Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Penting Apa?
"Tidak ada masalah kok, Pak Rendy. Saya datang ke sini karena ingin bertemu langsung dengan Pak Althaf. Ada urusan penting yang ingin saya bicarakan, tapi saya tidak ada janji temu, jadi...,"
"Saya mengerti, Bu," balas Rendy.
Rendy langsung menoleh cepat ke arah resepsionis, tatapan matanya yang tajam dan dingin seketika menghujam sang resepsionis wanita yang berdiri mematung di tempatnya.
Resepsionis itu langsung merinding ketakutan. Ia tahu betul bagaimana watak Rendy yang terkenal tegas, teliti dan tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun terhadap orang-orang penting di kantor tersebut.
"Kamu... Bu Ayara inj tamu penting yang harusnya dipersilakan langsung ke lantai atas tanpa harus menunggu! Bagaimana bisa kamu menahannya di lobi?" bentak Rendy tertahan namun penuh tekanan, terdengar tajam dan menusuk saat menatap sang resepsionis.
Resepsionis itu pucat pasi dan lututnya terasa lemas seketika, iq membungkuk-bungkuk panik sambil memohon ampun. "Maaf, Pak Rendy... saya... saya benar-benar tidak tahu kalau Bu Ayara ini tamu penting."
"Cukup! Jangan membela diri!" potong Rendy galau.
Dalam hatinya, Rendy membayangkan jika bosnya sampai tahu wanita ini ditolak dan dibiarkan menunggu di lobi oleh staf resepsionis, orang-orang bisa kena amuk besar dan nasib kariernya benar-benar di ujung tanduk.
Ayara yang melihat kepanikan di wajah sang resepsionis merasa tidak enak hati, ia buru-buru menengahi. "Ini salah saya karena datang mendadak tanpa janji terlebih dahulu, resepsionis ini hanya menjalankan tugasnya dengan baik," bela Ayara tulus.
Rendy menarik napas panjang, meredam emosinya di hadapan Ayara. Ia memasang senyum kaku terbaiknya, lalu kembali menatap Ayara dengan penuh rasa hormat.
"Baik, Bu Ayara. Sekali lagi saya atas nama staf meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Mari, silakan ikut saya ke lantai atas sekarang. Pak Althaf pasti akan sangat senang kedatangan Ibu," ujar Rendy dengan nada yang sangat sopan.
Resepsionis yang melihat kejadian itu hanya bisa berdiri terpaku, menatap ke arah Ayara dengan perasaan ngeri bercampur penyesalan yang teramat sangat. Ia sadar, ia hampir saja menghancurkan kariernya sendiri hanya karena menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.
Langkah kaki Rendy dan Ayara beriringan memasuki lift khusus eksekutif yang langsung meluncur cepat menuju lantai paling atas gedung.
Di dalam lift yang senyap, Ayara meremas jemarinya. Jantungnya kembali berdegup kencang bukan main, bayangan bahwa ia akan segera bertatap muka langsung dengan Althaf di ruang kerja pribadinya membuat perutnya terasa mulas.
Ting!
Pintu lift terbuka lebar, memperlihatkan koridor lantai atas yang sangat tenang dengan karpet tebal berwarna abu-abu gelap dan pencahayaan lampu hangat yang elegan. Rendy berjalan memandu Ayara melewati beberapa pintu ruang kerja kedap suara hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukiran modern dengan nama Althaf disana.
Rendy mengetuk pintu itu tiga kali secara teratur, lalu membuka gagang pintu perlahan. "Masuklah, Bu Ayara. Pak Althaf ada di dalam," bisik Rendy mempersilakan.
Ayara menarik napas dalam-dalam dan mengangguk kecil, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas itu. Rendy menutup kembali pintu dari luar, meninggalkan Ayara seorang diri di dalam ruangan kerja Althaf.
Ruangan itu sangat luas dan tertata rapi. Di sisi kanan terdapat rak buku besar yang dipenuhi kitab-kitab undang-undang dan literatur hukum tebal, sementara di sisi kiri terdapat sofa kulit hitam yang elegan. Di dekat jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota Bandung dari ketinggian, Althaf tampak duduk di balik meja kerjanya.
Pria itu sedang serius membaca setumpuk berkas perkara dengan kacamata baca tipis yang bertengger di batang hidungnya, sementara kemeja putihnya digulung hingga siku dan menampilkan kesan maskulin yang begitu kuat.
Karena terlalu fokus pada berkas di tangannya, Althaf tidak langsung menyadari kehadiran seseorang di hadapannya.
"Ren, kalau berkas sengketa lahan sudah ditandatangani, langsung serahkan ke bagian administrasi," ucap Althaf tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas, mengira orang yang masuk adalah asistennya.
Ayara berdiri terpaku di dekat meja, suaranya tertahan di tenggorokan dan merasa canggung setengah mati. Karena tidak ada respons dari Rendy, Althaf akhirnya mendongakkan kepalanya perlahan dan melepaskan kacamata bacanya.
Namun, begitu netra tajam Althaf menangkap sosok wanita yang berdiri kaku di hadapannya dengan mengenakan kemeja biru muda, mata Althaf membelalak kaget dan dokumen di tangannya hampir terlepas dari genggamannya.
Althaf langsung berdiri dari kursi kerjanya dengan gerakan cepat, "Ayara...?" gumam Althaf tak percaya, seolah ia sedang bermimpi melihat wanita itu berada di ruang kerjanya siang ini.
Althaf memutari meja kerjanya, menghampiri Ayara dengan langkah lebar. Sorot matanya yang semula tajam dan penuh tekanan mendadak berubah menjadi teduh, hangat dan bercampur rasa terkejut yang luar biasa.
"Kamu... sedang apa di sini, Ayara? Ada apa? Apa terjadi sesuatu di rumah? Ibu atau Arlan baik-baik saja?" tanya Althaf bertubi-tubi dengan nada suara yang sarat akan kekhawatiran. Pria itu bahkan berhenti tepat satu langkah di hadapan Ayara, mengamati wajah wanita di depannya dengan cemas.
Ayara menunduk sejenak dan meredakan debaran jantungnya, lalu mendongak menatap Althaf dengan perasaan serba salah.
"Ibu dan Arlan baik-baik saja, Mas... Tidak ada apa-apa di rumah," jawab Ayara pelan.
Althaf mengembuskan napas lega, namun kernyitan di dahinya belum juga hilang. "Lalu... kalau semuanya baik-baik saja, kenapa kamu ke sini? Kamu datang sendiri? Bagaimana kamu bisa masuk ke ruanganku?"
"Tadi... aku diantar sama Pak Rendy. Aku datang ke sini karena ada satu hal penting yang harus aku selesaikan sama Mas Althaf," jawab Ayara.
"Hal penting apa?" tanya Althaf menatapnya lekat-lekat.
Ayara menarik napas panjang, lalu membuka tas kainnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal yang berisi uang tabungannya ditambah pemberian Arlan. Dengan tangan sedikit bergetar, Ayara meletakkan amplop itu di atas meja kerja Althaf yang mewah.
Althaf menatap amplop cokelat itu, lalu beralih menatap Ayara dengan alis terangkat sebelah. "Apa ini?"
"Ini... uang untuk membayar Mas Althaf. Meskipun aku tahu uang di dalam amplop ini mungkin tidak seberapa dan tidak akan bisa membayar seluruh biaya pengacara, tapi ini cicilan pertama dari aku dan Arlan. Tolong diterima ya, Mas... Aku tidak mau berhutang budi terlalu banyak dan aku tidak ingin membebani Mas Althaf," ucap Ayara lugas namun penuh kesungguhan.
Mendengar ucapan Ayara tersebut, Althaf tertegun hebat. Pria itu menatap amplop di hadapannya, lalu kembali menatap manik mata Ayara yang memancarkan harga diri yang begitu tinggi. Alih-alih merasa tersinggung, dada Althaf justru bergemuruh dipenuhi rasa kagum. Semakin hari, Althaf semakin tertarik pada Ayara.
Althaf perlahan melangkah lebih dekat, merendahkan sedikit suaranya. "Ayara... kamu datang jauh-jauh ke sini karena masalah biaya pengacara?"
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita