Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Elang sudah berada di luar gudang sebelum debu terakhir selesai turun dari atap seng. Wahyu mengejarnya sambil terengah-engah, dan di sepanjang jalan tanah itu pekerja-pekerja berhelm kuning berlari ke arah yang sama, sebagian menjatuhkan alat mereka di tengah jalan tanpa peduli.
Di depan mulut terowongan sisi timur, kerumunan sudah terbentuk. Asap abu-abu naik tebal dari lubang yang sebagian tertutup tumpukan batu besar, dan di bawahnya seorang pekerja berlutut dengan tangan menutup mulut. Seorang perempuan paruh baya menjerit memanggil nama suaminya berulang-ulang sampai suaranya parau.
"Itu Pak Bram," bisik Wahyu sambil menunjuk dengan dagu.
Seorang pria bertubuh tegap berdiri di atas gundukan tanah dengan megafon di tangan. Kemejanya bersih, rambutnya pendek, dan ada bekas luka tipis di sepanjang dagunya. Ia menatap kerumunan itu seperti seseorang yang sedang menghitung barang di gudang.
"Semua mundur!" serunya lewat megafon. "Tidak ada yang boleh mendekat! Daerah ini tidak stabil, dan kalau ada yang masuk, itu risiko sendiri!"
"Pak, suami saya di dalam!" Perempuan itu merangkak maju dengan lutut kotor. "Mohon, Pak, tolong keluarkan dulu mereka..."
"Tim penyelamat sudah dipanggil." Bram menjawab tanpa menurunkan megafon, dan matanya tidak sekali pun bertemu mata perempuan itu. "Tunggu di belakang garis. Saya ulangi, semua mundur."
Elang berdiri di belakang kerumunan dan memperhatikan wajah itu dengan lebih seksama. Ada sesuatu yang tidak cocok, dan ia butuh beberapa detik untuk menyadari apa itu. Tidak ada satu pun panggilan telepon yang dibuat Bram sejak ledakan terjadi. Radio di ikat pinggangnya tidak menyala, dan ia tidak menoleh ke arah jalan masuk sekali pun, tempat seharusnya ambulans datang.
Lalu Insting Dewa berdenyut di tengkuknya.
Rasanya berbeda dari tekanan samar yang ia rasakan di jalan tadi. Ini lebih dekat dan lebih jelas, seperti panas yang datang dari arah tertentu, dan arahnya lurus menuju gundukan tanah tempat Bram berdiri. Bukan ke arah Elang. Ke arah lubang terowongan di belakangnya, ke arah orang-orang yang sedang terkubur di dalamnya.
[Perkiraan korban terjebak: 41 orang.]
[Batas waktu: 20 menit.]
Panel itu muncul di sudut pandang Elang tanpa ia sentuh sarung tangannya. Ia membacanya sekali dan menghitung dengan tenang: dua puluh menit untuk empat puluh satu orang, dan satu orang yang jelas tidak ingin satu pun dari mereka keluar.
'Sialan... dia sengaja ingin membunuh mereka.'
"Wahyu," katanya tanpa menoleh. "Berapa lama regu penyelamat biasanya sampai dari kota?"
"Dari kota?" Wahyu menggeleng cepat. "Tidak ada regu penyelamat, Bos. Tambang ini tidak terdaftar. Kalau ada kecelakaan, biasanya... mereka dibiarkan saja."
"Mereka dibiarkan saja," ulang Elang pelan.
Ia mengangkat tangannya dan menyentuh bahu Wahyu sekilas, hanya untuk memindahkannya dari jalannya. Kemudian ia berjalan menembus kerumunan. Orang-orang menoleh, sebagian mengenali wajahnya dari televisi dan berbisik, sebagian lagi hanya melebarkan mata melihat kemeja gelap dan sarung tangan hitam yang tidak seperti pakaian orang tambang. Mereka memberi jalan tanpa sadar.
Di kaki gundukan tanah, Elang berhenti. Bram menurunkan megafonnya dan menatapnya dari atas.
"Siapa kau?" tanyanya. "Aku sudah bilang semua mundur."
"Tidak ada regu penyelamat yang datang, kan?" Elang mendongak dengan wajah datar. "Dan kau tidak menghubungi siapa pun."
Rahang Bram mengeras, dan matanya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan, mencari anak buahnya. "Kau wartawan? Atau orang dari dinas? Tidak ada izin kunjungan hari ini, jadi silakan keluar dari wilayahku."
"Aku bukan keduanya." Elang melepas jasnya, melipatnya sekali, dan menyerahkannya pada Wahyu yang berdiri di belakangnya dengan wajah tegang. "Pegang ini."
"Bos, tunggu..."
"Pak Bram." Elang melangkah naik ke gundukan tanah, dan bayangannya jatuh di atas wajah Bram. "Aku tahu kau yang menyalakan ledakan itu. Aku tidak datang untuk berdebat, hanya memberitahu supaya kau tidak kaget."
Wajah Bram berubah, sangat sedikit. Sebuah kedutan di sudut mata yang hilang dalam sekejap.
"Tangkap dia," katanya pada tiga penjaga yang berdiri di dekatnya. "Dia mengganggu operasi."
Para penjaga itu maju, tetapi Elang sudah berjalan melewati mereka, cukup dekat sampai bahu salah satu dari mereka menyentuh sikunya. Ia menahan tangan orang itu tanpa menoleh, menekannya sampai penjaga itu terpaksa melepaskan pentungan, lalu mendorongnya ke belakang. Tiga orang itu terjatuh seperti kursi yang disenggol.
Elang tidak berhenti. Di depannya, lubang terowongan menganga dengan asap yang masih naik pelan dan batu-batu besar menutup sebagian mulutnya. Dari dalam, samar sekali, terdengar ketukan logam berulang-ulang, satu kali, jeda, tiga kali.
Seseorang di bawah sana masih hidup dan sedang mengetuk.
Elang menarik napas panjang dan masuk ke terowongan yang tertutup itu.