Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 28
Giliran Herlan yang tidak bisa menjawab. Faktanya dia memang tidak ada niatan untuk minta izin ke orang tuanya Arjanti.
“Adil? Jika ditilik dari sudut pandang manapun, putri saya banyak menahan diri, makan hati, dan dia tidak mendapatkan perlakuan sama. Disaat kamu menyenangkan istri pertama — tepat di dalam kamar tak tertutup pintunya, dia diperlakukan semena-mena. Layaknya seorang penjahat dipaksa mengaku apa yang sudah diperbuatnya,” bu Ratri pasang badan membela anaknya.
“Maksudnya?” Herlan tidak tahu menahu. “Janti, bisa kita bicara, Sayang? Tolong jangan buat tambah panjang kesalahpahaman ini.”
Tyo berdecak, merasa jijik mendengar kakaknya dipanggil sayang oleh pria yang merasa dirinya paling benar.
Pask Sutris pun enggan berbasa-basi. Tidak juga mau bertanya lebih lanjut. Apa yang dia lihat tadi hingga kini, sudah cukup untuk mengambil keputusan.
“Janti, di hadapan mertua, laki-laki masih berstatus suamimu, Bapak mau bertanya ....” ia berhenti sebentar guna menunggu putrinya mendongakkan wajah.
Ritme jantung Janti seperti bunyi hujan batu, dia mendongak dan langsung bertemu tatap dengan mata kelabu pria yang mati-matian menahan diri untuk tidak marah, menangis.
“Kedatangan Pa’e, Ibu, dan Tyo, niatnya ingin memberimu kejutan, dan melepas rindu, tapi malah kami yang terkejut. Nduk,” berat sekali ingin mengatakan.
Wanita bermandikan air mata itu menelan ludah, dia bisa menebak pertanyaan yang coba diutarakan bapaknya.
Arjanti mengangguk lemah, lalu diulangi lagi seraya mengatakan sesuatu. “Janti ikut pulang Pa’e, sama Bu’e. Aku nyerah.”
Bak mendengar suara dentuman memekakkan telinga, Herlan mundur satu langkah. Rona pucat hinggap di pipi merambat hingga telinga.
“Nggak, Janti! Kamu itu istriku, mau kemana-mana wajib minta izin sampai dibolehin!” katanya sedikit memekik.
“Suami sepertimu gak pantas didengar apalagi hormati! Sok-sokan poligami, sholat saja paling masih bolong-bolong, belum lagi gak bisa jaga perasaan istri, yang digedein cuma nafsu! Jauh-jauh dari mbakku!” Tyo merangkul pundak kakaknya.
“Jangan pernah takut untuk ngambil langkah berani, Mbak! Lebih baik lepaskan daripada tiap hari makan hati! Kamu berharga, gak pun dicintainya lagi, masih ada aku, Bu’e, Bapak yang bisa memberikan kasih sayang berlimpah sampai tumpah-tumpah!” tegasnya dengan sorot mata mengeras memandang pria berdiri gelisah.
“Harusnya kamu itu jadi penengah, bukan memprovokasi!” Herlan membentak, hatinya cemas, takut Janti benar-benar pergi.
“Terlambat! Kalau kesalahanmu tidak sefatal ini, aku masih bisa menerimanya, tapi mbakku diduakan, direndahkan, jadi bahan olok-olokan keluargamu sendiri. Maaf, hilang sudah rasa simpatiku!” jawabnya mantap.
Janti menarik napas panjang, sudah saatnya dia berbicara. Kasihan juga orang tuanya pasti lelah setelah perjalanan jauh, bukannya disambut dengan suguhan minuman dan kudapan, malah menyaksikan drama menyakitkan yang menginjak-injak harga diri mereka.
“Mas,” katanya pelan, berusaha tegar, meski air mata terus bercucuran. “Aku rasa sudah waktunya mengambil langkah setelah semua usaha, pengorbananku tak pernah tampak di matamu dan keluarga Doko. Pun sepertinya ini waktu yang tepat —”
Herlan menahan napas, ia bergeming menunggu lanjutan kalimat yang tertunda dikarenakan Janti memejamkan mata, seolah menguatkan hati.
“Orang tuamu menginginkan cucu, dan sebentar lagi keinginan mereka terwujud,” senyumnya tampak beda, bukan jenis senyum sinis, menyimpan dendam, tapi misterius.
“Dan sebentar lagi kamu jadi laki-laki sejati karena berhasil menyandang gelar Ayah. Sebelumnya aku ucapkan selamat. Wanita yang tengah mengandung anakmu pun bukan sosok asing, melainkan kalian pernah menjalin kasih selama tiga tahun lamanya, lalu dirimu ditinggal nikah karena Saila memilih pemuda lebih kaya pada waktu itu. Hust!” Telunjuk Janti menempel di bibir.
Janti menghentikan niat suaminya yang mau memotong ucapannya. Dia melirik Saila, wanita itu tampak gelisah namun berusaha menutupi dengan menyelipkan rambut ke belakang telinga.
“Jangan terkejut gitu, aku gapapa, sungguh. Malah seneng pada akhirnya kamu bisa bersatu dengan wanita yang pernah membuatmu frustasi lalu menjadikan aku sebagai pelampiasan demi melupakan dia.” Diusapnya air mata menggunakan kedua tangan.
Rangkulan Tyo dieratkan, hatinya bertambah sakit setelah kakaknya mengungkapkan kenyataan pahit ini.
Bu Ratri membekap mulut, hatinya teriris membayangkan kehidupan putrinya selama bersuamikan pria belum selesai dengan masa lalu.
“Mas Herlan, ayo kita akhiri pernikahan ini! Cukup 4 tahun lebih satu bulan aku hidup dalam kepura-puraan, menyangka kamu beneran sayang, tapi nyatanya cuma dijadikan pengganti dan alat pelampiasan. Adapun kurangku selama jadi istri, dengan kerendahan hati, aku minta maaf.” Tangannya tertangkup di depan dada.
Herlan maju satu langkah, dan Arjanti memilih mundur sedikit. Gesturnya menunjukkan penolakan.
Pria beristri dua itu merasa kosong, ada sesuatu hilang yang sebelumnya memenuhi dada. Sorot mata istri pertamanya benar-benar berbeda, bak orang asing menatap biasa pada lawan bicara.
“Janti, Mas beneran jatuh hati padamu. Percayalah!” katanya sarat putus asa. Seandainya saja tidak ada keluarga Arjanti, dia lebih leluasa meyakinkan wanita itu.
“Cukup, Mas! Jangan mencoba menampik, kasihan Saila yang sedang hamil kalau kamu gak mau mengakui hubungan manis kalian dulu,” dia benar-benar menunjukkan sikap ikhlas.
'Pada akhirnya aku menemukan jawaban di bola matamu, Mas. Aku kira obrolan Saila dengan ibunya hanya omong kosong, ternyata kalian benar-benar sepasang kekasih dulunya,' Janti menemukan fakta ini dua minggu lalu saat Tanira pamit pulang.
“Entah itu cinta benar-benar ada, atau memang cuma rasa penasaran di awal, sekarang bukan lagi hal penting untuk dipertimbangkan, apalagi perdebatkan. Aku cuma mau minta satu hal — dulu dirimu yang datang meminta hatiku, dan meyakinkan kalau menikah denganmu akan membawa bahagia, meski banyak deritanya, tapi aku terima dengan lapang dada. Sekarang ....” tarikan napasnya kian lega.
“Sekarang, aku atau kamu yang maju ke pengadilan agama? Tentukan pilihanmu, Mas!”
.
.
Bersambung.