Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Usai perkuliahan Manajemen Bisnis Internasional yang mencekam dan penuh tekanan itu berakhir, langkah kaki Jameson tidak langsung mengarah ke ruang kerja pribadinya.
Sebuah panggilan dari sekretariat fakultas menuntut kehadirannya di lantai teratas Gedung Rektorat—sebuah ruang kerja luas berornamentasi kayu jati tua milik Dekan Fakultas Bisnis, Dr. Harold Vance.
Di balik meja kerja mahoninya yang megah, Dr. Vance duduk dengan raut wajah yang serba salah.
Pria paruh baya berambut uban itu membetulkan letak kacamata minusnya berulang kali, memperlihatkan tingkat kecemasan yang cukup tinggi.
Sungguh sebuah posisi yang sangat canggung; sebagai pimpinan fakultas, ia memiliki tanggung jawab akademis, namun di hadapannya saat ini berdiri Jameson Baxter Ashford—salah satu penyokong dana terbesar universitas sekaligus ahli waris tunggal imperium bisnis Ashford.
Jameson melangkah masuk tanpa mengetuk pintu, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di salah satu kursi kulit di hadapan sang dekan.
Dua kancing teratas kemeja biru gelapnya masih dibiarkan terbuka santai, memamerkan ruam merah di lehernya tanpa ada niat sedikit pun untuk menutupinya.
Dr. Vance berdeham pelan, menyatukan kedua jemarinya di atas meja.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir, Profesor Ashford."
"Katakan langsung pada intinya, Dr. Vance," sahut Jameson dingin, menyandarkan punggungnya sembari bersedakap.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi."
Sang dekan meringis canggung, pandangan matanya tak sengaja berfokus pada dua bercak merah pekat di pangkal leher Jameson. Ia berdeham lebih keras, mencoba menetralkan nada suaranya agar tetap terdengar formal namun sangat berhati-hati.
"Begini, Jameson... rumor mengenai insiden rapat daring tadi malam sudah menyebar dengan sangat cepat di lingkungan kampus," ujar Dr. Vance dengan nada bicara yang amat sangat sungkan.
"Tentu saja, aku pribadi dan pihak rektorat tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda. Namun... spekulasi di antara para staf dan dosen cukup membingungkan."
Dr. Vance memajukan tubuhnya sedikit, berbisik dengan raut wajah serba tahu.
"Apakah... apakah wanita di dalam video tersebut adalah istri Anda, Tuan Ashford? Apakah Anda sudah melangsungkan pernikahan rahasia yang tidak diketahui oleh publik?"
Berbagai pertanyaan bernada interogasi yang dibungkus oleh rasa sungkan itu mengalir dari mulut sang dekan. Ia berusaha mencari kebenaran di balik skandal menggemparkan yang melibatkan nama besar keluarga Ashford.
Namun, bukannya memberikan klarifikasi atau ekspresi panik, Jameson justru menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat dingin dan merendahkan.
Sepasang mata hazel-nya menatap lurus ke dalam iris mata sang dekan hingga pria tua itu refleks menegakkan kembali posisinya.
"Kau tidak punya bukti, Dr. Vance," sahut Jameson dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ancaman terselubung.
"Video yang beredar hanyalah potongan siluet beresolusi rendah yang sudah tidak lagi memiliki jejak digital di mana pun. Jadi, berhentilah mencoba mengorek informasi mengenai apa yang terjadi malam tadi... dan anggap tidak pernah terjadi apa-apa."
Dr. Vance menelan ludah kasar, merasakan intimidasi murni yang terpancar dari aura pria di hadapannya.
Pria tua itu mengangguk-angguk cepat, menyapu keringat dingin yang mulai muncul di pelipisnya.
"T-tentu saja, Profesor Ashford," sahut Dr. Vance terburu-buru.
"Lagipula... dari hasil pemeriksaan tim IT universitas pagi tadi, saluran rapat yang tidak sengaja menyala itu berada di bawah naungan server Ashford Enterprises, bukan server internal perkuliahan kampus. Jika saja saluran zoom itu terhubung langsung dengan sistem perkuliahan atau ruang kelas mahasiswa, mungkin universitas terpaksa harus menerbitkan surat peringatan resmi."
Dr. Vance menghela napas lega, menambahkan, "Namun karena itu adalah urusan internal perusahaan Anda, kampus tidak memiliki wewenang untuk mencampurinya. Syukurlah tidak ada pelanggaran kode etik akademis langsung."
Jameson mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, menerima argumen itu dengan keangkuhan alaminya. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kerah kemeja biru gelapnya tanpa sedikit pun berniat menutup bekas ruam tersebut.
"Itu adalah keteledoran pertamaku..." ujar Jameson lirih namun penuh penekanan saat melangkah menuju pintu keluar. "...dan aku pastikan itu adalah keteledoran terakhirku."
Tanpa menunggu balasan dari sang dekan yang masih terpaku, Jameson memutar gagang pintu dan melangkah keluar menuju koridor rektorat yang sunyi.
...****************...
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang tenang, Jameson menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya.
Pria itu menyandarkan kepala pada sandaran kulit, memejamkan mata sejenak untuk menetralkan kepalanya dari hiruk-pikuk kampus.
Ting!
Sebuah getaran nyaring dari ponsel pintarnya di atas meja memecahkan keheningan ruangan.
Jameson membuka matanya, meraih ponsel tersebut.
Sebuah pesan singkat dari nomor yang sangat ia kenal baru saja masuk. Pesan dari Hazel Rosemary Brooks.
[Hazel]: Kau pria gila! Berani-beraninya kau memamerkan lehermu di depan seluruh mahasiswa di kelas tadi pagi!
Sebuah senyuman miring yang teramat sangat tampan dan segar seketika terukir di bibir Jameson.
Rasa lelahnya seolah sirna berganti oleh gairah permainan yang membakar dadanya.
Jemari panjangnya bergerak lincah menari di atas layar kaca, membalas pesan tersebut dengan nada yang sangat menggoda dan memikat:
[Jameson]: Kenapa, Miss Brooks? Bukankah ini adalah karya seni buatan jemari dan gigimu sendiri? Sangat tidak adil jika aku menyembunyikan mahakarya indah dari seorang seniman berbakat sepertimu.
Hanya butuh tiga detik sebelum notifikasi balasan kembali menerangi layarnya:
[Hazel]: Semua orang di kampus membicarakan bercak menjijikkan itu, Jameson! Kau sengaja membukanya agar orang-orang berspekulasi, kan?! Tutup kancing kemejamu sekarang juga atau aku akan memastikan bekas berikutnya berada di tenggorokanmu!
Jameson terkekeh rendah—sebuah tawa halus yang begitu bergairah memantul di dinding ruang kerjanya.
Pria itu mendekatkan ponselnya ke bibir, mengirimkan pesan suara dengan nada berat, dalam, dan teramat sangat sensual:
[Voice Note - Jameson]:
"Aku tidak akan menutupnya, Hazel... Biarkan seluruh dunia tahu bahwa ada seorang wanita berdarah dingin yang baru saja mencakar dan menggigitku tanpa ampun malam tadi.
Dan jika kau ingin menambah bekas baru di tenggorokanku... datanglah ke penthouse-ku malam ini untuk malam kedua kita. Aku akan menyambut gigitanmu dengan senang hati."
Di sudut lain kampus, tepatnya di dalam kafe perpustakaan yang sepi, Hazel yang baru saja mendengarkan pesan suara tersebut mendadak membeku di tempatnya.
Rona merah tipis tanpa sadar merayap naik menutupi pipi porselennya, sementara jemarinya meremas kencang ponsel pintar di tangannya.
Gila.
Pria keluarga Ashford itu benar-benar telah kehilangan akal sehatnya dan secara terang-terangan menikmati setiap detik dari permainan berbahaya di antara mereka berdua.
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