**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil yang Mulai Terasa
Suara Arsen yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat Hikari dan Keiran sama-sama menoleh. Laki-laki itu berjalan mendekat dengan senyum jahil di wajahnya. Tas yang tersampir di salah satu bahunya tampak sedikit berantakan, seolah dia baru saja terburu-buru meninggalkan kelas.
Arsen berhenti tepat di samping Hikari, kemudian melirik Keiran.
Arsen melirik ke arah Keiran.
"kei lo kok bisa sama hikari?"
Arsen bertanya dengan nada penasaran. Tapi Keiran tidak langsung menjawab pertanyaan Arsen, dia melirik hikari sekilas.
"karna ketemu"
Keiran pun akhirnya menjawab dan Arsen hanya mengganguk paham.
"oh, gitu"
Hikari yang ada di antara mereka hanya diam karna belum ada pertanyaan untuk dirinya.
"hikari, lo mau pulang kan, ayo bareng"
Arsen tersenyum sembari melihat ke arah hikari. hikari langsung melirik ke arah Keiran dan keiran hanya menatap tanpa berkata apapun.
"aku udah di jemput"
Arsen mengangguk, kemudian melirik ke arah gerbang sekolah. "Oh, ya udah. Gue temenin sampai gerbang, deh."
"Enggak usah, aku bisa sendiri"
"Ya, sekalian aja. Gue juga mau ke sana."
Hikari tidak lagi membantah. Dia kemudian menoleh kepada Keiran yang masih berdiri di hadapannya.
"Aku duluan, ya."
Keiran mengangguk pelan. "Iya. Hati-hati."
Hikari membalas dengan senyum kecil sebelum akhirnya berjalan mengikuti Arsen. Keduanya mulai menjauh dari tempat itu, meninggalkan Keiran yang masih berdiri di depan kelas.
Arsen sesekali mengajak Hikari berbicara selama perjalanan menuju gerbang. Sesekali terdengar tawa kecil dari keduanya ketika Arsen melontarkan candaan.
Keiran yang belum beranjak dari tempatnya sempat melihat ke arah mereka. Tatapannya mengikuti Hikari sampai keduanya hampir mencapai ujung koridor.
"Kei!"
Panggilan dari salah satu temannya membuat Keiran mengalihkan pandangan.
"ayo, jadi ikut gak"
Keiran langsung menghampiri teman laki-laki nya yang memanggil itu.
***
Di sisi lain Hikari baru saja di depan gerbang dia langsung mengetahui mobil jemputan nya dan segera berpamitan pada arsen.
"itu mobil jemputan aku. aku duluan ya"
arsen mengikuti arah pandangan Hikari, lalu mengangguk paham. "oh iya, kalo gitu hati-hati" ucap arsen sembari tersenyum.
Tanpa menjawab Hikari langsung berjalan menuju mobil jemputan nya, saat masuk ke dalam mobil. Arsen terlihat melambaikan tangannya pada Hikari sembari tersenyum.
Hikari membuka kaca mobil nya, lalu membalas lambainya sembari tersenyum. Setelah itu mobil pun segera berjalan meninggal kan sekolah.
Mobil yang ditumpangi Hikari perlahan meninggalkan area sekolah. Gadis itu kembali menutup kaca jendela, kemudian menyandarkan punggungnya pada jok. Tas yang berada di pangkuannya ia letakkan di samping sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Pak Damar sesekali melihat Hikari melalui kaca spion.
"Non, hari ini langsung pulang?"
Hikari mengangguk. "Iya, Pak."
"Baik. Kalau begitu, kita langsung pulang."
Hikari hanya membalas dengan anggukan kecil. Setelah itu, dia kembali menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
Tidak banyak yang dia pikirkan. Hanya saja, sesekali ingatannya kembali pada kejadian di sekolah tadi, terutama ketika Keiran tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Hal sederhana yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan terlalu jauh, tetapi entah mengapa masih teringat olehnya.
Sementara itu, di sekolah, Arsen sudah kembali ke area parkir. Dia menemukan beberapa temannya sedang berkumpul di dekat motor.
"Sen, lama banget lo," celetuk salah satu temannya.
Arsen meletakkan tasnya di atas motor. "Biasa."
"Ngapain aja?"
"Ngobrol."
Temannya langsung menyeringai. "Sama siapa? Hikari?"
Arsen menoleh sambil tertawa kecil. "Kepo banget."
"Berarti bener."
Arsen tidak menjawab. Dia hanya mengenakan helm, kemudian mulai menyalakan motornya.
Di tempat lain, Keiran baru saja selesai berbicara dengan teman-temannya. Dia berjalan menuju parkiran bersama Rian yang sejak tadi terus membicarakan sesuatu.
"Jadi nanti lo ikut, kan?" tanya Rian.
"Belum tahu."
"Katanya mau ikut."
Keiran mengeluarkan kunci motor dari saku celananya. "Nanti gue kabarin."
Rian menghela napas. "Susah banget ngajak lo."
Keiran hanya tersenyum tipis. Dia kemudian menaiki motornya, sementara Rian masih berdiri di samping sambil memainkan kunci kendaraan.
"Oh iya, tadi gue lihat Arsen di depan gerbang."
Keiran menoleh sekilas. "Terus?"
"Dia nemenin Hikari."
Keiran kembali menatap motornya.
"Terus kenapa?"
Rian mengangkat kedua tangannya. "Enggak kenapa-kenapa. Cuma ngasih tahu."
Keiran tidak menanggapi lagi. Dia memasang helm, kemudian mulai meninggalkan area parkir.
Rian hanya menggeleng melihat sikap temannya itu sebelum akhirnya ikut pulang.
Sore harinya.
Hikari sudah berada di rumah setelah berganti pakaian. Dia duduk di ruang keluarga sambil membuka buku catatan yang tadi dibawanya dari sekolah. Beberapa tugas masih harus diselesaikan sebelum dikumpulkan keesokan harinya.
Bi Sumi datang dari arah dapur membawa segelas minuman dan meletakkannya di atas meja.
"Non, diminum dulu. Dari tadi belum istirahat."
Hikari mengangkat kepala. "Makasih, Bi."
"Non mau makan sekarang atau nanti?"
"Nanti aja, Bi. Aku masih mau ngerjain tugas."
Bi Sumi mengangguk. "Baik, kalau begitu Bibi siapkan makan malamnya."
Setelah Bi Sumi kembali ke dapur, Hikari melanjutkan pekerjaannya. Dia membaca kembali catatan yang dibuatnya selama pelajaran, kemudian mulai mengerjakan beberapa soal.
Waktu berjalan cukup lama sampai akhirnya seluruh tugasnya selesai. Hikari menutup buku, lalu meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di sampingnya.
Dia membuka beberapa aplikasi, membaca pesan dari grup kelas, kemudian melihat unggahan teman-temannya.
Tanpa sengaja, jarinya berhenti ketika melihat sebuah unggahan dari Arsen.
Hikari memperhatikan foto tersebut sebentar. Arsen sedang berada di lapangan basket bersama beberapa temannya. Dia kemudian tersenyum kecil sebelum kembali menggulir layar ponselnya.
Namun, belum lama dia melakukannya, sebuah pesan masuk dari grup kelas.
Neta.
Neta: Besok jangan lupa bawa tugas bahasa Indonesia.
Hikari: Iya, udah selesai kok.
Neta: Bagus. Jangan sampai lupa dibawa.
Hikari tersenyum membaca pesan itu. Setelah membalas beberapa percakapan lain, dia meletakkan ponselnya kembali di atas meja.
Malam itu berjalan tenang seperti biasanya.
Keesokan paginya, Hikari kembali datang ke sekolah. Kali ini dia tiba sedikit lebih awal dari biasanya. Setelah berpamitan dengan Pak Damar, dia berjalan menuju kelas sambil membawa tas di bahunya.
Ketika memasuki kelas, dia melihat Neta sedang duduk sambil berbincang dengan beberapa teman.
"Pagi," sapa Hikari.
Neta langsung menoleh. "Pagi. Cepet banget lo."
Hikari meletakkan tasnya di kursi. "Biasa aja."
"Udah bawa tugas?"
Hikari mengangguk, lalu mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
"Udah."
Neta mengacungkan jempol. "Aman."
Keduanya kemudian mulai menyiapkan perlengkapan belajar. Namun, belum lama mereka duduk, seseorang muncul di depan pintu kelas.
"Hikari."
Hikari menoleh dan mendapati Keiran berdiri di sana.
Laki-laki itu tidak sendirian. Rian berada di belakangnya sambil memegang botol minuman.
Hikari sedikit terkejut, tetapi segera memberikan senyum kecil.
"Kenapa?"
Keiran melangkah masuk beberapa langkah.
"Udah sarapan?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Neta yang duduk di samping Hikari spontan mengangkat wajah.
Hikari mengangguk. "Udah."
Keiran memperhatikan wajahnya sebentar, kemudian mengangguk.
"Bagus."
Setelah itu, dia hendak berbalik. Namun, Rian yang sejak tadi memperhatikan mereka justru menyapa Neta.
"Pagi, Net."
Neta tersenyum. "Pagi."
Rian mengangkat botol minumannya sedikit, lalu kembali mengikuti Keiran yang sudah berjalan keluar.
Hikari memperhatikan kepergian mereka sebentar sebelum akhirnya kembali duduk dengan benar.
Neta kemudian menoleh kepadanya.
"Dia nyariin lo?"
Hikari menggeleng. "Enggak tahu."
Neta tersenyum tipis. "Tapi tumben banget pagi-pagi udah nanyain sarapan."
Hikari tidak menjawab. Dia hanya menunduk sambil merapikan buku di atas meja, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya.
Sementara itu, di koridor, Rian berjalan di samping Keiran dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
"Lo tadi cuma mau nanyain dia udah sarapan?"
Keiran meliriknya sekilas.
"Iya."
Rian tertawa kecil. "Jauh-jauh ke kelas orang cuma buat nanya itu?"
Keiran tidak menjawab. Dia terus berjalan menuju kelasnya.
Rian menggeleng sambil tersenyum. Sepertinya ada sesuatu yang mulai berubah dari temannya itu, meskipun Keiran sendiri belum pernah mengakuinya.