"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.Sabotase dan Darah
"Gunakan ambubag! Pompa oksigennya manual sekarang juga! Jangan diam saja!" bentak Naya dengan suara menggelegar memecah kepanikan. Matanya menatap horor layar monitor yang garis merahnya mulai bergerak lurus diiringi bunyi melengking panjang.
"Tidak bisa, Dok! Katup utamanya macet total! Ini seperti sengaja dirusak paksa dari dalam!" balas dokter anestesi dengan keringat dingin membanjiri wajah pucatnya. Tangannya gemetar hebat berusaha memutar tuas tabung cadangan, tapi tetap nihil. "Saturasi oksigen pasien anjlok drastis! Jantungnya berhenti berdetak!"
Kekacauan meledak seketika di ruang VVIP itu. Perawat berlari mengambil alat kejut jantung. Tapi Naya tahu alat itu tidak akan banyak berguna sekarang. Waktu mereka tidak sampai hitungan menit. Dada pasien sudah terbuka dari sayatan pertamanya tadi, menembus lapisan luar kulit.
"Minggir! Aku harus melakukan pijat jantung terbuka sekarang, atau menteri ini mati detik ini juga!" teriak Naya kencang. Insting gilanya langsung mengambil alih. "Siapkan retraktor! Buka tulang rusuknya lebar-lebar!"
Suster Rina dengan tangan gemetar menyodorkan alat pembuka dada berbahan logam ringan yang baru saja diganti oleh Bima siang tadi. Naya merampasnya kasar. Tidak ada waktu untuk mengeluh soal kualitas rongsokan alat itu. Nyawa menteri ini ada di ujung tanduk, dan nasib Naya beserta seluruh timnya bergantung padanya.
Naya memasang retraktor itu di celah sayatan dada. Otot tangannya menegang keras saat ia memutar tuas alat pembuka itu dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia harus menekan alat itu dengan sangat kuat untuk memisahkan tulang rusuk pasien agar tangannya bisa masuk dan memompa jantung secara langsung.
Satu putaran. Dua putaran.
Alat berbahan logam murah itu mulai berbunyi derit kasar yang mengerikan.
"Tahan sebentar lagi," gumam Naya menahan napas. Urat di lehernya menonjol keluar menahan beban.
Trak!
Bunyi patahan logam yang sangat nyaring terdengar. Sebelum Naya sempat menarik tangannya, engsel retraktor murahan itu hancur berantakan karena tidak kuat menahan tekanan berat tulang dada.
Besi tajam yang patah itu melesat cepat seperti peluru dan menyayat dalam pergelangan tangan kanan Naya.
"Argh!" Naya menjerit tertahan di balik maskernya.
Darah segar langsung menyembur deras merobek sarung tangan karet hijau yang ia pakai. Rasa sakit yang luar biasa tajam seperti kilat menyambar saraf tangannya seketika. Tendon utamanya sobek. Pisau bedah tak kasat mata seolah baru saja memotong urat nadinya hidup-hidup.
"Dokter Naya! Tangan Dokter berdarah parah!" jerit Suster Rina histeris melihat darah merah mulai menetes kencang. "Kita harus hentikan operasinya! Panggil dokter pengganti dari luar!"
"Jangan ada yang berani keluar dari ruangan ini!" ancam Naya dengan mata menyalang buas menahan sakit yang membuat pandangannya memutih. Jika darahnya masuk ke rongga dada pasien, infeksi fatal akan membunuh menteri ini. Naya mengulurkan tangannya yang terluka ke arah perawat. "Ikat pergelangan tanganku dengan kasa steril sekarang juga! Tekan pendarahannya sekuat mungkin! Asisten, tahan tulang rusuk pasien dengan alat manual, jangan sampai menutup!"
