Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Tembikar Danau Cheon Gi dan Penyiksaan di Rumah Judi
"Bodoh! Kau menghancurkan barang berhargaku hanya karena panik oleh beberapa murid Cheon Gi Won?!" bentak Jin Wu, suaranya menekan atmosfer ruangan hingga terasa mencekam.
Oleh karenanya, dengan adanya insiden kegagalan Yun O tersebut, Jin Wu terpaksa memutar otak dan merubah strateginya. Ia berniat untuk tetap menyelundupkan sisa tembikar mistis dari wilayah luar secara senyap.
Namun bedanya, kali ini ia tidak akan lagi mempercayakan tugas penting itu kepada orang-orang Jinyowon ataupun keluarga Baek. Ia memilih untuk mempercayakan tugas penyelundupan hitam itu kepada Soi yang terkenal licik dan tak tersentuh hukum pasar.
Lantas, dengan nada dingin yang mutlak, Jin Wu segera memerintahkan pengawal setianya, Jung Min, untuk pergi menemui Soi di markasnya malam ini juga—tanpa tahu bahwa Soi saat ini sedang terluka dan disembunyikan di Cheon Gi Won.
****
Kembali ke padepokan Cheon Gi Won, Jin So Hwa sedang berjalan di taman samping bersama Do Hyun. Rasa penasaran yang mendalam mengenai kilasan-kilasan ingatan aneh tentang sebuah pohon raksasa terus mengusik ketenangan pikirannya.
"Tuan Do Hyun," panggil Jin So Hwa dengan gurat wajah penuh harap. "Aku masih sangat penasaran untuk melihat sebuah pohon yang teramat sangat besar di wilayah Dahyangguk. Sejak ingatan samar itu melintas, aku terus memikirkannya. Apakah pohon itu benar-benar nyata?"
Mendengar hal itu, Do Hyun menghentikan langkahnya sejenak, lalu mengiyakan dengan anggukan mantap. "Pohon itu benar-benar ada, Nona So Hwa. Aku pernah melihat kegagahan pohon besar itu secara langsung saat melakukan perjalanan militer dahulu."
Do Hyun tersenyum tipis melihat binar bahagia di mata So Hwa. "Jika kau memang sangat ingin pergi ke Dahyangguk untuk melihatnya, aku bisa membantumu mencarikan seseorang yang andal dan tepercaya untuk mengantarmu ke sana. Wilayah perbatasan cukup rawan untuk dilewati sendirian."
Nah, secara kebetulan yang teramat pas, dari arah koridor samping munculah Baek Seo Jun berjalan mendekati mereka berdua dengan langkah kaki yang tenang dan rapi.
"Tidak perlu bersusah payah mencari orang lain, Do Hyun," sela Baek Seo Jun dengan suara datar yang bersahabat, menyembunyikan badai kelam di balik tatapan matanya.
"Aku baru saja menyelesaikan urusanku di asrama. Aku siap untuk menjadi pelindung dan mengantarkan Nona Jin So Hwa pergi ke Dahyangguk."
Mendengar tawaran sukarela dari sahabatnya, Do Hyun langsung menepuk pundak Seo Jun dengan riang. Ia pun sangat menyarankan agar So Hwa menerima tawaran tersebut.
"Ini adalah keberuntungan besar, Nona So Hwa! Seo Jun adalah orang yang teramat tepat. Ia lahir dan tumbuh besar di sana, sehingga ia sangat paham tentang setiap seluk-beluk jalur aman menuju Dahyangguk."
Jin So Hwa tersenyum lebar, menatap Seo Jun dengan rasa terima kasih yang teramat sangat karena bersedia membantunya melihat pohon mimpinya.
Akan tetapi, di balik senyuman ramah dan kesediaan Baek Seo Jun yang tampak begitu tulus di depan Do Hyun malam itu, sebuah niat gelap yang teramat mengerikan telah matang terencana di dalam kepalanya.
Perjalanan menuju Dahyangguk yang sepi dan jauh dari jangkauan sihir Han Seol... murni sudah Seo Jun rencanakan sejak awal sebagai panggung eksekusi berdarah untuk membunuh Jin So Hwa seutuhnya.
****
Di pinggiran perbatasan, embusan angin malam terasa begitu menusuk. Soi, yang sebelumnya telah diantarkan oleh Baek Seo Jun dengan susah payah agar segera meninggalkan Kota Pertahanan Niskala demi keselamatannya, berdiri terpaku di persimpangan jalan. Langkah kakinya berat. Hati dan pikirannya menolak untuk pergi lebih jauh.
Rasa khawatir yang teramat sangat terhadap kondisi kesehatan Seo Jun yang kian mengkhawatirkan terus merongrong batinnya.
"Aku tidak bisa membiarkannya menahan sakit itu sendirian," gumam Soi dengan mata berkaca-kaca.
Lantas, ia memantapkan tekad untuk memutar arah. Ia berniat kembali ke pusat kota dan menemuinya secara sembunyi-sembunyi di asrama Cheon Gi Won.
Namun, sebelum melakukan tindakan nekat itu, Soi memutuskan untuk terlebih dahulu memeriksa keadaan tempat judi ilegal miliknya yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan pasca-insiden penyergapan Jinyowon.
Sebelum mendekati bangunan, Soi meminta anak buah kepercayaannya untuk pergi ke pasar membeli beberapa pasokan herbal terlebih dahulu. Alhasil, tinggallah Soi seorang diri yang melangkah maju membelah kegelapan malam, bersiap mengecek tempat judi miliknya.
