Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.
Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.
Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:
"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"
ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!
Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Hitam di Panti Asuhan Kasih Ibu
Matahari baru saja naik sepenggalah saat dua unit sepeda motor melaju membelah jalanan antarkota dari kawasan dataran rendah menuju kawasan pegunungan di perbatasan. Revan mengendarai sepeda motor hitamnya dengan Anya yang duduk di boncengan, sementara Bima membonceng Dika di motor matic berkapasitas besar. Di belakang mereka, Nisa dan Sasha memilih menggunakan moda transportasi umum travel antarkota demi keamanan dokumen digital serta menjaga kondisi fisik Sasha yang kerap terganggu oleh energi gaib di sepanjang perjalanan.
Udara pedesaan yang sejuk langsung menyambut begitu roda kendaraan mereka memasuki kawasan dataran tinggi yang dikelilingi oleh perkebunan teh serta jajaran pohon pinus yang menjulang tinggi. Kabut tipis sisa pagi hari tampak masih menggantung di pucuk-pucuk bukit, memberikan kesan sunyi dan misterius pada lanskap di sekitar mereka.
Revan menepikan motornya di dekat sebuah papan nama berkarat yang berdiri tegak di tepi jalan setapak berbatu. Di atas papan kayu usang tersebut, tertulis cat pudar: PANTI ASUHAN KASIH IBU - YAYASAN TUNAS ABADI.
Satu per satu, mereka berkumpul di dekat gerbang masuk panti asuhan tersebut setelah travel yang ditumpangi Nisa dan Sasha tiba menyusul. Kompleks panti asuhan itu tampak cukup luas, dikelilingi tembok tinggi bercat putih kusam dengan bangunan utama bergaya kolonial tua yang tampak sepi tanpa suara gelak tawa anak-anak.
"Tempatnya sepi banget," bisik Dika sambil merapatkan jaketnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman yang dipenuhi daun-daun kering berserakan. "Bahkan nggak ada suara penjaga atau pengurus yang keliatan dari sini."
Nisa membuka tas ranselnya, mengeluarkan gawai tablet yang terhubung langsung dengan satelit pelacak sinyal darurat. "Dari data koordinat yang gue retas dari server Graha Sentosa kemarin, panti asuhan ini terdaftar sebagai salah satu yayasan amal legal di bawah naungan Dewan Direktur Utama. Tapi kalau kita lihat dari catatan keuangan lamanya... seluruh dana operasional mereka disalurkan langsung dari rekening bayangan Sektor 00."
"Artinya, panti asuhan ini cuma kedok," timpal Bima melipat tangan di dada, melirik ke arah gerbang besi yang tidak terkunci rapat. "Kedok buat ngumpulin anak-anak yatim piatu atau gelandangan sebelum mereka dicuci otaknya buat jadi generasi inang kurikulum selanjutnya."
Sasha yang berdiri agak di belakang tiba-tiba terdiam kaku. Wajahnya yang semula segar mendadak memucat pasi. Kedua tangannya memegang erat kepala bagian belakangnya, sementara napasnya mulai tersengal-sengal. Tengkuknya membara seperti tersiram air panas.
Anya yang menyadari perubahan kondisi Sasha langsung melangkah mendekat, merangkul pundak sahabatnya itu dengan cemas di balik balutan hijabnya. "Sha? Kamu kenapa? Indramu nangkep sesuatu lagi?"
Sasha mendongak perlahan, matanya menatap tajam ke arah jendela lantai dua bangunan utama panti asuhan yang berukuran besar. "Bukan cuma nangkep sesuatu, Anya... Energi di sini pekat banget. Rasanya jauh lebih gelap dari Bhakti Mulia."
Sasha mencengkeram lengan jaket Anya erat-erat. "Dan... tanda di tubuh gue... tanda penglihat jiwa gue mendadak aktif sendiri tanpa bisa gue kendaliin!"
Revan segera melangkah maju, memasang sikap siaga penuh di hadapan teman-temannya. Ia melirik sekilas ke arah gerbang yang perlahan berderit pelan tertiup angin gunung. "Kalau begitu, kita harus masuk dengan hati-hati. Jangan berpencar. Kita selidiki bagian dalam gedung utama dulu."
Mereka berenam melangkah melewati gerbang utama, menyusuri jalan setapak berkerikil menuju teras bangunan utama panti asuhan. Begitu kaki mereka menapak di lantai teras depan, pintu kayu besar bercat cokelat tua di hadapan mereka tiba-tiba terbuka sendiri dengan suara decitan engsel yang memecah keheningan.
Kreeet...
Di dalam ruangan foyer yang luas, puluhan pasang mata dari anak-anak seusia remaja sekolah menengah tampak duduk rapi di atas kursi kayu panjang. Mereka mengenakan seragam putih abu-abu yang seragam, menunduk diam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Suasana di dalam ruangan itu begitu dingin dan kaku layaknya museum patung lilin.
Begitu Revan dan kawan-kawannya melangkah masuk melewati ambang pintu, serentak puluhan anak asuh itu mendongakkan kepala secara bersamaan. Wajah mereka tampak pucat tanpa ekspresi, dan yang paling mengerikan—di dada kiri setiap anak asuh itu, terukir samar simbol angka romawi Sektor 01 hingga Sektor 05 yang memancarkan pendar cahaya kehitaman!
Dika terkesiap mundur, nyaris menabrak Bima di belakangnya. "Sial... Anak-anak itu... mereka semua udah ditandai sejak awal?!"
"Bukan cuma ditandai," bisik Sasha dengan suara tercekat, air mata ketakutan menetes di pipinya akibat hantaman penglihatan gaib yang membanjiri kepalanya. "Mereka semua adalah korban tumbal hidup yang dipersiapkan buat ngegantiin posisi kita sebagai inang baru!"
Tiba-tiba, dari ujung koridor gelap di balik jajaran anak-anak asuh tersebut, terdengar suara tepukan tangan perlahan yang menggema nyaring.
Prok... prok... prok...
Sesosok pria paruh baya berjas rapi dengan kacamata berbingkai emas melangkah keluar dari balik bayangan. Senyum ramah namun menyimpan aura dingin terpahat di wajahnya. Pria itu menatap Revan dan kelompoknya dengan tatapan penuh kepuasan, seolah menyambut kedatangan tamu agung yang sudah lama dinantikan.
"Selamat datang di pusat regenerasi kurikulum, anak-anak muda pemberani..." suara pria paruh baya itu menggelegar tenang di seluruh ruangan foyer. "Aku adalah Direktur Utama cabang regional ini. Dan kedatangan kalian kemari... adalah pelengkap sempurna untuk menyempurnakan kebangkitan Master Sektor yang baru."
Revan mengepalkan kedua tangannya erat-erat, rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah di dadanya. Ia melirik sekilas ke arah Anya yang berdiri di sisinya, lalu menatap tajam sang Direktur Utama tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Permainan kalian sudah berakhir di Graha Sentosa," tegas Revan dengan suara berwibawa yang menggema ke setiap sudut ruangan. "Dan hari ini, kami bakal hancurkan tempat ini juga!"
[CATATAN AUTHOR]
Terima kasih sudah membaca Bab 23! Pertarungan baru di Panti Asuhan Kasih Ibu resmi dimulai, dan rahasia kelam anak-anak asuh berTanda Sektor mulai terkuak! Jangan lupa klik tombol Favorit/Rak Buku, tinggalkan komentar terbaikmu, dan beri rating bintang 5 ya! Sampai jumpa di Bab 24!