Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19.Profesionalisme
Naya terbangun lebih awal. Saat melangkah keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai, matanya tak sengaja menangkap tas kerja milik Damar yang sedikit terbuka di atas meja rias. Di sana, menyempil sebuah amplop cokelat tebal dengan stempel khusus dari kantor pengacara Diksara Group.
Penasaran, Naya mendekat dan melirik isinya. Itu adalah draf revisi Surat Perjanjian Pernikahan Kontrak 6 Bulan beserta klausul kompensasi 2 miliar yang pernah mereka sepakati di awal. Namun yang membuat dahi Naya berkerut adalah lembaran lampiran di belakangnya. Di sana tertulis poin-poin evaluasi aset, batasan hak milik, dan catatan hukum terkait keberadaan Naya yang diperbarui oleh tim hukum Damar baru dua hari lalu.
Naya mematung sejenak. Tulisan hukum yang dingin dan kaku itu mendadak menjadi tamparan keras yang membangunkannya dari rasa melayang semalam.
Oh... iya ya, batin Naya, menyunggingkan senyum tipis yang agak hambar. Gue hampir lupa kalau buat dia, semuanya tetap harus hitam di atas putih. Perhatian semalam, jas di bangku taman, martabak... buat dia tetap aja berada di bawah naungan 'perjanjian kontrak yang aman'.
Tepat saat Naya meletakkan kembali amplop itu, pintu kamar mandi terbuka. Damar keluar dengan kemeja yang sudah rapi, jemarinya lincah membetulkan kancing pergelangan tangan. Pria itu menyadari posisi Naya yang berdiri terlalu dekat dengan tas kerjanya.
Mata Damar melirik ke arah amplop cokelat yang sedikit bergeser. Dalam hitungan detik, raut wajahnya yang tadi tenang langsung berubah menjadi kaku. Gengsi dan rasa panik karena rahasia dokumennya tersentuh membuat pertahanan dingin Damar refleks terpasang kembali.
"Kamu menyentuh tas kerja saya?" tanya Damar dengan suara berat dan nada bicara yang mendadak berjarak.
Naya memutar tubuhnya santai, melipat tangan di dada seraya menatap Damar lurus-lurus. Rasa canggung semalam lenyap, berganti dengan mode savage penuh pertahanan dirinya yang biasa.
"Enggak sengaja kelihatan, Mas Kulkas," sahut Naya datar. "Amplop cokelat dari pengacara Mas itu kebuka. Ternyata Mas rajin banget ya, pembaruan dokumen hukum kontrak kita dicek terus tiap minggu?"
Damar membeku seketika. Pria itu merutuki sekretarisnya di dalam hati karena meletakkan berkas itu di tas harian, padahal niat awalnya ia hanya ingin memastikan bahwa hak hukum dan kompensasi 2 miliar untuk Naya benar-benar aman jika terjadi sesuatu pada bisnisnya. Namun, rasa gengsi yang terdesak membuat Damar tidak sanggup menjelaskan alasan sebenarnya.
Gengsi besarnya justru memilih jalan paling kaku untuk menutupi rasa salah tingkah.
"Itu prosedur standar legalitas," kilih Damar dingin, melangkah maju dan menutup risleting tasnya dengan gerakan cepat. "Segala hal yang melibatkan aset Diksara Group harus memiliki kepastian hukum yang jelas. Termasuk keberadaan kamu di rumah ini selama sisa empat bulan ke depan."
Kata-kata 'prosedur standar' dan 'kepastian hukum' keluar dari mulut Damar begitu kaku, seolah-olah momen manis di bangku taman semalam sama sekali tidak pernah terjadi.
Naya mengangguk-angguk kecil, mengumbar senyuman paling manis namun penuh sindiran. "Ooh... gitu. Siap, Mas CEO! Tenang aja, saya paham kok. Saya kan aset dua miliar yang harus sesuai prosedur. Mas enggak usah takut saya bakal melenceng dari kesepakatan."
Damar menatap Naya dengan ketegangan di dadanya. Ada rasa penyesalan yang mendalam saat melihat binar hangat di mata Naya mendadak berganti menjadi benteng dingin. Pria itu ingin menarik kembali ucapannya, ingin menjelaskan bahwa berkas itu justru dibuat untuk melindunginya, namun lidahnya terkelu oleh gengsi yang sudah terlanjur membatu.
"Bagus kalau kamu paham," gumam Damar ketus, menyambar jas mewahnya di atas kursi lalu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi.
Suasana di ruang makan pagi itu benar-benar kembali ke titik nol, bahkan terasa lebih kaku dari biasanya.
Mamah Ratna yang duduk di kepala meja sempat melirik bingung pada anak dan menantunya. Tidak ada perdebatan seru, tidak ada godaan jenaka dari Naya, dan Damar hanya mengaduk kopi hitamnya tanpa menyentuhnya sama sekali.
"Kamu kenapa, Damar? Kopi kamu didiamkan sampai dingin begitu," tegur Mamah Ratna heran.
"Tidak apa-apa, Ma. Banyak pekerjaan," sahut Damar pendek, lalu berdiri dari kursinya. Pria itu melirik Naya yang sedang mengunyah roti tawar dengan wajah tanpa ekspresi.
"Naya, nanti sore Andre akan menjemput kamu ke kantor," ujar Damar kaku, mencoba membangun kembali komunikasi di antara mereka. "Ada acara makan malam informal dengan jajaran investor lokal. Kamu harus hadir."
Naya menyedot susu hangatnya santai, lalu menatap Damar dengan pandangan profesional yang dibuat-buat.
"Siap, Mas Damar. Sebagai bentuk profesionalisme kerja sesuai dokumen kontrak, saya akan datang tepat waktu dan berakting jadi istri yang sempurna di depan investor," balas Naya singkat penuh penekanan pada kata 'profesionalisme'.
Damar mengepalkan tangannya di samping celana. Kata-kata Naya yang biasanya terdengar kocak, kini terasa seperti jarum kecil yang menusuk gengsi dan perasaannya. Tanpa membalas lagi, Damar berbalik dan melangkah keluar rumah dengan dada yang sesak oleh rasa jengkel pada dirinya sendiri.
Pukul lima sore, Naya sudah tiba di Diksara Tower didampingi Andre. Ia mengenakan gaun simpel berwarna krem yang anggun. Naya berjalan menyusuri koridor lantai atas menuju ruang kerja Damar untuk menunggu waktu makan malam.
Namun, saat melewati lorong dekat ruang rapat privat, langkah Naya terhenti. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, memperlihatkan Damar yang sedang berdiri membelakangi pintu bersama seorang pria paruh baya bertubuh tegap—salah satu investor senior mitra bisnis Diksara.
"Jadi, Damar... soal pernikahan kamu yang terkesan mendadak ini," suara investor itu terdengar dari dalam. "Banyak rumor di luar yang bilang kamu cuma memanfaatkan gadis itu untuk menutupi isu internal perusahaan, sementara Papah kamu sedang sibuk mengurus proyek di luar kota. Apa itu benar?"
Naya berdiri diam di balik pintu yang terbuka sedikit. Ia menunggu reaksi Damar.
Di dalam ruangan, Damar menghentikan gerakannya. Pria itu tahu betul bahwa para investor sangat sensitif terhadap isu manipulasi atau pernikahan tanpa stabilitas hukum. Namun ketimbang memberikan jawaban diplomatis yang jujur, rasa gengsi profesional Damar yang selalu ingin terlihat tangguh dan mengendalikan segala situasi kembali mengambil alih.
"Pernikahan saya adalah keputusan strategis yang terukur, Pak Wijaya," jawab Damar dengan suara beratnya yang dingin dan lugas. "Semua hak, kewajiban, dan kompensasi sudah diatur secara hukum di atas kertas. Tidak ada yang dirugikan, dan tidak ada emosi impulsif di dalamnya. Semuanya berjalan sesuai rencana bisnis saya."
DEG.
Naya yang mendengarkan dari balik pintu mengembuskan napas pelan. 'Keputusan strategis yang terukur.'
Meskipun logika Naya dari awal tahu ini adalah cerita novel dan pernikahan kontrak, mendengar kalimat itu diucapkan secara langsung oleh Damar dengan nada sedingin es tetap saja memberikan dentuman aneh di dadanya. Bukan rasa patah hati yang mendalam, melainkan rasa gemas dan dongkol karena pria itu benar-benar kaku sampai ke tulang rusuknya.
Naya tidak masuk ke ruangan itu. Ia justru berbalik badan dengan santai, melangkah menuju sofa ruang tunggu depan, lalu mendudukkan tubuhnya seraya menyilangkan kaki.
"Oke, Mas Kulkas..." bisik Naya pada dirinya sendiri sambil menyunggingkan senyuman savage-nya yang paling tajam. "Kalau Mas mau main dengan aturan 'keputusan strategis yang terukur', mari kita lihat sejauh mana benteng gengsi Mas bisa bertahan malam ini!"
_Bersambung