Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mobil melaju kencang membelah kegelapan malam, hingga akhirnya berhenti di sebuah gudang tua yang terbengkalai di pinggiran kota.
Musdalifah dan Dokter Nakula diseret masuk dengan kasar ke dalam ruangan yang lembap dan berbau karat.
Kedua tangan mereka diikat kuat ke belakang pada sebuah kursi kayu, dengan kain hitam tebal yang menyumpal rapat mulut masing-masing.
"MMMMPPHH! MMMMPPHH!"
Nakula memberontak hebat, matanya melotot tajam menatap pria bertato kalajengking yang berjalan santai di hadapan mereka.
Melalui tatapan mata dan lenguhan tertahan, Nakula memohon agar sumpalan di mulutnya dilepaskan.
Pria bertato kalajengking itu berhenti tepat di depan Nakula.
Tanpa menyentuh sumpalan kain tersebut, ia justru mencengkeram rahang Nakula dengan sangat kuat hingga pria itu meringis kesakitan.
"Diam!" bentak pria itu dingin, suaranya menggema menusuk tulang.
"Dengarkan aku, atau aku akan membunuh kalian berdua detik ini juga!"
Pria itu tidak melepaskan sumpalannya sama sekali. Ia sengaja membiarkan ketakutan menguasai mereka.
Di sebelahnya, Musdalifah menangis sesenggukan hingga tubuhnya bergetar hebat.
Rasa sakit di kulit wajahnya yang melepuh makin menyiksa, berpadu dengan rasa takut luar biasa akan kematian yang kini membayang di depan mata.
Pria bertato kalajengking itu melangkah mundur, menatap dua tawanannya dengan pendar mata kejam.
"Aku tahu kalian berdua punya dendam membara pada Musa dan Laila," ucapnya dengan intonasi berat dan teratur.
"Kalian akan menjadi umpan terbaik untuk memancing mereka keluar dari sarangnya."
Ia menunjuk wajah Nakula dan Musdalifah bergantian dengan ujung pisau lipat yang baru saja ia keluarkan.
"Tugas kalian mudah. Kalian akan ikuti semua perintahku untuk menjebak Musa dan Laila ke dalam perangkap yang sudah kusiapkan. Jika kalian berhasil membuat Musa bertekuk lutut, Laila jadi milikmu, Dokter, dan kebangkrutan Musa akan jadi milikmu, Musdalifah. Tapi jika kalian mencoba berkhianat atau kabur,"
Pria itu mendekatkan mata pisau yang berkilat dingin ke leher Musdalifah, membuat tangisan wanita itu seketika terhenti karena ketakutan setengah mati.
"Nyawa kalian berdua akan melayang sebelum kalian sempat bernapas."
Pria bertato kalajengking itu memberi isyarat mata kepada salah satu anak buahnya.
Kain sumpalan di mulut Nakula dan Musdalifah akhirnya ditarik kasar, menyisakan napas tersengal-sengal dan deru ketakutan dari keduanya.
"Apa, yang harus kami lakukan?" tanya Nakula dengan suara gemetar, tak lagi menyisakan kesombongan yang tadi ia tunjukkan di kafe.
Rasa takut akan ancaman kematian di depan mata jauh lebih besar daripada harga dirinya.
Pria bertato kalajengking itu mengulas senyum miring yang penuh kepuasan.
Ia mendekat, membungkukkan badan tepat di antara Nakula dan Musdalifah.
"Laila baru saja mematikan ponselnya dan memutus akses luar atas perintah Musa, benar?" bisik pria itu dingin.
"Tapi, Musa tidak akan pernah bisa menolak atau curiga jika pancingan itu datang dari keluarganya sendiri."
Ia menatap Musdalifah dengan pandangan menekan.
"Kamu, Musdalifah, kamu akan menelpon Abahmu, Kyai Adi. Buat cerita palsu kalau kamu diculik atau dalam bahaya kritis akibat ulah orang-orang Musa. Minta Abahmu menyuruh Laila dan Musa datang ke lokasi yang sudah kami tentukan tanpa membawa pasukan."
Musdalifah menelan ludah dengan susah payah, wajahnya kian pucat.
"Tapi, Abah pasti curiga kalau—"
"Lakukan atau lidahmu kutotong sekarang!" potong pria itu dengan nada yang seketika membuat Musdalifah mengangguk cepat sambil terisak.
Pria itu lalu beralih menatap Nakula. "Dan kamu, Dokter, kamu akan bertugas memastikan Laila terpisah dari Musa begitu mereka tiba di lokasi. Gunakan pengetahuan medismu atau jebakan apa pun untuk menarik Laila keluar dari jangkauan Musa. Begitu Musa sendirian, orang-orangku yang akan membereskannya."
Nakula mengepalkan tangannya, memendam gejolak cemas dan ambisi gila yang saling beradu di dadanya.
"Kalau Musa habis, Laila benar-benar jadi milikku?"
"Laila milikmu, dan seluruh dendam Musdalifah terbalaskan," jawab pria bertato kalajengking itu santai, lalu berdiri tegak.
"Sekarang, siapkan ponsel kalian. Permainan baru saja dimulai."
Di bawah ancaman mata pisau yang menempel ketat di lehernya, Musdalifah menelpon Kyai Adi dengan suara gemetar dan tangisan histeris yang dibuat sealami mungkin.
"Abah, tolong Musdalifah, Abah!" jerit Musdalifah terisak-isak, membuat Kyai Adi di ujung telepon seketika panik luar biasa.
"Musdalifah disergap dan dianiaya! Mereka bilang, mereka orang-orangnya Musa! Mereka mau balas dendam atas kejadian kemarin!"
"Apa maksud kamu?!" pekik Kyai Adi tersentak kaget dari kursinya.
"Anak buah Musa? Musa itu seorang ustadz, Musdalifah! Dari mana dia punya anak buah seperti itu?!"
Dengan napas memburu dan rasa takut yang membakar tenggorokannya, Musdalifah menjeritkan kebenaran yang selama ini tersembunyi.
"Abah tidak tahu siapa dia sebenarnya! Abah. Musa itu seorang Mafia!"
Deg!
Kata "Mafia" menghantam pendengaran Kyai Adi bagaikan petir di siang bolong.
Sambungan telepon seketika terputus saat Kyai Adi mematikan ponselnya dengan tangan bergetar hebat.
Dadanya bergemuruh, disergap kebingungan dan ketakutan yang tak tertahankan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kyai Adi menyambar sorbannya dan bergegas keluar rumah.
Ia langsung memacu kendaraannya menuju Pondok Pesantren untuk menemui Kyai Adam—orang tua Musa—guna meminta penjelasan langsung atas identitas menantunya yang sebenarnya.
Sesampainya di pondok pesantren, Kyai Adi melangkah lebar menyusuri koridor utama dengan napas memburu dan raut wajah membara.
Tanpa memedulikan para santri yang menatapnya bingung, ia langsung menerobos masuk ke dalam kediaman Kyai Adam.
"Kyai Adam! Jelaskan semuanya padaku dan panggil Musa sekarang juga!" teriak Kyai Adi dengan suara bergetar menahan amarah dan ketakutan yang membuncah.
Kyai Adam yang sedang duduk bersama Umi Sinta di ruang tamu seketika berdiri, terkejut melihat kedatangan besannya yang begitu mendadak dan emosional.
"Kyai Adi? Ada apa ini? Tenangkan dirimu dulu." ucap Kyai Adam berusaha meredakan suasana.
"Apa kamu bilang?!" potong Kyai Adi dengan telunjuk bergetar menunjuk ke arah Kyai Adam.
"Musdalifah diculik oleh anak buah Musa! Dan yang lebih gila lagi, Musa itu seorang mafia!"
Deg!
Umi Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan, membelalakkan mata dengan tubuh gemetar hebat saat mendengar tuduhan mengerikan itu keluar dari mulut besannya.
Suasana ruangan seketika mendingin dan mencekam.
Kyai Adam pun membeku di tempatnya. Wajah wibawanya menegang, disergap rasa terkejut yang luar biasa.
Ia tahu betul siapa putranya dan pekerjaan apa yang selama ini disembunyikan Musa dari dunia luar, namun ia tak pernah mengira rahasia kelam itu akan meledak dengan cara seperti ini.
Tanpa membuang waktu dan sebelum situasi makin tidak terkendali, Kyai Adam dengan cepat mengambil ponsel di atas meja.
Dengan jemari tegap namun penuh ketegangan, ia segera menekan nomor Musa dan menghubunginya, menyuruh putra tunggalnya itu untuk segera pulang ke pondok pesantren detik ini juga.
"Musa, ada apa?" tanya Laila dengan raut wajah cemas, melihat perubahan mendadak pada ekspresi suaminya saat menerima telepon dari Kyai Adam.
Musa mematikan sambungan ponselnya, lalu menatap Laila dengan pendar mata yang dalam namun menenangkan.
Ia mengulurkan tangannya, merengkuh jemari dingin Laila.
"Ayo ikut aku, Sayang," ucap Musa rendah dengan nada penuh intonasi pelindung.
"Sepertinya ada yang sedang bermain-main denganku."
Laila tersentak pelan. Bayangan sosok pria bertato kalajengking dan cengkraman bahaya seketika melintas di benaknya.
"Musa, jangan-jangan lelaki itu?"
"Ssshh, jangan takut," bisik Musa lembut, memotong kalimat istrinya.
Ia menempelkan telapak tangannya di pipi Laila, mengecup kening sang istri dengan pendar kasih yang hangat dan dominan.
"Ada aku. Aku yang akan melindungimu."
Musa membantu Laila berdiri dengan perlahan, memastikan istrinya dalam kondisi cukup kuat untuk melangkah.
Setelah memastikan perawat melepas infus Laila dengan aman dan membawa barang-barang seperlunya, Musa menggenggam erat tangan istrinya, menuntunnya keluar menuju mobil.
Dengan pengawalan ketat dua mobil serba hitam yang mengekor di belakang mereka, Musa memacu kendaraannya membelah jalanan menuju Pondok Pesantren—siap menghadapi badai dan konfrontasi yang telah menunggunya di sana.
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii