Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sore sudah turun.
Kila berdiri di depan jendela kamarnya di lantai dua. Jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Di luar, laut membentang biru tak berujung, memantulkan cahaya matahari sore yang hangat keemasan. Pemandangan yang sama yang selalu dia rindukan dari rumahnya sendiri di kota lain. Rumah pemberian Kak Elvar yang nyaman, yang jadi tempatnya membangun hidup baru di mana tidak ada satu orang pun yang tahu siapa keluarganya. Pemandangan yang jadi satu-satunya alasan kenapa rumah megah keluarga ini masih terasa seperti rumah, meski penghuninya tidak pernah benar-benar ada.
Sudah lama sekali dia tidak menikmatinya seperti ini. Dulu, setiap sore sepulang sekolah dia selalu duduk di sini sendirian.
Bosan dengan lamunannya, Kila turun ke halaman belakang yang luas. Bibi ada di sana, menyirami tanaman anggrek kesayangan Mama Lidya seperti biasa.
"Selamat sore, Bi," sapa Kila.
Bibi menoleh, lalu langsung mengernyit khawatir begitu melihat wajah Kila dari dekat. "Selamat sore, Non... Astaga, mata Non kenapa bengkak begitu? Sembab kayak habis nangis semalaman."
Kila buru-buru tertawa, berbohong dengan canggung. "Masa sih Bi? Kelamaan tidur kali, Bi. Kan baru sampai pagi tadi."
Bibi tidak percaya, matanya menatap penuh selidik, tapi dia tidak memaksa. Bibi paling mengerti kapan harus diam. "Lapar nggak, Non Kila? Bibi masakin makanan kesukaan Non ya?"
Kila menggeleng cepat. Wajahnya langsung memelas manja. "Belum lapar, Bi. Tapi... boleh nggak bikinin coklat panas kesukaan aku? Yang pakai marshmallow itu."
Bibi terkekeh dan mencubit gemas pipi Kila. "Tentu saja boleh, Non. Tunggu sebentar ya, Bibi bikinin yang paling enak."
Beberapa menit kemudian, segelas coklat panas dengan marshmallow mengapung sudah ada di tangan Kila. Hangatnya menjalar sampai ke hatinya yang dingin sejak siang.
"Enak banget, Bi. Bikinan Bibi emang nggak pernah gagal," kata Kila sambil mengacungkan dua jempol dengan mata berbinar.
"Makanya sering-sering pulang, Non. Bibi kangen," goda Bibi sambil mengelus rambut Kila.
Kila memberi hormat ala tentara dengan gaya kocak. "Siap, Bibi cantik!"
Bibi tertawa terbahak-bahak, lalu pamit kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tinggal Kila sendiri lagi di halaman belakang yang luas itu, ditemani segelas coklat dan desir angin laut.
Dia menyeruput coklatnya pelan.
"Rumah gede banget, tapi sepi kayak kuburan," gumamnya lirih. Sepi yang sama yang dia rasakan sejak kecil. Sepi yang membuatnya memutuskan untuk pergi sejak SMA, membangun hidup baru di kota lain di rumah pemberian Kak Elvar itu, di tempat di mana tidak ada satu orang pun yang tahu siapa keluarganya, bahkan sahabatnya sendiri, Elvano. Di sana dia bisa jadi Kila saja, gadis biasa yang mandiri, bukan "anak orang kaya yang beruntung" seperti kata orang-orang yang iri.
Di sini, dia kembali menjadi Kila yang kesepian itu lagi.
Jam enam sore, suara mobil masuk ke garasi. Kila langsung berlari kecil ke pintu depan dengan coklat masih di tangan.
"Mama! Kak Elvar! Akhirnya pulang juga. Aku kesepian tau di rumah seharian."
Mama Lidya tersenyum lelah, tapi hangat. "Maaf ya, sayang. Tadi di kantor banyak kerjaan yang harus Mama selesaikan."
"Iya, Kil, maaf ya. Besok Kakak janji temenin kamu seharian di rumah, nggak kemana-mana," timpal Kak Elvar sambil mencubit gemas hidung Kila seperti kebiasaannya sejak kecil.
"Janji ya? Jangan bohong!"
"Iya, janji. Kil ku yang cantik," kata Kak Elvar.
Mama Lidya ikut menimpali dengan wajah bersalah, "Kalau Mama kayaknya nggak bisa, sayang. Besok ada meeting penting banget sama klien dari Jakarta."
"Nggak apa-apa kok, Ma. Ada Kak Elvar juga kan," jawab Kila cepat, meski di dalam hatinya sedikit kecewa. Lagi-lagi Mama sibuk.
