NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sebelum meluncur ke lokasi, Amira merogoh ponselnya dan menghubungi sang si pemilik bangunan. Setelah memastikan temannya itu bersedia bertemu dan membukakan pintu, mereka berdua langsung melaju membelah kemacetan siang itu.

​Mobil Amira berhenti di depan sebuah bangunan yang berdiri anggun di sudut jalan yang teduh di samping pohon mangga. Berbeda dari deretan ruko bertingkat di sekitarnya, bangunan ini memiliki arsitektur ala rumah gaya modern-minimalis tapi memiliki sentuhan ala negeri dongeng.

​"Ini tempatnya, Nad," ujar Amira seraya mematikan mesin mobil. "Pemiliknya sudah tunggu di dalam."

​Nadia tertegun melihat bangunan itu, sangat indah dan aesthetic. Ia dan Amira segera keluar dari mobil dan melangkah masuk menyusuri jalan setapak kecil berhias batu koral. Begitu masuk kedalam ruang utama di lantai satu, mata Nadia seketika membelalak kagum. Lantai dasar bangunan ini merupakan sebuah ruang terbuka yang sangat lapang tanpa sekat. Dindingnya didominasi oleh kaca-kaca tinggi memanjang, membuat cahaya matahari bisa masuk dan memberikan pencahayaan yang sempurna di dalam ruangan.

​Pemilik tempat itu seorang pria ramah bernama Dimas, menyambut mereka untuk melihat-lihat isi bangunan tersebut. Dia menuntun Nadia menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Di atas, terdapat satu kamar berukuran sedang, dapur bersih serta kamar mandi yang masih terawat dengan baik. Di bagian depan lantai dua, terdapat sebuah balkon yang lumayan luas menghadap langsung ke jalanan penuh pepohonan rindang, bahkan dia mungkin bisa memetik buah mangga saat berbuah nanti.

​Nadia berjalan menuju balkon, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Ia bisa membayangkan karya-karya lukisannya terpajang rapi di dinding lantai bawah, sementara lantai atas bisa ia jadikan tempat istirahat dan studio pribadinya.

​"Bagaimana, Nad?" tanya Amira yang ikut berdiri di sampingnya.

​"Aku suka banget, Ra. Tempat ini sempurna," jawab Nadia mantap dengan mata berbinar. Ia lalu menoleh ke arah Dimas. "Mas Dimas, aku mau sewa tempat ini."

​Setelah berdiskusi singkat mengenai harga sewa tahunan yang disepakati, Nadia memberanikan diri mengajukan satu permintaan. "Mas, bolehkah saya minta waktu satu minggu sebelum melakukan pembayaran pelunasan? Saya mau bawa masuk peralatan lukis dan menata beberapa properti dulu ke sini."

​Dimas tersenyum santai lalu melirik Amira. "Karena Mbak Nadia temannya Amira, saya percaya. Silakan bawa barang-barangnya dulu. Kuncinya bisa Mbak simpan mulai hari ini."

"Terima kasih banyak, mas. Saya pastikan akan membayar semuanya tepat waktu. "

​Sinar matahari perlahan meredup saat taksi yang ditumpangi Nadia sampai di halaman rumah. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul lima sore. Nadia melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang jauh lebih segar dan penuh harapan.

​Namun, suasana hangat dari tempat barunya mendadak menguap saat ia menginjakkan kaki di ruang tamu. Bu Ratna dan Sarah sedang duduk bersidekap di sofa. Begitu melihat Nadia melintas, Bu Ratna memberikan tatapan tidak suka yang tidak bisa ia sembunyikan, sementara Sarah tersenyum miring bernada ejekan.

​Nadia memilih tidak peduli. Ia tidak ingin energi positif yang baru didapatkannya hari ini dirusak oleh mereka. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Nadia melangkah santai menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.

​Sekitar pukul tujuh malam, suara deru mobil Rian terdengar memasuki garasi. Belum sempat Rian melepas jas kerjanya saat melangkah masuk lewat pintu depan, Bu Ratna sudah langsung menghadangnya di ruang tamu dengan wajah sengit.

​"Rian! Bagus ya, kelakuan istrimu sekarang!" semprot Bu Ratna tanpa basa-basi.

​Rian yang tampak lelah setelah bekerja seharian mengerutkan keningnya. "Ada apa lagi, Bu?" ucaonya lelah.

​"Dia itu keluyuran dari pagi!" kompor Bu Ratna dengan nada tinggi. "Masa ditinggal suami kerja sedikit langsung pergi entah kemana sampai sore baru pulang! Ibu tanya mau kemana, dia malah tidak menjawab dan main pergi begitu saja! Istri macam apa itu?!"

​Sarah yang duduk di sofa ikut mengompori dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Iya, Mas Rian... Tante Ratna dari tadi khawatir banget. Mbak Nadia tadi kelihatan emosi banget pas keluar rumah."

​Mendengar aduan tersebut, raut wajah Rian seketika berubah keruh. Bukan karena ia percaya penuh pada aduan ibunya, melainkan karena Nadia sama sekali tidak mengirimkan pesan atau meneleponnya seharian ini untuk memberi kabar. Rasa cemas berbaur sedikit rasa kesal mulai menyulut emosi Rian.

​"Nadia dimana sekarang?" tanya Rian singkat dengan suara berat.

​"Ada! Baru pulang pas mau magrib tadi, dia di kamar!" jawab Bu Ratna mantap.

​Rian menghembuskan napas panjang, merapikan tas kerjanya, lalu melangkah lebar dengan langkah lebar menuju kamarnya dan membuka pintu kamar dengan kasar.

​Melihat gestur dan wajah tegang Rian, Bu Ratna dan Sarah saling melempar pandangan puas. Senyum kemenangan terukir jelas di bibir Sarah. Mereka yakin betul, keharmonisan palsu yang ditunjukkan Rian dan Nadia sejak pulang dari Bali malam ini akan hancur berantakan lewat pertengkaran hebat di atas.

"Nadia!" panggil Rian saat melihat istrinya sedang bermain ponsel diatas tempat tidurnya

"Ada apa mas, kamu baru pulang?" jawab Nadia dengan senyum lembut dan meletakkan ponselnya diatas tempat tidur.

"Kamu darimana seharian? Kata ibu kamu keluar sejak pagi sampai sore? kamu juga nggak ngabarin aku. " Rian terus bertanya tanpa memberi waktu pada Nadia untuk menjawab.

"Sudah tanyanya! Akan aku jawab satu-satu. tapi jangan di sela, biar aku jelaskan semuanya. "

Rian tertegun, tapi beberapa saat kemudian dis mengangguk.

"Ya, aku memang pergi tadi pagi sekitar jam 9 atau jam 10 aku lupa. Aku pergi karena ada alasannya, mas."

"Alasannya?"

"Karena telingaku panas mendengar sindiran dari ibu dan Sarah yang terus menyudutkan ku, mengatakan aku istri nggak tau diri, bisanya cuma malas-malasan. Jadi, aku pergi, karena kesal. "

"Tapi kenapa kamu tidak menghubungi ku kalau mau pergi, sayang. " Sikap Rian mulai melunak setelah mendengar alasan istrinya pergi.

"Nggak sempat, karena aku terlanjur kesal sama ibumu. Dan tadi aku cuma bertemu dengan Amira, taman lamaku untuk ngopi, sambil ngobrol." kata Nadia. "Oh, ya, dan satu lagi, mulai besok aku akan kekuar setiap pagi, aku akan bekerja. Aku tidak mau mendengar ibumu terus menyindir ku dengan kata-kata sarkasnya saat kamu tidak ada. Aku juga punya perasaan, dan bisa sakit hati."

"Tapi Nadia, kamu tidak perlu sampai bekerja. Kami bisa tetap di kamar seperti biasa. "

"Dan ibumu akan menganggapku istri yang malas." potong Nadia. "Nah, biar aku tidak di anggap malas, makanya aku harus kerja dan menghasilkan uang. " Kata Nadia.

."Terus kamu mau kerja apa, coba."

"Bukan hal penting, aku hanya menjaga galeri. "

1
Susi Yanti
semoga sarah mendapatkan balasan yg setimpal dgn kelakuannya menyiksa nadia melalui tangan rian
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!