🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Selasa, 4 November, ruang baca lantai tiga puluh hanya berisi mereka berdua dan dengung AC. Folder yang masih hitam tidak dibuka. Yang dibuka adalah catatan di dua ponsel, daftar yang sama dengan kertas di Kopi Sore, disalin supaya tidak ada versi yang ketinggalan di dalam lemari studio atau di salinan yang Dimas tandatangani.
Alina meletakkan ponselnya di tengah meja, layar menghadap atas. “Tambahan. Satu baris. Bukan pengganti yang lama.”
Adrian sudah mengeluarkan ponselnya sendiri. “Bacakan.”
“Cemburu tidak diakui. Tidak dibahas. Tidak dijadikan alasan mengubah jadwal.”
Ia mengatakannya seperti membaca klausul, bukan seperti mengaku. Adrian tidak segera mengetik. Ia menatap kalimat itu sampai Alina mengira ia akan memotong kata pertama.
“Alasannya,” katanya.
“Kalau kita mulai saling curiga soal siapa duduk dekat siapa, sandiwara ini akan lebih berantakan dari manfaatnya.” Alina mengetuk tepi ponsel sekali. “Minggu kemarin Vanya sudah menghitung di meja. Besok bisa orang lain. Kalau setiap susunan kursi kita jadikan masalah, Dimas akan menghabiskan hidupnya menjadi penjaga denah. Saya tidak mau. Anda juga seharusnya tidak mau.”
“Saya tidak mau,” kata Adrian.
“Lalu ketik yang sama. Supaya tidak ada yang nanti bilang versinya beda.”
Mereka mengetik berdampingan, tidak bersebelahan rapat. Jarak kursi tetap ada. Alina mengucapkan kalimat itu sekali lagi, pelan, dan Adrian mengikuti kata demi kata sampai titik di akhir jadwal. Ia memutar layar. Alina membandingkan. Hurufnya sama. Urutannya sama. Tidak ada kata yang dilembutkan menjadi rasa tidak nyaman atau hal yang tidak perlu dibicarakan.
“Simpan,” kata Alina.
Adrian menyimpan. Alina menyimpan. Tidak ada tanda tangan, karena ini bukan salinan Mei. Ini pagar tambahan di alat yang paling sering mereka bawa. Adrian membaca ulang sekali, lalu mengunci ponsel.
“Berlaku mulai sekarang,” katanya.
“Berlaku termasuk untuk saya,” jawab Alina. “Jangan nanti hanya saya yang diukur.”
“Termasuk saya.”
Alina membuka salinan kertas di map, bukan untuk menambah klausul lama. “Ini nomor delapan. Tidak saya tempel di lemari hari ini. Kalau ditempel, Mei akan membaca kata yang tidak ia saksikan. Cukup di ponsel kita berdua. Kertas Kopi Sore tetap tujuh baris.”
“Setuju,” kata Adrian.
“Dan kalau salah satu ponsel hilang, baris ini ikut hilang. Itu risikonya. Lebih baik hilang daripada hidup di grup orang lain.”
Alina membandingkan sekali lagi, layar di samping layar. “Kalau salah satu ponsel hilang, baris ini ikut hilang. Yang di kertas Kopi Sore tidak berubah. Yang ini tambahan, bukan pengganti.”
“Saya tidak akan membacakan baris ini kepada siapa pun,” kata Adrian.
“Bagus. Karena membacakannya sudah termasuk membahas.”
Mereka diam sebentar. Kata cemburu ada di dua layar dan terasa seperti benda yang tidak sopan ditinggal terbuka. Alina mengunci ponsel lebih dulu. Adrian mengikuti. Tidak ada yang bercanda bahwa aturan ini lucu. Lucu itu akan membuat kata tersebut lebih mudah diucapkan lagi, dan tujuan baris ini justru kebalikannya.
Mereka kembali ke kerja tanpa merayakannya. Alina menandai tanggal pada draf rekonsiliasi yang masih boleh dilihat. Adrian berdiri untuk pergi ke lantainya, berhenti di pintu, dan tidak menambah kalimat. Aturan baru itu tidak butuh saksi di ruangan. Yang butuh saksi, nanti, adalah kalau salah satu dari mereka mulai memakainya sebagai alasan. Hari itu belum.
Dua hari kemudian, Kamis, 6 November, Alina naik ke lantai tiga puluh dua menjelang sore karena Sari minta paraf pada jadwal ruang baca minggu depan. Bukan undangan. Satu lembar, jam, dan nama pendamping. Ia sampai di ruang tunggu ketika suara Vanya sudah ada di koridor, di depan pintu kerja Adrian yang tidak tertutup penuh.
Vanya tidak berteriak. Ia bahkan tidak terdengar marah. Kalimatnya rapi, sedikit lebih panjang dari yang diperlukan untuk orang yang hanya lewat.
“Kusuma bisa memberi jalur yang lebih bersih untuk bagian yang masih kalian tahan,” katanya. “Bukan untuk menggantikan konsultan Anda. Untuk memastikan pasar tidak membaca penahanan itu sebagai goyah. Saya hanya menawarkan. Lima belas menit. Atau sepuluh, kalau jadwal Anda memang sesempit yang Sari bilang.”
Dari kursinya, Sari mengetik dan tidak ikut mendengar secara resmi. Alina tetap berdiri dengan lembar paraf di tangan. Dada terasa sesak, bukan karena ia kurang udara di koridor. Karena Vanya ada terlalu lama di pintu yang Senin lalu Adrian pakai untuk memisahkan fungsi orang. Alina tidak suka hitungan di dadanya. Ia tidak menamainya kepada siapa pun. Aturan yang baru berumur dua hari melarang pengakuan itu, dan ia tidak akan menjadi orang pertama yang melanggarnya dengan suara.
Adrian biasanya membiarkan kalimat lawan selesai, lalu memotong di tempat yang ia pilih. Hari ini ia memotong lebih cepat. Alina mendengarnya dari jeda yang tidak biasa.
“Tidak hari ini,” kata Adrian. “Kirim lewat Sari kalau ada usulan tertulis. Saya tidak menambah jadwal karena percakapan di koridor.”
“Sepuluh menit bukan jadwal baru,” kata Vanya, masih senyum di pilihan kata. “Itu sisa dari jadwal yang sudah Anda pakai untuk orang lain.”
“Tetap tidak. Sari akan melihat surat Anda kalau memang ada surat.”
Vanya tidak memaksa lebih dari satu kalimat penutup. “Baik. Saya kirim. Semoga penahanannya memang sesederhana yang terlihat.”
Ia berbalik, melihat Alina, dan tidak berhenti untuk mengulang selamat. Senyumnya hanya cukup untuk menunjukkan bahwa ia tahu siapa yang berdiri di ruang tunggu. Lalu ia pergi ke lift. Sepatu itu tidak berbunyi keras.
Alina masuk, meletakkan lembar paraf, dan menunggu tanda tangan tanpa menyebut nama yang baru saja lewat. Adrian menandatangani. Tidak ada pertanyaan dari pihaknya, dan tidak ada dari pihak Alina. Sari mengambil lembar itu dengan ucapan terima kasih yang efisien, lalu kembali ke mejanya.
“Jadwal minggu depan sudah dikunci,” kata Adrian.
“Saya lihat,” kata Alina.
Itu seluruh percakapan mereka tentang pekerjaan lembar itu. Tidak ada siapa duduk dekat siapa. Tidak ada keberatan tentang sepuluh menit yang ditolak. Tidak ada pengakuan bahwa dada Alina masih sesak ketika lift Vanya menutup. Tidak ada pengakuan bahwa Adrian mengakhiri tawaran itu lebih cepat daripada cara ia biasa mengakhiri tawaran pesaing. Di ruang tunggu, Sari merapikan salinan paraf dan tidak bertanya mengapa koridor tadi terasa berhenti di tengah kalimat. Ia tidak dibayar untuk membaca jeda.
Alina turun lift sendirian. Di cermin, wajahnya biasa. Sesak di dada tidak punya bukti yang bisa difoto, dan ia tidak mencari bukti. Aturan yang mereka ketik Selasa melarang tiga hal: diakui, dibahas, dijadikan alasan mengubah jadwal. Jadwal minggu depan tetap seperti yang baru diparaf. Tidak ada rapat yang digeser menjauh dari Vanya, dan tidak ada rapat yang didekatkan. Pelanggarannya tidak kelihatan di kalender. Pelanggarannya hanya ada di kecepatan Adrian memotong kalimat, dan di keputusan Alina untuk tidak menanyakannya.
Keduanya sudah melewati garis yang baru berumur dua hari. Alina dengan rasa tidak nyaman yang tidak ia sebut. Adrian, di mejanya setelah koridor sepi, dengan mengetahui ia menutup pintu lebih cepat tanpa menulis alasan di catatan mana pun. Tidak satu kata pun diucapkan tentang itu. Ia bahkan tidak menyimpan versi yang lebih jujur untuk dirinya sendiri. Menyimpan sudah terlalu dekat dengan membahas.
Malamnya, di studio Tebet, lampu tangga mati di tanjakan kedua seperti biasa. Alina menyalakan lampu meja lipat. Aturan kertas dari Kopi Sore masih menempel di bagian dalam lemari. Ia tidak menambahkan baris baru di sana. Yang ia buka adalah catatan pribadi di buku yang tidak diserahkan kepada Dimas.
Ia menulis: “Aturan cemburu dilanggar. Saya tidak bilang. Dia juga tidak. Masih aman, selama tidak diucapkan.”
Pena berhenti. Ia tidak menambahkan nama Vanya. Nama itu akan membuat catatan terbaca seperti tuduhan, dan ia tidak sedang menyusun tuduhan. Ia sedang mengunci batas yang sudah bocor tanpa dibuka di depan orang yang berhak mendengar. Buku ditutup. Lampu dimatikan. Selama kalimat itu tidak pindah ke ponsel Adrian, sandiwara masih bisa dijalankan besok dengan wajah datar yang sama.