NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arkan Sakit

Rania sedang mengemudi ketika ponselnya berdering, menampilkan nomor telepon rumah yang tak dikenal. Dahinya berkerut bingung, tapi dia tetap menekan tombol hijau untuk menjawab.

"Halo." sapanya dengan nada hati-hati.

"Ta...Tante Rania?" Suara kecil Kenzie terdengar di seberang sana, serak dan terdengar seperti habis menangis.

"Kenzie? Ada apa, sayang?" Rania langsung waspada, fokusnya sepenuhnya teralihkan dari jalanan. Ia segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan.

"Daddy... Daddy nggak bangun, Tante. Kenzie udah coba bangunin tapi Daddy nggak bangun-bangun." suara Kenzie terdengar panik dan penuh ketakutan.

Darah Rania langsung berdesir. "Tunggu di sana, ya. Tante akan ke sana sekarang juga. Jangan panik, Kenzie. Daddy pasti baik-baik aja."

Tanpa pikir panjang, Rania memutar balik mobilnya dan menginjak pedal gas lebih dalam. Namun, di tengah kepanikannya, ia menyadari bahwa ia tidak tahu alamat rumah baru Arkan.

Dengan cepat, Rania menelpon balik nomor tadi. Seorang asisten rumah tangga mengangkat telepon dan menyebutkan alamat lengkap rumah baru Arkan.

Di kamar Arkan, Kenzie menangis sesenggukan sambil terus mengguncang tubuh ayahnya. Namun, Arkan tak kunjung bangun.

Seorang pelayan sempat mencoba menenangkan Kenzie, mengatakan bahwa Arkan hanya mabuk dan akan sadar dengan sendirinya. Tapi bagi Kenzie, penjelasan itu tak masuk akal. Dia tak paham apa itu mabuk dan hanya tahu bahwa Daddy-nya tidak bangun meskipun dia sudah mencoba membangunkannya berulang kali.

"Daddy... bangun, Daddy... Kenzie takut..." lirih Kenzie di antara isakannya.

Setelah menerima alamat dari pelayan, Rania melajukan mobilnya secepat mungkin menuju rumah Arkan. Sepanjang perjalanan, pikirannya kalut membayangkan Kenzie yang ketakutan sendirian.

Begitu sampai di depan rumah, Rania segera turun dari mobil dan berlari menuju pintu depan yang sudah dibukakan oleh seorang pelayan. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya, "Di mana Kenzie?"

"Di kamar Pak Arkan, Nona."

"Boleh saya ke sana?"

"Di lantai dua, kamar paling ujung." jawab pelayan tersebut.

Rania bergegas menaiki tangga dan membuka pintu kamar Arkan tanpa mengetuk. Matanya langsung tertuju pada Kenzie yang duduk di samping tubuh Arkan dengan wajah merah dan basah oleh air mata.

"Kenzie!" serunya panik sambil menghampiri bocah itu.

"Tante Rania... Daddy nggak mau bangun..." Kenzie memeluknya erat, menangis tersedu-sedu.

Rania mengusap punggung Kenzie untuk menenangkannya sebelum menatap Arkan yang terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan napasnya teratur tapi tercium bau alkohol yang kuat.

"Kenzie, sayang... Daddy nggak apa-apa. Daddy cuma capekan dan butuh istirahat." ucap Rania berusaha menenangkan. "Sekarang, Kenzie keluar dulu ya sama Bibi. Biar Tante coba bangunin Daddy."

Kenzie menatapnya ragu, lalu menggelengkan kepala. "Enggak mau." Tolaknya tegas.

Rania menghela napas sambil mencoba tetap tenang. Ia lalu menyentuh kening Arkan dan terkejut saat merasakan suhu tubuh yang panas.

"Astaga, demam." gumamnya khawatir. Ia menoleh pada pelayan yang berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas.

"Mbak, Daddy-nya Kenzie ini demam. Apa nggak ada yang sadar?" tanya Rania dengan suara lembut namun tegas.

"Maaf, Non. Tapi Pak Arkan nggak pernah memperbolehkan orang lain menyentuhnya. Kami jelas tidak berani. Hanya Den Kenzie dan Den Zidan yang diizinkan." jawab pelayan itu penuh rasa bersalah.

Rania menghela napas panjang. "Kalau situasinya genting, aturan bisa dilanggar, Mbak. Ini soal kesehatan."

"Kami tetap tidak berani, Non." jawab pelayan itu lagi dengan wajah bingung.

"Daddy sakit, Tante?" tanya Kenzie dengan suara kecil, matanya mulai berkaca-kaca.

Rania mengangguk pelan. "Iya, sayang. Daddy demam. Tapi nggak apa-apa, Tante bakal bantu obatin Daddy."

Dia kemudian menatap pelayan itu lagi. "Tolong siapkan air hangat dan kain untuk mengompres ya, Mbak. Sekalian bawakan obat penurun panas kalau ada."

"Baik, Non. Akan segera saya siapkan." jawab pelayan itu sebelum bergegas pergi.

Rania duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam tangan Arkan yang terasa panas. Kenzie duduk di sampingnya dengan posisi kaki terlipat, menghadap ayahnya dengan wajah penuh kecemasan.

"Kita telepn Tante Karina aja, Tante. Biar Daddy disuntik. Nanti Daddy bangun." usul Kenzie polos. Bagi anak sekecil Kenzie, dokter selalu punya jawaban untuk semua masalah.

