Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 kon tarakanku di bakar janda kaya
Malam itu aku tidur nyenyak di kamar, Arya tidur di sofa ruang tamu untuk menjagaku. Aku mengelus perutku yang masih rata. Aku berbicara dengan calon bayiku.
"Nak, maafkan mama ya. Mama bohong soal ayahmu. Tapi mama lakukan ini untuk melindungi kamu dari orang jahat. Tenang ya nak, sekarang ada Papa Arya yang akan jaga kita," bisikku pelan.
Jam dua malam, aku terbangun karena mencium bau asap yang sangat menyengat. Aku batuk-batuk.
"Kak Arya! Kak Arya bangun! Bau apa ini?" teriakku panik.
Arya langsung bangun dan melihat keluar jendela. Matanya membelalak kaget.
"Una! Api! Rumah kita terbakar! Ayo keluar cepat!" teriak Arya sambil menarik tanganku.
Api sudah besar di bagian depan kontrakan. Pintu depan sudah dilalap api. Asap hitam tebal masuk ke dalam rumah. Aku panik sambil memeluk perutku.
"Bayiku... bayiku kak..." aku menangis.
Arya menggendongku dengan kuat, "Pegang saya erat Una! Kita lewat jendela belakang!"
Arya mendobrak jendela belakang yang terkunci. Kacanya pecah. Dia melompat duluan lalu menarikku keluar. Kami berdua jatuh di tanah belakang kontrakan.
Kontrakan kami terbakar habis. Api merah menjilat seluruh bangunan. Tetangga berdatangan membawa ember air.
"Ya Allah, Una! Kamu tidak apa-apa?" teriak ibu kontrakan.
Aku hanya bisa menangis melihat semua barangku habis terbakar. Baju, uang sepuluh juta dari Rizal yang baru aku dapat, hp baru untuk jualan, semua habis menjadi abu.
Arya memelukku erat, "Sudah Una, yang penting kamu dan bayi selamat. Barang bisa dicari lagi."
Pemadam kebakaran datang satu jam kemudian, tapi rumah sudah menjadi arang. Tidak ada yang tersisa.
Polisi datang pagi harinya. Polisi menemukan botol bensin di depan kontrakan. Ini bukan kebakaran biasa, ini sengaja dibakar orang.
"Bu Una, apakah Ibu punya musuh? Ini jelas pembakaran disengaja," kata polisi.
Aku langsung ingat ancaman Bu Ratna kemarin malam, "Bu Ratna! Pasti Bu Ratna janda kaya itu! Dia yang ancam mau bakar rumah saya kemarin!"
Arya juga mengangguk, "Saya dengar sendiri Bu, dia ancam akan hancurkan Una. Saya jadi saksi."
Polisi langsung mencari Bu Ratna. Tapi Bu Ratna dan Rizal sudah tidak ada di desa. Kata tetangganya, mereka pergi ke kota jam sepuluh malam tadi.
Aku menangis dipinggir jalan bersama Arya. Aku tidak punya rumah lagi, tidak punya uang lagi, tidak punya baju lagi. Aku hanya punya baju tidur yang aku pakai sekarang dan nyawa calon bayiku.
Arya menatapku dengan penuh kasih sayang, "Una, ikut saya ke kota ya. Saya punya apartemen kosong di kota. Kamu tinggal di sana. Anggap saja rumah kamu sendiri. Saya akan jaga kamu dan bayi kita."
Aku ragu, "Tapi kak, nanti orang bilang apa? Aku janda hamil tinggal serumah dengan kakak."
Arya menggenggam tanganku, "Biar orang bilang apa Una. Yang penting kamu aman. Lagipula, kalau kamu mau, kita bisa nikah siri dulu agar omongan orang tidak jelek. Saya tulus ingin jaga kamu."
Tawaran Arya membuatku kaget. Nikah siri dengan pengacara tampan ini? Padahal aku masih hamil anak mantan suamiku.
Di saat aku bingung, hp Arya berdering. Itu telepon dari kantor polisi.
"Halo Pak Arya, kami berhasil tangkap Bu Ratna di jalan tol. Dia mengakui menyuruh orang membakar kontrakan Bu Una. Bu Ratna sekarang ditahan. Pak Rizal juga kami amankan sebagai saksi," kata polisi.
Aku lega mendengar Bu Ratna ditangkap. Akhirnya kejahatan janda kaya itu terbongkar.
Tapi masalahku belum selesai. Aku tidak punya tempat tinggal, aku hamil, dan uangku habis terbakar.
Apakah aku harus menerima tawaran Arya untuk tinggal di apartemennya dan nikah siri? Apakah itu jalan terbaik untuk aku dan calon bayiku?