin dan ketus, tetapi di sisi lain, senyum tipis mengembang di bibirnya. Bagi Hikari, setidaknya ia sudah berani menyapa dan memperkenalkan diri—bahkan mengklaim secara sepihak bahwa mereka kini berteman.
Kayuhan sepedanya melambat ketika pagar rumah mewahnya yang kokoh mulai terlihat di ujung jalan. Setelah sampai di depan rumah, Hikari langsung memarkirkan sepedanya di tempat biasa, lalu segera masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah terasa sepi seperti tidak ada penghuninya untuk beberapa saat. Suasana malam yang makin larut membuat ruangan luas itu terkesan makin lengang. Bi Sumi pun keluar dari kamarnya karena mendengar suara pintu terbuka.
"non baru pulang" ucap bi sumi, yang terlihat baru bangun dari tidur nya.
"iya bi, maaf ganggu ya" ucap hikari menoleh ke arah bi sumi
"engga kok non"
"bi, mama gak pulang ya" tanya Hikari, sebenernya mama nya tidak pulang ke rumah itu hal yang biasa, tapi rasa hikari hanya ingin bertanya saja.
"engga non, katanya masih ada kerjaan"
Hikari mengganguk pelan merasa kecewa tapi bagaimana lagi mama nya orang yang sangat gila kerja jadi dia jarang bertemu dengan mama meskipun satu rumah.
"kalo gitu bibi istirahat lagi aja, aku mau ke atas" ucap hikari segera meninggalkan ruangan itu.
Hikari melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Keheningan rumah yang luas itu kembali menyelimuti, menyatukan bunyi gesekan langkah kakinya dengan detak jarum jam dinding yang terdengar begitu jelas. Bi Sumi mengangguk pelan, memerhatikan punggung anak majikannya itu dengan rasa iba yang tak bisa ia ucapkan langsung sebelum akhirnya kembali mengunci pintu kamarnya.
Hikari menjatuhkan tubuh nya pada kasur lalu melihat ponsel nya, sebenarnya tidak ada yang spesial di ponsel nya itu, jadi hikari hanya menatap layar ponsel itu dan membuka beberapa aplikasi.
Setelah beberapa saat hikari mengingat apa yang terjadi di taman tadi hikari menutup layar ponsel itu lali menyimpan nya sisi tubuh nya. Dia merasa senang karna bisa sedikit mengobrol dengan keiran, dan tidak menyangka akan melihat sesuatu yang tak terduga.
Hikari tersenyum tipis membayangkan ekspresi Keiran saat di taman tadi. Rasa lelah setelah mengayuh sepeda dan rasa hampa akibat rumah yang sepi perlahan memudar, tergantikan oleh antusiasme kecil yang ganjil untuk menyambut hari esok. Dengan perasaan itu, ia akhirnya memejamkan mata dan tertidur pulas.
****************
Keesokan harinya, matahari pagi menyinar terang koridor sekolah. Hikari—sebagai murid baru—berjalan santai menyusuri lorong menuju kelasnya. Seragam barunya melekat rapi, dan langkah kakinya terasa ringan.
Di perjalanan menuju kelas hikari tidak sengaja berpas-pasan dengan keiran dan ada juga teman-teman nya, hikari tersenyum pada keiran seolah dia sedang menyapanya, tapi tidak ada balasan senyum dari keiran. keiran justru mengabaikan hikari, dia terlihat seperti tidak mengenal hikari sama sekali. Tapi hikari juga tidak terlalu memikirkan nya karna itu memang karakter nya mungkin.
Sepanjang jalan hikari merasa suasana nya sedang bahagia entah kenapa tapi hari ini membuat nya merasa ada yang akan membuat nya senang.
Setelah berjalan beberapa menit hikari sampai di kelas nya dan beberapa temannya menyapa hikari dengan senang, hikari juga membalas sapaan itu lalu segera duduk di kursi nya dan di sebelah nya ada neta dia sedang sibuk dengan ponsel nya setelah tadi dia menyapa hikari.
Tidak ada percakapan diantara kedua nya jadi hikari sedikit mengintip pada ponsel neta karna dia terlihat serius pada ponsel nya meskipun hikari tidak terlalu melihat ada apa di ponsel nya itu. Lalu hikari pun membuka suara "apa kamu punya pacar"
Neta menoleh ke arah hikari dengan ekpresi paniknya "apa, engga kok" ucap neta langsung menyembunyikan ponsel nya.
Hikari terkekeh melihat ekpresi nya itu "oh, kirain" ucap hikari sembari tertawa keci
"kenapa lo ketawa, beneran kok gue gak punya pacar" neta segera memperjelas.
setelah beberapa saat mereka mengobrol bel masuk sekolah pun berbunyi para murid yang masih di luar segera masuk, di ikuti oleh guru, pelajaran pun dimulai.
3 jam berlalu pelajaran demi pelajaran pun sudah selesai. Bel istirahat pun sudah berbunyi.
Semua murid mulai berhamburan keluar kelas, ada yang menuju kantin, koridor, atau sekadar mengobrol di depan kelas. Hikari merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"hikari gue ke toilet dulu ya" ucap neta, menepuk bahu hikari sebelum meninggal kan kelas nya, neta pun pergi denga satu temannya menuju toilet.
Hikari mengganguk pelan "iya" setelah membereskan buku dan pensil yang di meja hikari segera beranjak berdiri untuk berjalan menuju kantin.
Saat melangkahi koridor utama yang ramai, Hikari menyadari ada sesuatu yang aneh. Tatapan dari beberapa murid di sekitarnya tertuju padanya. Bisik-bisik kecil dan tatapan penasaran menyertai setiap langkahnya. Beberapa siswi yang sedang berdiri di dekat loker bahkan terang-terangan menunjuknya pelan sembari saling berbisik.
Hikari mengernyit bingung, tapi memilih mengabaikannya dan tetap berjalan menuju area kantin.
Begitu sampai di area luar kantin, matanya tak sengaja menangkap sosok Keiran yang sedang berdiri di dekat tangga bersama dua temannya. Seperti refleks, teringat percakapan mereka semalam di taman dan klaim sepihaknya tentang "berteman", bibir Hikari spontan mengukir senyuman hangat. Tanpa ragu, ia menatap Keiran dan memberikan senyuman manis khasnya.
Keiran yang merasa diperhatikan menoleh. Saat menyadari bahwa itu Hikari yang sedang tersenyum padanya, alis cowok itu makin menukik tajam. Dengan wajah dingin dan ketus, Keiran langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak kenal.
Namun, senyuman manis Hikari yang ditunjukkan secara terang-terangan di tengah keramaian jam istirahat itu menjadi pemicu utama meledaknya sebuah rumor.
Hikari yang akhirnya membeli minuman botol lalu duduk di salah satu bangku kantin dikagetkan oleh seorang teman sekelasnya yang tiba-tiba duduk berhadapan dengannya dengan raut wajah penuh rasa penasaran.
"Hikari! Beneran ya rumor yang lagi heboh?" tanya neta itu setengah berbisik tapi antusias.
Hikari menatapnya polos sembari meneguk minumannya. "Rumor apa?"
"Soal kamu sama Keiran!" sahut neta gemas. "Anak-anak dari tadi pas istirahat pada ngomongin kamu. Katanya kamu murid baru yang terang-terangan naksir Keiran. Soalnya tiap kali ketemu atau liat Keiran, kamu pasti langsung senyum-senyum manis banget ke dia. Tadi aja di depan tangga semua orang liat kamu senyum ke dia!"
Hikari berkedip pelan, sedikit tertegun. "Suka? Aku cuma senyum kok."
"Ya tapi buat anak-anak sini itu aneh! Keiran tuh terkenal dingin banget, cuek, dan nggak pernah mau urusan sama cewek. Tapi kamu sebagai anak baru malah berani senyum-senyum dan kayak yang ngejar-ngejar dia. Sekarang rumornya udah nyebar ke mana-mana!"
Hikari bersandar di kursi kantinnya. Bukannya merasa risih atau takut, senyum tipis justru kembali terukir di bibirnya. Rumor kalau dia menyukai Keiran memang salah kaprah, tapi memikirkan bagaimana reaksi cowok ketus itu kalau sampai mendengar rumor ini... rasanya bakal makin seru.