"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu kesialan
"Baiklah, saya akan menjelaskan tentang tugas kalian di pabrik saya, pak Darius pasti sudah menjelaskan tentang pabrik roti dan kue milik saya sebelumnya karena beliau sudah menelpon sejak beberapa minggu lalu" ungkap Raditya yang terus menatap Kanaya karena punya wajah yang mirip dengan dirinya.
Iya pak, katanya pabrik itu sudah berdiri sejak sembilan belas tahun yang lalu dan tugas kami nanti akan di atur langsung oleh bapak" jawab Kanaya
"Kamu benar, kamu Kanaya kan?" tanya Raditya dan Kanaya mengangguk.
"Saya sudah melihat data kalian, dan menurut saya untuk dua laki-laki ini cocok di bagian pengawasan karyawan pabrik, nanti kalian juga akan mengawasi pengepakan dan pengecekan bahan, nanti akan ada karyawan yang mendampingi, dan untuk kalian para mahasiswi cantik kalian bisa berada di bagian marketing" jawab Raditya
"Berarti kami juga boleh ke toko kue ya pak?" tanya Shaquilla
"Ya, kalau sedang ada promo kalian harus ikut dengan para sales keliling desa dan juga toko cabang kami" jawab Raditya membuat Shaquilla berbinar.
"Kami tidak bisa di bagian marketing juga pak?" tanya Irsyad
"Bisa, tapi di bagian sana sudah penuh, mungkin kalian bisa di bagian pengemasan kalau mau" jawab Raditya
"Saya mengawasi pabrik saja pak" jawab Irsyad karena setidaknya dia bisa mencuri waktu untuk mengecek keadaan Kanaya kalau jadi pengawas.
Tak lama Eva sudah datang bersama Hilda, Kanaya kembali menatap datar ke arah Eva dan Hilda karena sekarang dia sudah melihat dua orang yang sudah membuat ibunya meninggal dan juga Kanaya harus kehilangan hak nya di rawat oleh kedua orang tuanya.
"Silahkan...."
Prang.
"Aakhhh panas!" pekik Hilda
Baru saja Hilda akan menyajikan minuman teh panas, sebuah kesialan terjadi, gelas yang di pegang Hilda tiba-tiba saja terjatuh dan tangan juga paha Hilda terkena air panas yang dia siapkan di dalam gelas. Satu kesialan di berikan tangan Kanaya untuk Hilda karena Kanaya sempat memegang gelas itu sebelum di ambilkan oleh Hilda.
"Ibu, kenapa ceroboh?" tanya Eva segera menarik tangan Hilda untuk ikut dengannya.
Raditya terlihat sama sekali tidak peduli dengan keadaan Hilda padahal menurut Sanca, Raditya paling tidak bisa melawan ibunya dan sangat menyayangi ibunya, tapi yang di lihat Kanaya sekarang justru berbeda, Kanaya tidak melihat kasih sayang itu di mata Raditya untuk Hilda ibunya.
"Apa dia benar benar ayah" batin Kanaya
••••••••••••
Di kamar Eva.
"Mama bagaimana sih, air itu tuh sudah sejak semalam Eva siapkan untuk Kanaya, itu agar Kanaya luluh hatinya sama si preman itu, kenapa malah ibu buang, bubuk teh itu khusus untuk menundukkan para mahasiswa itu, berbahaya ma itu pelet yang sangat kuat!" kesal Eva
"Maaf Eva, mama juga tidak tahu kenapa tiba-tiba tangan mama ini jadi licin padahal mama sudah berhati hati tadi, tolong cepat sembuhkan mama, mama takut kena pengaruh pelet itu" jawab Hilda
"Dasar nenek tua! kamu masih bisa hidup adalah karena perintah dukun Tarman, kalau bukan karena dia sudah sejak lama kamu aku habisi!" kesal Eva dalam hati.
Eva lalu mengambil sebuah botol yang ada di dalam lemari, ketika di buka botol itu mengeluarkan sesuatu yang berbau pekat, ada asap hitam yang langsung menutupi bagian tangan dan paha Hilda, menyerap sesuatu yang berwarna merah darah dalam daging Hilda dan setelah hilang, asap itu kembali masuk ke dalam botol.
"Eva, terima kasih karena sekarang mama juga sudah tidak kepanasan lagi, tapi Eva, apa itu tadi? mama baru melihatnya" tanya Hilda
"Ini asap ajaib ma, di dalamnya ada jin dan Eva mendapatkan ini dari dukun Tarman" jawab Eva
"Ya ampun nak, kamu hebat sekali karena selama hampir dua puluh tahun ini kamu sudah membuat Raditya jadi orang kaya dan sukses, ya meskipun kalian tidak punya anak, terima kasih ya" ungkap Hilda
"Iya ma sama sama, sekarang ayo kita keluar supaya mereka tidak curiga" jawab Eva yang tidak mau membahas masalah anak karena dia tidak akan pernah punya anak, setiap terlambat datang bulan, Eva akan tiba tiba keguguran dan gumpalan darahnya langsung di makan oleh Raditya.
"Ayo"
Mereka keluar, di ruang tamu ternyata Raditya sudah bersiap untuk berangkat ke pabrik dan Eva tidak bisa memberikan teh baru untuk Kanaya, tapi dia tidak akan menyerah, Eva akan memberikan teh itu nanti saat malam mereka sudah tinggal di rumahnya.
Dalam perjalanan ke pabrik, Kanaya terus di ajak bicara oleh Raditya, bahkan Raditya memperlakukan Kanaya secara khusus, itu bisa di lihat Irsyad juga Sultan ketika Raditya membukakan pintu mobil untuk Kanaya dan mereka mulai khawatir Kanaya mungkin di sukai oleh Raditya untuk di jadikan istri kedua.
"Kita harus jauhkan Kanaya dari dia" bisik Irsyad.
"Sstt... diam, kata Abah yai kalau di depan dia jangan mengatakan apapun" bisik Sultan mengusap wajah Irsyad dengan air zamzam yang di berikan Adrian supaya keduanya terhindar dari pengaruh buruk pabrik Raditya.
"Astagfirullah" gumam Irsyad
Sampai di pabrik, mereka langsung di ajak berkeliling, tak hanya di area pabrik tapi juga di kantor Raditya karena Raditya juga bekerja sama dengan banyak toko dan pemilik usaha online untuk memasarkan roti juga kue kue dari pabriknya.
"Nah kalian akan bekerja bersama mereka, mereka akan menjelaskan tugas kalian dan untuk Sultan juga Irsyad, kalian bisa ikut pak Burhan" ucap Raditya
"Baik pak" jawab mereka sopan
"Nanti kalian akan makan siang dengan saya sekalian saya mau ajak kalian keliling diluar pabrik" ucap Raditya membuat Shaquilla berbinar karena dia ingin mencoba semua kuliner yang ada di kampung itu.
Sebelum pergi ke ruangannya, Raditya kembali menatap Kanaya, ada yang aneh dengan mata Kanaya dan itu mengingatkan Raditya dengan seseorang, bahkan sebagian dari jiwa Raditya mulai berontak untuk kembali menguasai tubuhnya.
"Jangan pernah kamu mencoba untuk bangkit Raditya! Tetaplah terkubur di dalam jiwaku sampai aku benar benar bisa menguasai tubuhmu!" bentak jin dalam tubuh Raditya
"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Raditya tiba tiba saja berontak" gumamnya
"Pergi dari tubuhku!" ucap suara Raditya yang terdengar di kepala Raditya.
"Aku tidak akan kemanapun karena Eva sendiri yang memberikan aku kekuatan untuk memenjarakan jiwamu Raditya, kamu hanya jiwa yang tidak berguna sekarang!" sinisnya
"Kiai Adrian akan mengetahui keberadaan kamu" ucap Raditya
"Itulah sebabnya aku mengindari dia, memasang peredam suara di, rumah, kamar dan kantor ini agar aku tidak mendengar suara adzan dan agar aku tidak bisa di ketahui oleh Kiai jahat itu" sinis sosok dalam tubuh Raditya.
"Tapi kamu tidak bisa sembunyi dari dia jin Sialan!" umpat Raditya
"Dari siapa?" tanya jin itu
"Anak terkutuk" jawab Raditya