-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
🍂🍂🍂🍂🍂
Rasa sakit hati dan harga diri yang terinjak-injak membuat Sekar gelap mata. Usahanya bersolek dan mendekati Bagas di pematang sawah sama sekali tidak membuahkan hasil, justru jawaban dingin pemuda itu terus bergema memikul malu di benaknya.
Malam itu, tanpa sepengetahuan Pak Kades, Sekar menyelinap keluar rumah. Membelah pekatnya malam menuju Desa Randu Kuning—sebuah desa tetangga yang terisolasi di balik bukit. Tujuannya hanya satu: pondok reot milik Mbah Suro, seorang dukun ilmu hitam yang kondang dengan ajian pelet jaran goyang dan pengasihan penunduk jiwa.
"Jadi... kamu mau pemuda kaya dari Lemah Wungu itu berlutut dan mengemis cinta di kakimu, Cah Ayu?" kekeh Mbah Suro dengan suara parau yang amat serak. Pria tua kurus berambut gondrong kusam itu menghembuskan asap rokok klembak menyan yang baunya menyengat.
Sekar meletakkan sekantong uang kertas dan dua keping perhiasan emas di atas tikar pandan. "Bukan cuma berlutut, Mbah! Aku mau Bagas tergila-gila padaku! Aku mau dia menyerahkan seluruh hartanya dan memohon-mohon untuk menikahiku!"
Mbah Suro menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang menghitam. "Gampang. Ilmu pelet milikku tidak pernah gagal menembus dada pemuda mana pun. Malam ini, saat dia tertidur lelap, roh pengasihan milikku akan merayap masuk ke dalam mimpinya."
Sementara itu, di rumah joglo megah Desa Lemah Wungu, keheningan malam terasa teramat pekat. Bagas terbaring lelap di atas ranjang jati kamar utamanya. Lampu minyak di dinding membiaskan cahaya keemasan yang remang-remang.
Tepat saat tengah malam berganti, udara di dalam kamar Bagas mendadak berubah menjadi hangat dan berbau sangit. Dari celah jendela kayu, merayap masuk gumpalan asap hitam keabu-abuan. Asap mistis itu berputar-putar di udara, membentuk siluet sosok makhluk kecil bermata merah yang bersiap masuk ke dalam dada Bagas untuk menanamkan benih gila asmara.
Namun, sebelum asap pelet itu menyentuh ujung kain selimut Bagas, reaksi yang teramat dahsyat terjadi.
SZTSZZZTTT!
Rajah Pusaka Sisik Emas di dada kiri Bagas mendadak berdenyut membara! Pendar cahaya hijau keemasan yang teramat terang memancar keluar dari balik baju Bagas, membentuk perisai gaib berlapis sisik raksasa.
KHIWWWRRRKKK!
Suara jeritan melengking dari makhluk pelet Mbah Suro terdengar mengenaskan saat gumpalan asap hitam itu menghantam benteng Pusaka Sisik Emas. Serangan ilmu hitam manusia biasa itu hancur berkeping-keping dalam sekejap mata, tak ubahnya debu yang diterjang angin kencang.
Kejadian itu memicu gelombang gaib yang sangat kuat menembus dimensi. Di dalam Istana Sendang Manten, pendar amarah sang Ratu Ular seketika membakar udara.
“Ilmu hitam murahan berani mencoba menyentuh suamiku?!”
Dalam hitungan detik, kabut hijau pekat beraroma melati segar mendadak mengepul tebal di dalam kamar Bagas. Cahaya lampu minyak bergoyang hebat lalu padam. Udara kamar menjadi sangat dingin dan sakral, meremukkan aura sangit milik Mbah Suro tanpa sisa.
Bagas tersentak dari tidurnya. Jantungnya berdebar kencang saat mendapati seluruh ruangan terbungkus kabut hijau yang temaram. Begitu ia mengarahkan pandangannya ke ujung ranjang, matanya membelalak sempurna.
"Nyai...?" bisik Bagas terkejut setengah mati.
Di sana, meliuk anggun sesosok wanita jelita bermahkota emas dengan ronce bunga melati yang melilit dada indahnya. Dari pinggang ke bawah, ekor ular hijau raksasa bersisik zamrud milik Nyai Ratu melingkari tiang-tiang ranjang jati Bagas. Tatapan mata emas berpupil vertikal milik sang Ratu memancarkan pendar murka yang teramat menakutkan.
"Nyai... bagaimana bisa kamu hadir di kamar ini secara wujud nyata?" tanya Bagas dengan napas terengah-engah, duduk tegap di tempat tidurnya.
Nyai Ratu meliuk mendekat, merapatkan wajah cantiknya tepat di depan wajah Bagas. Jemari halusnya yang dingin mengelus dada kiri Bagas tempat Pusaka Sisik Emas tertanam.
"Aku hadir karena ada serangga dungu yang mencoba mengusik milikku, Suamiku," tutur Nyai Ratu dengan suara merdu namun dingin menusuk tulang.
