NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Tahu

Namun, begitu matanya menangkap sebuah meja besar berkapasitas enam orang di sudut dekat jendela besar, langkah Reyna seketika terhenti, jantungnya berdesir hebat dan matanya membelalak kaget.

​Di meja itu, tidak hanya ada Agnia. ​Di sana, Agnia duduk berdampingan dengan Bagas. Namun yang membuat Reyna terpaku di tempat adalah keberadaan tiga orang pria yang duduk melingkar di meja tersebut, mereka adalah teman-teman Bagas yang dua minggu lalu ikut bersorak heboh saat acara tangkap bunga.

​Reyna membeku di tempat, rasa canggung dan cemas tiba-tiba menyerbunya tanpa ampun. 'Aduh, kenapa Agnia nggak bilang kalau suaminya dan teman-temannya ikut juga?' batin Reyna panik, ia merasa terjebak dan ingin sekali memutar tubuhnya untuk melarikan diri balik ke kontrakan.

​Namun sebelum Reyna sempat berbalik, Agnia yang sedang tertawa tiba-tiba menoleh ke arah pintu masuk dan menangkap sosok Reyna.

​"Reyna!" teriak Agnia riang seraya melambaikan tangannya tinggi-tinggi dan mengabaikan beberapa pandangan pengunjung kafe lain.

​Semua yang ada disana pun ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Agnia, dan Reyna sudah tidak ada jalan keluar lagi. Dengan menahan rasa canggung yang luar biasa dan senyum yang dipaksakan, Reyna melangkah perlahan menghampiri meja besar tersebut.

​"Hai, Agnia... Bagas...," sapa Reyna pelan saat sudah berdiri di samping meja.

​"Reyna! Sini duduk di samping aku!" Agnia memegang tangan Reyna dan langsung menariknya untuk duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya.

​"Maaf ya, Rey. Aku nggak bilang dulu kalau Mas Bagas sama temen-temennya ikut, tadi Mas Bagas sekalian mau bagi-oleh-oleh buat temen-temen dinasnya, jadi aku gabungin aja sekalian," bisik Agnia cepat di telinga Reyna seraya terkekeh tanpa dosa.

​"Nggak apa-apa, Ni...," balas Reyna berbisik, meski hatinya menjerit menahan malu.

​Bagas tersenyum ramah pada Reyna, "Kabar baik, Reyna? Maaf ya jadi makin ramai gini," ucap Bagas sopan.

​"Kabar baik, Bagas. Nggak apa-apa, makin ramai makin seru kok," jawab Reyna dan mencoba mencairkan suasana agar tidak terkesan kaku, meski sejujurnya ia merasa sangat kecil berada di antara orang-orang berpenampilan rapi dan mapan ini.

"Oh ya, kenalin ini Aldo, Faris sama Anton," ucap Bagas, memperkenalkan teman-temannya.

Aldo sendiri merupakan seorang pengacara, Faris seorang pengusaha kuliner dan Anton pengusaha otomotif, mereka sudah berteman sejak sekolah dasar.

"Reyna," balas Reyna dengan senyuman canggung.

Setelah perkenalan singkat itu, Reyna berusaha mengumbar senyam-senyum dan sesekali menanggapi lelucon ringan yang dilontarkan Bagas dan teman-temannya.

Agnia pun menyerahkan sebuah tas kertas besar berisi oleh-oleh dari Jepang untuk Reyna, cokelat mahal, beberapa skincare dan sebuah syal rajut halus berwarna abu-abu yang sangat indah.

​"Nia, ini banyak banget... Terima kasih banyak ya," ujar Reyna haru menatap isi tas kertas tersebut.

​"Sama-sama, Reyna sayang! Itu khusus aku pilihin buat kamu!" seru Agnia gembira.

​Suasana percakapan berlangsung hangat selama hampir tiga puluh menit, Reyna yang tadinya canggung perlahan mulai bisa menikmati suasana dan mengobrol santai dengan Agnia.

​Namun, di tengah-tengah gelak tawa mereka yang membahas oleh-oleh, denting bel di pintu masuk kafe berbunyi pelan dan seorang pria baru saja melangkah masuk ke dalam kafe.

​Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang dilipat rapi hingga ke siku, celana bahan hitam. Tatapannya tenang, wajahnya yang tegas tampak sedikit lelah namun tetap memancarkan aura ketampanan dan wibawa yang luar biasa bersih.

​Bagas yang pertama kali menyadari kedatangan pria itu langsung melambaikan tangan, "Ta! Sini!" panggil Bagas cukup keras.

​Pria itu menoleh ke arah meja mereka, lalu mengangguk pelan dan melangkah mendekat. Reyna yang sedang menyesap teh hangatnya mendadak menghentikan gerakannya, seluruh tubuhnya mendadak kaku ketika pria itu semakin dekat dan sosoknya terlihat jelas di bawah lampu kafe yang hangat.

​Pria itu adalah pria yang dipanggil naik ke atas panggung oleh Bagas, pria yang dijodohkan dengannya di depan ratusan tamu undangan saat acara pernikahan Agnia.

