NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL07. First?

Pagi itu, Qiera datang ke kampus dengan pikiran yang sudah dipenuhi berbagai kemungkinan. Sejak aksi damai beberapa hari lalu, tim BEM FH terus bekerja untuk memastikan laporan mengenai perilaku tidak pantas seorang dosen terhadap mahasiswa tidak berhenti sebagai tumpukan berkas di meja organisasi. Mereka sudah mengajukan permohonan audiensi, mengumpulkan informasi yang relevan, dan berkoordinasi dengan pihak fakultas agar persoalan tersebut ditangani melalui prosedur yang semestinya.

Namun, sampai pagi itu, jawaban yang mereka tunggu belum juga datang.

Qiera meletakkan tasnya di meja ruang BEM, kemudian membuka kembali catatan yang sejak semalam sudah dibacanya berkali-kali. Matanya bergerak mengikuti setiap poin, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat. Di seberangnya, Arga sedang berbicara dengan dua anggota lain mengenai jadwal pertemuan dengan perwakilan fakultas.

“Pihak fakultas akhirnya membalas email kita,” kata Arga setelah mengakhiri percakapannya. Ia berjalan mendekati meja Qiera sambil membawa ponsel. “Audiensi dijadwalkan besok siang. Mereka juga meminta kita menyerahkan rangkuman laporan dan kronologi yang sudah disusun.”

Qiera langsung mengangkat kepala. “Akhirnya. Mereka memastikan identitas pelapor tetap terlindungi, kan?”

“Sudah kita tegaskan dalam surat balasan. Aku juga meminta agar pembahasan laporan dilakukan secara tertutup dan hanya melibatkan pihak yang berkepentingan.”

Qiera mengangguk, sedikit lega. “Bagus. Aku enggak mau orang yang sudah berani melapor justru harus menghadapi tekanan baru gara-gara identitasnya tersebar.”

“Aku juga.” Arga menarik kursi di sampingnya. “Tapi kita harus ingat, tugas kita menyampaikan laporan dan mengawal prosesnya. Kita bukan pihak yang menentukan seseorang bersalah atau tidak. Pemeriksaan tetap harus dilakukan oleh pihak yang berwenang.”

“Aku tahu.” Qiera menutup buku catatannya sebentar. “Aku cuma enggak mau laporan ini berakhir tanpa kejelasan.”

“Makanya besok kita datang dengan persiapan lengkap.”

Qiera tersenyum tipis. “Siap, Pak Ketua!”

Arga tertawa kecil. “Nah, begini kalau Bu Waka sudah serius. Biasanya kalau aku panggil dari tadi, jawabannya cuma ‘sebentar’.”

“Karena biasanya Kak Arga manggil aku pas aku lagi makan.”

“Alasan.”

“Fakta.”

Perdebatan kecil itu membuat beberapa anggota yang duduk tidak jauh dari mereka tertawa. Untuk sesaat, suasana ruang BEM kembali seperti biasa. Namun, Qiera tahu pekerjaan mereka belum selesai. Ada seorang mahasiswa yang telah mempercayakan persoalan sensitif kepada mereka, dan kepercayaan itu tidak boleh diperlakukan sembarangan.

.

.

Sepanjang hari, Qiera mengurus dokumen yang diperlukan, menghadiri kelas, lalu kembali ke ruang BEM untuk memeriksa persiapan audiensi. Kesibukan tersebut membuatnya nyaris lupa makan siang sampai Arga meletakkan sebuah kotak makanan di atas mejanya.

“Makan dulu,” katanya.

Qiera mendongak. “Aku masih harus menyelesaikan rangkuman ini.”

“Rangkumanmu enggak akan kabur kalau ditinggal sepuluh menit.”

“Kak, aku serius.”

“Aku juga serius. Kamu belum makan dari pagi.”

Qiera hendak membantah, tetapi perutnya justru berbunyi pelan pada saat yang tidak tepat. Arga menahan tawa, sementara Qiera buru-buru menarik kotak makanan itu ke hadapannya.

“Jangan ketawa!”

“Aku enggak ketawa.”

“Wajahmu ketawa.”

Arga akhirnya tertawa juga. “Sudah, makan. Setelah itu kita lanjut.”

