Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.
Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.
Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:
"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"
ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!
Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Berdarah di Luar Kota
Suasana di markas kecil mereka—sebuah ruang baca lantai dua di rumah tua milik keluarga Bima—terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Aroma kopi hitam dan biskuit cokelat yang tadinya tersaji di atas meja seolah terabaikan oleh keheningan berat yang menyelimuti keenam remaja tersebut.
Di tengah meja kayu, sebuah peta digital berukuran besar terpampang dari layar laptop Dika, memperlihatkan rute navigasi antar wilayah yang menghubungkan berbagai distrik hingga ke pusat regional. Di beberapa titik peta, tampak titik-titik merah kecil yang berkedip pelan.
"Ulangi lagi, Sha. Apa yang lo rasain waktu lewat di depan gerbang SMA Bhakti Mulia tadi pagi?" tanya Revan dengan suara tenang namun tegas. Pemuda itu berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu di atas permukaan kayu, menatap lekat-lekat ke arah Sasha yang duduk bersandar gelisah di sebelah Anya.
Sasha merapatkan jaket hijau sage miliknya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya. "Waktu gue lewat sana, segel palka bawah tanah Sektor 02 emang udah hancur total kayak yang kita lakuin malam itu. Tapi, ada getaran frekuensi gaib lain yang tertinggal di dinding batunya... semacam kode transmisi darurat."
"Transmisi darurat?" potong Bima dengan kening berkerut. "Maksud lo, reruntuhan sekolah itu masih ngirim sinyal ke tempat lain?"
Nisa, yang sejak tadi sibuk membolak-balik catatan arsip digital dari dokumen Yayasan Graha Sentosa, mengangguk setuju dengan wajah pucat. "Sasha benar. Semalam, setelah gue berhasil membobol sisa firewall server pusat yayasan yang terbakar, gue nemuin satu direktori tersembunyi yang nggak sempat kehapus sama sistem self-destruction."
Nisa mengetuk beberapa tombol di laptopnya, menampilkan sebuah dokumen rahasia berkop surat resmi bertuliskan: DEWAN DIREKTUR UTAMA - SEKTOR INDUK UTARA.
"Selama ini, kita mengira R. Hartono dan Yayasan Graha Sentosa adalah pusat dari segalanya," lanjut Nisa serius. "Tapi dari dokumen ini... Graha Sentosa ternyata cuma salah satu dari lima cabang regional yang dikendalikan langsung oleh satu sosok misterius berjuluk The Grand Chancellor di wilayah pusat."
Suasana ruangan langsung mendadak senyap. Dika menelan ludah susah payah, kacamatanya sedikit melorot ke ujung hidung. "Jadi... pertempuran kita di SMA Bhakti Mulia dan Graha Sentosa kemarin itu... cuma sebatas ngancurin salah satu cabang kecil dari organisasi yang jauh lebih besar?!"
"Betul," jawab Nisa berat. "Dan hancurnya Graha Sentosa ternyata memicu alarm otomatis di empat cabang regional lainnya. Mereka tahu kalau kutukan Sektor 00 di sini musnah karena ulah kita berenam."
Bima mendengus kesal, menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat tangan di dada. "Sialan. Kirain setelah kita jungkir balik bertaruh nyawa di bawah tanah kemarin, kita bisa hidup tenang tanpa dikejar-kejar bayangan makhluk gaib lagi. Ternyata malah naik level jadi buronan yayasan nasional!"
"Kita nggak punya pilihan, Bim," sahut Revan pelan. Pandangannya menerawang jauh ke luar jendela kaca yang menampilkan langit sore Distrik Argopuro yang mulai kemerahan. "Kalau kita diam dan pura-pura nggak tahu, cepat atau lambat mereka bakal ngejar kita satu persatu. Organisasi itu nggak bakal biarkan saksi hidup yang ngerusak kurikulum mereka berkeliaran bebas."
Anya, yang duduk di sebelah Revan, menatap pemuda itu dengan tatapan penuh kekhawatiran. Jemari lentiknya perlahan terulur, menyentuh lembut punggung tangan Revan di atas meja. Sentuhan sederhana itu berhasil menarik perhatian Revan, membuat tatapan tajam sang ketua OSIS melunak seketika saat beradu pandang dengan mata jernih Anya.
"Revan benar," ucap Anya dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan. "Kita sudah melangkah sejauh ini bersama-sama. Apapun bentuk ancaman dari cabang regional lain, kita hadapi bareng-bareng seperti sebelumnya."
Anya memberikan senyuman tulus di balik balutan hijabnya, senyuman yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Revan. Di hadapan kelima sahabat mereka, ikatan di antara Revan dan Anya kian tak terpisahkan—bukan lagi sekadar rekan seperjuangan dalam teror maut, melainkan dua hati yang saling menguatkan di tengah kegelapan.