​Pria itu bernama Dikta, ia berdiri di ujung meja dan menatap satu per satu orang di sana sebelum pandangannya terhenti tepat pada Reyna yang sedang menatapnya dengan mata bulat yang terbelalak kaget dan untuk beberapa detik yang terasa begitu lama, mata mereka berdua saling bertaut dalam keheningan.

Atmosfer di meja kayu besar itu mendadak hening selama beberapa detik. Sorot mata Dikta yang tenang dan dalam mengunci pandangan Reyna, membuat gadis itu reflek meletakkan cangkir tehnya dengan tangan gemetar hingga terdengar denting halus keramik yang beradu.

​"Maaf telat, tadi ada pasien darurat di ruang operasi yang harus ditangani dulu," ucap Dikta, suaranya yang bernada berat dan tenang menggema di antara hiruk-pikuk alunan musik akustik kafe.

​"Nggak apa-apa, Ta. Santai aja, kita juga baru pada ngobrol kok. Duduk, Ta," jawab Bagas seraya menggeser kursi di hadapan Reyna.

​Dikta mengangguk pelan, melepas jam tangan kulitnya lalu meletakkannya di atas meja sebelum akhirnya mendaratkan tubuh tegapnya tepat di seberang Reyna. Aroma kayu maskulin dan keharuman sabun yang bersih seketika menguar menembus jarak di antara mereka, aroma familier yang sempat ditangkap Reyna saat berdiri canggung di atas panggung.

​Agnia melirik Reyna yang mendadak mematung dengan wajah memerah, lalu tersenyum jahil. "Oh iya, Reyna... Kamu mungkin belum kenalan secara resmi ya waktu itu. Ini Dikta, temannya Mas Bagas. Dikta ini dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Umum Kota," jelas Agnia sengaja menekankan profesi pria itu.

​Dikta menoleh ke arah Reyna, lalu mengulurkan tangan kanannya yang jemarinya panjang dan bersih melintasi meja. "Saya Dikta," ucapnya memperkenalkan diri secara langsung dengan nada suara yang teratur dan ramah.

​Reyna menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Dengan sangat ragu dan canggung, ia menyambut uluran tangan itu. Telapak tangan Dikta terasa hangat dan kokoh menyentuh jemari Reyna yang agak dingin akibat cemas.

"Reyna...," ucap Reyna singkat, berusaha sebisa mungkin menjaga suaranya agar tidak bergetar.

​"Saya tahu, Agnia dan Bagas sudah sering menceritakan kamu," balas Dikta dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun sukses membuat dada Reyna berdegup kencang tak beraturan.

Aldo, Faris dan Anton yang memang dasarnya memiliki kepribadian humoris berkali-kali melempar lelucon, membuat Agnia tertawa lepas. Reyna berusaha keras untuk ikut tersenyum dan menanggapi pembicaraan, namun fokusnya terus-menerus terganggu oleh keberadaan pria di hadapannya.

​Dikta adalah tipe pendengar yang baik. Ia tidak banyak menyela, hanya menyahut sesekali dengan kalimat yang cerdas atau kekehan pelan. Namun, beberapa kali Reyna menyadari bahwa Dikta diam-diam memperhatikan gerak-geriknya.

Saat Reyna kebingungan mencari tisu untuk menyapu tetesan air teh di meja, dengan cekatan Dikta mengambil kotak tisu di dekatnya dan menyodorkannya tepat di samping tangan Reyna tanpa menghentikan pembicaraannya dengan Bagas.

​"Terima kasih, Dokter," ucap Reyna pelan.

​Dikta menoleh sekilas dan matanya menatap Reyna intens. "Panggil Dikta saja," jawabnya datar.

.

.

.

Bersambung.....

1
Felycia Fernandez
gue lagi nggak pengen pacaran katanya...mungkin langsung nikah kali ya 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Keisengan belaka ya bagusnya
lia juliati
ayo anton pepet terooooosssss,
falea sezi
lagian krja kantoran masak sepatu pesta satu aja kaga punya 🤣🤣 bloon
falea sezi
bodoh resain lah
Rizky Manik
bagus Anton dekatin aja Reyna,aku liat reaksi Dikta kekmana🤭🤭🤭
lanjut thor
Rizky Manik
meleleh adk pak dokter🤭🤭🤭
Sastri Dalila
🤣🤣
Felycia Fernandez
duuuuh Dikta...kamu bisa bisa buat Reyna baper ...katanya nggak mau pacaran
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😘😘😘
Syifa Fauziah
so sweet dikta😍
Aidil Kenzie Zie
kok jawabnya terserah sich Dikta biar nggak ada yang curiga ya kalo ternyata ente emang udah ada rasa
Felycia Fernandez
pernah denger sih mie ini,katanya enak banget khas wonosobo
Felycia Fernandez: ntar kk Thor aku cobain kalau ada perjalanan ke daerah sana👍
total 2 replies
lia juliati
bonus 1 update tor😍
lia juliati
bumbu anton seru nih tor😄
Rizky Manik
makin seru ni pdkt antara Dikta sama reyna🤭
lanjut thor
lia juliati
biarin anton deketin Reyna tor.... biar ada bumbunya🤭
Rizky Manik
lanjut thor🙏
Rizky Manik
yakin Dikta gkmau pacaran? jangan2 nnti langsung nikah aja yakan🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!