Suster Rina menangis sesenggukan tapi terpaksa mematuhi perintah mematikan itu. Ia membebat luka sayat di tangan Naya dengan sangat kencang. Naya tahu persis luka apa yang baru saja ia terima. Sayatan dari logam murahan itu memutus tendon fleksor di pergelangan tangannya. Senjata utama seorang dokter bedah baru saja hancur berantakan. Namun, ia memblokir semua rasa ngeri itu dari otaknya.
Dengan mengabaikan pergelangan tangannya yang robek menganga dan dibebat asal, Naya memasukkan kedua tangannya ke dalam sayatan dada pasien. Rasa sakitnya melonjak gila-gilaan, seperti ribuan jarum panas ditusukkan tepat ke pusat sarafnya saat ia memaksa otot tangannya bergerak.
"Satu, dua, tiga, tekan!" Naya memompa otot jantung yang berhenti itu dengan kedua tangannya secara ritmis.
Tulang jarinya menolak diajak bekerja sama. Tangan kanannya nyaris tak bertenaga, memaksanya memberikan tumpuan kekuatan penuh pada tangan kirinya. Setiap kali Naya menekan jantung sang menteri, darah segarnya sendiri merembes menembus balutan kasa, mengalir melewati sikunya dan menetes deras membasahi lantai ubin putih di bawah meja operasi.
"Dokter, wajah Dokter semakin pucat! Dokter kehilangan banyak darah!" teriak asisten bedah panik melihat genangan merah di dekat sepatu Naya.
"Fokus pada monitornya!" balas Naya dengan rahang terkatup rapat.
Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya, membuat pandangannya kabur. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga kulit bibirnya pecah dan mengecap rasa anyir darah.
Pikirannya melayang pada sosok Aksa yang menunggunya hancur di luar sana. Pria itu sengaja melemparnya ke dalam neraka ini. Bima dengan sengaja menjebaknya menggunakan alat rongsokan ini. Kalau Naya menyerah sekarang, mereka semua akan tertawa merayakan penderitaannya.
Tidak sudi. Naya tidak akan menyerah pada nasib kotor ini.
"Detak jantung pasien mulai kembali, Dok! Terus pompa!" seru dokter anestesi, suaranya pecah oleh kelegaan saat bunyi bip ritmis kembali terdengar.
Naya mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Jantung di telapak tangannya perlahan mulai berdenyut mandiri yang memompa aliran darah menyebar kembali ke seluruh tubuh pasien.
"Saturasi oksigen naik ke angka sembilan puluh berkat ambubag! Tekanan darah merangkak normal!" lapor dokter anestesi lagi. "Kita berhasil, Dokter Naya! Pasien melewati masa kritisnya!"
Mendengar kalimat itu, sisa adrenalin yang menopang tubuh Naya langsung menguap tak bersisa. Ia menarik kedua tangannya dari rongga dada pasien dengan napas terengah-engah dan putus-putus. Kasa di tangan kanannya sudah basah kuyup oleh darah merah gelap.
"Ambil alih. Tutup lukanya pelan-pelan. Asisten, selesaikan jahitannya sekarang," bisik Naya parau, nyaris tak bersuara.
Operasi itu sukses besar. Nyawa sang menteri berhasil ditarik paksa dari genggaman maut. Namun, kemenangan itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Begitu Naya melangkah mundur menjauhi meja operasi untuk memberi ruang bagi asistennya, kakinya gemetar hebat tak tertahankan. Rasa kebas di pergelangan kanannya kini berubah menjadi kelumpuhan absolut. Darah masih menetes dari ujung sikunya, menciptakan jejak kengerian di lantai steril.
Ruangan mendadak berputar kencang. Udara seakan tersedot habis dari paru-parunya. Lutut Naya lemas tak bertulang.
Bruk!
Naya jatuh berlutut menghantam lantai ruang operasi yang dingin. Tangan kirinya mencengkeram erat pergelangan tangan kanannya yang bersimbah darah. Naya menatap nanar jari-jari tangan kanannya yang kini terkulai kaku, tidak bisa lagi digerakkan sama sekali meski ia sudah memerintahkannya berulang-ulang di dalam kepalanya.
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak