Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Matahari baru saja merangkak naik, membiaskan cahaya keemasan menembus kaca jendela penthouse mewah.
Di dalam ruangan bernuansa minimalis modern itu, ketegangan kaku yang biasanya menyelimuti interaksi antara Langit dan Bumi perlahan-lahan mulai mengikis.
Kebersamaan mereka yang intens selama beberapa minggu terakhir, mau tidak mau, mencairkan dinding es di antara dua manusia yang dunianya bertolak belakang ini.
Langit, sang CEO wanita yang terbiasa hidup dalam kendali penuh dan dilayani oleh barisan asisten, mendadak memiliki ide impulsif pagi itu.
Dia ingin merasakan menjadi orang biasa.
Lebih tepatnya, dia ingin mencoba membuat sarapan sendiri untuk pertama kalinya.
Mengabaikan fakta bahwa dia bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor gas dengan benar, Langit melangkah ke dapur bersih dengan percaya diri yang keliru.
Dia memasukkan dua lembar roti ke dalam pemanggang otomatis, menekan tombolnya, lalu berbalik untuk mengambil selai di kulkas.
Namun, konsentrasinya terpecah saat mencoba membaca surel di ponselnya.
Bau gosong yang menyengat tiba-tiba menusuk hidung, disusul kepulan asap hitam yang keluar dari mesin pemanggang.
Biiiiip! Biiiiip! Biiiiip!
Alarm pendeteksi asap di langit-langit penthouse berbunyi nyaring, memecah keheningan pagi.
Langit panik, menekan tombol pemanggang acak yang justru membuat asap semakin mengepul.
Pintu kamar di ujung lorong terbuka dengan bantingan keras.
Bumi berlari keluar dengan napas terengah-engah.
Langkah kakinya yang lebar langsung membawanya ke area dapur.
Penampilannya sangat berantakan, dia hanya mengenakan celana training abu-abu yang menggantung rendah di pinggulnya. Tanpa kaos, tanpa atasan apa pun.
Dengan cekatan, Bumi mencabut kabel pemanggang roti dari stopkontak. Dia meraih serbet bersih di dekat wastafel, lalu mengibas-ngibaskannya dengan kuat untuk mengusir asap yang berkumpul di bawah alat pendeteksi.
Setelah beberapa saat yang menegangkan, alarm akhirnya berhenti melolong.
Bumi berbalik, dadanya naik turun mengatur napas, wajahnya menunjukkan kecemasan yang kentara sebelum berubah menjadi ekspresi mengomeli.
"Kamu ini niatnya mau bikin sarapan atau mau membakar investasi properti kamu sendiri, sih? Kalau tidak bisa pakai alatnya, panggil aku. Bagaimana kalau tadi apinya membesar dan kamu terluka? CEO pintar kok urusan roti panggang saja bisa bikin simulasi bencana kebakaran."
Omelan konyol itu terus mengalir dari bibir Bumi, namun Langit sama sekali tidak mendengarnya.
Langit berdiri terpaku di tempatnya. Matanya melebar, bukan karena sisa kepanikan akibat kepulan asap, melainkan karena pemandangan di depannya.
Di bawah siraman cahaya pagi yang hangat, tubuh atletis Bumi terpampang nyata.
Otot-otot dadanya yang bidang dan perutnya yang kotak-kotak berpadu sempurna dengan guratan tato artistik yang menjalar dari lengan kanan, melewati bahu, hingga ke sebagian dadanya.
Tato itu tampak hidup, bergerak seiring helaan napas Bumi.
Bumi mendadak berhenti mengomel ketika menyadari keheningan dari lawan bicaranya.
Dia berpaling dan langsung menangkap basah tatapan intens Langit yang tertuju lurus ke tubuh telan-jangnya.
Sebuah senyuman jahil terukir di sudut bibir Bumi. Dia sengaja melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Langit bisa mencium aroma sisa parfum maskulin yang bercampur dengan bau asap roti.
"Kenapa diam saja?" tanya Bumi dengan suara beratnya yang khas, matanya berkilat jenaka.
"Apa kamu sedang tergoda melihat calon suamimu tanpa baju?"
Pertanyaan frontal itu seketika membuat wajah Langit memanas.
Rona merah yang pekat langsung menjalar dari leher hingga ke kedua pipi sang CEO yang biasanya selalu berwajah datar dan berwibawa.
"Sembarangan!" sergah Langit cepat, suaranya sedikit meninggi karena gugup.
Dia langsung memalingkan wajah ke arah lain. "A-aku tadi cuma sedang menghitung jumlah tato kamu! Ya, benar. Aku sedang menganalisis apakah tato-tato itu simetris atau tidak secara estetika desain interior. Jangan percaya diri dulu."
Bumi menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga menahan tawa mendengar alasan yang sangat tidak masuk akal itu.
Bagaimana bisa estetika desain interior disamakan dengan tato di tubuh manusia? Namun, dia memilih untuk tidak memperpanjang agar harga diri sang CEO tidak runtuh sepenuhnya pagi ini.
Bumi berdeham, berusaha menetralkan suaranya walau matanya masih melengkung jenaka. "Terserah apa katamu, Nona Langit. Tapi sekarang, karena sarapan eksperimenmu sudah berubah jadi arang, aku mau mengingatkan sesuatu"
"Apa?"
"Bukankah hari ini hari Sabtu? Kamu sedang weekend dan libur kerja, kalau aku tidak salah ingat, seseorang kemarin berjanji mau ngajak sarapan nasi uduk di pinggir jalan."
