Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
"Terserah! Terserah lo mau nglakuin apa, gue beneran takut tinggi!" Kali ini buliran itu lolos membasahi pipi chubby Nadia.
Jay menurunkan Nadia, tanpa melepas cengkeraman di pinggang cewek itu.
"Harusnya dari awal lo tau kalau lo cuma milik gue!" Bisik Jay lirih tapi bisa membuat Nadia bergidik.
"Emang lo sayang sama gue? Kita bahkan baru aja ketemu dan langsung nikah, dan pada saat gue masih punya pacar, lo harusnya ngerti gimana perasaan gue sekarang!"
"Gue ngerti kok, ngerti banget! Tapi sekarang lo udah jadi istri gue! Besok gue juga bakal pindah ke sekolah lo, jadi jangan berharap bisa ketemuan sama cowok lo itu!" Manik mata Jay begitu tajam, tapi sisi lajn Nadia dapat merasakan kelembutan di dalamnya.
"Kok bisa sih Lo setuju sama pernikahan ini? Bahkan lo juga kan belum kenal sama gue?"
"Siapa yang bilang gue nggak kenal sama lo? Kita di jodohkn dari kecil, itu berarti gue tahu lo dari kecil," desis Jay lalu mengangkat badan Nadia masuk ke dalam.
"Lo mau ngapain?" Nadia seketika panik, ia takut jika Jay akan melakukan tugasnya sebagai suami istri yang sah.
Jay meletakkan badan Nadia di atas ranjang,tatapan panik terlihat jelas di manik mata Nadia.
"Don't scary, Baby, gue cuma mau mastiin kalau cowok itu nggak ngelakuin hal yang berlebihan ke lo,"
Kening Nadia berkerut, ia tak paham dengan apa yang Jay katakan.
"Maksud lo?"
Jay semakin mendekat, jemarinya menjelajah dari ujung kaki hingga kini tepat berada di atas perut Nadia.
"Please jangan sekarang! Gue tahu kalau gue tadi udah janji, tapi gue mohon jangn sekarang!" Nadia menghentikan pergerakan jemari Jay.
Jay menarik ujung bibirnya. "Setidaknya lo inget dengan apa yang lo ucapin barusan, it's okay, gue masih bisa tahan kok, tapi sekarang gue nggak bisa kalau tidur nggak meluk lo."
Manik mata Nadia bergetar, cewek itu baru sadar bahwa cowok di depannya itu sangat tampan, alisnya yang tajam di tambah bulu mata yang hitam, dengan bola mata berwarna kecoklatan, menambah karisma Jay begitu menggoda kaum hawa di luaran sana.
"Gue laper," kata Nadia sebelum perutnya berbunyi.
"Mau gue gendong atau jalan sendiri?" Kini jay sudah berdiri di pinggir ranjang.
"Jalan sendiri aja," sahut Nadia. Yang akhirnya mengekori Jay dari belakang.
"Lo bisa masak?" Tanya Nadia tak yakin jika cowok seperti Jay bisa memasak.
"Lo ngeraguin gue?" wajah Jay mendekat ke arah Nadia.
Susah payah Nadia menelan ludahnya sendiri, setiap Jay mendekatkan wajahnya. ia merasa ada suatu perasaan yang tak bisa Nadia jelaskan saat itu juga.
Jay mulai berkutik di dapur dengan telaten, cowok itu membuat steak dengan bumbu rancangan yang membuat indera penciuman Nadia tergoda dan tak sabar untuk segera mencicipinya.
"Just for you, my Baby."
Seketika wajah Nadia merona karena ucapan Jay, entah mengapa kini Nadia malah sering salah tingkah, padahal baru saja ia merasa kesal atas perjodohan itu.
"lo nggak makan?" tanya Nadia dan Jay hanya menggeleng.
"Guge pengen makan lo, tapi belum boleh sama lo, jadi gue puasa dulu aja, biar nanti gue bisa makan lo sepenuhnya."
"Lo orang apa bukan sih?"
"Menurut lo gue orang atau bukan?" lagi - lagi Jay mendekatkan wajahnya. dan itu membuat wajah Nadia semakin merona.
"Wajah lo kenapa merah? lo malu atau mulai terpesona sama gue?" kini ucapan Jay membuat Nadia memutar bola matanya malas.
"Jangan kepedean ya, mana ada gue langsung terpesona sama lo, lagian gue masih punya cowok anjir," ketus Nadia.
"Besok lo harus putus! karena kalau engga, lo harus siap-siap kalau lo nggak bakal ketemu lagi sama cowo itu."
"Lo ngancem gue?"
"Gue nggak berani ngancem lo baby, lo harus paham dengan status lo saat ini adalah istri gue! dan kalau sampe gue liat ada cwok yang coba ngedeketin lo atau bahkan nyentuh lo sedikit aja, gue bisa patahin tangan dia atau parahnya ya itu, gue bisa buat dia sampe hilang," desis Jayden meniup wajah Nadia dengan nafasnya.
Nadia jadi berfikir lebih keras lagi, ia takut jika hari ke depanya ia ingin etemu dengan Kevin, malah menjadi suatu hal sial bagi Kevin.
"tapi gue kangen sama Kevin. Gue pengen ketemu dan meluk dia," gumam Nadia dalam hatinya.
"lo lagi mikirin sesuatu cara kan? biar bisa diem-diem ketemu sama cowok kesayangan lo itu? inget baby, lo harus pikirin apa yang gue ucapin baru aja, karena gue nggak pernah main-main dengan apa yang gue bilang." cup... Jay mengecup bibir Nadia sekilas.
Walaupun kesal, Nadia tetap menghabiskan steak buatan Jay, sampai kini tinggal satu gigitan saja.
"Lo beneran laper? atau doyan?" tanya Jay.
"Lo mau?' Nadia menyodorkan satu potongan daging di garpu dan menyodorkan pada Jay.
"Gue bisa, makan sendiri," Jay mengambil garpu tersebut dan membuat Nadia cemberut.
"Kalau lo masih pengen ngapain lo kasih ke gue?" cibir Jay kini kembali menyuapkan pada Nadia.
Tapi dengan jahilnya, saat Nadia mnedekat dan membuka mulutya untuk mengambil dalam tusukan garpu, Jay menariknya hingga membuat Nadia spontan mengikuti arah gapu.
Sekop. dengan mudah Jay menye kop bibir Nadia. cewek itu membulatkan matanya saat tiba-tiba mendapatlkan serangan dari Jay.
Ingin menarik diri pun sudah tak bisa, karena Jay malah menarik tengkuk lehernya dan menye kop bibir Nadia dengan lembut tapi mendalam.
Hah... hah... hah...
Nafas keduanya sama terengah karena hampir kehabisan nafas.
"Gue kan udah bilang kalau gue belum siap."
"it's just a kiss baby, gue nggak bisa tahan liat bibir lo manggil mulu," kekeh Jay saat ia mendapatkan puulan ringan dari kealan tangan Nadia.
"Apaan sih gaje banget, lo pikir bibir gue tukang parkir manggil - manggil?" sewot Nadia yang malah membuat Jay semakin gemas.
"Tapi lo suka kan? nyatanya lo nggak nolak dan nggak marah,"
Blush. seketika wajah Nadia merona kembali.
"Apaan sih? mundur nggak? gue mau ke kamar" ketus Nadia
"Mau di lanjutin? I'm ready to do it." Jay mnegerlingkan satu matanya menggoda.
"Stres!!" pekik Nadia berlari menaiki anak tangga menuju kamar.
"Duh.. mana satu kamar lagi, mana dia minta peluk lagi, dan bisa bisanya ggue mau aja di cium sama dia," Nada mengusap wajanya kasar ia bena-benar frustasi dengan dirinya sendiri. betaa cerobiohnya dia karena gampang terbawa suasana dan ketampanan yang Jay mliki.
"Arrrgghhh.... gue harus gimana ini sekarang?" Nadia memeluk tubuhnya sendiri di atas tempat tidur.
"Aha.... gue punya ide," sebelum jay kembali ke kamar, Nadia mendobel pakainya hingga beberapa lapis dan mulai merebahkan tubuhnya walau ia harus merasakan sedikit tidak nyaman karena ketebalan.
Setelah Jay selesai menelepon seseorang, Jay memasukan ponselnya ke dalam saku celananya dan masuk ke dalam kamar.
Melihat Nadia sudah memejamkan matanya, Jay menghampiri acewek itu. menatapnya dengan penuh kasih sayang, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Nadia.
tapu netra Jay terusik dengan piyama yang Nadia kenakan, "Perasaan kok tebel banget si?" gumamnya dam memegang badan Nadia.
"Oh... astaga Nadia....!!!'' lirih jay yang tak mau membangunkan Nadia.
"Bisa bisanya dia punya ide kaya gini, setakut itu lo sama gue?" jay terkekeh melihat tingkah laku istrinya itu.
Malam ini Jay masih tak mempermasalahkan hal tersebut, ia ikut berbarng di saming Nadia.
Memelul badan Nadia yang ia rasa masih terasa kecil alam dekapanya walau cewek itu sudah memakai pakaian beberapa lapis.
"Aaaaaaaa....!!!!" teriak Nadia saat baru saja membuka mata malah melihat Jay hanya mengenakan handuk yang melilit pinganganya.
"Berisik Nad, masih pagi apaan sih teriak teriak?"seru Jay dan Nadia menutup kedua matanya dengan kedua telapak tanganya namun ia renggangkan.
"Teriak tapi ngintip, lo bebas baby, ini semua punya lo, lo mau liat atau mau pegang juga bebas kok."
Jay berjalan mendekati Nadia, "Stop!!!'" seru Nadia dan Jay berhenti melangkah.
Nadia berlari ke arah kamar mandi, menutup pintu kamar mandi dengan kencang karena jantung yang berdegun hebat.
"Aaaa... Ini kenapa lagi sama jantung gue? Bisa bisanya," Nadia memukul dadanya.
Sementara Jay terkekeh melihat tingkah Nadia yang menurutnya sangat lucu.
