NovelToon NovelToon
TUMBAL 1000 NYAWA

TUMBAL 1000 NYAWA

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Banjoriuga

Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA

Sinopsis:

Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.

Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.

Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hantaman di Atas Telaga Darah

Bilah belati perunggu meluncur membelah udara gua, memancarkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan hingga membakar kabut racun keunguan di atas Telaga Tumbal. Mbah Suro meraung murka, memutar tubuhnya secara mendadak seraya mengayunkan tongkat kayu berduri yang langsung memancarkan aura merah kehitaman untuk menangkis tusukan maut Arya.

​BUMM!

​Benturan dua energi raksasa itu memicu ledakan gelombang kejut yang dahsyat di tengah udara. Air merah dari Telaga Tumbal terlempar membumbung tinggi seperti dinding air raksasa sebelum akhirnya menimpa pilar-pilar batu di sekeliling gua. Guncangan keras tersebut melempar tubuh Arya ke samping, membuatnya jatuh tersungkur di atas permukaan pilar batu yang licin oleh cairan berbau amis.

Cermin perunggu tua yang melayang di samping Mbah Suro retak memanjang, mengeluarkan cairan hitam kental yang menetes perlahan ke dasar pilar. Raungan seribu jiwa dari dalam cermin kian melengking, memancarkan gelombang ketakutan yang membuat saraf Arya terasa seperti diremas dari dalam.

​"Kau pikir bisa menghancurkan jangkar jiwaku semudah itu, bocah?!" raung Mbah Suro dengan wajah yang kini meliuk membengkak, memancarkan urat-urat kehitaman yang menjalar di sekujur kulitnya.

Ia menerjang Arya dengan tongkat berdurinya, mengincar dada pemuda itu tanpa memberi celah untuk bernapas. Setiap kali tongkat itu diayunkan, pendar api merah menyambar, meninggalkan bekas hantaman yang menghancurkan permukaan batu kapur pilar. Arya berguling panik ke kiri dan kanan, mengandalkan refleks tubuhnya untuk menghindari tebasan mematikan tersebut seraya mencari celah untuk menancapkan kembali belati perunggunya.

​Di ujung panggung batu, Baskara memanfaatkan sisa rantai besinya untuk melompati deretan tangan tulang belulang yang merayap di tangga, mendarat tepat di belakang Mbah Suro. "Suro! Perjanjianmu dengan kegelapan berakhir hari ini!"

Baskara melemparkan rantai besinya yang telah dilumuri sisa Minyak Naga Sakti, melilit rapat leher Mbah Suro dari belakang. Asap putih membumbung tinggi diiringi suara desisan nyaring sewaktu minyak suci itu membakar kulit sang pimpinan sekte. Mbah Suro menjerit kesakitan, terhuyung mundur seraya berusaha melepaskan lilitan rantai membara yang mencekik tenggorokannya.

​"Arya! Hancurkan cermin itu sekarang!" teriak Baskara dengan urat-urat leher menegang, menahan tarikan tenaga ghaib Mbah Suro menggunakan seluruh sisa daya hidupnya.

​Arya tidak membuang waktu. Ia bangkit berdirinya, memusatkan seluruh sisa energi keemasan dari belati perunggu dan darah murninya, lalu melompat lurus menerjang cermin perunggu retak yang melayang di udara.

​CRASH!

Ujung belati perunggu menghantam tepat di pusat retakan cermin tua tersebut. Cermin perunggu itu meledak menjadi ribuan serpihan logam yang meluruh terbakar api keemasan, memancarkan ledakan cahaya Murni yang meruntuhkan seluruh dominasi ghaib di dalam Gua Langse.

Ledakan cahaya murni dari hancurnya cermin perunggu menyapu seluruh ruangan Gua Langse bagaikan gelombang badai. Serpihan logam tua yang terbakar melayang liar di udara, memancarkan kilau keemasan yang serta-merta membakar setiap jengkal lumut racun keunguan di langit-langit batu. Suara raungan dari sembilan ratus sembilan puluh sembilan jiwa yang terperangkap mendadak berubah dari jeritan kesakitan menjadi desah kebebasan yang bergema lembut membelah keheningan gua.

​Mbah Suro melengking histeris sewaktu cermin yang menjadi jangkar keabadiannya pecah berantakan. Tubuh kurus keringnya yang semula disokong oleh energi ghaib mulai menyusut dan membengkak secara tidak wajar. Urat-urat kehitaman di kulitnya pecah, memuntahkan cairan belerang hitam yang langsung menguap begitu tersentuh pendar cahaya belati perunggu Arya.

"Tidak mungkin! Perjanjian Sumpah Sewu tidak bisa dihancurkan oleh darah fana!" raung Mbah Suro dengan suara pecah yang kian melemah.

​Ia berusaha mengayunkan tongkat kayunya ke arah Arya untuk terakhir kali. Namun, sebelum ujung tongkat itu menyentuh tubuh Arya, rantai besi berselimut Minyak Naga Sakti yang dililitkan Baskara meletupkan percikan api keemasan yang membakar habis leher dan dada sang pimpinan sekte. Mbah Suro meraung kencang sebelum akhirnya tubuhnya meretas, meluruh menjadi tumpukan abu hitam yang jatuh menyatu dengan air Telaga Tumbal.

Bersamaan dengan binasanya Mbah Suro, air merah di Telaga Tumbal mendadak kehilangan warna amis darahnya. Cairan pekat itu berubah menjadi air laut jernih yang memancarkan pendar putih lembut. Puluhan tangan tulang belulang yang tadinya merayap buas di tangga batu meleleh perlahan, berganti menjadi wujud bayangan manusia murni yang tersenyum tenang ke arah Arya, Baskara, Mbak Sekar, dan Kirana sebelum terbang membumbung menembus langit-langit gua menuju kedamaian abadi.

​Arya jatuh berlutut di atas pilar batu, napasnya memburu kencang. Belati perunggu di tangannya perlahan meluruh, berubah menjadi serbuk logam halus yang diterbangkan angin laut—menandakan bahwa tugas pusaka tua itu telah tuntas sepenuhnya. Rasa dingin dan panas beracun yang selama ini menggerogoti dadanya sirna tanpa sisa, digantikan oleh kehangatan murni yang mengalir lancar di dalam pembuluh darahnya.

Baskara merangkul bahu Arya dengan erat, menyapu keringat bercampur air mata di pipi putranya. Di ujung undakan tangga, Mbak Sekar dan Kirana menghela napas lega seraya menyaksikan air laut jernih yang menyapu bersih setiap sisa racun di dalam gua.

​Namun, saat keheningan yang hakiki mulai melingkupi rahim Gua Langse, sebuah rekahan kecil mendadak muncul di dinding batu utama di belakang bekas pilar Mbah Suro. Dari balik rekahan tersebut, sebuah gulungan kain mori hitam tua yang terikat serat rotan jatuh perlahan ke atas batu basah, memancarkan bau minyak cendana yang amat dikenal oleh Arya.

​Kirana menegang seketika, matanya membelalak menatap gulungan mori hitam itu. "Itu... Peta Sumpah Kedua... Perjanjian Alas Mayit ternyata hanya salah satu dari tujuh cabang sumpah yang tersebar di tanah Jawa."

1
Renjana
malem gini bacanya agak serem tapi penasaran 😊
Renjana
semangat nulis💪
mampir juga diceritaku yah😊
Banjoriuga: Iya ka terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!