Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan tak sengaja
Jantung Aura serasa berhenti berdetak saat melihat layar kamera di tangan Devan. Kebenaran yang baru saja terungkap di koridor lantai tiga itu terlalu mengejutkan.
Sebelum Aura sempat merespons atau mengucapkan sepatah kata pun, suara langkah kaki dosen yang mendekat membuat Devan buru-casual memasukkan kameranya ke dalam tas, lalu melangkah pergi begitu saja tanpa pamit.
Aura berdiri terpaku. Pikirannya benar-benar kalut. Sosok bad boy urakan yang selama ini paling ia hindari di kampus ternyata adalah orang yang diam-diam mengabadikan tiap sudut kehidupannya lewat kamera.
Sore harinya, untuk menenangkan pikiran yang makin semrawut, Aura memutuskan pergi ke perpustakaan pusat kampus.
Suasana perpustakaan lantai dua yang sepi, berbau kertas tua, dan tenang biasanya selalu berhasil membuat kepala Aura adem. Ia berniat mencari beberapa referensi buku untuk tugas akhirnya, sekalian bersembunyi sejenak dari kenyataan.
Aura berjalan menyusuri lorong-lorong rak buku yang tinggi. Langkah kakinya pelan, matanya menyisir deretan judul buku di rak Manajemen Pemasaran. Namun, saat ia melangkah ke lorong paling ujung yang biasanya selalu kosong, langkah Aura mendadak terhenti.
Di sana, di antara himpitan dua rak buku raksasa, ada seorang cowok sedang duduk bersandar di lantai.
Satu kakinya ditekuk, matanya terpejam, dan headphone hitam terpasang melingkar di lehernya. Jaket kulit hitamnya tergeletak di sampingnya.
Devan.
Aura refleks mundur satu langkah. Kenapa sih cowok ini harus ada di mana-mana? batin Aura meratapi nasibnya.
Aura berniat balik kanan dan memutar lewat lorong lain, tapi suara decitan halus dari sepatunya di atas lantai parket membuat Devan perlahan membuka mata. Tatapan mata mereka berdua bertabrakan di udara.
Devan tidak terlonjak kaget. Ia hanya menatap Aura datar, lalu kembali membuang muka ke arah lain seolah-olah Aura hanyalah angin berlalu.
Cowok itu membetulkan posisi duduknya, merogoh ponsel di saku celana, dan berpura-pura sibuk menggeser layar ponselnya dengan wajah super cuek.
Sikap dingin Devan yang tiba-tiba ini justru membuat Aura merasa risih dan makin serba salah.
Baru beberapa jam lalu Devan membongkar rahasianya di koridor, tapi sekarang dia berlagak seperti orang asing yang tidak saling kenal.
Aura berusaha bersikap profesional. Aku ke sini mau cari buku, bukan mau ngurusin Devan, pikirnya membakar semangat sendiri.
Aura melangkah maju, pura-pura tidak terganggu dengan keberadaan Devan di bawah.
Ia berdiri tepat di depan rak buku yang berada di samping Devan, menengadahkan kepala untuk mencari buku yang ia butuhkan. Sayangnya, buku bersampul tebal berwarna biru yang ia cari berada di rak paling atas.
Aura berjinjit. Tangannya terulur setinggi mungkin, tapi jarinya cuma bisa menyentuh ujung bawah buku itu. Ia berjinjit makin tinggi, tapi tetap tidak sampai.
Dari bawah, Devan melirik sekilas dari balik layar ponselnya. Ia menghela napas pendek, lalu mengalihkan pandangannya lagi. Namun, setelah melihat Aura hampir kehilangan keseimbangan karena memaksa diri berjinjit, Devan akhirnya berdecak gemas.
Dengan santai, Devan berdiri. Posturnya yang tinggi menjulang langsung membuat lorong sempit itu terasa makin sesak.
Ia melangkah mendekati Aura dari belakang, merapatkan jarak hingga Aura bisa merasakan embusan napas halus di atas kepalanya.
