Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Disembunyikan — Part 2
Sementara Arka merasa sedikit lega bisa mengalihkan topik pembicaraan. Setidaknya untuk saat ini, identitasnya aman.
Namun, ketika mereka selesai minum dan Arka berdiri mengambil dompetnya untuk membayar ke kasir, ponsel di saku celananya mendadak bergetar panjang.
Satu pesan WhatsApp masuk.
Bukan dari Rendy. Bukan dari nomor jurnalis iseng.
Nomor itu sudah tersimpan paten di kontaknya.
Papa.
Papa: Arka, malam ini pulang ke rumah Jakarta. Papa mau kamu hadir di meja makan jam 7 malam.
Papa: Ada pembahasan sangat penting dan mendesak mengenai isu direksi Skysea Group dan rencana masa depanmu. Jangan telat.
Arka membaca rentetan pesan dari pria penguasa itu selama beberapa detik. Urat di pelipisnya menegang. Rahangnya mengeras. Ekspresinya berubah gelap dalam sekejap.
Alya yang sedang berdiri merapikan tasnya di dekat meja kasir, menangkap perubahan drastis di wajah Arka.
"Kenapa, Ka?" sapa Alya cemas.
Arka mengerjap, lalu langsung mematikan layar dan memasukkan ponselnya kembali ke saku dengan gerakan kasar.
"Enggak, enggak apa-apa."
"Dari keluargamu ya?"
Arka mengangguk kaku. "Iya. Ayahku nyuruh pulang ke rumah malam ini."
"Ada urusan keluarga yang penting banget?"
"Sepertinya begitu."
Alya tidak berusaha mengorek lebih jauh. Ia tersenyum menenangkan. "Kalau gitu, cepat selesaikan urusan kampusmu terus pulanglah. Jangan bikin ayahmu nunggu."
Arka mengangguk pelan. "Iya. Habis ini aku cabut."
Namun sebelum mereka benar-benar berpisah di depan pintu kafe, Alya menahan lengan jaket Arka pelan.
"Arka."
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti kamu udah merasa siap dan nyaman buat cerita soal keluargamu... aku bersedia jadi pendengar yang baik."
Arka menatap tangan Alya di lengannya, lalu mendongak menatap mata wanita itu.
Alya tersenyum tulus. "Tenang aja, aku pengin denger ceritamu murni karena aku ingin mengenal kamu seutuhnya. Bukan karena aku penasaran seberapa tajir keluargamu kok."
Arka tertawa kecil, ketegangannya sedikit mencair. "Terus karena apa?"
"Karena aku ingin mengenal Arka. Murni sebagai temanku." Alya memberi penekanan yang canggung pada kata 'teman'.
Arka tersenyum lembut. "Iya, Al. Aku pegang janjimu."
Setelah mereka berpisah arah, Arka melangkah menuju parkiran motornya.
Namun baru beberapa meter berjalan, langkahnya terhenti. Ia bersandar di tembok sebuah minimarket, lalu mengeluarkan ponselnya lagi.
Pesan ultimatum dari ayahnya masih terbuka di layar.
Kata 'Skysea' tercetak jelas di sana.
Satu nama imperium bisnis yang selama ini mati-matian ia sembunyikan, kini memanggilnya pulang untuk menghadapi kenyataan.
Sementara itu... tanpa Arka sadari sama sekali...
Di sebuah kantor redaksi portal berita gosip terbesar di Jakarta, seorang jurnalis senior baru saja menerima hasil pelacakan data dari intelijen lapangannya.
Layar komputernya menampilkan sebuah bagan profil yang disusun berdasarkan foto candid HD yang mereka dapatkan semalam.
Nama: Arka Pratama.
Status: Mahasiswa Universitas Bina Bangsa.
Alamat Asal: Surabaya (Pindah ke Jakarta).
Dan perlahan, melalui penelusuran nama belakang dan ciri fisik dari data alumni... kepingan puzzle keluarga pemuda itu mulai terbuka.
Foto Arka yang kepergok makan pecel lele bersama Alya Renata semalam ternyata bukan sekadar bahan gosip murahan belaka.
Ada seseorang di meja redaksi itu yang mulai mengernyitkan dahi menyadari sebuah kemiripan genetik yang mengerikan:
"Tunggu dulu... Siapa sebenarnya bocah bernama Arka Pratama ini? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan putra tunggal direktur utama Skysea Group yang selama ini ditutupi dari media?"
Dan jika redaksi itu benar-benar mengonfirmasi kepingan puzzle tersebut...
Maka kehidupan sederhana yang selama bertahun-tahun Arka bangun dan pertahankan dengan darah dan keringat, dipastikan tidak akan pernah sama lagi setelah besok pagi.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!