Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: KELUARGA SEMPURNA
Hari ketiga setelah insiden penyiraman air panas itu, Ranti duduk di balik meja kerja kamar utamanya—kamar sementara di sebuah apartemen mewah yang baru ia sewa. Di hadapannya menumpuk berkas-berkas kepemilikan aset, sertifikat rumah, hingga rekening koran atas nama Sony.
Pengacara Pak Hendra baru saja mengirim pesan bahwa kondisi fisik Sony dan Raya sudah stabil setelah mendapat perawatan intensif di rumah sakit akibat luka bakar tingkat dua. Pemanggilan dari kepolisian terkait dugaan kasus perzinahan akan dilayangkan lusa.
Ranti menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja yang empuk. Tangannya yang lentik membolak-balik sebuah album foto ber-cover kulit sintetis berwarna cokelat keemasan.
Di lembaran pertama, terpampang foto keluarga berukuran besar yang diambil enam bulan lalu di sebuah studio foto ternama. Dalam foto itu, Sony tampak berdiri gagah memeluk pinggang Ranti dari belakang, sementara Bima duduk manis di pangkuan Ranti dengan tawa lebar. Ranti memakai gaun chiffon krem yang anggun, tersenyum begitu bahagia.
Keluarga Sempurna.
Itu adalah julukan yang selalu disematkan orang-orang pada mereka. Julukan yang kini terasa seperti ejekan paling menyakitkan dalam hidup Ranti.
Ranti memejamkan mata, membiarkan ingatannya kembali ke malam ulang tahun pernikahan mereka yang kelima—malam pesta makan malam mewah di restoran hotel bintang lima bersama keluarga besar dan rekan bisnis Sony.
Enam Bulan Lalu – Ballroom Hotel Grand Deluxe
Lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memenuhi ruangan pesta pribadi itu. Denting gelas kaca dan alunan musik biola lembut menciptakan suasana yang sangat berkelas.
Sony yang mengenakan setelan jas hitam elegan tampak berdiri di tengah ruangan, memegang mikrofon dengan senyum yang dipenuhi kebanggaan. Di sampingnya, Ranti berdiri anggun dalam balutan gaun malam berwarna merah maroon, sementara Bima kecil bermain dengan mainan mobil-mobilannya di sudut meja.
"Selamat malam untuk Ibu, Mertua saya, serta rekan-rekan bisnis yang hadir malam ini," suara Sony terdengar mantap dan penuh karisma melalui pengeras suara. "Lima tahun lalu, saya berdiri di hadapan Anda sekalian sebagai pria biasa yang baru mulai merintis usaha kecil-kecilan. Saya tidak punya apa-apa."
Sony menoleh ke arah Ranti, menatap matanya dengan penuh kedalaman yang saat itu Ranti yakini sebagai cinta sejati.
"Namun, di samping saya ada seorang wanita luar biasa bernama Ranti," lanjut Sony, suaranya sedikit bergetar haru. "Dia tidak pernah menuntut kemewahan saat kami masih tinggal di kontrakan sempit. Dia selalu memijat punggung saya saat saya pulang larut malam karena mengejar klien, dan dia yang selalu mendoakan keberhasilan saya di setiap sujudnya."
Tepuk tangan riuh bergema dari seluruh tamu undangan. Ibu kandung Sony, Ibu Hendrawan, mengusap sudut matanya terharu dari meja utama.
"Malam ini, di ulang tahun pernikahan kami yang kelima, saya ingin mengucapkan terima kasih," kata Sony seraya merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil. "Untuk wanita yang telah melahirkan putra tampan kami, dan wanita yang menjadikan saya pria paling beruntung di dunia."
Sony berlutut di hadapan Ranti, di depan puluhan mata yang menatap mereka dengan tatapan iri dan kagum. Ia membuka kotak beludru itu, memperlihatkan sebuah kalung emas putih berkilau dengan liontin berinisial SR.
"Ranti... kalung ini berinisial SR. Sony dan Ranti," bisik Sony dengan nada menggetarkan hati. "Simbol bahwa nama kita telah tertaut selamanya, tak terpisahkan oleh apa pun hingga maut memisahkan."
Ranti menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagianya menetes membasahi pipi. "Mas Sony..."
Sony berdiri, mengalungkan perhiasan indah itu ke leher Ranti yang jenjang, lalu mendaratkan kecupan hangat di dahi istrinya.
Ibu Hendrawan mendekati mereka berdua, menepuk bahu Sony dan menggenggam tangan Ranti penuh kasih sayang. "Ibu sangat bangga pada kalian berdua. Rumah tangga kalian ini adalah contoh nyata berkah Tuhan. Sony yang bertanggung jawab, Ranti yang berbakti dan pandai menjaga kehormatan suami."
"Ibu ini bisa saja," sahut Ranti malu-malu seraya memeluk ibu mertuanya. "Ini semua juga berkat doa dari Ibu."
"Benar, Bu," puji rekan bisnis Sony, Pak Wijaya, yang ikut menghampiri. "Di zaman sekarang, jarang sekali ada pengusaha muda sesukses Pak Sony yang tetap setia dan romantis pada istri pertamanya. Banyak pengusaha luar sana yang kalau sudah naik kelas, malah cari 'simpanan'. Tapi Pak Sony benar-benar pria idaman."
Sony tertawa renyah, merangkul pinggang Ranti lebih erat. "Wah, bagi saya Ranti ini sudah lebih dari cukup, Pak Wijaya. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi Ranti di hati dan rumah saya."
Pujian dan Sanjungan mengalir tanpa henti malam itu. Semua orang mengagumi betapa harmonisnya rumah tangga mereka. Ranti merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Ia merasa seluruh perjuangannya menemani Sony dari nol telah terbayar lunas dengan cinta dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Dua Hari Setelah Pesta – Di Rumah Utama
Pagi hari di rumah mewah dua lantai milik mereka, suasana kehangatan keluarga itu terasa begitu nyata. Ranti sedang menyiapkan sarapan nasi goreng kesukaan Sony di dapur yang bersih dan modern.
Sony turun dari lantai dua dengan setelan kemeja kerja yang rapi, membawa tas kerjanya. Dari arah taman belakang, Bima berlari-lari kecil menghampiri ayahnya.
"Papa! Lihat, Bima bisa gambar rumah!" seru Bima seraya menyodorkan selembar kertas gambar.
Sony berlutut, mengambil kertas itu dan memandangnya dengan tuju ketelitian yang hangat. "Wah, gambarnya bagus sekali! Ini rumah siapa, Nak?"
"Ini rumah kita! Ada Papa, ada Mama, sama ada Bima!" sahut anak itu polos.
Sony tertawa hangat, mencium pipi Bima gemas. "Anak Papa pinter banget. Nanti Papa belikan mainan robot baru, ya?"
Ranti meletakkan piring berisi nasi goreng hangat dan secangkir kopi hitam di meja makan. Ia tersenyum menatap pemandangan indah di hadapannya.
"Mas, makan dulu sarapannya nanti dingin," panggil Ranti lembut.
Sony duduk di meja makan, memakan sarapannya dengan lahab. "Nasi goreng buatan kamu memang selalu yang terbaik, Sayang. Tidak ada koki restoran berbintang yang bisa menandingi rasa masakan kamu."
"Mas ini dipuji terus dari semalam," ujar Ranti terkekeh pelan seraya merapikan kerah kemeja Sony. "Ngomong-ngomong, nanti sore Mas bisa pulang cepat? Kita kan janji mau temani Bima beli buku."
Sony menghentikan suapannya sejenak. Ada jeda sesaat di mana matanya bergerak gelisah, sebelum akhirnya kembali menatap Ranti dengan senyum manisnya yang sempurna.
"Aduh, maaf banget ya, Sayang," tutur Sony dengan wajah menyesal yang sangat meyakinkan. "Nanti sore Mas ada rapat mendadak sama klien dari luar kota. Kayaknya Mas bakal pulang agak malam. Kamu sama Bima duluan saja, ya? Nanti Mas susul kalau rapatnya selesai cepat."
Ranti tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia mengelus lengan suaminya dengan penuh pengertian. "Ya sudah, tidak apa-apa, Mas. Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kesehatan Mas itu yang paling utama."
"Terima kasih ya, Sayang... kamu memang istri yang paling pengertian," balas Sony seraya mengecup bibir Ranti singkat.
Hari itu, Ranti melepas keberangkatan Sony ke kantor dengan senyuman dan doa. Ia tidak pernah membayangkan bahwa "rapat mendadak dengan klien luar kota" adalah bahasa sandi Sony untuk menyewa kamar hotel mewah dan menghabiskan sore bersama Raya—guru TK anaknya sendiri.
Di balik senyum manis, tutur kata lembut, dan pujian setinggi langit sebagai suami idaman, Sony menyimpan kerapuhan iman dan kebohongan yang sangat rapi. Topeng "Keluarga Sempurna" itu terpasang begitu rapat hingga tak ada satu orang pun yang mampu melihat kebusukan di dalamnya.
Kembali ke Masa Kini – Di Kamar Apartemen
BRAK!
Ranti menutup album foto ber-cover kulit itu dengan keras, memutus ingatan manis yang kini terasa beracun.
Aroma kepalsuan dari masa lalu itu membuat dadanya mual. Betapa bodohnya dirinya selama bertahun-tahun ini—menjadi wanita yang membanggakan seorang pengkhianat di depan semua orang, menjadi istri yang dengan tulus mendoakan pria yang di belakangnya sibuk membagi ranjang dengan wanita lain.
Telepon genggam Ranti di atas meja bergetar nyaring. Nama Ibu Mertua tertera di layar.
Ranti membiarkan ponsel itu berdering beberapa saat sebelum akhirnya menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga.
"Ranti!" suara Ibu Hendrawan terdengar histeris dan menangis di ujung telepon. "Ranti, apa yang kamu lakukan pada Sony, Nak?! Ibu baru dapat kabar dari rumah sakit... kenapa kamu tega menyiram anak Ibu pakai air panas sampai kulitnya melepuh begitu?! Kenapa kamu tega mau melaporkan Sony ke polisi?!"
Ranti menarik napas dalam-dalam. Tidak ada sedikit pun nada gentar atau rasa bersalah dalam suaranya saat menjawab.
"Ibu," panggil Ranti dengan suara datar dan dingin bagai es. "Ibu bangga kan punya anak lelaki yang bertanggung jawab dan setia seperti yang Ibu pamerkan di pesta enam bulan lalu?"
"Ranti... apa maksud kamu bicaranya begitu?!"
"Anak kesayangan Ibu itu tidak hanya mengkhianati saya," tutur Ranti tegas, kata demi kata terucap dengan tajam. "Dia meniduri guru TK cucu Ibu sendiri di atas ranjang saya! Dia membelikan wanita itu kalung yang sama persis dengan kalung yang dia berikan pada saya di depan Ibu!"
Hening seketika di ujung telepon. Suara tangis Ibu Hendrawan mendadak terhenti, tergantikan oleh napas yang memburu ketakutan.
"Sony... Sony melakukan itu?" bisik ibu mertuanya terperanjat, seolah tak percaya.
"Iya, Bu," sahut Ranti sinis. "Topeng 'Keluarga Sempurna' yang selama ini Ibu dan Sony banggakan sudah hancur berkeping-keping. Dan jangan pernah telepon saya lagi untuk minta belas kasihan. Kerusakan yang dibuat anak Ibu... harus dibayar tuntas di pengadilan!"
Ranti langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban. Ia melempar ponselnya ke meja, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela kaca apartemen yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit kota.
Panggung sandiwara telah usai. Tirai kemewahan dan kepalsuan telah ditutup. Kini, saatnya Ranti memulai pertunjukan yang sebenarnya—pertunjukan di mana sang pengkhianat harus membayar setiap tetes air mata yang pernah jatuh.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.