NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Hampir Mengaku (3)

Ada satu hal yang tidak pernah saya bayangkan setelah meninggalkan rumah itu: ternyata mengambil barang sendiri jauh lebih sulit daripada saat pertama kali memutuskan pergi.

Bukan karena jumlahnya banyak. Bukan pula karena saya tidak punya tempat untuk menyimpan semuanya. Masalahnya, setiap benda yang tertinggal seperti menyimpan potongan kehidupan yang pernah saya jalani bersama Laras.

Pagi itu saya kembali ke rumah dengan sebuah daftar kecil di tangan. Isinya sederhana: beberapa buku, kotak perkakas, dokumen pribadi, dan satu kardus berisi barang-barang yang belum sempat saya bawa.

Tidak ada yang istimewa.

Setidaknya, begitulah yang saya katakan kepada diri sendiri.

Saya memarkir mobil di depan pagar, lalu turun. Rumah itu masih sama seperti terakhir kali saya datang. Cat dindingnya tidak berubah. Pot tanaman di teras masih berada di tempat semula.

Hanya saja, sekarang saya tidak lagi merasa harus memastikan semuanya baik-baik saja.

Saya menekan bel.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.

Laras berdiri di sana mengenakan pakaian rumah. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya tampak sedikit terkejut ketika melihat saya datang lebih awal dari perkiraannya.

"Kamu sudah datang?"

"Saya bilang akan mengambil barang yang tersisa hari ini."

"Iya. Aku ingat."

Dia membuka pintu lebih lebar.

Saya masuk tanpa banyak bicara. Sepatu saya letakkan di tempat yang sama seperti kebiasaan dulu. Namun, setelah menyadari tindakan itu, saya segera menggesernya ke sisi lain.

Kebiasaan lama.

Kadang tubuh masih mengingat sesuatu yang sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidup kita.

"Barang-barangnya masih di kamar belakang," kata Laras.

"Baik."

Saya berjalan menuju ruangan tersebut. Di ambang pintu, saya melihat beberapa kardus yang sudah disiapkan. Laras rupanya telah memisahkan barang-barang saya berdasarkan ukuran.

Ada sesuatu yang terasa janggal melihat semuanya tersusun begitu rapi.

Dulu, dia sering mengeluh karena saya menyimpan terlalu banyak perkakas. Sekarang, benda-benda itu justru sudah dikumpulkan dengan hati-hati agar mudah dibawa.

Saya tidak tahu apakah itu bentuk kepedulian atau sekadar keinginan untuk segera menyelesaikan urusan.

Mungkin keduanya.

Saya mulai memeriksa isi kardus.

Buku-buku lama masih lengkap. Beberapa dokumen berada dalam map cokelat. Kotak perkakas diletakkan di bagian bawah agar tidak menimpa barang lain.

"Semua sudah saya cek," ujar Laras dari belakang.

"Terima kasih."

Dia mengangguk kecil.

Tidak ada percakapan lanjutan.

Saya mengangkat kardus satu per satu. Setengah jam, sebagian besar sudah di mobil. Tersisa kotak perkakas kecil di bawah rak. Saya datang sendiri agar tidak ada barang pribadi tertinggal.

Ketika sedang mengangkat kotak terakhir, terdengar suara pagar dibuka.

"Eh, Arkan sudah datang?"

Saya mengenali suara itu sebelum melihat orangnya.

Reno.

Dia masuk dengan langkah santai sambil membawa kantong makanan. Wajahnya memperlihatkan keterkejutan yang terlalu cepat berubah menjadi senyum.

"Wah, kebetulan sekali. Saya kira kamu belum datang."

Saya meletakkan kardus di lantai.

"Ada yang tertinggal."

Reno melirik tumpukan barang di dekat pintu.

"Oh, semua ini?"

"Iya."

Dia meletakkan kantong makanan di meja.

"Ini tadi aku belikan sarapan. Kamu belum makan, kan?" katanya kepada Laras.

"Belum," jawab Laras.

"Ya sudah, makan dulu. Jangan sampai pekerjaan rumah begini membuat kamu lupa menjaga kesehatan."

Saya kembali mengangkat kotak.

Tidak ada yang salah dengan perhatian Reno kepada Laras. Setidaknya, jika dilihat sepintas. Dia datang membawa makanan, menanyakan keadaan, dan bersikap seolah rumah itu memang tempat yang selalu bisa dia datangi.

Namun, ada sesuatu pada cara dia memandang barang-barang saya.

Bukan rasa tidak nyaman.

Lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sebuah ruang benar-benar kosong.

"Perlu dibantu?" tanyanya.

"Tidak perlu."

"Jangan sungkan. Kita kan keluarga."

Saya menghentikan langkah sejenak.

Keluarga.

Kata itu pernah memiliki arti yang sangat besar bagi saya. Saya pernah berusaha mempertahankannya dengan berbagai cara, bahkan ketika keberadaan saya sendiri tidak lagi dihargai.

Sekarang, saya hanya meletakkan kardus di dekat pintu.

"Terima kasih. Saya bisa sendiri."

Reno tertawa kecil.

"Masih keras kepala seperti dulu."

Laras tidak menanggapi.

Saya melanjutkan pekerjaan.

Sekitar setengah jam kemudian, sebagian besar barang sudah berada di mobil.

Tersisa sebuah kotak kecil berisi beberapa dokumen dan perlengkapan pribadi. Saya kembali ke kamar belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Ketika keluar, Laras sedang berdiri di dekat meja makan. Ponselnya berada di tangan. Layar perangkat itu menampilkan sesuatu yang tampaknya baru saja dia periksa.

Saya mengenali lembar bukti pembayaran yang pernah dia tunjukkan kepada dirinya sendiri beberapa hari terakhir.

Tagihan rumah.

Dia memandang layar cukup lama sebelum akhirnya mengangkat wajah.

"Arkan."

Saya berhenti.

"Ya?"

Laras terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu. Bibirnya terbuka sedikit, kemudian kembali tertutup.

Reno yang sedang duduk di sofa ikut menoleh.

"Ada apa, Ras?"

Laras tidak langsung menjawab.

Dia melihat saya lagi.

"Sebenarnya, aku mau tanya sesuatu."

Saya menunggu.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ada sesuatu dalam sorot matanya yang berbeda. Bukan kemarahan, bukan pula sikap meremehkan yang selama bertahun-tahun sudah begitu akrab saya temui.

Ada keraguan.

"Kamu tahu soal pembayaran rumah?" tanyanya. "Ada pembayaran yang bukan berasal dari rekening yang biasa kupakai. Muncul nama perusahaan pengelola aset."

Reno segera menyela.

"Perusahaan pengelola aset, kan? Zaman sekarang banyak pembayaran menggunakan pihak ketiga. Bisa jadi urusan administrasi."

Laras mengerutkan kening.

"Tapi aku tidak pernah mengatur pembayaran melalui perusahaan itu."

"Sudahlah. Nanti juga bisa ditanyakan ke bagian administrasi. Jangan membuat urusan sederhana jadi rumit."

Laras tampak belum puas.

Saya memperhatikan layar ponselnya sebentar, lalu kembali menatap wajahnya.

Saya tahu persis pembayaran yang dia maksud. Saya juga tahu dari mana sumber dana tersebut berasal.

Namun, saya tidak ingin menjawab secara tergesa-gesa.

"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya saya.

"Karena aku ingin memastikan siapa yang selama ini membayar."

Reno kembali menyela.

"Sudah kubilang, mungkin hanya pengaturan administrasi."

Saya tidak menanggapi Reno.

"Itu sesuatu yang sebaiknya kamu periksa melalui dokumen resminya," kata saya kepada Laras.

"Jadi, kamu tahu?"

"Saya tidak mengatakan begitu."

Laras terdiam.

Reno menoleh kepada saya.

"Sudahlah, Arkan. Dia cuma ingin memastikan. Tidak perlu membuat persoalan ini semakin panjang."

Saya mengangguk kecil.

"Betul. Saya sudah hampir selesai."

Saya berjalan melewati mereka menuju pintu.

Di belakang saya, tidak terdengar suara Laras lagi.

Sebelum pergi, saya kembali memeriksa kamar belakang.

Ada satu benda yang hampir terlupakan: sebuah kotak perkakas kecil yang selama ini saya simpan di bawah rak. Saya membungkuk, menariknya keluar, lalu memeriksa bagian dalamnya.

Kotak itu pernah saya pakai memperbaiki banyak hal di rumah ini.

Saya mengangkatnya dan berjalan menuju ruang depan.

Saat melewati ruang tengah, Reno sedang berbicara melalui ponsel di dekat jendela.

Suaranya rendah.

Saya tidak bermaksud mendengarkan percakapannya. Namun, ketika melewati ruang tengah, langkah saya tertahan karena mendengar satu kalimat yang tidak biasa.

"Nomor proyeknya jangan dikirim lewat grup. Pakai jalur yang kemarin."

Saya berhenti sejenak.

Reno membelakangi ruangan. Tangannya memegang ponsel dekat telinga.

"Ya, saya tahu jadwalnya. Kita harus mendapatkan akses sebelum pemeriksaan berikutnya."

Saya menundukkan kepala, berpura-pura memeriksa pegangan kardus.

Kemudian, suara Reno kembali terdengar.

"Nomor 47-KP-19 itu jangan sampai muncul di dokumen yang bisa dibaca orang luar."

Dada saya terasa sedikit mengencang.

47-KP-19.

Saya mengenal kode tersebut.

Itu bukan nomor acak. Kode itu berkaitan dengan salah satu proyek yang berada dalam pengawasan internal perusahaan. Akses terhadap dokumennya dibatasi karena masih ada proses verifikasi dan persetujuan yang belum selesai.

Tidak banyak orang yang mengetahui nomor tersebut.

Bahkan sebagian staf yang terlibat langsung tidak memiliki kewenangan membuka seluruh berkasnya.

Lalu bagaimana Reno bisa mengetahui nomor itu?

Saya tetap berdiri sambil memegang kardus.

"Pokoknya, pastikan semuanya beres. Saya tidak mau ada nama yang tertinggal."

Kalimat terakhir itu membuat saya semakin waspada.

Reno mengakhiri panggilannya beberapa detik kemudian. Dia menoleh dan mendapati saya masih berada di dekat pintu.

"Sudah selesai?" tanyanya.

"Sudah."

Dia memasukkan ponsel ke saku.

"Tadi cuma urusan pekerjaan. Banyak sekali yang harus diurus akhir-akhir ini."

Saya menatapnya sebentar.

"Begitu."

"Ya. Kamu sendiri bagaimana? Sudah dapat kegiatan baru?"

"Saya tetap bekerja."

"Baguslah."

Dia tersenyum, tetapi matanya terlihat sedang mengukur reaksi saya.

Saya tidak memberinya kesempatan membaca lebih jauh.

Laras muncul dari arah dapur.

"Arkan, tunggu."

Saya berhenti di dekat pintu.

"Ada apa?"

Dia berdiri beberapa langkah dari saya. Ponselnya masih berada di tangan.

"Tadi soal pembayaran itu..."

Reno langsung menyela.

"Laras, nanti saja. Aku sudah bilang, kita bisa cari tahu lewat administrasi."

"Tapi aku belum selesai bicara."

Reno menghela napas pendek.

"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau kamu terus memikirkan hal yang belum tentu penting."

Laras tampak kesal, tetapi akhirnya tidak melanjutkan kalimatnya.

Saya memandangnya.

Jika dia benar-benar ingin mengetahui sumber pembayaran tersebut, seharusnya dia tidak berhenti hanya karena seseorang menyuruhnya melupakan persoalan itu.

Namun, saya juga tidak memiliki hak untuk mengatur siapa yang boleh dia percaya.

"Barang saya sudah lengkap," kata saya.

Laras mengangguk pelan.

"Baik."

Saya membuka pintu.

Tidak ada ucapan selamat tinggal yang panjang. Tidak ada janji untuk kembali. Tidak ada pula pertanyaan tentang apakah keputusan kami benar atau salah.

Saya keluar, meletakkan kardus terakhir di bagasi, lalu menutupnya.

Ketika hendak masuk ke mobil, saya sempat melihat Laras berdiri di teras.

Dia tidak melambaikan tangan.

Saya juga tidak.

Saya menyalakan mesin dan meninggalkan rumah itu.

Sepanjang perjalanan, pikiran saya tidak lagi tertuju pada barang-barang yang baru saja diambil.

Kode 47-KP-19 terus terngiang.

Saya tahu proyek tersebut sedang berada dalam tahap yang sensitif. Ada beberapa dokumen yang belum boleh dibuka sebelum proses pemeriksaan internal selesai.

Bahkan sebagian staf yang terlibat langsung tidak memiliki kewenangan untuk mengakses seluruh berkas.

Lalu bagaimana Reno bisa mengetahui nomor itu?

Saya menepi di sebuah tempat parkir yang cukup lengang.

Ponsel saya ambil dari konsol tengah.

Saya membuka daftar kontak dan mencari nama Pak Surya.

Panggilan tersambung setelah beberapa dering.

"Selamat siang, Pak Arkan."

"Siang, Pak Surya."

"Apakah pengambilan barang sudah selesai?"

"Sudah. Saya ingin memastikan satu hal."

Nada bicara Pak Surya berubah lebih serius.

"Silakan, Pak."

"Apakah akses dokumen proyek 47-KP-19 sudah dibuka untuk pihak di luar tim inti?"

Terdengar jeda di seberang.

"Belum, Pak. Aksesnya masih dibatasi."

Saya memandang jalan di depan mobil.

"Apakah ada perubahan daftar pihak yang berwenang?"

"Belum ada perubahan yang saya ketahui, Pak."

"Baik. Saya ingin Anda memeriksa sesuatu."

"Perintah, Pak?"

"Periksa sesuai prosedur. Jangan mengubah hak akses siapa pun dan jangan menghubungi orang yang bersangkutan."

"Baik, Pak."

"Saya hanya ingin mengetahui apakah ada aktivitas yang tidak sesuai."

"Dimengerti."

Saya mengakhiri panggilan.

Untuk beberapa saat, saya tetap duduk di dalam mobil.

Ada kemungkinan Reno hanya mendengar nomor tersebut dari seseorang. Ada pula kemungkinan dia terlibat dalam pembicaraan yang seharusnya tidak diketahuinya.

Saya tidak ingin menarik kesimpulan sebelum ada bukti.

Jika memang ada pelanggaran, biarkan dokumen yang berbicara.

Ponsel saya kembali menyala. Sebuah pesan masuk dari Pak Surya.

Baik, Pak. Saya akan meminta tim kepatuhan memeriksa log akses dan mencatat hasilnya.

Saya membaca pesan itu sekali lagi sebelum meletakkan ponsel.

Di kaca spion, rumah yang tadi saya tinggalkan sudah tidak terlihat.

Anehnya, saya tidak merasa kehilangan apa pun.

Mungkin karena yang benar-benar saya tinggalkan bukan sekadar barang-barang di dalam rumah. Saya juga sudah melepaskan keinginan untuk terus menjelaskan diri kepada orang yang tidak pernah benar-benar ingin mendengar.

Namun, ada satu hal yang kini mengganggu pikiran saya.

Reno.

Dia mungkin mengira saya tidak mendengar percakapannya tadi.

Dia mungkin juga mengira saya hanyalah mantan suami Laras yang datang mengambil sisa barang, lalu pergi tanpa mengetahui apa pun tentang urusan perusahaan.

Saya tidak berniat mengubah anggapan itu.

Untuk sementara, biarkan dia merasa aman.

Sebab, kalau nomor proyek itu memang berasal dari akses yang tidak semestinya, persoalannya bukan lagi tentang rumah tangga saya.

Itu sudah menyangkut sesuatu yang jauh lebih besar.

Saya kembali memasukkan ponsel ke tempatnya, lalu mengarahkan mobil menuju kantor.

Hari itu, saya datang untuk mengambil barang terakhir.

Tetapi tanpa sengaja, saya justru menemukan sesuatu yang mungkin menjadi awal dari masalah baru.

Dan kali ini, saya tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!