Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Cerita Kehidupan
Seperti yang sudah di rencanakan, Sisil dan Komandan Kaivan pun kembali ke Kota tempat mereka tinggal. Kebetulan, Komandan Kaivan tinggal di Kota yang sama dengan Rumah Sakit tempat Sisil bekerja. Sementara Rumah orang tua Sisil berada di Kota sebelahnya.
Keduanya sudah bersiap untuk berangkat ke Bandara kecil yang ada di Wilayah mereka. Mereka akan menuju ke Bandara utama yang berada di pusat kota, barulah kemudian terbang menuju ke Kota tempat mereka tinggal.
"Ah! Komandan bucin kita ini sepertinya tak bisa jauh dari Kekasihnya." Komentar Miko.
"Komandan ikut ambil cuti saat Dokter Sisil harus kembali ke Kotanya sebentar. Memangnya, Dokter Sisil tidak bisa pulang sendiri? Harus sekali di ekori." Cicit Miko lagi.
"Bilang saja Ko yang tak bisa jauh dari saya." Sahut Komandan Kaivan yang tiba-tiba sudah berada di belakang Miko.
"Ah, Komandan!" Kata Miko sambil cengar-cengir melihat ke arah Komandannya.
"Saya takut rindu dengan Komandan. Bagaimana kalau nanti saya rindu?" Kata Miko yang mengeles. Sementara Riki hanya bisa terkekeh geli.
"Ch! Geli sekali." Komentar Komandan kaivan sambil menyentil dahi Ajudannya.
"Saya cuma cuti satu minggu, bukan mau pindah bertugas." Ujar Komandan Kaivan lagi.
"Iyo! Lebai sekali ko ini!" Timpal Riki.
"Lagi pula, Komandan sudah bertahun-tahun tidak pernah ambil cuti. Biarlah, Komandan sesekali pulang menemui keluarganya." Imbuh Riki yang di jawab senyuman oleh Komandan Kaivan.
Setelah selesai bersiap, Riki dan Miko mengantarkan Komandan Kaivan dan Dokter Sisil menuju ke Bandara. Tak banyak barang yang mereka bawa. Hanya tas ransel berisi barang-barang berharga dan dua lembar pakaian untuk berjaga-jaga. Lagi pula, mereka akan kembali lagi minggu depan.
Setelah menempuh penerbangan singkat, mereka pun akhirnya sampai di Bandara utama. Dari Bandara Utama, mereka akan kembali menempuh penerbangan menuju ke Kota mereka.
"Mas..."
"Ya, Sayang?"
"Mas kenapa gelisah? Ada sesuatu?" Tanya Sisil yang sedari tadi menangkap kegelisahan pada Komandan Kaivan.
Komandan Kaivan pun terdiam sejenak. Ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Sisil masih terus menunggu jawaban dari Komandan Kaivan dengan penasaran.
"Ada yang mau Mas bicarakan." Ujar Komandan Kaivan yang langsung merebut atensi Sisil.
"Sebenarnya Mas ingin sampaikan masalah ini sejak lama, tapi, ternyata Mas baru siap sekarang." Kata Komandan Kaivan.
"Kalau belum siap, gak perlu di sampaikan, Mas." Kata Sisil sambil menggenggam tangan Komandan Kaivan. Sisil merasa jika hal ini lah yang selama ini selalu disembunyikan oleh Komandan Kaivan.
Namun, Komandan Kaivan menggelengkan kepala. Ia harus menyampaikan hal ini pada Sisil. Karena Sisil berhak mengetahui apa yang selama ini ia simpan sebelum ia melamar Sisil pada Keluarganya.
"Mas sebenarnya sudah tidak memiliki orang tua." Kata Komandan Kaivan yang selama ini memang belum pernah menceritakan keluarganya.
"Mas memiliki dua orang Kakak perempuan yang berbeda ibu. Tetapi, mereka sama sekali tidak menyukai Mas. Mereka selalu mengucilkan Mas karena Ibu Mas adalah istri kedua dari Bapak, tepatnya istri simpanan Bapak. Mereka menganggap Ibu sebagai pelakor, padahal Bapak yang menjebak ibu karena sangat mencintai Ibu." Ujar Komandan Kaivan yang bercerita dengan penuh kehati-hatian.
Dari sorot dan gerakan matanya, Sisil menduga jika hal ini sangat mempengaruhi mental Komandan Kaivan. Pria itu seperti tertekan ketika menceritakan masalah keluarganya.
"Karena terus mendapatkan tekanan dari istri pertama Bapak dan anak-anaknya, Ibu sampai depresi dan akhirnya dirawat di Rumah Sakit Jiwa saat Mas baru masuk SMP. Sejak saat itu, Mas tinggal dengan Bapak, Istri pertamanya dan dua Kakak perempuan Mas dari istri pertama Bapak."
"Bude, Mas memanggilnya seperti itu, karena beliau tidak mau Mas panggil dengan panggilan Ibu. Beliau dan dua putrinya selalu menatap Mas dengan tatapan jijik dan merendahkan. Mereka sama sekali tak pernah bersikap baik pada Mas, bahkan saat ada Bapak di rumah."
"Ibu kandung Mas meninggal saat Mas naik ke kelas tiga SMP. Beliau meninggal di Rumah Sakit Jiwa dengan mengenaskan. Beliau bunuh diri dengan memotong sendiri urat nadi di pergelangan tangannya. Hal yang aneh, memang. Kenapa bisa ada pisau di kamar pasien. Namun, Mas gak bisa berbuat apa-apa selain menerima kepergian ibu dengan cara mengenaskan seperti itu." Kata Komandan Kaivan dengan suara bergetar. Tampak kesedihan yang teramat sangat dari netra pria tampan itu.
Sementara itu, Sisil terus mendengarkan. Ia sama sekali tak berkomentar. Namun, tangannya terus menggenggam tangan Komandan Kaivan dan sesekali mengusap punggung tangan kekasihnya untuk mengalirkan kekuatan.
"Di rumah itu, Mas kerap kali disiksa oleh Bude dan anak-anaknya. Mas diperlakukan selayaknya pembantu disana. Mas tidak boleh berangkat ke sekolah kalau pekerjaan di rumah belum selesai. Mas pun selalu berjalan kaki untuk berangkat dan pulang." Cerita Komandan Kaivan. Komandan Kaivan pun berkali-kali menghela nafas panjang untuk menghilangkan sesak di dadanya.
Sementara itu, Sisil sudah berkali-kali mengusap air matanya. Cerita menyedihkan Komandan Kaivan, membuat hati Sisil seperti disayat sembilu. Mungkin hal ini juga yang membuat Komandan Kaivan menjadi sosok yang pendiam.
"Saat Mas kelas dua SMA, Bapak meninggal. Saat itulah Mas merasa makin terpuruk lagi. Terlebih, kedua saudari Mas yang sudah menikah dan Bude, kerap kali menyusun rencana untuk mencelakakan Mas. Hal itu karena warisan dari Bapak yang cukup banyak jatuh ke Mas. Padahal, Mas sama sekali gak pernah mengharapkan hal itu. Mas juga gak keberatan kalau mereka ingin menguasai semua harta peninggalan Bapak. Asal mereka mau bicara baik-baik dengan Mas."
"Mas bersyukur karena bisa masuk ke Akademi Militer setelah lulus SMA. Saat itulah, Mas merasakan kebebasan setelah bertahun-tahun merasa terkurung dalam neraka dan selalu merasa was-was. Mas takut tiba-tiba kehilangan nyawa di rumah itu, makanya Mas jarang tertidur karena rasa cemas."
Komandan Kaivan kemudian menatap wajah kekasihnya. Ia mengusap air mata yang sudah membasahi wajah Sisil.
"Jangan menangis. Sekarang Mas baik-baik saja." Kata Komandan Kaivan.
"Aku gak menyangka kalau perjalanan Mas sepahit itu." Kata Sisil yang masih terisak-isak.
"Ini adalah sebuah resiko menjadi anak yang tak diinginkan. Anak hasil dari perselingkuhan." Jawab Komandan Kaivan yang tersenyum getir.
"Kenapa dulu Ibu dan Mas gak lari saja?" Tanya Sisil.
"Gak bisa, Sayang. Entah mengapa, Ibu gak pernah mau jauh dari Bapak, meskipun sudah di tekan oleh istri pertama dan anak-anaknya. Kalau kata orang, Ibu diguna-guna sama Bapak, makanya beliau bertahan sampai sakit jiwa." Jawab Komandan Kaivan.
Mendengar itu, hati Sisil menjadi lebih sakit. Ia membayangkan bagaimana posisi Komandan Kaivan yang menyaksikan sendiri ibunya kehilangan kewarasan.
"Lalu, kenapa Mas pulang? Pasti menyakitkan kan?" Tanya Sisil yang kini menjadi sedih karena Komandan Kaivan pulang bersamanya.
"Ada orang yang harus Mas temui untuk meminta restu. Satu-satunya orang yang menganggap Mas sebagai keluarga." Jawab Komandan Kaivan sambil mengusap kepala sisil.
😄😄😄😄