Rania tersenyum kecil meski hatinya penuh kekhawatiran. "Iya, sayang. Kalau Daddy nggak juga bangun setelah dikompres, Tante akan telepon Tante Karina."

Kenzie mengangguk walau masih terlihat takut. Ia lalu menggenggam tangan ayahnya yang lain sambil berbisik, "Bangun, Daddy. Jangan sakit terus."

Setelah beberapa saat, Rania terus mengompres dahi Arkan dengan lembut. Suhu tubuh pria itu perlahan mulai turun, meski wajahnya masih terlihat pucat. Kenzie yang tak mau beranjak dari sisi ayahnya terus memandangi Arkan dengan cemas.

Lalu, terdengar erangan pelan dari Arkan. Matanya perlahan terbuka, dan pandangannya masih samar. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyadari kehadiran dua sosok di sampingnya.

"Kenzie?" suaranya parau dan lemah.

"Daddy!" seru Kenzie dengan mata yang kini berbinar senang.

Arkan mengerutkan kening, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Namun, saat matanya bertemu dengan sosok Rania yang duduk di tepi tempat tidur, ekspresinya berubah terkejut.

"Rania?" gumamnya tak percaya. "Kenapa kamu di sini?"

Rania menghela napas lega, meski masih menyimpan kekhawatiran. "Akhirnya Pak Arkan bangun juga. Pak Arkan udah bikin Kenzie ketakutan."

Arkan masih tampak bingung. Ingatan tentang semalam yang dihabiskannya minum dengan Axel dan Nathan mulai kembali. Ia mengusap wajahnya yang terasa berat lalu menatap Kenzie yang masih menggenggam tangannya.

"Daddy sakit?" tanya Kenzie dengan suara kecil.

Arkan mengangguk sedikit. "Daddy nggak apa-apa, adek. Cuma kecapean."

"Daddy bikin Kenzie takut. Kenzie kira Daddy nggak mau bangun lagi." lirih Kenzie dengan mata berkaca-kaca.

Arkan merasakan hatinya mencelos mendengar itu. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kecil putranya. "Maaf, Kenzie. Daddy nggak akan bikin kamu takut lagi."

Rania menghela napas pelan. "Pak Arkan demam tinggi tadi. Kenzie ketakutan sampai telepon aku."

Arkan mengalihkan tatapannya ke Rania. Ada perasaan tak nyaman sekaligus syukur di dalam dirinya. "Maaf, udah bikin kamu repot."

"Nggak usah minta maaf. Yang penting jangan diulangin. Mau mabuk sih terserah, tapi harusnya sadar diri kalau punya dua buntut yang masih butuh dibiayain." sahut Rania dengan nada tegas, tanpa tedeng aling-aling.

Arkan terdiam. Kata-kata Rania menohoknya tepat di dada. Dia tahu, dia yang salah. Masalah dengan ibunya Rosa seharusnya tidak membuatnya mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ayah.

"Ya, kamu benar." gumam Arkan akhirnya, dengan suara yang terdengar berat. "Saya ceroboh."

"Bagus kalau sadar." Rania menatapnya serius. "Sekarang istirahat. Jangan sampai Kenzie ketakutan lagi."

Arkan menatap Rania, lalu menatap Kenzie yang masih duduk di sampingnya, tak mau melepaskan genggaman tangannya.

"Saya lapar." kata Arkan tiba-tiba. "Kita ada janji makan siang, 'kan, Rania? Tapi karena keadaan saya begini, kayaknya perlu dijadwal ulang."

"Ya udah, istirahat aja dulu. Nanti kalau udah sehat baru kita atur lagi." sahut Rania, mengira masalah selesai sampai di situ.

"Tapi..." Arkan melanjutkan, suaranya sedikit merajuk. "Kalau kamu nggak keberatan, saya pengen makan bubur. Bisa bantu buatin?"

Rania mengerutkan dahi, jelas-jelas terkejut dengan permintaan itu. "Pelayan Pak Arkan banyak. Suruh mereka aja, kenapa minta sama saya?" Nada bicaranya mengandung penolakan. Enak saja pria ini minta dimasakin. Pacar bukan? Calon suami juga bukan.

"Bubur buatan kamu enak kata Zidan. Dan... saya sakit." jawab Arkan sambil menghela napas seolah-olah memperkuat posisinya. Tatapannya sedikit memelas, memainkan beberapa peran sebagai pasien yang butuh perhatian.

Rania mendengus, lalu menggeleng. "Alasan kamu keterlaluan banget, Pak Arkan." Tapi dia akhirnya berdiri juga. "Ya udah, tunggu sini. Jangan pingsan lagi."

Arkan tersenyum tipis. "Saya akan nunggu dengan sabar."

Rania keluar kamar dengan Kenzie yang ikut berlari mengikutinya ke dapur.

Ujung sudut bibir Arkan terangkat melihat Kenzie mengekori Rania seperti anak kecil yang tak mau lepas dari ibunya. Pemandangan itu terasa... hangat.

"Ide Nathan sepertinya bisa dicoba. Pengasuh Kenzie." gumam Arkan pelan, matanya masih terpaku pada punggung Rania yang menghilang di balik pintu bersama Kenzie.

Namun, pikiran itu segera diiringi dengan senyum miring di wajahnya. "Bagaimana cara agar Rania setuju?"

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!