Bima berdeham keras-keras, sengaja membuat suara untuk mencairkan suasana romantis di antara pasangan ketua OSIS dan wakilnya itu. "Ehem! Mentang-mentang udah bebas dari kutukan, dunia serasa milik berdua ya. Terus rencana kita selanjutnya apa nih, Ketua? Mau sowan langsung ke markas besar mereka di pusat?"
Revan tersenyum tipis, menarik tangannya perlahan dari genggaman Anya lalu berdiri tegak menghadapi teman-temannya. "Sebelum kita melangkah ke sana, kita butuh informasi lebih banyak soal kelima cabang regional itu. Nisa, Dika, bisa kalian lacak ke mana arah sinyal transmisi darurat dari reruntuhan Bhakti Mulia semalam?"
Nisa langsung mengetik dengan cepat di keyboard laptopnya. Garis-garis data satelit dan gelombang frekuensi berkedip-kedip di layar. "Sedang dilacak... Sebentar... Sinyal itu terhubung ke sebuah titik koordinat di daerah pegunungan perbatasan. Sebuah panti asuhan tua yang bernaung di bawah yayasan amal fiktif."
Sasha mendadak memegang tengkuknya, matanya membelalak kaget. "Panti asuhan...?! Jangan-jangan tempat itu—”
"Pusat penampungan anak-anak asuh yang dipersiapkan buat jadi wadah generasi kedua Kurikulum Maut," potong Nisa dingin.
Revan mengepalkan tangannya erat-erat, kilatan amarah dan tekad bulat menyala di manik matanya. "Kalau begitu, tujuan kita selanjutnya sudah jelas. Kita istirahat malam ini, dan besok pagi kita bersiap buat perjalanan ke sana."
Malam harinya, pukul 21.30 WIB...
Di halaman depan rumah Bima, suasana terasa sepi dan damai. Lampu jalan memancarkan pendar kuning temaram di antara deretan pohon mangga.
Revan berdiri bersandar pada dinding pagar luar, memandang ke langit malam yang bertabur bintang. Pikirannya melayang memikirkan perjalanan berbahaya yang akan mereka tempuh esok hari. Tiba-tiba, derap langkah kaki yang ringan mendekatinya dari arah pintu samping.
Anya datang membawa dua kaleng minuman hangat rasa cokelat dari dapur. Gadis berhijab itu menyerahkan salah satu kaleng pada Revan.
"Ngelamun mulu dari tadi," kata Anya pelan, berdiri di samping Revan sambil memeluk kaleng minumannya dengan kedua tangan.
Revan menerima kaleng tersebut, tersenyum kecil. "Lagi mikirin keselamatan kalian semua. Perjalanan ke panti asuhan itu pasti jauh lebih berbahaya dari dua sekolah sebelumnya. Aku takut... kalau nanti ada di antara kalian yang terluka gara-gara aku."
Mendengar ucapan itu, Anya meletakkan kaleng minumannya di atas pembatas tembok, lalu menoleh menatap Revan lekat-lekat. Gadis itu merapatkan jarak di antara mereka, hingga hembusan napas hangat satu sama lain terasa di udara malam.
"Revan," panggil Anya dengan suara paling lembut yang pernah ia keluarkan. "Sejak malam pertama kita terjebak di Sektor 02, kita semua udah taruh kepercayaan penuh ke kamu. Jangan pernah nanggung semua beban ini sendirian lagi. Ada aku, ada Bima, Dika, Nisa, dan Sasha di belakang kamu."
Revan tertegun menatap manik mata Anya yang begitu tulus. Tanpa sadar, sebelah tangan Revan terulur merapikan sedikit ujung hijab Anya yang tertiup angin malam, menyelipkannya perlahan di balik bahu gadis itu. Wajah Anya merona merah terang di balik balutan hijabnya, namun ia tidak menghindar.
Jarak di antara mereka perlahan memendek. Di bawah naungan bintang-bintang malam Distrik Argopuro, di ambang babak baru perburuan yang mengancam nyawa, Revan dan Anya berbagi momen penuh ketulusan yang mengukuhkan janji tak terucap di antara keduanya: bahwa apapun yang terjadi di depan sana, mereka akan melangkah bersama sebagai satu kesatuan yang utuh.
[CATATAN AUTHOR]
Terima kasih sudah membaca Bab 22! Konflik semakin melebar ke jaringan regional luar kota, dan hubungan Revan & Anya makin bikin baper! Jangan lupa klik tombol Favorit/Rak Buku, tinggalkan komentar terbaikmu, dan Beri rating bintang 5 ya! Sampai jumpa di Bab 23!