Jay mengambil seragam barunya, karena hari ini ia resmi pindah sekolah ke sekolah Nusa Bangsa.
Yaitu dimana Nadia bersekolah.
"Jay.....!! Tolong ambilin seragam gue dong," seru Nadia dari balik pintu yang ia buka sedikit.
"Ini," Jay mengulurkan tangannya.
"Deketan dong, tangan gue nggak sampe,"
protes Nadia yang tak mau Jay melihat aset badanya walau sudah terbungkus handuk.
"Mau gue bantu pakein?" Kini wajah Jay benar benar dekat, menbuat deru nafas keduanya seolah mengadu.
"Jangan ngadi-ngadi ya Lo!" Tegas Nadia dengan cepat merebut seragam yang ada di tangan Jay.
"Lo nggak mau turun?" Tanya Jay yang malah berhenti di area parkir sekolah.
"Gue kan tadi udah bilang, turunin gue di depan gerbang aja, kenapa batu sih lo?" Ketus Nadia yang jadi malas keluar karena sudah pasti jadi bahan gosipan para murid lainya.
"Ya masa gue turunin istri gue depan gerbang? Goblok banget gue kalau gitu mah," sahut Jay. "Kenapa? Lo malu? Yakin lo malu turun dari mobil gue?" Jay pun merasa heran.
"Gue bukan malu, tapi...."
"Tapi apa? Lo takut kalau si buaya itu liat lo turun dari mobil sama cowok lain? Lo lupa sama status kita yang..!! Emm!" Jayden tak bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya di bungkam oleh Nadia.
"Ssttt.... Bisa nggak sih jangan berisik?!" Slrupp.... Jay malah menj ilat telapak tangan Nadia. Dan itu membuat Nadia jiji.
"Lo gila ya? Ji lat ji lat!"
"Kenapa? Geli ya? Gue bisa buat lo lebih geli dari ini Baby, tapi enak."
"Oh.... Astaga!!! Bisa bisanya gue nikah sama cowok mesum kaya dia," oceh Nadia yang akhirnya memutuskan keluar dari mobil.
Saat Nadia baru saja keluar dri mobil, dari lantai dua terlihat Kevin melambaikan tangannya ke arah Nadia.
Jay yang melihat itu pun langsung mengeraskan rahangnya tak suka.
"Mau ngapain lo?" Tanya Nadia menahan pergelangan Jay.
"Mau apa lagi? Mau matahin tangan yang berani ngelambai ke arah istri gue!"
Dengan cepat Nadia membungkam kembali mulut Jay.
"Ini sekolah, dan lo murid baru disini, jadi jangan buat gara-gara kalau lo nggak mau langsung di keluarin dari sekolah!"
"Gue ngagk peduli!" Santai Jay menjawab dan melangkah mantab ke depan.
Nadia benar-benar di buag frustasi oleh sikap Jay. "Please gue mohon! Jangan sekarang! Gue turutin semua mau lo nanti malam," kata Nadia yang semakin membuat Jay murka.
"Lo belain dia? Lo bahkan jadi murah hanya karena lo takut dia celaka? Lo bahkan mau gue sentuh cuma karena dia?" Pekik Jay yang netranya sudah merah padam.
"Nggak gitu maksud gue, gue cuma nggak mau hari pertama lo masuk di sekolah ini punya image yang jelek, cuma itu anjir!"
Jay menepis tangan Nadia kasar, cowok itu berjalan ke arah ruang guru. Dan setidaknya iti membuat Nadia seidkit lega karena Jay tak jadi memberi pelajaran pada Kevin.
"Hai.... Kamu kenapa? Kok pucet? Sakit?" Tahya Kevin bertubi-tubi.
"Nggak kok, aku baik-baik aja, aku ke kelas dulu ya," sahut Nadia dengan senyum di bibirnya.
"Nanti jadi kan ketemu? Aku kangen," Kevin memegang tangan Nadia.
Netra Nadia menyelidik sekitar, memastikan bahwa Jayden tak melihatnya.
Nadia mengangguk,"lya jadi, tapi aku nggak bisa lama nanti ya," kata Nadia dengam lembut.
"Iya nggak apa-apa, aku cuma mau peluk kamu," mereka berdua saling lempar senyum sebelum akhirnya berpisah dan amsuk ke dalam kelas masing-masing.
"Lo bisa ya senyum sama dia? Sedangkan lo nggak pernah ngasih gue senyum itu, genggaman tangan lo, bahkan harus gue paksa dulu," gumam Jayden yang ternyata melihat semua dari balik jendela ruangan guru.
"Gimana pak Jay?" Tanya guru bu Astri.
"Nggak apa-apa Bu, saya ke kelas dulu," ucap Jay kembali sopan pada bu Astri.
Jay meletakkan tasnya begitu saja di atas meja dan langsung membenamkan kepalanya di sana.
"Lo nggak mengenalkan diri dulu sebagai murid baru?" Bisik Nadia karena Jay meminta untuk duduk di samping Nadia.
"Nggak penting!" Ketus Jay masih merajuk pada Nadia.