NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nara dengan trauma nya

Efek obat bius dosis ringan itu perlahan mengikis, membuat mata Revan terbuka samar-samar. Rasa hangat dari selimut tebal menyapa kulitnya, namun ada hal asing yang membuatnya langsung tersentak sadar sepenuhnya. Saat Revan menurunkan pandangan, ia menyadari seragam militer dan bajunya sudah menghilang, melucuti pertahanannya dan meninggalkan dirinya hanya dengan pakaian dalam.

Harga dirinya sebagai seorang komandan prajurit elite mendadak runtuh dalam semalam.

"Apaan ini?! Ke mana bajuku?!" seru Revan panik, terburu-buru menarik selimut hingga menutupi dadanya, wajahnya memerah padam.

Nara yang menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu tersenyum licik, menikmati kepanikan pria tegap di depannya. "Tenang, Bang... Nara sudah lihat semuanya, nggak usah ditutupi."

"Nara..." lirih Revan gagu, benar-benar dibuat malu setengah mati oleh kelakuan bidan di depannya.

"Saya..." sahut Nara menirukan gaya Revan dengan nada mengejek, menyilangkan tangan di dada. "Jangan banyak gerak, Bang. Luka Abang di bahu belum sembuh, dan Nara curiga ada racun di parang yang menyayat Abang tadi."

Nara melangkah mendekat, tatapannya berubah serius namun tetap santai. "Nanti Abang tanya saja sama tim Abang, ada racun atau tidak... dan kalau ada, racun apa. Biar Nara tidak salah penanganan."

"Kak Nara!"

Suara lembut Nisa menggema dari ruang depan, membelah suasana canggung yang melingkupi mereka berdua.

"Masuk kamar mandi, Bang," seru Nara cepat sambil melemparkan handuk kering ke arah Revan.

Nara segera melangkah keluar menyambut adiknya. "Eh, Adek..." sapanya hangat seraya mengelus lembut rambut Nisa.

Nisa langsung menyerbu dan memeluk erat tubuh Nara, tangis tipisnya masih tersisa. "Kak... Nisa takut banget Kakak terluka..."

"Gak apa-apa, Dek... Kakak aman kan sekarang," seru Nara lembut, mengusap punggung Nisa untuk menyalurkan rasa tenang.

Nisa melepaskan pelukannya lalu menoleh celingukan. "Abang mana, Kak?"

"Mandi, Dek," sahut Nara santai.

"Ini Kak, sarapannya. Nanti Nisa kemari lagi ya, Kak," ujar Nisa seraya menyerahkan rantang makanan yang masih hangat.

"Iya, Dek... Makasih ya," balas Nara tersenyum manis.

Begitu pintu depan tertutup rapat dan Nisa berjalan pulang, Revan keluar dari kamar mandi dengan pakaian bersih ganti yang dibawakan Nisa. Baju kaus longgar itu berhasil menutupi balutan perban ketat di dadanya.

"Bang Revan, ganti baju... Jangan sampai Ibu tahu luka Abang," tegur Nara mengingatkan.

Revan mengangguk pelan, menyadari betapa khawatirnya sang ibu jika tahu putranya hampir tertebas parang musuh.

"Makan dulu, Bang. Ibu bawain sarapan," ajak Nara seraya menunjuk meja kecil di sudut kamar. "Nara juga sudah buatkan teh hangat."

*****

Aroma teh hangat dan wangi nasi goreng buatan Ibu perlahan memenuhi sudut ruangan. Suasana yang tadinya tegang dan sarat akan amis darah, kini berubah drastis menjadi hangat dan menenangkan. Revan menyantap sarapannya dengan sangat lahap, seolah energi bertarungnya baru saja dikuras habis.

Nara duduk di seberang meja, menikmati makanannya dengan tenang seraya memperhatikan cara makan pria di depannya.

"Tambah lagi, Bang," tawar Nara seraya mendorong mangkuk berisi lauk ke dekat tangan Revan.

Revan menyengir canggung, mengusap tengkuknya. "Maaf ya, Nara... Abang lapar sekali. Serasa habis lari maraton sepuluh kilometer."

