Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Hukuman untuk Su Yun
Arena seolah membeku setelah tubuh Su Kuang roboh di hadapan Su Yun. Tidak ada sorakan kemenangan ataupun suara perdebatan.
Ribuan pasang mata hanya terpaku pada sosok yang tergeletak tak bernyawa itu, sementara Su Yun berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah yang tetap tenang.
Kematian dalam Turnamen Tiga Tahunan Keluarga Su bukan sesuatu yang sama sekali belum pernah terjadi. Pertarungan antar kultivator selalu membawa risiko, terlebih ketika kedua pihak kehilangan kendali.
Namun kematian Su Kuang terlalu mendadak dan mengerikan hingga sebagian besar penonton belum mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.
Dentang lonceng darurat akhirnya memecah keheningan.
Cahaya merah menyelimuti arena, disusul kedatangan sekitar dua puluh lima penjaga wilayah dalam. Mereka mengenakan zirah seragam dan membawa senjata berkualitas tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh arena telah dikepung dan para penonton dipaksa mundur.
“Peserta nomor 998, Su Yun, telah melakukan pelanggaran berat!” seru juri.
Suasana yang semula membeku langsung berubah kacau. Murid-murid dari arena lain berbondong-bondong mendekat setelah mendengar keributan.
Sebagian belum mengetahui apa yang terjadi hingga melihat tubuh Su Kuang yang sedang ditutupi oleh petugas.
Beberapa murid perempuan langsung memalingkan wajah. Ada pula yang tidak sanggup menahan mual.
“Apa yang terjadi di sini?”
Suara berat terdengar dari belakang kerumunan.
Para murid segera membuka jalan ketika melihat Su Shi Long datang bersama beberapa tetua lainnya. Wajahnya tampak suram ketika menaiki arena dan melihat keadaan di sana.
“Laporkan.”
Juri segera menundukkan kepala. “Tetua, Su Yun dan Su Kuang bertarung sesuai jadwal. Pertarungan berlangsung sengit, kemudian pada benturan terakhir Su Kuang tewas.”
“Su Kuang tewas?”
Su Shi Long menatap tubuh yang telah ditutupi, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Su Yun.
Pemuda itu tidak membantah ataupun mencoba menjelaskan. Ia hanya berdiri dengan tenang, seolah sudah mengetahui keributan seperti ini pasti terjadi.
Saat itulah Su Dong Fang menerobos kerumunan bersama beberapa pengikutnya. Senyum santai yang biasanya menghiasi wajahnya telah menghilang.
“Tetua Shi Long, mohon tegakkan keadilan!” katanya dengan suara keras.
“Su Kuang mengikuti turnamen ini dengan mematuhi aturan, tetapi Su Yun membunuhnya dengan kejam di hadapan semua orang. Kematian seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja!”
Su Dong Fang memang tidak memegang jabatan penting, tetapi semua orang mengetahui siapa yang berdiri di belakangnya.
Ia merupakan putra salah satu tetua utama Keluarga Su. Karena itulah hanya sedikit orang yang berani menentangnya secara terbuka.
Su Shi Long mengangguk perlahan. “Tenanglah. Masalah ini akan diselesaikan sesuai aturan.”
Tatapannya kemudian kembali kepada Su Yun.
“Penjaga, bawa dia.”
Para penjaga baru hendak bergerak ketika suara seorang gadis terdengar dari tengah kerumunan.
“Tunggu!”
Semua orang menoleh.
Xin Yue berjalan keluar dari antara para murid. Wajahnya terlihat tegang, tetapi langkahnya tidak berhenti sampai ia berdiri di depan arena.
Su Shi Long mengernyit. “Siapa yang menyuruh kalian berhenti?”
Xin Yue menangkupkan kedua tangannya dengan hormat. “Tetua, murid wilayah luar Xin Yue memohon agar Tetua mempertimbangkan kembali. Su Kuang meninggal dalam pertandingan. Pertarungan tidak memiliki mata, dan kecelakaan seperti ini dapat terjadi kapan saja. Kakak Su Yun tidak bisa langsung dianggap melanggar aturan hanya karena lawannya tewas.”
Beberapa murid memandangnya kagum.
Tidak semua orang memiliki keberanian berbicara seperti itu di hadapan seorang tetua wilayah dalam.
Wajah Su Shi Long semakin suram. “Kau menyebut kematian seperti itu sebagai kecelakaan?”
“Juri berada di arena sejak awal, Tetua. Ribuan orang juga menyaksikan pertandingan tersebut.” Meski gugup, Xin Yue mempertahankan suaranya.
“Kalau Kakak Su Yun memang melanggar aturan, hukumlah berdasarkan aturan turnamen. Tetapi jika pertandingan belum dihentikan ketika serangan terakhir terjadi, bukankah seharusnya masalah ini juga dinilai berdasarkan peraturan yang sama?”
Su Shi Long terdiam.
Turnamen diselenggarakan berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh Patriak Keluarga Su. Di depan ribuan murid, bahkan seorang tetua tidak bisa mengubahnya sesuka hati.
Ia akhirnya menoleh kepada juri.
“Apa hukuman untuk peserta yang menyebabkan kematian lawannya dalam pertandingan?”