"Serangga... mengusik?" Bagas mengernyitkan dahi bingung.
Nyai Ratu tersenyum sinis, mengibaskan selendang sutra hijaunya ke udara. Seketika, terpancar bayangan gaib di tengah udara kamar: memperlihatkan wujud Sekar yang sedang duduk gelisah dan Mbah Suro yang sedang memegang keris kecil di pondok reotnya.
Bagas tertegun menyaksikan bayangan itu. "Gadis itu... Sekar? Dia memakai jasa dukun untuk mengirim pelet padaku?"
"Ya," sahut Nyai Ratu seraya membelitkan ekor ularnya mengunci pinggul Bagas secara posesif. "Gadis manusia itu sangat tidak tahu diri. Setelah kamu usir dengan dingin, dia justru nekat mengirimkan ajian pelet pengasihan murahan ini untuk meracuni pikiranmu!"
Bagas menelan ludah, merasakan kehangatan sekaligus perlindungan dari sang Ratu. "Tapi... pusaka pemberianmu menolaknya, bukan?"
"Pusaka Sisik Emas di dadamu terlalu suci untuk ditembus ilmu hitam kroco seperti ini, Bagas," tegas Nyai Ratu. "Namun, aku tidak akan pernah berdiam diri melihat ada manusia yang berniat jahat pada suamiku. Malam ini juga, serangan balik akan mendarat di tubuh dukun itu dan wanita yang menyewanya!"
Bagas tersentak kaget. "Nyai, tunggu! Jangan bunuh Sekar... Kalau dia mati mengenaskan, Pak Kades akan mengamuk dan warga desa bisa gempar!"
Nyai Ratu menatap Bagas tajam, lalu terkekeh pelan. "Tenanglah, Suamiku. Aku tidak akan mencabut nyawa gadis itu sekarang. Tapi aku akan memberikan pelajaran yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya."
Sang Ratu Ular mengangkat tangan kanannya. Dari celah jemari cantiknya, memancar pendar asap hijau pekat yang dipenuhi desisan ratusan ular ghaib. Dengan sekali kibasan tangan, gumpalan asap racun santet tingkat tinggi meluncur menembus atap kamar, terbang cepat membelah malam menuju Desa Randu Kuning!
Di pondok reotnya, Mbah Suro yang sedang menunggu hasil peletnya mendadak tersentak. Keris kecil di tangannya patah menjadi dua.
"Lho... Kenapa ajianku membalas?!" pekik Mbah Suro panik.
Belum sempat sang dukun berdiri, gumpalan asap hijau raksasa berbentuk kepala kobra menerobos masuk menembus dinding kayu pondoknya!
DUARRR!
"AAAGGGHHH!" jerit Mbah Suro histeris saat asap hijau itu menghantam dadanya. Pria tua itu muntah darah hitam pekat bercampur puluhan ulat dan sisik busuk. Tubuhnya terbanting ke dinding, lumpuh seketika dengan kulit yang melepuh membiru seperti terkena bisa ular paling mematikan.
Di saat yang sama, di dalam kamarnya yang megah, Sekar yang sedang menunggu kabar mendadak menjerit histeris. Seluruh kulit mulusnya mendadak terasa panas terbakar dan gatal luar biasa. Begitu ia melihat cermin, Sekar berteriak makin kencang—di atas kulit leher dan lengannya, muncul ruam-ruam kasar berbentuk sisik ular berwarna hitam memar yang terasa teramat perih.
Kembali ke kamar rumah joglo.
Kabut hijau di ruangan perlahan menyusut. Nyai Ratu merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Bagas. Aura murkanya berganti menjadi kehangatan yang amat memikat.
"Selesai, Suamiku..." bisik sang Ratu merdu di telinga Bagas. "Dukun itu telah lumpuh dan kehilangan seluruh ilmu hitamnya selamanya. Sedangkan gadis manusia itu... ia harus menanggung ruam beracun di tubuhnya sebagai pengingat atas kelakuannya."
Bagas menghela napas panjang, merangkul punggung halus Ratu Gaib itu. "Terima kasih telah melindungiku, Nyai."
Nyai Ratu tersenyum manis, memandangi Bagas dengan pendar mata keemasan yang sarat kasih sayang dan kepemilikan utuh. "Raga dan jiwamu adalah milikku, Bagas. Tidak akan ada satu pun manusia di dunia nyata yang boleh menyentuh atau mengusikmu."
Sang Ratu mengepalkan jemarinya di atas dada Bagas, lalu perlahan bayangannya memudar menjadi gumpalan wangi melati yang menyusup kembali ke dalam Pusaka Sisik Emas.
Bagas menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, memandangi langit malam yang mulai terang oleh fajar. Ia sadar, perlindungan sang Ratu begitu nyata dan dahsyat, membuat posisinya di antara dua dunia kian kokoh tak tergoyahkan.
Bersambung...