Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Part 28
Viona tersenyum sinis, saat Cio datang menghampirinya. Kedua tangannya bersilang penuh angkuh di depan dadanya, menatap rendah ke arah Cio yang masih terdiam di depannya.
"Kenapa Kakak pulang? Apa Kakak mau menerima tawaranku?" Viona bertanya sinis dan penuh kepercayaan diri.
"Aku ke sini karena Amanda. Aku tidak ingin kamu menyakitinya, karena aku sangat mencintainya." Cio menjawab mantap, membuat Viona geram mendengarnya.
"Jadi Kakak masih mau memilih dia?"
"Kalau iya, kenapa?" Cio menantang balik penuh ketegasan, membuat Viona tidak bisa menerimanya.
"Aku yakin, Om Hendra tidak akan menerima ini. Beliau pasti tidak akan membiarkan gadis itu hidup lebih lama lagi." Viona menjawab geram sembari menunjuk tegas ke arah wajah Cio yang tersenyum sinis.
"Oh iya? Tapi aku tidak peduli." Cio melangkahkan kakinya, meninggalkan Viona dengan segala amarahnya.
Di dalam hati, ada secercah rasa takut yang menyelimuti perasaannya akan ancaman yang baru Viona katakan. Namun sebisanya, Cio berusaha untuk tetap tenang dan tetap fokus untuk menemui papanya.
Sesampainya di dalam rumah, Cio menatap ke sekeliling rumah dengan tatapan rindu. Karena di dalam rumah itu, kisah hidup mamanya terkenang indah di otaknya. Sampai saat tatapan Cio jatuh pada sosok papanya yang tersenyum angkuh bersama dengan wanita yang sangat Cio kenali. Siapa lagi kalau bukan mamanya Viona? Wanita yang sudah menghancurkan hidup mamanya.
"Akhirnya kamu pulang juga?" Papanya bertanya sinis, begitupun dengan lekukan bibirnya yang tergambar angkuh.
"Baguslah. Karena Papa akan menyakiti gadis yang kamu sukai, bila kamu masih ingin pergi dari rumah ini." Lelaki itu melanjutkan ucapannya, membuat Cio tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Ternyata benar, papanya itu akan menyakiti Amanda seperti apa yang tadi Viona katakan. Bila mengingat kepribadian papanya yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya, Cio rasa papanya tidak akan main-main bila sudah mengatakan akan menyakiti Amanda.
"Apa yang aku katakan benar kan, Kak? Gadis itu tidak akan selamat, bila Kakak terus bersamanya." Viona berbisik sinis yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Cio.
"Kenapa Papa melakukan semua ini? Kenapa Papa harus membawa Amanda ke dalam masalah keluarga kita?" Cio bertanya marah, merasa kecewa dengan papanya yang begitu mudahnya menyakiti orang lain termasuk hati putranya sendiri.
"Kamu yang memulai semuanya, Cio. Dari dulu, Papa selalu ingin kamu bisa menjadi yang terbaik. Supaya apa? Supaya kamu bisa menjalankan perusahaan yang sudah Papa bangun dari nol. Kamu itu ahli waris dari keluarga Alexandra, seharusnya kamu paham betul tanggung jawabmu."
"Aku juga tidak akan seperti ini, andai Papa tidak menghancurkan Mama demi wanita itu." Cio menunjuk wanita yang berada di samping papanya, membuat tatapan papanya dan Viona juga tertuju ke arahnya.
"Karena wanita itu, Mama frustasi sampai gila dan pada akhirnya meninggal sebelum penyakitnya sembuh. Dan sekarang, Papa ingin menikahinya?" Cio bertanya tak percaya dengan senyum sinis yang terlukis di bibirnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa hidup dan tinggal bersama dengan orang yang sudah membunuh Mama? Tidak bisa, Pa. Aku bahkan merasa jijik saat melihatnya." Cio melanjutkan ucapannya dengan tatapan rendah ke arah mamanya Viona, membuat papanya geram melihat tingkah lakunya. Begitupun dengan wanita yang Cio maksud, ekspresinya terlihat begitu marah meski tertahan oleh senyum ramahnya.
"Dijaga ucapanmu, Cio! Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu ke calon Mamamu. Apa kamu benar-benar ingin melihat gadis yang kamu cintai terluka, ha?" Papanya menyentak marah, membuat Cio bungkam di tempatnya.
"Kenapa harus Amanda? Dulu Papa selalu menggunakan Mama supaya aku mau menuruti keinginan Papa. Tapi tidak untuk kali ini, aku tidak akan membiarkan Papa berbuat seenaknya lagi. Aku akan melindungi Amanda apapun yang terjadi, aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk yang kedua kalinya," jawab Cio tegas, namun justru mendapatkan tanggapan sinis dari papanya.
"Coba saja! Karena selangkah saja kamu pergi dari rumah ini, Papa akan menelepon orang-orang suruhan Papa untuk ke rumah gadis itu. Kamu pasti tahu apa yang akan Papa lakukan kan? Jadi, berhentilah membantah dan jadilah anak yang penurut!" Lelaki itu menjawab dingin nan tegas, membuat Cio tidak bisa berbuat banyak selain terdiam di tempatnya dengan sesekali berdecak marah.