"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Best Couple 01.
Gemuruh di dalam gedung olahraga SMA Veteran Bandung sore itu bukan cuma soal taktik atau papan skor yang saling kejar. Ini tentang gengsi. Kurang dari dua puluh detik tersisa di kuarter keempat, dan posisi Veteran tertinggal satu poin dari SMA Garuda. Keringat menyengat mata Timy, tapi fokusnya sama sekali tidak bergeser dari bola oranye di tangan point guard lawan.
Timy bertubuh tegap, jangkung dengan rambut hitam berantakan yang basah oleh peluh. Sorot matanya tajam, tipikal cowok yang tidak banyak bicara tapi selalu tahu apa yang harus dilakukan di lapangan. Kostum basket bernomor punggung 10 melekat pas di tubuh atletisnya.
Di pinggir lapangan, berdiri poros dunianya: Nawang.
Nawang adalah definisi dari energi murni. Sebagai kapten cheerleader, dia berdiri di barisan paling depan dengan rok lipat kuning-biru khas Veteran. Rambut panjangnya dikuncir kuda, ikut bergerak dinamis setiap kali dia melompat.
Wajahnya yang manis tanpa riasan tebal memancarkan aura yang membuat seisi GOR paham kenapa mereka berdua dijuluki best couple Veteran selama satu tahun terakhir. Hubungan mereka bukan tipe yang penuh drama pamer di media sosial, melainkan kenyamanan yang tumbuh dari ruang-ruang kelas, bekal makan siang yang dibagi dua, dan saling paham tanpa perlu banyak bicara.
Melihat riuh penonton yang mulai tegang, Nawang mengambil megapfon kecilnya. Dia tidak memakai yel-yel standar sekolah. Dia memakai yel-yel yang dia karang sendiri malam sebelumnya, khusus untuk momen seperti ini.
"Veteran satu! Veteran juara!" suara Nawang memimpin regunya, melengking jernih membelah kegaduhan. "Tapi buat nomor sepuluh, bawa pulang piala, atau Aa pulang jalan kaki!"
Regu cheerleader-nya langsung menyambung dengan kompak, gerakan pom-pom mereka memicu gemuruh baru di tribun.
Timy yang sedang memasang kuda-kuda bertahan sempat menangkap kalimat itu. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ancaman halus yang sangat khas dari pacarnya.
Brak!
Point guard Garuda melakukan kesalahan kecil saat melakukan dribble silang akibat tekanan mental dari riuhnya tribun. Insting Timy bergerak lebih cepat dari logika. Dia meluncur, merebut bola liar itu dengan satu hentikan tangan yang bersih.
"Timy! Counter attack!" teriak pelatih dari bangku cadangan.
Waktu menyusut. Tujuh detik. Timy menggiring bola membelah lapangan. Dua forward lawan langsung menutup ruang geraknya di area three-point. Tidak ada waktu untuk mengoper. Dengan sisa tenaga di betisnya, Timy melakukan crossover cepat ke arah kiri, mengecoh lawan, lalu melompat tinggi. Tubuhnya melayang di udara, menantang gravitasi seolah waktu melambat selama satu detik penuh. Bola dilepaskan dengan putaran backspin yang sempurna dari ujung jarinya tepat saat lampu merah di papan skor menyala.
Swoosh!
Bola amblas ke dalam jaring tanpa menyentuh ring sama sekali. Papan skor berubah otomatis. Veteran menang dengan selisih satu poin.
GOR Veteran meledak. Penonton turun ke lapangan.
Teman-teman setimnya langsung menerjang Timy, memeluk dan mengacak-acak rambutnya dalam euforia kemenangan.
Namun, di antara puluhan tangan yang menepuk pundaknya, mata Timy hanya mencari satu orang.
Nawang berdiri di batas garis lapangan, melempar pom-pomnya ke lantai dengan senyum lebar yang membuat matanya menyipit manis. Timy melepaskan diri dari kerumunan, berjalan lurus ke arah Nawang, lalu tanpa memedulikan badannya yang penuh keringat, dia menarik Nawang ke dalam pelukan singkat yang hangat.
"Lolos dari jalan kaki, 'kan?" bisik Timy, napasnya masih terengah-engah di dekat telinga Nawang.
Nawang tertawa kecil, menepuk punggung Timy lembut sebelum melepaskan pelukan agar tidak terlalu menarik perhatian guru pembina. "Lolos, Aa. Mainnya keren banget tadi."
Satu jam kemudian, euforia itu mulai mereda. Area parkir belakang sekolah sudah sepi. Sinar matahari Bandung perlahan berubah menjadi oranye keunguan yang teduh.
Timy sudah berganti pakaian dengan kaos hitam longgar dan celana abu-abu sekolahnya, sementara tas olahraga besarnya tersampir di pundak.
Di sampingnya, Nawang sedang merapikan jaket denim yang sengaja dia pakai untuk menutupi seragam cheerleader-nya.
Timy mendekati motor matic Vespa putih kesayangannya yang terparkir di bawah pohon mahoni.
Vespa sprint putih keluaran terbaru itu selalu bersih, kontras dengan stiker kecil logo Veteran di spakbor depannya. Baginya, motor ini bukan sekadar alat transportasi, tapi saksi bisu bagaimana dia dan Nawang menghabiskan sore demi sore setelah penatnya jam pelajaran.
"Neng, helmnya," kata Timy sambil mengulurkan helm bogo sewarna dengan motornya.
"Makasih, Aa," Nawang menerimanya, lalu memasangnya hingga bunyi klik terdengar jelas.
Timy naik ke atas jok, menyalakan mesin yang langsung mengeluarkan suara purr halus yang khas. Begitu Nawang naik dan duduk dengan posisi menyamping yang anggun, kedua tangannya secara alami melingkar di pinggang Timy, menyelipkan jemarinya di kantong jaket cowok itu. Kehadiran Nawang di belakangnya selalu memberikan rasa tenang yang instan setelah tensi tinggi pertandingan tadi.
"Kita langsung pulang?" tanya Nawang, menumpukan dagunya di pundak Timy.
Timy melirik dari kaca spion, menatap mata Nawang yang memantulkan cahaya senja. "Enggak. Aa mau ajak kamu ke suatu tempat. Kita ke atas, ya? Ke Moko."
Nawang tersenyum, mengeratkan pelukannya di pinggang Timy sebagai tanda setuju. "Asal Aa yang nyetir, ke mana aja Neng ikut."
Vespa putih itu perlahan bergerak membelah gerbang SMA Veteran, meninggalkan sisa-sisa kemeriahan hari itu. Roda matic-nya berputar mulus di atas aspal jalanan kota Bandung, mulai mengarah ke utara, siap membelah jalanan menanjak menuju Bukit Moko yang dingin di atas sana.
.
......................
...****************...
Tbc,