Tangan panjang Devan terulur ke atas, dengan sangat mudah mengambil buku tebal yang sejak tadi diperjuangkan Aura.
Aura menegang. Ia membalikkan badan dengan cepat, dan kini posisinya benar-benar terkunci antara rak buku tebal dan dada Devan yang tegap. Bau aroma kayu manis dan tembakau dari Devan langsung menyergap indra penciumannya.
"Kamu..." Aura menahan napas, menatap Devan dengan mata membelalak. "Mau apa?"
Devan menatap Aura dari atas dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Tidak ada lagi raut panik seperti di parkiran atau raut penuh arti seperti di koridor tadi siang. Devan benar-benar memasang kembali topeng cueknya rapat-rapat.
"Ambil buku, kan?" suara Devan terdengar dingin dan agak serak.
Ia menyodorkan buku tebal itu tepat di depan dada Aura. Aura yang masih kaget refleks menerima buku tersebut.
"Mak—makasih," gumam Aura pelan, sangat tidak terbiasa dengan ketegangan di antara mereka.
Devan tidak menjawab ucapan terima kasih itu. Ia justru mundur dua langkah, kembali bersandar santai di rak buku dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana jinsnya.
"Lain kali kalau pendek, pakai tangga lipat di ujung lorong," kata Devan datar, tanpa menatap muka Aura. "Biar nggak usah bikin heboh."
Aura melotot. Rasa risih dan jengkel yang sejak tadi ditahannya langsung meluap. "Aku nggak bikin heboh, ya! Kamu saja yang tiba-tiba berdiri di belakang aku!"
"Gue cuma bantu," sahut Devan santai, menggunakan bahasa "gue" lagi seolah ingin memperjelas benteng di antara mereka. "Daripada lu jatuh terus kena gue, makin repot urusannya."
Aura mengepalkan tangannya di samping tubuh, meremas buku tebal itu erat-erat.
Ia benar-benar heran dengan perubahan sikap Devan yang sangat drastis. Kenapa Devan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Padahal rahasia besar soal foto-foto itu sudah membayang di antara mereka berdua.
"Devan," panggil Aura dengan suara pelan tapi menuntut.
"Apa?" jawab Devan pendek, matanya tetap memandang ke arah jendela perpustakaan yang menampakkan langit sore.
"Soal yang di koridor tadi..." Aura melangkah satu tindak mendekati Devan. "Kamu belum jelaskan apa-apa ke aku. Kenapa kamu punya foto-foto aku? Kenapa kamu diam-diam memotret aku selama ini?"
Devan diam sejenak. Rahangnya mengeras, tapi ekspresi wajahnya tetap dipaksa sedingin es. Ia menoleh perlahan, menatap Aura dengan pandangan meremehkan yang dibuat-buat.
"Foto yang mana?" tanya Devan pura-pura lupa.
"Jangan pura-pura bodoh, Devan!" bisik Aura setengah memekik, takut dimarahi penjaga perpustakaan. "Foto di akun @BehindTheLens! Kamu kan pemilik akun itu? Foto yang di kamera kamu tadi siang itu buktinya!"
Devan terbatuk pelan—sebuah tawa remeh yang terasa sangat buatan.
"Oh, itu," kata Devan santai sambil mengibaskan tangannya.
"Lu terlalu percaya diri, Ra. Gue itu fotografer. Gue memotret apa saja yang kelihatan bagus di kamera gue. Latar kampus, pohon, gedung, ya kebetulan saja ada lu yang melintas di situ. Jadi objek pemanis doang."
Kata-kata Devan rasanya menampar Aura. Objek pemanis doang?
"Tapi jumlahnya banyak banget, Devan! Di album aku saja ada puluhan, belum lagi yang ada di feed Instagram kamu!" cecar Aura tidak terima.
"Kamu memotret aku saat aku tertawa, saat aku baca buku, bahkan saat aku kelelahan! Itu bukan kebetulan!"
"Terus lu mau gue ngomong apa?" tantang Devan. Ia memajukan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Aura. "Lu mau dengar gue ngaku kalau gue suka sama lu? Begitu?"
Aura terdiam kaku. Tenggorokannya mendadak mengering mendengar ucapan frontal dari mulut Devan.
Devan tersenyum sinis, meski hatinya sebenarnya menjerit panik karena hampir saja membongkar perasaannya sendiri.
"Jangan keperdaya sama ekspektasi lu sendiri, Aura. Cewek pinter kayak lu harusnya tahu bedanya mana karya seni, mana perasaan. Lu cuma objek foto yang kebetulan pas dengan komposisi lensa gue. Nggak lebih dari itu."
Aura merasa wajahnya memanas. Ada rasa malu, marah, dan kecewa yang bercampur aduk jadi satu di dadanya. Cara Devan berbicara benar-benar membuat Aura merasa bersalah karena sudah berpikiran yang tidak-tidak. Tapi di sisi lain, hati kecil Aura tetap merasa ada sesuatu yang Devan sembunyikan di balik tatapan matanya yang dingin itu.
"Oke," bisik Aura dengan suara bergetar. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, mencoba mempertahankan harga dirinya.
"Kalau memang aku cuma 'objek pemanis' yang nggak sengaja terpotret, tolong hapus semua foto aku yang ada di kamera kamu. Dan berhenti unggah foto aku di akun itu."
Devan menatap Aura tanpa berkedip. "Kalau gue nggak mau?"
"Devan!"
"Kamera itu punya gue, karya itu punya gue," potong Devan cepat dan tegas. "Lu nggak punya hak buat menyuruh gue menghapus apa yang sudah gue tangkap lewat lensa gue."
"Tapi itu foto wajah aku!" tegasi Aura, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang meluap.
"Kamu nggak berhak memanfaatkan foto orang lain seenaknya cuma demi estetika akun kamu!"
Devan tertegun melihat kilatan air mata yang mulai berkumpul di sudut mata Aura. Benteng pertahanan dingin yang ia bangun susah payah mendadak goyah.
Rasa bersalah langsung menggerogoti dadanya. Devan paling tidak bisa melihat cewek menangis, apalagi jika gara-gara dirinya.
Devan baru saja hendak merubah suaranya dan meminta maaf, tapi tiba-tiba dari ujung lorong perpustakaan, suara langkah sepatu yang berat dan tegap terdengar mendekat.
"Permisi? Ada apa berisik-berisik di sini?"
Suara berat dan berwibawa itu membuat Aura dan Devan kompak menoleh.
Di ujung lorong, berdiri Pak Surya—dosen senior sekaligus Dekan Kemahasiswaan yang paling ditakuti di kampus, yang juga merupakan Dosen Pembimbing untuk tugas akhir Aura.
Pak Surya melangkah masuk ke lorong dengan kacamata yang melorot di hidungnya. Matanya yang tajam menatap Devan dan Aura bergantian, lalu tertuju pada ketegangan di antara mereka berdua.
"Aura? Devan?" Pak Surya memicingkan mata heran. "Sedang apa kalian berdua di lorong sepi begini? Devan, kenapa kamu ada di perpustakaan?"
Devan langsung kembali memasang wajah cueknya, sementara Aura panik setengah mati sambil mengusap sudut matanya cepat-cepat.
"Anu, Pak... kami cuma..." Aura gagap, bingung harus mencari alasan apa.
Pak Surya menatap Devan curiga, lalu beralih melihat mata Aura yang memerah. Wajah sang dosen senior seketika berubah menjadi sangat tegas dan dingin.
"Devan, ikut saya ke ruangan sekarang," kata Pak Surya dengan nada tidak bisa dibantah.
"Dan Aura, kamu juga ikut. Ada hal penting terkait insiden parkiran tadi siang dan laporan dari beberapa mahasiswa yang harus kita selesaikan hari ini juga."
Bersambung...