Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan Arkananta
Langit sore di atas kawasan pusat perbelanjaan elit ibu kota mendadak berubah gelap gulita. Awan hitam menggantung rendah, disusul oleh tetesan air hujan yang turun perlahan sebelum akhirnya berubah menjadi badai deras yang menghantam jalanan aspal tanpa ampun.
Di seberang pintu keluar utama butik Zuri Couture, Arkananta berdiri kaku dengan pakaian lusuh dan tubuh yang sudah basah kuyup tersiram air hujan.
Pria itu sudah berjam-jam menunggu di luar butik hingga hujan deras mengguyur tubuhnya tanpa memedulikan dingin yang menusuk tulang.
Jas kerjanya yang dulu mewah kini tampak compang-camping, rambutnya lepek menempel di dahi, dan bibirnya membiru menahan dingin serta rasa lapar yang mendera. Namun, tekadnya sudah bulat; ia ingin menemui mantan istrinya secara langsung setelah mendengar cerita ibunya yang pulang sambil menangis tersedu-sedu dari tempat ini.
Pintu kaca butik bergeser terbuka, memancarkan cahaya hangat kekuningan ke arah teras luar yang basah.
Adelia melangkah keluar bersama Faris yang dengan sigap memegang payung hitam besar untuk melindungi wanita itu dari terjangan air hujan.
Melihat sosok wanita yang ditunggunya akhirnya muncul, Arkananta melangkah limbung menerobos genangan air di halaman parkir. Tanpa memedulikan tatapan heran dari para pejalan kaki dan petugas keamanan mal, Arkananta berlutut di atas aspal yang basah tepat di hadapan Adelia dan Rayhan.
"Adelia... Tolong, berhenti sebentar..." rintih Arkananta dengan suara parau, napasnya tersengal-sengal bercampur dengan air hujan yang mengalir deras di wajahnya.
Adelia menghentikan langkahnya seketika. Ia mendongak menatap pria yang dulu pernah menjadi suaminya, kini bertekuk lutut di tanah dalam kondisi yang amat menyedihkan. Faris bergerak sigap melindungi Adelia dengan merapatkan posisinya, menatap tajam ke arah Arkananta dengan sorot mata waspada.
"Arkananta? Mau apa lagi kamu datang ke sini?" tanya Adelia dingin, tanpa ada nada terkejut ataupun iba di dalam suaranya.
Arkananta mendongakkan kepala, menatap mantan istrinya dengan mata merah memohon. Sambil menangis tersedu-sedu di tengah deru air hujan, Arkananta menangis memohon maaf atas segala kejahatan dan pengusiran yang dilakukannya dulu.
"Aku minta maaf, Del... Aku mohon maafkan semua kesalahanku..." racau Arkananta histeris, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Aku menyesal... Aku benar-benar minta maaf karena dulu sudah mengusir kalian tengah malam, karena sudah memaki-maki kamu, dan karena sudah menghancurkan keluarga kita demi perempuan jalang itu!"
Faris mengetatkan pegangannya pada payung, suaranya terdengar berat dan tegas memperingatkan. "Bangun, Tuan Arkananta. Sikap Anda tidak pantas dilakukan di tempat umum seperti ini. Jangan membuat keributan."
"Diam kamu! Ini urusan rumah tangga kami!" bentak Arkananta putus asa, lalu kembali menatap Adelia dengan tatapan memelas.
"Del, dengar aku... kumohon beri aku kesempatan kedua. Hidupku sudah hancur lebur, kantorku bangkrut, rumah disita, dan aku tidak punya apa-apa lagi di dunia ini selain kamu dan anak-anak."
Adelia tetap berdiri tegak di balik perlindungan payung Faris. Ia menatap pria yang sedang bersimpuh di genangan air itu dengan sorot mata yang datar, tanpa emosi, dan tanpa ada sisa rasa di hatinya.
Arkananta merangkak maju selangkah, mencoba menggapai ujung sepatu bot Adelia, namun dicegah oleh satu gerakan tangan Rayhan yang menepisnya tegas. "Arkananta, cukup. Jangan mendekat."
"Del... kumohon, dengarkan aku," isak Arkananta makin menjadi-jadi, suaranya parau tenggelam oleh deru hujan. Arkananta berjanji akan menjadi suami yang baik dan merawat Adelia jika diberi kesempatan
"Aku berjanji, demi Tuhan, aku akan berubah total. Aku akan bekerja keras siang dan malam buat kamu dan anak-anak, aku akan jadi suami yang setia dan merawat anak anak jika diberi kesempatan kedua... Tolong, Del, kasihanilah aku..."
Suasana di sekitar teras butik mulai menarik perhatian beberapa orang yang berlindung dari hujan. Bisik-bisik mulai terdengar, namun Adelia sedikit pun tidak terusik.
Ia menarik napas perlahan, merapikan mantel wol yang ia kenakan, lalu menunduk menatap mantan suaminya dengan saksama.
