NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah yang Dihapus dan Kebenaran yang Menghancurkan

Malam itu, di dalam gubuk reot yang berdiri tegar di bantaran rel kereta api, suara deru kereta malam terdengar begitu nyaring, menggetarkan dinding-dinding triplek yang rapuh. Di atas ranjangnya, Dara terlelap dalam tidur yang tenang setelah meminum obat pemulihannya. Sementara itu, Juwita duduk bersila di dekat meja belajar kecilnya, ditemani cahaya lampu neon kekuningan yang berpijar lemah.

Di hadapan Juwita terbentang sebuah kotak kayu tua berwarna cokelat gelap—sebuah benda asing yang tidak sengaja ia temukan di dalam koper usang milik ibunya saat ia merapikan lemari sore tadi. Kunci kecil yang mengaitkan kotak itu sudah berkarat, dan dengan sedikit usaha menggunakan ujung gunting, Juwita berhasil membuka tutupnya yang berderit pelan.

Tidak ada perhiasan mewah atau harta berharga di dalam kotak itu. Yang ada hanyalah tumpukan kertas tua yang menguning, beberapa lembar foto lama, dan sebuah amplop putih besar dengan stempel pos yang sudah pudar termakan usia.

Juwita meraih amplop tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar. Rasa penasaran bercampur kecamuk aneh merayap di dadanya. Ia mengeluarkan isi amplop itu: selembar surat pernyataan bermeterai tua, beberapa lembar rekam medis rumah sakit bersalin dari dua dekade silam, dan selembar foto polaroid berukuran kecil.

Juwita membalik foto polaroid itu terlebih dahulu. Di atas kertas foto yang mulai memudar, tampak seorang wanita muda yang wajahnya sangat mirip dengan ibunya di masa lalu—cantik, anggun, dengan senyuman cerah. Wanita itu berdiri berdampingan dengan seorang pemuda berwajah tampan berahang tegas, mengenakan jas mewah berkerah tinggi. Pemuda itu merangkul pinggang Dara dengan erat.

Juwita terpaku. Napasnya mendadak tertahan di tenggorokan. Wajah pemuda di dalam foto itu... ia mengenalnya sangat baik. Wajah itu adalah replika persis dari Riko Aditama, sang konglomerat kejam, ayah kandung dari musuh bebuyutannya, Kevin Aditama.

Dengan tangan yang semakin gemetar hebat, Juwita membentangkan surat pernyataan tua yang ada di dalam amplop tersebut. Matanya menyapu barisan kalimat demi kalimat yang tertulis dengan mesin tik kuno:

"Dengan surat ini, ditarik garis putus segala bentuk tanggung jawab moral, perdata, maupun finansial antara Riko Aditama dengan saudari Dara Puspita. Keputusan keluarga telah bulat: Dara Puspita tidak diperkenankan untuk mengakui, menuntut, atau membawa-bawa nama besar keluarga Aditama dalam bentuk apa pun di masa depan terhadap anak yang dikandungnya..."

Dunia di sekeliling Juwita mendadak berputar kencang. Suara deru kereta api di luar sana lenyap seketika, berganti dengan dengung nyaring yang menghantam kepala Juwita hingga terasa ingin pecah.

Riko Aditama...

Nama itu bergema di dalam kepalanya bagaikan sambaran petir di siang bolong. Pria paruh baya yang selama ini menjadi musuh bebuyutan dalam hidup mereka, pria yang merancang kebangkrutan keluarganya, pria yang mengusir mereka, dan pria yang membiarkan ibunya menderita di bawah tekanan kemiskinan ekstrem selama puluhan tahun—ternyata adalah ayah biologisnya sendiri.

Dan Kevin Aditama—pemuda arogan yang mencoba menghancurkan hidupnya, yang merundungnya, yang menyiksanya di sekolah—bukanlah sekadar musuh biasa. Kevin adalah saudara tirinya. Darah yang sama mengalir di nadi mereka, namun takdir mempertemukan mereka sebagai predator dan mangsa di atas puing-puing kepedihan.

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Juwita terbata-bata, air matanya tumpah membasahi pipinya tanpa bisa ia bendung. Tangannya meremas kertas tua itu hingga kusut. Rasa sakit yang teramat sangat menusuk jantungnya, bercampur dengan kemusnahan akal sehat akibat kenyataan yang begitu keji.

Selama ini, ibunya berjuang seorang diri. Selama ini, Dara menanggung caci maki masyarakat, hidup di bawah ancaman rel kereta, menahan sakit paru-paru tanpa obat yang layak, dan membesarkan Juwita seorang diri di tengah lumpur kemiskinan—hanya karena ia dicampakkan begitu saja oleh seorang pria kaya raya bernama Riko Aditama yang memilih menikah dengan wanita dari kalangan setara demi melanggengkan singgasana kekuasaannya!

Dan yang paling menghancurkan hati Juwita adalah kenyataan bahwa pria yang sama, Riko Aditama, adalah orang yang bertahun-tahun lalu menyeret ibunya keluar dari rumah mewah keluarga Aditama di tengah badai malam, mencampakan ke jalanan berlumpur saat Dara tengah mengandung Juwita.

"Ibu..." isak Juwita tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk meredam tangisannya agar tidak membangunkan wanita paruh baya yang sedang tidur lelap di ranjang sebelah.

Tiba-tiba, suara batuk pelan terdengar dari arah ranjang. Dara bergerak pelan, lalu membuka matanya. Melihat lampu meja masih menyala dan putrinya duduk terpaku sambil memegang kotak tua di lantai, Dara mengerjap menyesuaikan penglihatannya.

"Nduk... Juwita? Belum tidur, Nak? Kenapa menangis...?" suara Dara parau, wanita itu berusaha bangkit dan bersandar di kepala tempat tidur.

Namun, saat pandangan Dara jatuh pada kotak kayu dan lembaran surat tua yang berserakan di pangkuan Juwita, warna di wajah Dara seketika lenyap sempurna. Napas wanita paruh baya itu tercekat. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Rahasia kelam yang ia kubur rapat-rapat selama dua puluh tahun lamanya kini telah terbuka lebar di hadapan putri tercintanya.

"Juwita... itu..." suara Dara melemah, air mata langsung meluncur deras membasahi pipi kurusnya. "Kamu... kamu sudah melihatnya..."

Juwita perlahan mendongak. Di bawah temaram cahaya lampu, tatapan mata Juwita pada ibunya bukanlah tatapan kemarahan, melainkan lautan cinta yang begitu dalam, berpadu dengan amarah membara yang belum pernah terlihat sebelumnya di dalam hidupnya. Juwita bangkit, berjalan mendekati ranjang, lalu langsung menjatuhkan diri berlutut di samping ibunya, mendekap pinggang Dara erat-erat sambil membenamkan wajahnya di dada wanita itu.

"Ibu... kenapa Ibu menanggung semua ini sendirian...?" jerit Juwita tertahan, menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. "Kenapa Ibu tidak pernah bilang kalau pria brengsek itu... kalau Riko Aditama adalah ayah kandungku...?"

Dara terisak pelan, mengusap rambut putrinya dengan jemari yang gemetar hebat. "Ibu tidak ingin merusak masa depanmu, Nduk... Ibu tidak ingin kamu tumbuh dengan kebencian di dalam hatimu... Dunia mereka terlalu kejam untuk kita sentuh. Ibu hanya ingin kita hidup tenang, meskipun harus merangkak dari bawah..."

"Tenang?" Juwita perlahan mengangkat wajahnya. Air mata masih membasahi pipinya, namun sorot mata di kedua bola matanya telah berubah total. Tidak ada lagi sisa-sisa kerapuhan. Yang terpancar di sana adalah kilatan bara api yang menyala-nyala—tajam, dingin, dan mematikan. "Mereka tidak pernah membiarkan kita hidup tenang, Bu. Anak kesayangan pria itu, Kevin... dia mencoba menghancurkan hidupku, dia mencoba merampas masa depanku, dan keluarga mereka terus menginjak-injak harga diri kita!"

Dara menatap putrinya dengan cemas. "Juwita... apa yang ingin kamu lakukan...?"

Juwita perlahan berdiri dari berlututnya. Ia menyeka air mata di wajahnya dengan punggung tangan, lalu meraih lembaran surat perjanjian tua itu dan menggenggamnya erat-erat hingga kertas itu berkerut di dalam kepalan tangannya.

Ia teringat pada semua penderitaan ibunya, pada batuk darah yang merenggut napas wanita itu di malam-malam badai, pada senyuman merendahkan Kevin Aditama di koridor sekolah, dan pada kesombongan Riko Aditama yang duduk di singgasana kekuasaannya.

"Selama ini, aku berjuang hanya untuk bertahan hidup," ucap Juwita dengan suara rendah namun bergema penuh kepastian di dalam gubuk yang sempit itu. "Aku mengira aku bertarung melawan orang-orang kaya yang kejam di sekolah. Tapi ternyata, aku sedang berdiri di hadapan keluargaku sendiri—keluarga yang membuang kita seperti sampah."

Juwita menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan menatap lurus ke arah jendela luar di mana kerlip lampu kota Jakarta bersinar terang di kejauhan.

"Mereka pikir mereka bisa menghapus keberadaan kita dari dunia ini," sumpah Juwita di dalam hatinya dengan suara dingin yang mengiris malam. "Mereka pikir nama Aditama adalah benteng yang tidak bisa ditembus. Tapi mulai malam ini, aku bersumpah di atas air mata dan penderitaan Ibu... aku akan meruntuhkan seluruh kekaisaran itu sampai ke akar-akarnya. Aku akan membuat Riko Aditama dan Kevin berlutut di hadapan kita, memohon pengampunan atas apa yang telah mereka lakukan."

Di bawah atap seng yang bocor dan ditemani deru kereta malam, lembaran sejarah kelam telah resmi ditutup. Perjuangan Juwita kini bukan lagi sekadar bertahan hidup atau mengejar beasiswa; ini adalah perang terbuka antara darah yang dibuang dan singgasananya yang palsu. Dan pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!