"Udah, udah, drama keluarganya lanjut nanti aja. Kita makan malam dulu yuk, Bibi udah masak banyak," potong Kak Elvar, mencairkan suasana yang mulai sendu. Mereka pun tertawa kecil bersama.
Di meja makan yang panjang itu, Kila terus melirik kursi kosong yang biasanya diduduki Papa Adrian di ujung meja. Kursi itu kosong melompong. Mama Lidya menyadarinya.
"Kangen Papa, sayang?" tanya Mama Lidya lembut, mencoba terdengar biasa.
Kila gugup, hampir tersedak. "Eh... eng... nggak kok, Ma."
"Papa lagi meeting di luar kota, sayang. Hari ini nggak bisa pulang, besok baru pulang," kata Mama Lidya dengan senyum yang dipaksakan.
Kebohongan lagi. Kila tahu. Laki-laki yang sudah bersama Mama hampir 30 tahun itu bahkan tidak ada di kota karena pertengkaran hebat siang tadi. Papa Adrian pergi. Kursi itu kosong bukan karena kerjaan, tapi karena rumah ini sudah tidak utuh lagi.
"Oh... gitu ya Ma," Kila hanya mengangguk singkat dan melanjutkan makannya, menunduk dalam.
Selesai makan, Kila kembali ke kamarnya. Ponselnya berdering di atas meja. Nama Elvano muncul di layar.
"Halo... ada apa, ganteng?" sapanya dengan suara yang dibuat ceria begitu melihat nama sahabatnya itu.
"Akhirnya dijawab juga! Dari mana aja sih lu? Gue teleponin dari tadi!"
"Hehe sorry, tadi makan, HP ketinggalan di kamar."
"Kamu sampai dengan selamat kan? Nggak lecet kan? Kan tadi naik motor jauh banget."
"Aman. Buktinya masih bisa angkat telepon kamu kan? Masih hidup nih aku."
"Kebiasaan! Nggak bisa apa kalau udah sampai kasih kabar dulu? Bikin khawatir tau!"
"Sorry, capek banget tadi, langsung tepar."
"Bikin khawatir aja lu. Oiya, kapan pulang?"
Kila langsung memutar bola matanya, tapi senyum. "Ya ampun, aku belum sehari di sini udah ditanyain kapan balik aja."
"Yah habis kangen, nggak ada yang ngajak berantem."
"Jangan bikin aku mual deh."
Mereka mengobrol ngalor-ngidul hampir sejam, sampai akhirnya Elvano menyuruh Kila istirahat karena suaranya sudah terdengar lelah.
Kila tidak langsung tidur. Dia mematikan lampu kamarnya dan berjalan pelan menuju kamar Mama Lidya di seberang lorong. Pintunya tidak tertutup rapat. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, dia melihat Mama Lidya duduk di tepi ranjang besar itu sendirian. Bahunya bergetar pelan. Bulir bening jatuh membasahi pipi Mama yang cantik itu dalam diam.
Dada Kila sesak seketika. Sakit sekali melihat Mama seperti itu.
Dia mengetuk pelan, pura-pura tidak melihat tangisan itu. "Ma... aku boleh masuk nggak?"
Mama Lidya buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan dan memaksakan senyum terkuatnya. "Eh, boleh sayang, masuk aja. Belum tidur kamu?"
"Mama habis nangis?" tanya Kila, pura-pura tidak tahu, duduk di samping Mama.
"Nggak kok, sayang. Tadi mata Mama kelilipan debu," jawab Mama Lidya, kebohongan yang sama seperti siang tadi.
Kila pura-pura percaya. _"Sampai kapan Mama bakal sembunyiin semua ini dari aku? Padahal aku udah tahu semuanya, Ma,"_ batinnya, hatinya perih.
Dengan nada manja seperti waktu kecil, dia berkata, "Ma, aku boleh nggak tidur sama Mama malam ini? Udah lama banget nggak tidur sama Mama, kangen."
Mama Lidya langsung mengangguk, matanya berkaca-kaca lagi tapi kali ini karena haru. "Boleh dong, sayang. Boleh banget. Mama juga kangen tidur sama Kila."
"Asyikkk!"
Malam itu Kila sengaja tidur memeluk Mama Lidya dengan erat. Dia berharap pelukannya bisa sedikit mengobati luka di hati Mama. Rasanya hangat, rasanya dekat, rasanya pulang. Sesuatu yang jarang sekali dia dapatkan sejak kecil, karena Mama Lidya selalu lembur dan pulang tengah malam.
Dalam pelukan hangat Mama itu, tanpa butuh waktu lama, Kila pun tertidur lelap, untuk pertama kalinya setelah seharian yang melelahkan secara batin.
---
ayok ada dibaca🤭