"Lanjut, Bang... Habiskan saja," sahut Nara santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

Ruangan itu hening sejenak, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring. Revan meletakkan sendoknya, meneguk teh hangat hingga tersisa separuh, lalu menatap Nara dalam-dalam.

"Nara..." dipanggilnya nama itu dengan nada yang mendadak berubah berat dan serius.

Nara merapikan piring plastiknya, lalu melihat datar. "Ya, Bang?"

"Pacaran, yuk?"

Kalimat itu meluncur begitu mulus dari bibir Revan. Namun, alih-alih merona merah, gugup, atau tersedak ludah sendiri, respon Nara benar-benar di luar dugaan. Wajahnya tetap tenang, tanpa kilatan terkejut sedikit pun.

"Kenapa? Karena Nara sudah lihat tubuh Abang tanpa busana tadi malam?"

ledek Nara, menyunggingkan senyum miring yang sangat jahil.

"Jadi Abang merasa harus minta dipertanggungjawabkan?"

"Nara!"

Revan mendadak tersedak ludahnya sendiri. Pria tegap berwajah garang itu berdehem keras-keras untuk menutupi kepanikan dan rona merah yang menjalar dari leher hingga ke ujung telinganya.

"A-Abang serius, lho..."

"enggak bang,"

balas Nara santai, memutar-mutar cangkir tehnya.

"Nara benci laki-laki, Bang. laki laki itu sukanya mainin hati wanita., tidak bertanggung jawab"

Revan memajukan tubuhnya, menatap Nara lekat-lekat.

"Nara... tidak semua laki-laki begitu."

"Semua kok,"

potong Nara cepat, matanya berkedip jahil.

"Nara trauma sendiri melihat keadaan sekitar. Laki-laki itu egonya setinggi langit, tidak mau kalah, merasa paling jagoan, dan ujung-ujungnya cuma bikin pusing."

Melihat gurat kepanikan di wajah Revan yang tak tahu harus merespon apa, tawa Nara akhirnya pecah. Suara tawa renyah dan lepas dari bibir bidan cantik itu terdengar sangat manis sebuah pemandangan langka yang membuat Revan terpesona sekaligus gemas setengah mati.

"Tuh kan, ... Kamu sengaja ya ngerjain Abang dari tadi?"

gumam Revan, dadanya berdesir hebat.

Rasa gemas yang menumpuk dipadu ego ketentaraannya yang terus-menerus dikulik membuat pertahanan Revan runtuh.

Tanpa peringatan, Revan bangkit dari kursinya. Langkah tegapnya memutar meja, mendatangi Nara yang masih terkekeh pelan.

Nara yang mengira Revan hanya ingin mengambil minum melihat santai.

"Kenapa, Bang...."

Kalimat itu terputus seketika. Revan membungkukkan tubuhnya, menangkup kedua pipi Nara dengan jemarinya yang hangat, lalu mendaratkan sebuah ciuman paksa tepat di atas bibir merah alami milik wanita itu.

Ciuman itu menuntut, penuh kerinduan dan kepemilikan yang tertahan dari semalam.

Revan ingin membuktikan bahwa ia benar benar laki laki yang bisa diandalkan.

DEG!

Nara tersentak hebat. Matanya membelalak lebar. Kehangatan yang tiba-tiba menyerang indranya seketika memicu memori kelam beberapa jam lalu ingatan tentang sentuhan kasar, napas berbau busuk, dan kebrutalan musuh yang hampir merenggut kehormatannya di Polindes ini.

Sensasi asing bercampur trauma mengerikan yang belum sepenuhnya mengendap langsung membakar lambung Nara.

Nara mendorong dada Revan sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung mundur.

"Ugh... HOEEKK!"

Nara menutup mulutnya erat-erat dengan sebelah tangan, wajahnya yang semula merona mendadak pucat pasi.

Ia membungkuk dalam-dalam, perutnya mual hebat hingga hendak muntah tepat di hadapan Revan yang berdiri mematung dengan raut wajah panik luar biasa.

Revan bingung...

" apa semenjijikan itu bau mulut ku "....

Revan sedikit merasa bersalah dan .... malu...

" Nara....

Revan pergi mendatangi Nara ...

1
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!