Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 01
_____🌺
"Tujuh bulan loh, Nis. Baru tujuh bulan si Rina, anak Pak RW itu nikah, eh kemarin sore Mama dengar dia sudah melahirkan anak laki-laki. Sehat, montok, beratnya tiga koma lima kilo. Lah kamu? Ini sudah tujuh tahun, boro-boro suara bayi, suara cicak di rumah ini saja, lebih sering terdengar dari pada suara tangisan anakmu."
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen mewah terdengar nyaring di ruang makan pagi itu.
Nisa yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas suaminya, seketika menghentikan gerakannya. Ia menarik napas panjang, berusaha menata hati agar tidak meledak di pagi hari yang cerah ini.
"Itu Rina nikahnya kan bulan Maret, Ma. Kalau sekarang bulan Oktober udah lahiran, berarti ..." Nisa sengaja menggantung kalimatnya. Ia tersenyum tipis sambil menatap mertuanya. "Ya, Mama hitung sendiri saja, itu bikinnya kapan."
Mata bu Ratna melotot sempurna. Wanita paruh baya yang sudah tampil paripurna dengan lipstik merah dan alis badai meskipun baru pukul enam pagi itu, meletakkan rotinya dengan kasar di atas piring.
"Kamu ini kalau dikasih tahu sama orang tua, bukannya introspeksi malah suudzon sama anak orang! Mau dia hamil duluan kek, mau dia apa kek, yang penting dia itu subur, Nis! Subur! Bisa ngasih cucu buat mertuanya. Lah kamu? Tujuh tahun loh, Nis. Tujuh tahun. Kucing aja udah beranak berapa kali itu dalam tujuh tahun."
Nisa duduk di kursinya dengan tenang, mengambil sepotong roti tawar. "Ya beda dong, Ma. Kucing kan nggak perlu mikirin bayar uang sekolah anak. Kucing juga nggak dengerin omongan tetangga kalau lagi stres."
"Eh, kamu mulai berani ya ngejawab omongan Mama sekarang?"
Bu Ratna memajukan tubuhnya. Perhiasan emas di pergelangan tangannya bergemerincing berisik.
"Mama ini ngomong fakta. Teman-teman arisan Mama itu semuanya udah pada punya cucu. Malah ada yang cucunya udah masuk SD. Tiap kumpul arisan, Mama ini cuma bisa gigit jari kalau mereka pamer foto cucu. Mau pamer foto apa Mama? Foto kamu lagi nyiram tanaman di depan?"
"Ya ampun, Ma. Pagi-pagi kok udah absen arisan sih." Dimas, suami Nisa, tiba-tiba muncul dari lantai atas sambil membetulkan dasinya.
Pria itu tampak lelah padahal baru bangun tidur. Wajahnya persis seperti orang yang terjepit di antara dua tebing curam.
"Kamu juga, Dim!" Ibu Ratna langsung memutar target serangannya ke arah anak laki-lakinya. "Dibilangin istri itu diurus yang bener. Disuruh makan yang bener. Jangan dikasih jajan seblak, boba, cilor, makaroni pedes terus-terusan. Gimana mau jadi janin kalau isinya di perut cuma micin semua?"
"Loh, kok Dimas yang salah, Ma?" Dimas menarik kursi dan duduk di sebelah Nisa.
"Nisa makannya sehat kok, Ma. Kita juga udah ke dokter kandungan bulan lalu. Kata dokter kandungan, kita berdua sehat. Nggak ada masalah apa-apa. Sperma Dimas bagus, sel telur Nisa juga bagus. Cuma memang belum dikasih aja sama Tuhan, Ma."
"Dokter, dokter, dokter terus! Dokter zaman sekarang itu mana ada yang jujur seratus persen. Kalau dia bilang kalian mandul, nanti kalian nggak mau balik lagi ke klinik dia. Makanya dibilang sehat-sehat aja biar kalian rajin konsul dan bayar mahal terus ke dia!" omel Ibu Ratna panjang lebar, nada suaranya naik satu oktaf.