Juri tampak ragu sejenak sebelum menjawab, “Jika kematian terjadi selama pertandingan dan tidak terbukti sebagai pelanggaran di luar ketentuan arena, peserta akan langsung didiskualifikasi. Seluruh peringkat dan hadiah turnamennya dicabut. Dalam kondisi tertentu, ia juga dapat dilarang mengikuti turnamen Keluarga Su hingga sepuluh tahun.”
“Hanya itu?” Su Dong Fang langsung bertanya tajam.
Juri menunduk. “Peraturannya ditetapkan oleh Patriak.”
Kalimat tersebut membuat Su Shi Long tidak bisa berkata banyak lagi. Memaksakan hukuman lain di depan begitu banyak saksi sama saja dengan mempertanyakan keputusan Patriak.
Setelah mempertimbangkan beberapa saat, ia akhirnya berkata, “Kalau begitu jalankan aturan. Urus pemakaman Su Kuang dengan layak.”
Salah seorang penjaga membungkuk. “Baik, Tetua.”
Su Shi Long kemudian memandang Su Yun dengan dingin. “Su Yun didiskualifikasi dari turnamen. Seluruh peringkat dan hadiah yang diperolehnya dicabut. Mulai saat ini, dia tidak lagi berhak melanjutkan pertandingan.”
Su Yun tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
Baginya, hasil itu tidak terlalu mengejutkan.
Ia sudah mendapatkan apa yang paling dibutuhkannya dari turnamen ini—kesempatan untuk membuktikan kekuatannya dan membuka kembali jalan menuju wilayah dalam. Adapun hadiah dan peringkat, semua itu bisa dicari dengan cara lain.
Su Yun turun dari arena dan berjalan menuju pintu keluar. Ketika melewati Su Dong Fang, pria itu sengaja menghalangi jalannya.
Tatapan mereka bertemu.
“Jangan mengira masalah ini selesai,” ujar Su Dong Fang pelan. Tidak ada lagi keramahan palsu dalam suaranya.
Su Yun berhenti.
“Aku juga tidak menganggapnya selesai.”
Su Dong Fang menyipitkan mata.
Su Yun kemudian menambahkan dengan tenang, “Namun mengenai taruhan kita, aku menang. Lima puluh ribu koin roh itu masih harus dibayar.”
Rahang Su Dong Fang mengeras.
“Tentu. Aku tidak akan mengingkari taruhan.”
Su Yun mengangguk dan kembali berjalan.
Baru beberapa langkah, ia tiba-tiba berhenti.
“Syukurlah.”
Su Dong Fang menoleh dengan bingung. “Apa maksudmu?”
Su Yun meliriknya dari balik bahu. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Syukurlah orang yang berdiri di arena tadi bukan kau.”
Tidak ada nada tinggi ataupun ancaman terang-terangan dalam ucapannya. Justru ketenangan itulah yang membuat maknanya terasa semakin jelas.
Wajah Su Dong Fang langsung menggelap.
Ia tahu persis apa yang dimaksud Su Yun.
Jika dirinya berada di tempat Su Kuang, mungkin tubuh yang dibawa keluar dari arena tadi adalah miliknya.
Su Yun tidak menunggu jawaban. Ia meninggalkan tempat itu di bawah tatapan ribuan orang.
Su Shi Long yang masih berada di arena mengerutkan kening sambil memandang punggungnya.
“Su Yun...” gumamnya. “Bukankah dia murid yang dahulu dikeluarkan dari wilayah dalam?”
“Benar, Tetua,” jawab seseorang di belakangnya. “Dahulu kecepatan kultivasinya sangat lambat. Bertahun-tahun dia bahkan kesulitan mencapai tahap ketujuh Alam Murid Roh.”
Su Shi Long semakin heran.
“Lalu bagaimana dia bisa sejauh ini?”
Tidak seorang pun mampu memberikan jawaban meyakinkan.
Di tempat lain, pemuda berambut panjang yang berdiri bersama Qian Ge masih belum pulih dari keterkejutannya.
“Dia benar-benar membunuh Su Kuang...”
Qian Ge memandang pintu keluar yang baru dilewati Su Yun.
“Itu bukan kecelakaan.”
Juniornya tertegun. “Kakak Senior yakin?”
“Serangan terakhirnya terlalu tepat.” Qian Ge menghela napas. “Su Yun memang berniat membunuhnya.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu.”
Qian Ge menggeleng perlahan.
“Namun mulai sekarang, jangan pernah menganggapnya sebagai murid Alam Murid Roh biasa. Orang itu jauh lebih sulit dibaca daripada yang terlihat.”
Tak jauh dari mereka, Su Gui Mu bahkan merasa kedua kakinya melemas. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana Su Kuang mati, sisa keinginannya untuk mencari masalah dengan Su Yun benar-benar lenyap.
“Mulai hari ini,” katanya kepada para pengikutnya, “siapa pun yang bertemu Su Yun, jangan cari gara-gara. Kalau dia berjalan ke kiri, kita berjalan ke kanan.”
Tidak seorang pun menertawakannya.
Pertandingan hari itu telah mengubah semuanya.
Nama Su Yun yang dahulu identik dengan penghinaan kini menyebar ke seluruh wilayah dalam dan luar Keluarga Su. Sebagian orang mengaguminya, sebagian takut kepadanya, dan sebagian lagi mulai memandangnya sebagai ancaman.
Namun satu hal menjadi jelas.
Tidak ada lagi yang berani menyebut Su Yun sebagai sampah dengan seenaknya.
......................
Bersambung...