Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Resep ibunya ditulis dengan pensil, di buku tulis bergaris yang sampulnya sudah lepas, dengan tulisan tangan miring yang tidak pernah terburu-buru.
Anindya membukanya di lantai kamar kos, bersila, dengan sebatang pena di sela jari dan kalkulator ponsel di sampingnya. Halaman-halaman itu berbau kertas tua dan sedikit bawang, mungkin dari bertahun-tahun disimpan dekat dapur. Di sana ada takaran santan yang ditulis dengan gelas, bukan sendok. Ada catatan kecil di pinggir: *kalau hujan, tambah garam seujung jari.* Ada coretan, ada noda minyak, ada satu lingkaran bekas gelas teh di sudut bawah.
Ia mengusap lingkaran itu dengan ujung jari. Bekas gelas teh ibunya. Mungkin dari sebuah sore ketika ibunya menulis sambil menunggu nasi matang, tidak tahu bahwa suatu hari anaknya akan membaca setiap noda itu seperti peta menuju rumah.
Ia menyalin semuanya ke buku barunya, satu per satu, dengan angka yang bisa dihitung.
*Beras 3 kilo. Santan kental 4 bungkus. Daun salam. Serai. Telur 2 papan. Kacang tanah 1 kilo. Cabai rawit. Daun pisang.*
Lalu ia menulis sesuatu yang belum pernah dilakukan ibunya: harga.
Ibunya memasak dengan perasaan. Dan karena itulah ibunya jarang untung. Setiap pagi ia memberi lebih banyak nasi untuk anak sekolah yang uangnya kurang, menambah telur untuk tukang ojek yang kelihatan lapar, dan menyimpan sambal terbaik untuk tetangga yang sedang sakit. Anindya pernah bertanya kenapa. Ibunya hanya tertawa dan berkata, *Nin, rezeki itu bukan yang masuk kantong, tapi yang bikin orang pulang dengan perut hangat.*
Anindya, yang pernah mencuci piring selama sebulan lebih dan menghitung setiap gelas yang bersih, tahu bahwa perasaan saja tidak membayar uang kos. Tapi ia juga tahu satu hal lain yang ia pelajari dari ibunya: bahwa angka dan kebaikan tidak harus bermusuhan. Ia bisa menjadi keduanya.
---
Pesanan sepuluh bungkus untuk pengajian itu menjadi uji coba yang tidak ia akui sebagai uji coba.
Jam setengah empat pagi, dapur kos yang biasanya sepi mendadak berbau bawang goreng. Bu Heni sudah duduk di bangku plastik sejak tadi, dengan sarung diikat di pinggang dan tumpukan daun pisang di pangkuan, mengiris dan melipat dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan usianya.
"Neng, nasinya udah tanak?"
"Belum, Bu. Lima menit lagi."
"Santannya jangan sampai pecah."
"Iya, Bu. Saya aduk terus."
"Ibu nggak mau ngajarin Neng masak," kata Bu Heni sambil menatap panci. "Ibu cuma ngingetin."
Anindya tersenyum kecil. Tangannya sudah bergerak sendiri, mengaduk pelan dengan sendok kayu, mencium aroma yang naik dari panci, menyesuaikan api dengan insting yang tidak pernah ia sadari dimiliki. Di balik kerudungnya, keringat mulai menetes di pelipis, tapi ia tidak peduli.
Dan di tengah uap yang naik, ia mendengar, jelas sekali, suara ibunya yang bersenandung dari dapur lama mereka. Lagu yang tidak punya nama, hanya potongan melodi yang selalu muncul ketika ibunya senang. Ia ikut bersenandung tanpa sadar, pelan, dan Bu Heni di sampingnya berhenti melipat daun pisang, menatapnya sebentar, lalu menunduk menyembunyikan senyum yang matanya sendiri basah.
Sepuluh bungkus selesai sebelum subuh.
Bu Heni yang mengantarkannya sendiri ke rumah Bu Dini sebelah, membawa dua kantong besar dengan bangga yang tidak disembunyikan. Anindya menunggu di kos, duduk di pinggir kasur, menatap dinding. Ia tidak tahu kenapa jantungnya berdebar sekencang itu, padahal ia sudah memasak nasi uduk berkali-kali sepanjang hidupnya.
Jam sepuluh, Bu Heni kembali dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
"Neng."
"Iya, Bu?"
"Mereka minta tambah."
"Tambah?"
"Bu Dini bilang, hari Minggu ada arisan. Dua puluh bungkus. Pak Haji juga mau, buat tamu keluarganya. Bu Lurah katanya mau dikenalin ke orang kelurahan." Bu Heni menarik napas panjang. "Neng, tangan Neng itu... Ibu nggak ngerti. Tapi tangan Neng itu mahal."
Anindya tidak menjawab. Ia hanya menutup mulut dengan telapak tangannya, dan baru ketika ia merasakan kehangatan menetes di pipinya, ia sadar sedang menangis.
Bukan tangis sedih. Lebih seperti tangis seseorang yang akhirnya menemukan pintu yang selama ini ia kira tidak ada.
Dan di dalam kepalanya, jelas dan pelan, ia mendengar suara yang sudah lama tidak ia dengar: *Tuh kan, Nin. Tangan kamu itu tangan ibu.*
---
Dua minggu berikutnya adalah serangkaian pelajaran kecil yang mahal.
Ia belajar bahwa santan kemasan tidak sama dengan santan peras. Bahwa daun pisang yang dibeli di pasar jam enam pagi lebih murah dari yang dibeli jam sepuluh, tapi harus ditempuh dengan dua kali angkot. Bahwa telur gosong yang ia sukai tidak selalu disukai semua orang, dan bahwa sambal kacang yang pedas di hari Selasa bisa terasa biasa saja di hari Jumat, tergantung cuaca.
Ia mencatat semuanya. Di buku tulis barunya, kolom-kolom rapi mulai menumpuk: modal, harga jual, laku, sisa. Angka-angkanya tidak spektakuler, tapi untuk pertama kalinya setelah sebulan penuh menatap dinding, angka-angka itu bergerak naik.
Suatu pagi, ia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, menatap perempuan berkerudung dengan lingkar hitam di bawah mata dan jari yang kapalan di bagian ibu jari. Ia tidak lagi terlihat seperti orang yang baru dipecat. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang membangun sesuatu, dan tidak punya waktu untuk menjadi korban.
"Oke," katanya pada pantulan itu. "Satu menu. Satu tempat. Setiap hari."
Saran Mbak Sari yang dulu ia anggap sekadar nasihat dapur, ternyata menjadi satu-satunya pegangan paling kokoh yang ia punya. Dan di sela rasa terima kasih itu, ada sesuatu yang lebih pelan dan lebih pahit: bahwa orang yang memberinya pegangan itu mungkin juga salah satu orang yang melepaskannya.
---
Papan kecil itu ia tulis sendiri dengan cat putih di atas triplek bekas.
*NASI UDUK ANIN. Telur gosong, sambal kacang. Sejak 5.30.*
Hurufnya tidak sempurna. Huruf *K* sedikit miring, dan titik di akhir kalimat agak menetes. Tapi ia menaruhnya di depan gerbang kos dengan bangga yang tidak ia sembunyikan, di samping meja lipat pinjaman Bu Heni yang kakinya diganjal kardus.
Pagi itu, Bandung masih gelap ketika ia menurunkan dua rantang besar dari rak dapur. Udara dingin menyelinap lewat kerudungnya, dan dari kejauhan terdengar suara azan subuh yang baru saja usai. Tukang bubur ayam di seberang jalan menurunkan gerobaknya dan menoleh sebentar ke arahnya.
Anindya menarik napas panjang dan membuka rantang pertama.
Hari pertama, hanya sembilan bungkus yang laku dari tiga puluh.
Orang-orang lewat. Sebagian melambat, sebagian melirik, sebagian hanya mengangguk sopan lalu berjalan terus. Anak-anak sekolah berlarian sambil menunjuk telur dadar yang gosong di pinggirnya. Bu Heni membawa lima tetangganya jam tujuh, dan mereka membeli sisa dari rantang kedua.
Sembilan bungkus.
Ia duduk di bangku plastik setelah semua orang pergi, menatap dua puluh satu bungkus yang tersisa, dan menunggu kecewa datang. Tapi yang datang justru ketenangan yang dingin dan jernih, seperti seseorang yang baru saja melihat dasar tangga dan sadar bahwa dari sini, semuanya hanya bisa naik.
Ia membawa sisanya ke pos ojek di ujung gang dan membagikannya gratis.
"Eh, enak banget ini, Teh!" kata seorang pengemudi sambil menggigit telurnya. Matanya berkaca. "Mirip banget sama bikinan almarhumah ibu saya di kampung."
Anindya terdiam sebentar. Sesuatu di dadanya bergetar. "Alhamdulillah, Pak."
"Besok jualan lagi, nggak?"
"Jualan, Pak."
"Jam berapa?"
"Setengah enam."
"Wah, saya besok ke sini. Ajak temen-temen."
Hari kedua, laku dua puluh dua bungkus.
Hari kelima, habis jam delapan.
Dan sepanjang hari-hari itu, di sela melayani pembeli, ia sesekali mendengar kalimat yang sama dari orang yang berbeda. *Rasanya kayak masakan ibu saya.* Kalimat yang membuat ia ingin menangis dan tertawa sekaligus, karena ia tahu bahwa masakan ibunya sedang hidup lagi, di lidah orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenalnya.
---
Ada satu hal yang diam-diam Anindya tunggu selama minggu pertama itu, dan ia tidak akan pernah mengakuinya pada siapa pun.
Setiap pagi, di sela melayani pembeli, matanya sesekali melirik ke ujung jalan, mencari seseorang dengan jaket jeans dan helm setengah yang pernah berkata dengan suara serak, *Mbak yang jadi pelanggan pertama.*
Mbak Sari tidak datang.
Tidak hari pertama. Tidak hari kelima. Tidak hari kesepuluh. Anindya tidak mengerti kenapa. Mungkin sibuk. Mungkin lupa. Mungkin hanya mengucapkannya karena kasihan pada saat itu. Ia mencoba memercayai salah satu penjelasan itu, dan sebagian dirinya memang percaya.
Tapi sebagian kecil yang lain, yang tak pernah mau diam, mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Suatu pagi, ia menghapus pertanyaan itu dengan punggung tangan, seperti menyeka keringat, dan kembali mengaduk sambal.
Di buku tulisnya, di halaman paling belakang, ia menulis satu kalimat dengan huruf besar-besar dan menggarisbawahinya dua kali.
*JANGAN BERHENTI SEBELUM HABIS.*
Lalu ia menutup buku itu, mengambil sendok, dan melayani pelanggan berikutnya dengan senyum yang kali ini, tidak lagi dipaksakan.
Bersambung ke Bab 20...