"Astaghfirullah, Mama. Kok suudzon sama dokter sih?" Dimas memijat pelipisnya yang mendadak pusing.
"Bukan suudzon, Dimas. Mama ini pakai logika orang tua zaman dulu. Kalau suami istri dua-duanya sehat, ya pasti langsung jadi. Ini pasti ada yang salah. Entah rahim istrimu ini dingin, atau gaya hidup kalian yang berantakan."
Bu Ratna menatap Nisa dengan tatapan menyelidik. "Kamu masih minum jamu dari Mbok Darmi yang Mama pesenin dari Madura itu, kan?"
Nisa menelan ludah. "Masih, Ma. Tadi malam Nisa minum kok." Bohong. Jamu super pahit yang baunya seperti campuran lumpur dan daun busuk itu sudah ia buang ke wastafel tadi malam tanpa sisa.
"Bohong kamu. Mama cek di botol kulkas tadi pagi masih penuh itu." Ibu Ratna melipat tangannya di dada dengan gaya menantang.
Nisa menyenggol lengan Dimas di bawah meja, meminta bantuan suaminya itu.
"Ma, jamu Mbok Darmi itu pahit banget lho. Dimas aja yang nyium baunya mau muntah, apalagi Nisa yang harus minum," bela Dimas cepat.
"Heh! Pahit itu obat! Justru karena pahit itu makanya bisa mancing kesuburan. Kamu pikir bikin anak itu cuma modal manis-manis doang? Perjuangan, Nis! Kamu itu harus usaha. Jangan cuma pasrah nunggu keajaiban turun dari langit. Rina anak Pak RW itu, sebelum nikah dia rajin minum air rebusan kacang hijau sama daun sirih. Makanya baru tujuh bulan nikah langsung brojol bayinya!"
"Ya itu sih bukan karena daun sirih, Ma. Itu karena DP duluan sebelum akad nikah," gumam Dimas pelan sambil mengunyah roti.
"Dimas! Mulut kamu ya!" wanita paruh baya itu memukul lengan anaknya pakai serbet meja.
"Nggak boleh fitnah orang! Pokoknya Mama nggak mau tahu. Mulai hari ini, Nisa, kamu harus minum air rebusan buah zuriat tiap pagi. Terus, kurangi itu main HP. Radiasi HP itu bikin rahim kering tau nggak. Kamu ini tiap hari kerjaannya di depan laptop, pegang HP terus, gimana mau ada dedek bayi?"
"Ma, Nisa kan kerja. Kerjaan Nisa memang buka laptop," jawab Nisa mencoba sabar, suaranya tetap pelan.
"Kerja apa sih kamu itu? Ngetik-ngetik doang kan di kamar? Jadi penulis apalah itu. Gajinya juga nggak seberapa, mending kamu fokus program hamil aja. Toh kebutuhan rumah, makan, bayar listrik, semuanya Dimas yang tanggung kan? Mama juga sering nombokin kan, kalau uang belanja kalian kurang?"
Deg.
Kalimat terakhir Bu Ratna selalu berhasil membuat Nisa merasa seperti orang menumpang hidup yang tidak tahu diri.
Padahal, penghasilan dari menulis novel daring miliknya cukup besar setiap bulannya, namun Nisa memang tidak pernah mau memamerkannya pada sang mertua.
"Nisa kerja juga buat bantu-bantu nabung masa depan, Ma," jawab Nisa pelan.
"Nabung buat apa kalau nggak ada anak yang diwarisin nanti? Harta itu nggak dibawa mati, Nis. Anak yang sholeh dan sholehah itu yang bakal doain kita di alam kubur. Kalau kalian nggak punya anak, siapa yang mau doain Mama sama Dimas nanti kalau udah meninggal? Tetangga?"
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh