NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Johan Lupa Ingatan.

Ruang perawatan RSUD Waingapu jam 1 dini hari itu dinginnya menusuk tulang, tapi tidak sedingin tatapan Johan barusan.

"Mama... Mama Lina... kapan Kevin operasi jantungnya? Aku sudah siapkan uang 50 juta dari jual tanah istriku..."

Kalimat itu keluar dari mulut Johan yang kepalanya masih diperban tebal, yang 2 jam lalu hampir mati kehabisan darah, yang darahnya sekarang adalah darah Sari.

Sari yang baru saja memberikan 750 cc darahnya untuk menyelamatkan nyawa laki-laki itu, yang baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri, kini menatap Johan yang menatapnya seperti orang asing.

Bintang yang ada di box bayi di sebelah Sari, yang kaki bengkoknya baru saja diluruskan dengan gips putih kecil, tiba-tiba menangis kencang, seolah mengerti bahwa bapaknya baru saja melupakan ibunya.

Mama Leni yang memegang sertifikat tanah langsung berdiri dan membentak Johan, "JOHAN! KAU GILA YA! INI SARI! ISTRIMU! INI BINTANG! ANAKMU! BUKAN LINA!"

Johan mengernyitkan dahi, memegang kepalanya yang perih karena operasi.

"Sari? Bintang? Siapa? Saya tidak kenal! Yang saya kenal hanya Lina! Lina istri saya! Kevin anak saya! Mana Kevin? Kevin harus operasi jantung 100 juta!"

Lina yang masih diborgol di pintu, yang tadinya menangis karena ditangkap, kini tiba-tiba melihat peluang. Ia langsung memainkan drama.

"Johan! Sayang! Akhirnya kamu ingat aku! Iya, Sayang, aku Lina, istrimu! Ini Kevin, anak kita! Sari itu... Sari itu pembantu kita yang mau rebut tanah kita!" teriak Lina, air matanya dibuat-buat.

Polisi tua yang melihat itu langsung menarik borgol Lina lebih keras.

"Bu Lina, jangan membohongi pasien amnesia! Kami sudah cek buku KIA-mu! Kevin bukan anak Johan! Kevin butuh operasi jantung! Kau manfaatkan Johan untuk uang tanah Sari!"

Dokter bedah saraf yang masih ada di ruangan itu menjelaskan dengan suara berat.

"Bu Sari, ini efek dari pendarahan otak ketiga dan operasi craniotomy. Namanya amnesia retrograde sementara. Pak Johan lupa 1 tahun terakhir. Dia hanya ingat Lina karena Lina yang temani dia 3 bulan terakhir di Waingapu saat dia kerja bangunan. Dia lupa semua tentang Sari yang hamil, tentang Bintang yang lahir, tentang dia yang mau jual tanah. Ingatannya berhenti di 3 bulan lalu, sebelum Sari hamil besar."

Sari menatap Johan yang masih menatapnya dengan tatapan kosong dan takut.

Johan, laki-laki yang kemarin pagi masih sempat melempar uang 6 juta ke wajahnya dan bilang "urus sendiri anak cacatmu", kini menatapnya seperti melihat hantu.

Sari berdiri dengan infus masih menempel di tangannya. Tubuhnya masih pucat karena kehabisan 750 cc darah. Tapi ia berjalan pelan menuju brankar Johan.

Setiap langkahnya membuat darah nifasnya kembali keluar, tapi ia tidak peduli.

Ia berdiri di depan Johan, menatap mata Johan yang kosong itu, dan berkata dengan suara tegas, pelan, tapi menggelegar di seluruh ruang perawatan.

"Johan, dengar saya baik-baik. Nama saya Sari. Saya istri sahmu. Kita menikah 2 tahun lalu di Gereja Kolorai. Bapak saya yang kasih kita tanah 2 hektar itu. Ibu saya yang kasih kita gubuk itu."

Johan menggelengkan kepala, "Tidak... tidak... saya tidak ingat..."

"Kemarin," lanjut Sari, tidak menyerah, suaranya mulai bergetar tapi tegas, "kemarin kamu pulang bawa perempuan ini, Lina. Kamu bilang anak saya, Bintang, anak kutukan karena kakinya bengkok. Kamu lempar kami. Kamu mau jual tanah saya 50 juta untuk biayai operasi jantung anak orang lain, Kevin, yang kamu kira anakmu."

Sari mengambil Bintang dari box bayi, menggendong Bintang yang masih pakai gips putih kecil itu, dan menunjukkan kaki Bintang yang di-gips itu ke depan wajah Johan.

"Lihat ini, Johan! Ini Bintang! Anakmu! Darahmu! Kakinya bengkok kemarin! Tapi malam ini sudah di-gips karena ibumu ini kasih 750 cc darah untuk selamatkan kamu, supaya kamu bisa kasih cap jempol darah untuk operasi kaki anakmu ini!"

Bintang, seolah mengerti ibunya sedang berjuang membuat bapaknya ingat, berhenti menangis dan menatap Johan dengan mata bulatnya yang mirip Johan.

Johan menatap Bintang. Menatap gips putih kecil itu. Menatap wajah Sari yang pucat pasi dan berlumuran darah kering.

Ada sesuatu yang bergerak di dalam kepalanya yang diperban itu. Rasa nyeri hebat muncul.

"Arghhh... kepala saya... sakit... sakit..." Johan memegang kepalanya dengan kedua tangan, berteriak kesakitan.

Dokter bedah langsung panik. "Bu Sari, jangan paksa! Otaknya belum pulih! Kalau dipaksa ingat, bisa pendarahan lagi dan mati beneran!"

Tapi Sari tidak berhenti. Ia tahu ini satu-satunya kesempatan. Kalau Johan tidak ingat malam ini, besok Lina yang akan bebas karena mengaku sebagai istri sah, dan akan ambil lagi tanah Sari dengan alasan Johan amnesia dan butuh biaya.

Sari meletakkan Bintang yang di-gips itu pelan-pelan di atas dada Johan yang masih terbaring.

"Johan, ini anakmu. Pegang dia. Rasakan dia. Ini bukan anak kutukan. Ini anakmu."

Saat kulit Bintang yang hangat menyentuh dada Johan yang dingin karena habis operasi, sesuatu yang ajaib terjadi.

Johan yang tadinya berteriak sakit kepala, tiba-tiba diam. Tangannya yang gemetar, perlahan-lahan, dengan sangat pelan, menyentuh gips putih kecil di kaki Bintang.

Matanya berkaca-kaca.

"Sari...? Bintang...? Kaki... kaki bengkok...?" bisik Johan, suaranya mulai kembali, tidak lagi memanggil Lina.

Sari menangis, mengangguk keras. "Iya, Johan! Bintang! Anak kita!"

Johan menatap Sari, lalu menatap Bintang, lalu air matanya mengalir deras.

"Sari... aku... aku ingat... badai... kamu melahirkan sendirian... aku... aku tinggalkan kamu... aku jahat... aku mau jual tanahmu..."

Ingatan Johan kembali. Semua kembali. Rasa bersalah, rasa malu, rasa cinta yang sudah ia kubur 9 bulan, kembali semua dalam satu detik.

Johan memeluk Bintang yang di-gips itu erat-erat, meskipun kepalanya masih sakit luar biasa, dan menangis seperti anak kecil di depan polisi, di depan Lina, di depan Sari.

"Maafkan aku, Sari... maafkan aku, Bintang... Bapak jahat... Bapak tidak pantas jadi bapakmu..."

Lina yang melihat Johan sudah ingat Sari dan Bintang, tahu permainannya berakhir. Ia berteriak histeris.

"TIDAK! JOHAN! JANGAN PERCAYA MEREKA! KEVIN ANAKMU! KEVIN BUTUH 100 JUTA! KAU JANJI JUAL TANAH ITU UNTUK KEVIN!"

Polisi tua itu langsung membuka buku KIA pink Lina lagi dan membacakan dengan keras di depan semua orang di ruang perawatan.

"Bu Lina, di buku ini jelas tertulis: Nama Ayah Kevin: ANONIM. Golongan darah Ibu O, Anak B, tidak mungkin Ayah O. Dan Kevin butuh operasi jantung 100 juta di RS Kupang minggu depan! Kau tipu Johan supaya Johan jual tanah istrinya untuk biayai anakmu dengan laki-laki lain!"

Seluruh ruangan terdiam. Bahkan perawat yang lewat berhenti.

Johan yang masih memeluk Bintang, menatap Lina yang diborgol itu dengan tatapan benci dan hancur.

"Jadi... jadi Kevin bukan anakku? Jadi selama ini aku ditipu? Aku mau jual tanah istriku yang baru melahirkan anak cacat... untuk biayai anak orang lain?"

Lina terduduk lemas di lantai ruang perawatan, diborgol, menangis bukan karena ditangkap, tapi karena kedoknya terbongkar.

"Johan, maaf... aku terpaksa... Kevin butuh operasi... aku tidak punya uang..."

Johan tidak menjawab. Ia hanya memeluk Bintang dan Sari lebih erat, dengan kepala diperban dan darah Sari masih mengalir di tubuhnya.

Ia pikir semuanya sudah selesai. Lina ditangkap, tanah kembali, ingatannya kembali, kaki Bintang sudah di-gips.

Tapi jam 2 dini hari, pintu ruang perawatan diketuk lagi.

Kali ini bukan polisi.

Seorang dokter anak lain masuk dengan tergesa-gesa, membawa hasil lab Bintang yang baru keluar dari laboratorium RSUD.

"Bu Sari! Pak Johan! Hasil lab darah Bintang sudah keluar! Ada masalah besar!"

Dokter itu menatap Bintang yang ada di pelukan Johan dan Sari, lalu berkata dengan suara gemetar...

"Bintang bukan hanya clubfoot dan sindaktili... hasil lab menunjukkan... Bintang punya kelainan darah langka... yang sama dengan..."

Dokter itu berhenti, menatap Johan, lalu menatap Lina yang masih diborgol di lantai.

"...yang sama dengan Kevin! Anak Lina! Kelainan yang hanya bisa diturunkan jika... jika ayah kandung Bintang dan Kevin adalah orang yang sama!"

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!