Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 15
Pria tua itu berusaha tenang dengan memasang wajah tegas, mata melotot tajam, namun sang menantu dapat melihat kegugupan dibalik topeng penyamarannya.
Arjanti menarik sedikit sudut bibir kiri, ia memandang ke belakang lewat pundak ayah mertua yang mana berdiri sang selingkuhan Doko. Astuti.
“Mbak Astuti, kamar kosong paling pojok lantai atas sudah waktunya dibersihkan. Dua hari lalu aku masuk ke sana, bau tembakau tercium kuat, nyaris sesak dadaku menghirup aroma beracun itu,” ucapnya pelan, namun tidak dengan kalimat mengandung makna dalam, berbahaya.
Hilang sudah binar angkuh tergantikan pias merambat ke aliran darah wajah pembantu merangkap menjadi wanita simpanan sang tuan. Astuti berdiri kaku, tak lagi bersikap sombong dan merasa menang. Ia kehilangan ketenangan.
Darti menoleh ke samping kiri, menatap lekat sang pembantu yang sudah jalan 5 tahun bekerja dirumah ini. “Kok bisa kamar kosong bau tembakau?”
Doko berekpresi acuh tak acuh, sadar kalau perkataan sang menantu tertuju kepadanya. Dirumah ini yang perokok aktif hanya dia.
“Mungkin karena jendelanya jarang dibuka, Bu, bikin sirkulasi udara jadi gak sehat, makanya bau pengap,” jawaban Astuti melenceng dari pertanyaan Darti.
Entah masih dalam keadaan bingung, atau sedang banyak pikiran, wanita lumpuh itu tidak lagi bertanya lebih lanjut.
Janti yang baru saja mengungkapkan kalau dia tahu lebih banyak daripada yang terpikirkan oleh pasangan selingkuh itu, berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Brak!
Akhh!
Saila memekik. Belum juga bisa mencerna akan perubahan sikap Arjanti, dia dikejutkan dengan suara bantingan pintu.
Herlan menghela napas cepat, dengusan terdengar mengandung kesal sekaligus heran. ‘Ah, mungkin perubahan sikapnya dikarenakan cemburu buta. Ya, pasti benar. Janti sangat mencintaiku,’ batinnya sedang menghibur sekaligus meyakinkan diri sendiri.
“Kamu lihat dan dengar sendiri, kan? Dia seperti orang kesurupan. Melawan, gak ada sopan-sopan nya sama orang lebih tua. Berani membantah, malas mengurus Ibu! Padahal itu sudah tugasnya!” Darti belum puas memprovokasi putranya.
“Gitu katanya kok ikhlas dipoligami,” tandas Tanira ikut menimpali. “Saila, sebaiknya kamu pulang bareng Mama, disini gak aman. Bisa jadi bukan cuma mulut Janti yang berani melawan, takutnya dia nekat berusaha mencelakaimu dipicu oleh rasa iri hati.”
Saila melototi ibunya, namun langsung mengubah mimik muka seperti orang dizalimi. “Iya, Ma. Aku juga takut lihat dia, seperti bukan dirinya. Jauh sekali dengan sikapnya sebelum aku sama mas Herlan menikah, bisa jadi Janti sengaja bilang ngasih restu, tapi dalam hatinya sudah merencanakan tindak kejahatan.”
Herlan menghabiskan jarak tersisa dengan sang istri. Diusapnya pucuk kepala Saila yang duduk di sofa panjang. “Janti bukan pribadi nekat maupun kejam, dia cuma belum bisa beradaptasi dengan status barunya sebagai istri pertama.”
“Saila, Mas harap kamu mau bersabar. Semua butuh waktu. Pelan-pelan nanti aku akan membimbingnya supaya benar-benar ikhlas menerimamu,” sambungnya mantap.
“Jangan berjudi dengan nyawa disaat bahaya bisa datang kapan saja, Herlan!” sergah Tanira, suaranya melengking memicu rasa tegang menyergap mereka yang mulai berpikiran negatif.
“Kamu apa gak pernah nonton berita menjamur yang viral tentang penganiyaan? Entah korbannya mertua, istri, orang tua, anak-anak maupun remaja, dari semua kejadian mengerikan nan sadis itu, pelakunya bukan orang jauh, melainkan orang dekat bahkan tinggal serumah, berstatus keluarga maupun saudara. Pemicunya pun hampir mirip, diakibatkan kehilangan akal. Tanda-tanda penyakit gila sudah ada di diri Janti,” ujarnya serius.
Herlan menahan napas sebentar. Mau menyangkal, membela istri pertama, namun dia sendiri masih diliputi oleh rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang.
Perubahan sikap, cara Arjanti memandang, sorot mata tajam, senyum meremehkan, benar-benar berbeda dari sebelum Herlan meminta izin menikah lagi.
“Ih, aku kok merinding.” Astuti mengusap kedua lengan, entah mengapa tiba-tiba membayangkan Arjanti membawa benda tajam, membalas semua perlakuan semena-menanya yang memanfaatkan tenaga wanita itu.
“Apa gak sebaiknya Janti disewakan kos-kosan dekat sini, biar kalau pagi sampai malam dia merawat jeng Darti, setelahnya pulang ke kosan?” tiba-tiba Tanira mengusulkan. “Kan sebenarnya gak baik menyatukan istri tua dan muda dalam satu rumah.”
Doko menanggapi. “Terus siapa yang akan membantu istriku kalau malam dia butuh bantuan ke kamar mandi, atau perlu lainnya? Aku gak bisa terus-terusan bangun disaat baru saja tertidur.”
“Biar aku yang membantu jeng Darti, pak Doko. Nanti kamar ditempati Janti, tak pakainya,” niat terselubung pun sukses disuarakan. Ini termasuk rencananya bersama Saila.
“Ma, aku kurang setuju. Kasihan Mama nanti istirahatnya kurang, tapi diriku juga gak mungkin merawat mama Darti disaat lagi program kehamilan yang diharuskan tidur cukup, dilarang mengangkat beban berat, serta menstabilkan pikiran,” Saila meremas tangan diatas pangkuan.
"Mama bahagia sekali bisa punya menantu sebaik kamu. Mana perhatian, dan penuh kasih," puji Darti disela rasa paniknya sendiri.
Saila pun tersenyum malu-malu, matanya berbinar cerah dengan mimik wajah sumringah.
Herlan pun bertambah kebingungan. Dia sulit memutuskan, mempertahankan Janti disini atau mencarikan tempat kosan.
“Kalau mau nyari tempat tinggal cukup satu orang yang gak jauh dari sini, terus uang sewanya murah. Kebetulan dekat pasar, ada kosan. Nanti kalau pagi sebelum Janti datang kemari, dia bisa sekalian belanja bahan makanan untuk satu hari,” tak ada yang meminta pendapatnya, tapi Astuti berani mengusulkan.
Lirikan maut sang pembantu ditanggapi kerlingan mata Doko. Tentu mereka satu pemikiran. Jika Janti benar-benar tinggal terpisah, akan lebih banyak kesempatan untuk melakukan zina.
Pada akhirnya Darti bersuara setelah tadi berpikir cukup lama. “Mama setuju, Herlan. Lama-lama melihat perubahan sikap Janti, Mama takut sendiri .”
Darti teringat tentang obrolan besannya yang memperingatkan dia agar berhati-hati.
“Gimana, Herlan?” tanya Doko, dia menjadi orang yang paling tidak sabar menunggu jawaban putranya.
.
.
Bersambung.
suatu hari nanti si Herlan akan menyesal karena udh menyia2 kan kamu Janti
pasti tu anak yg dikandung saila bukan anak si Herlan
bukan Janti yg salh tapi si Herlan lh tak bisa memberikan keturunan