Qiera menggeleng sambil membuka kotak makanan. Ia tidak menganggap perhatian Arga sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka sudah cukup lama bekerja bersama untuk memahami kebiasaan masing-masing. Arga tahu Qiera mudah lupa makan ketika sibuk, sementara Qiera tahu ketua BEM itu bisa berubah cerewet ketika anggota timnya mulai mengabaikan kesehatan sendiri.

Sayangnya, ada orang lain yang mungkin akan memberikan makna berbeda jika melihat mereka.

Dan benar saja, ketika Qiera keluar dari ruang BEM menjelang sore untuk mengantarkan beberapa dokumen ke bagian administrasi fakultas, ia berpapasan dengan Ravi di koridor.

Dosen itu sedang berjalan bersama seorang kolega. Kemeja yang dikenakannya tampak rapi seperti biasa, sementara sebuah map terselip di tangannya. Qiera spontan memperlambat langkah dan mengangguk sopan.

“Selamat sore, Pak.”

Ravi membalas anggukannya. “Sore. Belum pulang?”

“Masih ada urusan organisasi, Pak.”

“Jangan sampai urusan organisasi membuat tugas kuliahmu terbengkalai.”

Qiera langsung menahan keinginan untuk mendengus. Bahkan di luar kelas, Ravi masih sempat mengingatkan soal akademik. “Enggak, Pak. Saya tetap mengerjakan tugas.”

“Bagus.”

Percakapan itu seharusnya selesai sampai di sana. Namun, sebelum Qiera melanjutkan langkah, Ravi sempat melirik dokumen yang dibawanya.

“Persiapan audiensi?”

Qiera terkejut. “Bapak tahu?”

“Saya membaca pemberitahuan dari fakultas. Saya tidak terlibat dalam pemeriksaannya, jadi jangan khawatir.” Nada Ravi tetap tenang. “Pastikan dokumennya disampaikan melalui jalur resmi dan jangan menyebarkan informasi yang bisa mengungkap identitas pelapor.”

Qiera mengangguk. “Iya, Pak. Kami juga sedang memastikan itu.”

“Baik. Semoga prosesnya berjalan sebagaimana mestinya.”

Ada sesuatu dalam kalimat sederhana tersebut yang membuat Qiera sedikit lega. Ravi tidak meminta penjelasan pribadi, tidak mencoba mencari tahu siapa pelapornya, dan tidak mempersoalkan aksi yang dilakukan mahasiswa. Ia hanya mengingatkan hal-hal yang memang perlu diperhatikan.

“Terima kasih, Pak.”

Ravi mengangguk sebelum kembali berjalan bersama koleganya.

Qiera memperhatikan punggungnya sesaat, lalu buru-buru menggeleng kecil. Ia tidak boleh melupakan bahwa laki-laki itu tetap dosen yang bisa membuatnya kesal hanya dengan satu pertanyaan di kelas.

Meskipun, belakangan ini, ada beberapa hal tentang Ravi yang mulai membuatnya berpikir ulang.

...☁☁☁...

Audiensi keesokan harinya berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan Qiera. Perwakilan BEM menyampaikan laporan, menjelaskan kronologi yang telah disusun, dan meminta agar pihak fakultas memastikan proses pemeriksaan berjalan dengan adil. Mereka juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap pelapor serta larangan segala bentuk tekanan atau tindakan balasan selama proses berlangsung.

Qiera beberapa kali menyampaikan pertanyaan mengenai mekanisme tindak lanjut. Ia tidak puas hanya dengan jawaban bahwa laporan akan dipelajari. Ia meminta kejelasan mengenai tahapan pemeriksaan, pihak yang bertanggung jawab, dan bagaimana perkembangan proses akan disampaikan tanpa melanggar kerahasiaan.

Arga mendampinginya, sesekali menambahkan poin yang belum sempat disampaikan. Meskipun pembicaraan berlangsung serius, keduanya tetap berusaha menjaga suasana agar diskusi tidak berubah menjadi pertengkaran.

Pada akhirnya, pihak fakultas menyatakan bahwa laporan akan diteruskan kepada unit yang berwenang untuk diperiksa sesuai prosedur. Mereka juga menyepakati mekanisme komunikasi dengan perwakilan mahasiswa agar perkembangan penanganan dapat dipantau tanpa menyebarkan informasi sensitif.

Qiera mengembuskan napas lega setelah audiensi berakhir. Bukan karena persoalan itu telah selesai sepenuhnya, melainkan karena setidaknya ada langkah resmi yang mulai berjalan.

“Belum selesai,” katanya ketika mereka keluar dari ruangan. “Tapi sekarang kita punya jalur tindak lanjut yang jelas.”

Arga mengangguk. “Dan kita akan memastikan komitmen itu benar-benar dijalankan.”

Qiera tersenyum kecil. “Terima kasih sudah bantu mengurus semuanya, Kak.”

Arga menoleh. “Kamu juga bekerja keras. Jangan merasa harus menanggung semuanya sendiri, ya.”

Kalimat itu membuat Qiera terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia tahu Arga mengatakannya sebagai rekan kerja, tetapi ia tetap menghargai dukungan tersebut.

Mereka kembali ke ruang BEM untuk menyampaikan hasil audiensi kepada anggota lain. Tidak ada perayaan berlebihan, sebab laporan itu belum mencapai penyelesaian akhir. Namun, setidaknya mereka bisa bernapas sedikit lebih lega sambil menunggu proses pemeriksaan berlangsung.

Menjelang sore, Qiera baru menyadari bahwa ponselnya dipenuhi pesan dari Ravi.

Pesan pertama menanyakan kapan ia pulang. Pesan kedua mengingatkannya bahwa hujan mulai turun. Pesan ketiga hanya berbunyi, *Jangan lupa makan sebelum pulang.*

Qiera menatap layar ponselnya cukup lama.

Lalu ia mengetik balasan.

*Aku masih di kampus, Mas. Audiensinya baru selesai. Sebentar lagi pulang.*

Balasan Ravi datang tidak lama kemudian.

*Baik. Kabari kalau sudah berangkat.*

Qiera tersenyum tanpa sadar. Ia baru hendak memasukkan ponsel ke tas ketika seorang anggota BEM melintas dan melihat ekspresinya.

“Wah, siapa yang bikin Bu Waka senyum-senyum sendiri?”

Qiera langsung mengubah wajah. “Enggak ada.”

“Bohong. Tadi jelas senyum.”

“Aku senyum karena audiensi berjalan lancar.”

“Yakin bukan karena seseorang?”

Qiera melemparkan gulungan kertas ke arah anggota itu, membuatnya tertawa sambil berlari menjauh. Setelah memastikan semua dokumen tersimpan, Qiera akhirnya berpamitan dan berjalan menuju gedung parkir.

Hujan yang turun sejak siang belum benar-benar berhenti. Lantai koridor menjadi sedikit licin, sementara beberapa mahasiswa bergegas mencari tempat berteduh. Qiera memeluk tasnya sambil mempercepat langkah. Ia sudah terlalu lelah untuk menghadapi kemacetan dan ingin segera pulang.

Ketika melewati lorong menuju tangga samping, ia melihat seseorang berdiri di dekat pintu keluar.

Ravi.

Qiera mengerjapkan mata, memastikan bahwa ia tidak salah melihat. “Mas? Kok ada di sini?”

Ravi menoleh. “Menjemput kamu.”

Qiera terdiam.

“Kamu bilang sebentar lagi pulang, tetapi hujan semakin deras. Saya kebetulan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kampus.”

“Mas bisa bilang dari tadi. Aku kira Mas udah pulang.”

“Saya sudah mengirim pesan.”

Qiera buru-buru memeriksa ponselnya dan menemukan sebuah pesan yang belum sempat dibacanya. Ia menggaruk pipi dengan canggung. “Oh maaf. Aku enggak lihat.”

Ravi menggeleng kecil. “Sudah. Ayo.”

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Ravi membawa payung, sedangkan Qiera sibuk menghindari genangan air yang terbentuk di sepanjang koridor. Awalnya perjalanan itu berlangsung tenang, sampai Qiera yang terlalu fokus melihat ponselnya tidak menyadari bahwa lantai di depannya masih basah.

Kakinya terpeleset.

“Eh—!”

Semuanya terjadi begitu cepat. Qiera kehilangan keseimbangan dan refleks meraih apa pun yang berada paling dekat dengannya. Ravi yang berjalan di sampingnya langsung berbalik, menangkap lengannya sebelum ia benar-benar jatuh.

Namun, karena gerakan mereka sama-sama mendadak, Ravi ikut kehilangan pijakan. Ia berhasil menahan tubuhnya dengan satu tangan pada dinding, sementara Qiera tanpa sengaja terdorong mendekat.

Dan dalam satu detik yang terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya, bibir mereka bersentuhan.

Qiera membeku.

Ravi pun terdiam.

Tidak ada yang bergerak selama beberapa saat. Suara hujan yang menghantam atap koridor terdengar begitu jelas, seolah-olah seluruh kampus mendadak berhenti melakukan aktivitasnya.

Qiera menjadi orang pertama yang tersadar. Ia segera mundur, tetapi langkahnya justru membuat punggungnya hampir menyentuh dinding. Wajahnya terasa panas sampai ke telinga.

“Mas.. a-ku tadi”

Kalimatnya berantakan. Ia bahkan tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana, padahal jelas-jelas ia sendiri yang kehilangan keseimbangan.

Ravi menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Setelah memastikan Qiera sudah berdiri dengan stabil, ia melepaskan tangannya perlahan.

“Kamu tidak apa-apa?”

Pertanyaan itu justru membuat Qiera semakin salah tingkah. “Aku nggak apa-apa. Mas sendiri?”

“Saya juga tidak apa-apa.”

Hening kembali menyelimuti mereka.

Qiera menunduk, sibuk memperhatikan ujung sepatunya seolah-olah benda itu memiliki jawaban atas situasi memalukan yang baru saja terjadi. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi setiap kali membuka mulut, yang muncul justru potongan kalimat yang tidak masuk akal.

“Aku tadi enggak sengaja.”

“Saya tahu.”

“Aku enggak bermaksud—”

“Lily.”

Qiera langsung mengangkat wajah.

Ravi menatapnya dengan tenang, meskipun ada sedikit perubahan pada ekspresinya yang membuat Qiera semakin gugup. “Kamu terpeleset. Saya mengerti.”

“Tapi tadi…”

Qiera berhenti sendiri. Bagaimana mungkin ia menjelaskan sesuatu yang bahkan belum berhasil ia pahami?

Ravi mengembuskan napas kecil, kemudian mengambil tas yang hampir terlepas dari bahu Qiera dan menyerahkannya kembali. “Lain kali, perhatikan jalan. Jangan berjalan sambil melihat ponsel.”

Qiera menerima tasnya dengan gerakan kaku. “Iya, Mas.”

“Sekarang kita pulang.”

Ravi kembali berjalan lebih dulu, memberi Qiera waktu untuk menenangkan dirinya. Namun, beberapa langkah kemudian, ia menoleh karena menyadari istrinya masih berdiri di tempat yang sama.

“Lily?”

Qiera tersentak. “Iya?”

“Ayo.”

Qiera segera menyusulnya, menjaga jarak beberapa langkah seolah jarak itu bisa menghapus kejadian barusan. Sayangnya, setiap kali mengingatnya, wajahnya kembali terasa panas.

Sementara itu, Ravi tetap berjalan dengan sikap setenang mungkin. Hanya saja, jemarinya yang menggenggam gagang payung sempat mengencang sesaat sebelum kembali rileks.

Ia tahu kejadian itu tidak disengaja. Ia juga tahu Qiera pasti sedang merasa malu. Namun, ketika tanpa sadar ia kembali mengingat momen singkat tadi, Ravi harus mengalihkan pandangannya ke jalan di depan.

Sebab untuk pertama kalinya setelah beberapa hari menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh pertengkaran kecil dan candaan menyebalkan, jarak di antara mereka terasa berbeda.

Bukan karena mereka sengaja mendekat.

Melainkan karena dalam satu kejadian yang tidak direncanakan, Qiera dan Ravi sama-sama menyadari bahwa mereka tidak lagi sekadar dua orang asing yang terikat oleh sebuah pernikahan.

Dan sore itu, di bawah payung yang sama, Qiera hanya bisa berjalan sambil menunduk, berharap jantungnya segera kembali berdetak normal.

Sayangnya, satu hal terus berputar di kepalanyaIa baru saja mencium suaminya sendiri. Dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah ini.

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!