Namun, sungguh sial nasib Soi malam itu. Begitu ia mendorong pintu kayu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap, hawa dingin mencekam langsung menyambutnya.
Sebelum ia sempat menyalakan lilin, beberapa obor mendadak dinyalakan secara serentak, menerangi ruangan. Di tengah aula judi, ternyata sudah berdiri Jung Min bersama kawanan pengawal elite Cheonbugwan. Mereka telah menantinya di dalam sana sejak lama.
Jung Min melangkah maju dengan seringai kejam, tatapan matanya berkilat penuh amarah. "Lama tidak bertemu, Soi. Kau membuat Tuan Jin Wu sangat murka karena beberapa hari ini kau menghilang tanpa kabar sedikit pun," ucap Jung Min, suaranya menekan atmosfer ruangan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Soi untuk membela diri, Jung Min langsung memberi isyarat kepada anak buahnya untuk meringkus wanita itu. Rantai besi kembali membelenggu tangannya.
Jung Min menatap tajam ke arah dada Soi, mengendus sesuatu yang janggal dari aliran energinya.
"Tuan Jin Wu tidak bisa dibodohi lagi, Soi," desis Jung Min kejam. "Melihat kondisimu yang tetap stabil tanpa obat penawar, kami menjadi sangat yakin... bahwa kau telah nekat mengeluarkan parasit cacing darah dari dalam dirimu dan memindahkannya ke dalam tubuh orang lain!"
Plak!
Sebuah cambukan sihir dilepaskan, menghantam punggung Soi hingga ia menjerit tertahan. Hal itu membuat Jung Min dan kawan-kawannya terus-menerus menyiksa Soi secara keji tanpa ampun, mendesaknya agar berterus terang tentang kepada tubuh siapakah cacing darah terkutuk itu dipindahkan.
Namun, di tengah siksaan yang membakar kulitnya, Soi tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menolak membawa nama Baek Seo Jun ke dalam bahaya.
Sementara itu, di luar bangunan tempat judi yang tertutup rapat, suasana malam terasa sunyi. Keberuntungan masih menyertai Soi ketika anak buah kepercayaannya yang baru saja kembali dari pasar berjalan mendekat.
Langkah kakinya seketika terhenti saat mendengar suara cambukan dan teriakan tertahan dari dalam ruangan. Dengan mengendap-endap di balik celah jendela, anak buah Soi terbelalak ngeri.
Pembicaraan kejam mengenai interogasi cacing darah di dalam sana ternyata didengar oleh anak buah Soi dengan sangat jelas.
Ketakutan setengah mati akan keselamatan majikannya, pria itu langsung berlari tunggang-langgang membelah jalanan kota menuju gerbang Cheon Gi Won.
Pada saat yang sama, di pelataran depan, Baek Seo Jun baru saja bersiap di samping kudanya bersama Jin So Hwa, bersiap memulai perjalanan rahasia mereka menuju Dahyangguk untuk mengeksekusi rencana pembunuhannya.
"Tuan Baek Seo Jun! Gawat! Tolong Nona Soi!" teriak anak buah Soi sembari menjatuhkan diri di depan kaki Seo Jun dengan napas terengah-engah.
Seo Jun mengernyitkan dahi tajam, instingnya bergejolak. "Tenangkan dirimu. Apa yang terjadi dengan Soi? Bukankah dia sudah pergi?"
Pria itu menggeleng histeris, lalu dengan cepat melaporkan seluruh kejadian penyiksaan yang baru saja ia saksikan di tempat judi. Tak lupa juga, ia menceritakan secara detail tentang perdebatan parasit cacing darah yang menjadi penyebab utama majikannya disiksa habis-habisan oleh orang-orang Cheonbugwan malam ini.
DEG!
Mendengar hal itu, petir seolah menyambar kesadaran Baek Seo Jun. Wajah tampannya seketika menegang. Ia tahu persis jika Soi sampai patah arang akibat siksaan itu, rahasia kepindahan cacing darah ke tubuhnya akan terbongkar, dan nyawa Soi akan melayang.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Seo Jun langsung mengambil keputusan ekstrem. Ia terpaksa membatalkan perjalanan rahasianya menuju Dahyangguk malam itu juga.
Ia berbalik menatap Jin So Hwa yang berdiri bingung di sampingnya, lalu membungkuk sedikit dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Nona So Hwa, mohon maafkan aku yang teramat sangat. Sebuah urusan hidup dan mati mendadak terjadi pada kerabatku. Aku terpaksa harus membatalkan perjalanan kita ke Dahyangguk malam ini. Aku harus pergi sekarang!"
Setelah mengucapkan kalimat maaf tersebut, Seo Jun langsung melompat ke atas kudanya dan memacu hewan berkaki empat itu melesat cepat menembus kegelapan malam, meninggalkan So Hwa yang terpaku sendirian di pelataran.
Pembatalan perjalanan yang mendadak itu menyisakan tanda tanya besar di benak Jin So Hwa. Dengan langkah gundah, ia akhirnya memilih untuk berjalan kembali ke kedemian keluarga Han. Di dalam ruang tengah yang temaram, ia mendapati Han Seol sedang duduk memeriksa bilah pedangnya.
Melihat raut cemas dan bingung yang tercetak jelas di wajah istrinya, Han Seol meletakkan pedangnya perlahan.
"Kenapa kau sudah kembali? Bukankah kau bilang akan pergi ke perbatasan bersama Seo Jun?"