Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gertakan
Teriakan histeris Clarissa bergema nyaring, memantul di dinding-dinbing kaca ruang rapat utama Valora Group. Langkah dua petugas kepolisian yang hendak mengapit lengannya dan lengan Pak Broto sempat terhenti seketika. Seluruh mata dewan komisaris tertuju pada Clarissa yang berdiri acak-acakan, lalu beralih menatap Pak Broto dan Arka. Pasangan ayah dan anak yang kini berada di dua sisi takdir yang berseberangan.
Elara merasa genggaman tangannya di jemari Arka seketika dingin. Jantungnya berdegup kencang. Nama ibunya mendadak diseret ke dalam pusaran konflik keluarga Valora, membuat memori kelam masa lalu Elara terungkit kembali.
Arka tidak membiarkan raut wajahnya goyah sedikit pun. Pria itu menatap ayah kandungnya dan Clarissa dengan pandangan dingin penuh intimidasi.
"Jangan coba-coba melempar alibi palsu hanya untuk mengulur waktu penangkapan kalian," ujar Arka dengan suara datar namun menusuk.
Clarissa tertawa melengking. Suara tawanya terdengar sumbang dan penuh keputusasaan. "Alibi palsu?! Tanyakan pada wanita di sebelahmu itu, Arka! Tanya sama Elara, kenapa ibunya mendadak menghilang dan menyembunyikan identitasnya puluhan tahun lalu dari keluarga Valora?!"
Pak Broto yang berdiri kaku di bawah kawalan polisi mendadak menatap Clarissa dengan mata membelalak panik. "Clarissa! Tutup mulutmu!" bentak Pak Broto, mencoba menghentikan anak rekan bisnisnya itu.
"Kenapa harus diam, Om?" teriak Clarissa makin kalap. "Kita sudah hancur! Kalau Om Broto dan Clarissa masuk penjara, Arka dan wanita ini juga tidak boleh hidup tenang!"
Clarissa kembali memutar tubuhnya menghadap Arka dengan pandangan benci. "Ibu dari cewek yang kamu dewa-dewakan ini dulu bukan sekadar rakyat biasa, Arka! Beliau adalah orang kepercayaan ayahmu di masa lalu. Dan dialah alasan kenapa ayahmu dulu begitu terobsesi pada Elara sejak awal!"
Bisik-bisik kembali menjalar di antara para komisaris senior. Beberapa dari mereka yang merupakan jajaran lama kepercayaan Pak Broto tampak saling pandang, menyadari rahasia kelam pimpinan mereka mulai terkoyak.
Elara melangkah maju satu tapak, dadanya naik turun menahan gumpalan emosi yang membakar tenggorokannya. "Jangan bawa-bawa Ibu saya. Ibu saya tidak pernah punya urusan haram dengan Pak Broto. Beliau hidup jujur dan membesarkan saya dengan keringatnya sendiri."
"Jujur?!" Clarissa tersenyum culas. "Lalu kenapa ibumu tidak pernah menceritakan siapa sebenarnya ayahmu? Kenapa ibumu memilih kabur dan hidup terasing dari keluarga Valora kalau tidak menyimpan rahasia besar?"
Pak Broto menunduk dalam, menggeram pelan tanpa sanggup membantah ucapan Clarissa. Wajah pria paruh baya itu tampak pucat pasi. Ego dan rasa malunya sebagai seorang ayah yang dulu berniat menjadikan Elara sebagai istri kedua, kini hancur lebur di depan anak kandungnya sendiri dan para jajaran direksi.
"Cukup!"
Suara Arka menggelegar, memotong keributan di ruang rapat. Pria itu berdiri pasang badan di depan Elara, melindunginya dari tatapan penuh selidik para komisaris.
Arka menatap Pak Broto, pria yang merupakan ayah kandungnya sendiri, dengan sorot mata yang sarat akan kekecewaan mendalam dan ketegasan murni. "Papa sudah mengkhianati perusahaan, memeras anak Papa sendiri, dan mencoba merusak hidup wanita yang saya cintai hanya karena rasa sakit hati Papa yang ditolak oleh Elara. Saya sudah memberi Papa banyak kesempatan untuk bertobat sebagai seorang ayah, tapi Papa justru memilih jalan hina ini."
Arka memalingkan wajahnya ke arah perwira polisi. "Pak Petugas, tolong proses Saudara Broto dan Saudari Clarissa sesuai hukum yang berlaku. Tidak ada keistimewaan, meskipun dia adalah ayah saya."
"Baik, Pak Arka," sahut perwira polisi itu tegas. Petugas segera menggiring Pak Broto dan Clarissa keluar dari ruangan.
Clarissa terus berteriak histeris menumpahkan amarahnya karena niatnya merebut Arka gagal total. Sementara Pak Broto hanya bisa berjalan lemas dengan tangan terborgol, menatap anak kandungnya dengan tatapan penuh penyesalan yang terlambat.
Pintu kaca tebal ruang rapat kembali terkunci. Menyisakan keheningan pekat yang menekan dada.
Arka membalikkan badan, memegang kedua bahu Elara yang tampak gemetar pelan. Dia bisa melihat mata bening istrinya mulai berkaca-kaca, terombang-ambing di antara rasa haru atas pembelaan Arka dan guncangan tuduhan atas ibunya.
"Kamu percaya sama kata-kata mereka, Mas?" tanya Elara dengan suara bergetar sangat halus.
Arka merengkuh Elara ke dalam pelukannya, mengusap punggung istrinya dengan lembut dan hangat.
"Saya kenal Papa saya, Elara. Pria yang dikuasai ego dan dendam akan memutarbalikkan fakta demi memuaskan rasa dengkinya," bisik Arka tenang di telinga Elara. "Dan saya percaya pada kamu, serta ibu kamu yang sudah membesarkan wanita sehebat ini."
Elara menyandarkan dahinya di dada bidang Arka, menghembuskan napas panjang yang sesak. "Tapi, Mas. Jujur, Ara sendiri enggak pernah tau pasti pekerjaan Ibu di masa lalu, sebelum membesarkan Ara sendirian. Ibu enggak pernah mau cerita tentang keluarga kalian."
Arka mengurai pelukannya perlahan, menatap wajah Elara dengan senyum tipis yang tulus dan menenangkan.
"Kalau memang ada rahasia di masa lalu, antara Papa dan ibu kamu," ujar Arka lembut namun mantap, "kita akan cari tahu jawabannya bersama-sama. Sebagai suami dan istri. Bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk menyembuhkan seluruh luka masa lalu keluarga kita."