Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 21
... cahaya lampion keemasan menyiram mahkota feniks emas di kepalanya. Binar giok merah yang menghiasi gaun kebesarannya memancarkan aura kemegahan, seolah-olah seluruh Aula Rembulan kini tunduk di bawah telapak kakinya.
Di seberang panggung utama, Pangeran Xiao yang tersungkur didekap para pengawal berarmor besi sempat mendongak. Sepasang matanya menatap Anran dengan rasa tidak percaya dan keputusasaan murni. Pria dari Kerajaan Selatan itu tidak pernah membayangkan bahwa rencana tersembunyi yang ia susun berbulan-bulan dengan begitu rapi akan hancur lebur dalam hitungan menit—hanya karena indra penciuman dan ketajaman wawasan medis seorang wanita.
"Bawa mereka pergi!" seru Kaisar Tian dengan suara baritonnya yang menggelegar.
Para pengawal memutar tubuh Pangeran Xiao dan menyeretnya keluar dari Aula Rembulan. Suara ratapan dan jeritan pengikutnya perlahan menyusut ditelan keheningan malam di luar pelataran.
Setelah kegemparan itu mereda, Kaisar Tian menoleh ke arah Anran. Jemari tegapnya masih menggenggam erat pergelangan tangan halus sang Permaisuri, seolah-olah ia takut sosok wanita luar biasa di sisinya ini akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Perjamuan malam ini selesai," umum Kaisar Tian kepada seluruh pejabat yang masih berlutut. "Seluruh menteri dan jenderal kembali ke kediaman masing-masing. Besok fajar, kita akan menggelar sidang darurat untuk membahas tindakan balasan terhadap Kerajaan Selatan."
"Hamba sekalian mematuhi perintah Yang Mulia!" jawab para pejabat serempak.
Dengan langkah tegap dan berwibawa, Kaisar Tian membimbing Anran berjalan meninggalkan Aula Rembulan, melintasi lorong pualam yang sunyi di bawah naungan sinar bulan. Kasim Zhao dan Lian berjalan membungkuk di belakang mereka dengan jarak yang cukup jauh, memberikan ruang pribadi bagi sang kaisar dan permaisurinya.
Angin malam berembus lembut, membelai helai-helai rambut hitam Anran yang terurai sebagian. Aroma kayu cendana dari jubah Kaisar Tian bertaut hangat dengan wewangian mawar dari gaun Anran.
"Anran..." panggil Kaisar Tian pelan, menghentikan langkah kakinya di tengah jembatan batu giok yang melintasi kolam teratai.
Anran menghentikan langkahnya, menatap sang kaisar dengan pandangan jernih. "Hamba mendengarkan, Yang Mulia."
Kaisar Tian memutarkan tubuhnya menghadap Anran sepenuhnya. Di bawah pendaran lembut rembulan, raut wajah sang kaisar yang biasanya kaku dan dingin tampak begitu hangat dan terbuka. Tangannya terangkat perlahan, mengusap lembut pipi Anran dengan ujung jemarinya.
"Kau tidak pernah berhenti membuatku terkesima," bisik Kaisar Tian rendah, mata elangnya memancarkan rasa kagum dan gairah yang tak lagi tersembunyi. "Siapa sebenarnya dirimu, Anran? Permaisuri yang kukenal dulu tak pernah memiliki ketenangan seluar biasa ini di hadapan marabahaya."
Anran mengulas senyum tipis yang amat memikat. Ia tidak menghindar dari sentuhan tangan Kaisar Tian, namun ia juga tidak menunjukkan kepasrahan yang murahan.
"Apakah sosok Anran yang sekarang tidak menyenangkan bagi Yang Mulia?" tanya Anran balik dengan nada canda yang halus.
Kaisar Tian terkekeh rendah—suara tawa yang begitu intim dan renyah. "Menyenangkan? Kau jauh lebih dari sekadar menyenangkan, Permaisuri. Kau adalah satu-satunya wanita yang sanggup membuat jantungku berdegup kencang bukan karena ancaman musuh, melainkan karena pesonamu."
Kaisar Tian mendekatkan wajahnya sedikit, menatap bibir kemerahan Anran. "Mulai malam ini, tidak ada lagi jarak di antara kita. Istana Fengyi dan Istana Utama adalah milikmu sepenuhnya."
Anran menatap lurus ke dalam manik mata Kaisar