Langit mengerjapkan mata, teringat akan taruhan kecil yang mereka lakukan dua hari lalu, yang berujung pada janji konyol ini. Pernikahan mereka tinggal kurang lima hari lagi, dan Langit sadar dia harus mulai membiasakan diri dengan kesederhanaan Bumi.
"Aku ganti baju dulu. Kamu juga, pakailah baju yang santai. Jangan pakai blender kompor lagi selama aku bersiap," ujar Bumi dingin namun disusul kedipan mata menggoda sebelum dia berbalik menuju kamarnya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka berdua sudah berjalan kaki menyusuri trotoar di sekitar kompleks perumahan mewah tersebut, menuju area luar yang berbatasan dengan pemukiman warga.
Langit mengenakan hoodie longgar dan celana jin, pakaian paling santai yang dia miliki, sementara Bumi tampak kasual dengan kaus hitam polos yang pas di badannya.
Ketika mereka sampai di tenda nasi uduk pinggir jalan yang cukup ramai, langkah kaki Langit mendadak melambat.
Dia menatap bangku-bangku plastik berwarna biru dan meja kayu panjang yang dilapisi taplak plastik bermotif bunga.
Asap dari wajan penggorengan kerupuk berhembus ke arahnya, dan suara bising kendaraan yang lewat membuatnya tidak nyaman.
Langkahnya menjadi kaku, matanya menyiratkan ketakutan tersembunyi. Bagaimana jika tempat ini tidak higienis? Bagaimana jika dia salah duduk?
Bumi yang menyadari perubahan sikap Langit segera bergeser.
Dia menggunakan tubuh tingginya untuk menghalangi Langit dari kerumunan orang yang sedang mengantre.
"Tenang," bisik Bumi di dekat telinga Langit.
"Nasi uduk di sini tidak mengandung racun. Dan tenang saja, kuman-kuman di sini sudah tahu siapa kamu, mereka tidak akan berani mendekati seorang CEO galak."
Langit refleks menyenggol lengan Bumi dengan sikutnya. "Bumi, aku serius. Ini pertama kalinya aku makan di tempat seperti ini."
"Aku juga serius," balas Bumi dengan wajah lempengnya yang dingin, namun matanya memancarkan kehangatan.
Dia menarik salah satu kursi plastik, mengelap permukaannya dengan tisu secara dramatis sebelum mempersilakan Langit duduk. "Silakan duduk, Tuan Putri. Anggap saja ini restoran bintang lima dengan konsep terbuka dan live music suara klakson motor."
Candaan garing namun tulus dari Bumi berhasil memecah ketegangan Langit.
Wanita itu akhirnya duduk dan memesan satu porsi nasi uduk dengan lauk telur balado dan perkedel, mengikuti pilihan Bumi.
Ketika suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Langit berbinar.
Rasa gurih santan dan rempah-rempah yang kaya langsung memanjakan lidahnya.
Ketakutannya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya di restoran-restoran mewah berbintang.
Di sela-sela kunyahan terakhir mereka, Langit meletakkan sendoknya dan menatap Bumi dengan serius.
"Nanti siang, kita ada jadwal bertemu dengan wedding organizer," kata Langit, membuka obrolan penting terkait hari besar mereka yang tinggal menghitung hari. "Mereka mau memastikan konsep akhir dan detail dekorasi untuk resepsi."
Bumi yang sedang meminum teh manis hangatnya hanya mengedikan bahu pelan.
"Aku pasrah saja sama pilihanmu. Lagipula, itu acaramu. Aku ikut apa kata WO dan kamu saja. Konsep apa pun aku terima, asal tidak ada tema kebakaran seperti di dapur tadi pagi."
Langit mendengus kesal, namun ada senyuman kecil di sudut bibirnya. "Tidak bisa begitu. Aku tidak mengizinkan kamu pasrah begitu saja. Ini pernikahan kita berdua, Bumi. Aku berharap kamu nanti ikut datang dan mendiskusikan temanya langsung di tempat WO. Jangan cuma jadi pajangan."
Bumi meletakkan gelasnya, menumpu dagunya dengan satu tangan sambil menatap Langit lekat-lekat dengan tatapan dinginnya yang khas, namun penuh dengan binar jahil.
"Baiklah, kalau aku harus ikut menentukan tema, aku punya ide bagus," ujar Bumi dengan nada suara yang sangat meyakinkan, seolah dia sedang memikirkan konsep mahakarya.
"Apa ide kamu?" tanya Langit penasaran, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Bagaimana kalau kita pakai tema 'Petualangan Pasar Kaget'?" kata Bumi tanpa berkedip.
"Dekorasinya pakai tenda terpal biru, pelaminannya dari tumpukan peti buah, dan suvenirnya kita kasih minyak goreng satu literan. Pasti semua tamu undanganmu yang konglomerat itu akan terkesan dengan konsep yang sangat membumi ini."
Langit tertegun selama dua detik sebelum akhirnya menyadari kalau dia sedang dikerjai.
Tawa renyah yang jarang sekali terdengar dari bibir sang CEO akhirnya pecah di bawah tenda nasi uduk pinggir jalan itu.
Wajah dingin Bumi yang tanpa ekspresi saat melontarkan lelucon konyol tersebut justru membuat situasi menjadi seratus kali lebih lucu.
"Bumi! Kamu benar-benar konyol!" seru Langit di sela tawanya, memukul pelan lengan Bumi yang dipenuhi tato.
Bumi tidak tertawa keras, dia hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang tulus.
Melihat Langit tertawa lepas seperti itu, tanpa beban pekerjaan dan tuntutan korporasi, membuat Bumi merasa lega.