Adelia menatap Arkananta dengan tatapan dingin tanpa ada lagi sisa cinta di matanya. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam kesumat, namun yang jauh lebih menyakitkan bagi Arkananta: tidak ada lagi kepedulian sama sekali di dalam diri wanita itu.
"Kamu sudah selesai bicara, Arkananta?" tanya Adelia dengan suara tenang, lugas, dan tajam menembus suara gemercik air hujan.
Arkananta tersentak pelan, mendongakkan wajahnya yang basah kuyup dengan secercah harapan palsu di matanya. "Del... jadi... kamu mau memaafkanku?"
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Arkananta," jawab Adelia tanpa ragu sedikit pun. "Karena kalau aku tidak memaafkanmu, aku tidak akan bisa melangkah sejauh ini dan hidup tenang seperti sekarang."
Wajah Arkananta sempat berbinar sesaat mendengar kalimat itu. "Kalau begitu... kamu mau kita kembali bersama, kan? Kita bangun keluarga kita dari awal lagi..."
"Jangan salah mengartikan kata-kataku," potong Adelia cepat dengan nada suara yang langsung mendingin drastis. "Memaafkan bukan berarti aku bodoh untuk kembali ke dalam neraka yang sama. Hubungan kita sudah mati secara mutlak sejak malam kamu mengusir aku dan anak-anak tanpa sepeser pun uang di tangan."
"Tapi aku suamimu, Del! Ayah dari anak-anak!" seru Arkananta putus asa.
"Kamu bukan siapa-siapa lagi di dalam hidupku maupun hidup anak-anakku," tegas Adelia tanpa ampun.
"Waktu aku berjuang sendirian membanting tulang di ruko sempit, waktu anak-anak menangis kelaparan karena tidak ada makanan, di mana kamu? Kamu sedang bersenang-senang dengan perempuan lain di atas penderitaan kami. Dan sekarang, saat duniamu runtuh karena kebusukanmu sendiri, kamu datang bersimpuh dan meminta semuanya kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa?"
Arkananta terdiam membisu, tubuhnya bergetar hebat bukan lagi karena dinginnya air hujan, melainkan karena telaknya kalimat-kalimat yang dilontarkan mantan istrinya.
"Semua sudah terlambat, Arkananta," lanjut Adelia dengan tatapan mata yang setajam silet. "Pintu maaf sebagai sesama manusia kubukakan, tapi pintu rumah dan hatiku sudah tertutup rapat untuk selama-lamanya buat kamu. Jangan pernah datang lagi untuk menemui aku atau anak-anak."
Setelah merampungkan kalimatnya, Adelia mengalihkan pandangannya ke arah Rayhan. "Ayo, Faris. Kita masuk. Udara di luar terlalu dingin."
"Baik, Adelia," jawab Faris lembut.
Rayhan membalikkan badan, merangkul pinggang Adelia dengan penuh kehangatan dan perlindungan, lalu membimbing wanita itu melangkah masuk kembali ke dalam butik yang hangat. Pintu kaca otomatis bergeser menutup rapat, menyisakan suara deru hujan lebat dan keheningan yang menyiksa di luar sana.
Arkananta ditinggalkan seorang diri berlutut di atas aspal jalanan yang basah. Pria itu menatap kosong ke arah pintu kaca yang kini memantulkan bayangannya sendiri yang tampak begitu menyedihkan.
Kesadaran pahit menghantam dadanya dengan sangat telak; ia telah kehilangan permata paling berharga di dalam hidupnya akibat kebodohan, keserakahan, dan keangkuhannya sendiri.
Dengan tubuh gemetar dan air mata yang bercampur dengan air hujan, Arkananta perlahan bangkit berdiri dengan kaki yang tertatih-tatih. Ia berjalan gontai meninggalkan area butik tersebut, menyusuri trotoar jalanan ibu kota yang gelap tanpa tahu harus melangkah ke mana lagi.
Sementara itu, di dalam ruangan VIP butik yang hangat, Adelia duduk di atas sofa beludru sambil menerima secangkir teh jahe hangat yang diserahkan oleh Rayhan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Faris lembut, duduk di sebelah Adelia sambil menatap wanita itu penuh perhatian.
Adelia menyesap teh hangatnya pelan, lalu tersenyum tipis menatap pria di sampingnya. "Aku sangat baik, Faris. Rasanya beban terakhir di pundakku akhirnya benar-benar terangkat bersih."
Rayhan meraih tangan Adelia yang bebas, menggenggam jemari wanita itu dengan erat dan penuh kasih sayang. "Aku berjanji, tidak akan ada lagi orang dari masa lalu yang bisa merusak ketenangan hidupmu, Adelia."
Adelia mengangguk mantap, menyambut genggaman tangan itu dengan senyuman tulus yang memancarkan kebahagiaan sejati. Badai kehidupan yang menerpa bertahun-tahun silam telah usai sepenuhnya, menyisakan pelangi indah dan lembaran baru yang cerah bersama orang yang tepat.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel