NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Suasana di dalam ruangan pesta sebuah restoran bernuansa modern tempat berlangsungnya reuni alumni tampak riuh dan penuh gelak tawa. Lampu-lampu gantung kristal membiaskan cahaya hangat, memperindah atmosfer pertemuan kembali teman-teman lama. Alana duduk di salah satu meja bundar, dikelilingi oleh rekan-rekan kuliahnya yang dulu sangat dekat dengannya.

​Untuk pertama kalinya setelah enam tahun mengurung diri dalam bayang-bayang penolakan dan pengorbanan yang tak pernah dihargai, Alana merasakan kembali sensasi menjadi dirinya sendiri. Dia tertawa lepas mendengar gurauan teman-teman wanitanya, berbagi cerita sukses tentang perkembangan toko kue Lumina Bakehouse, dan mendengarkan kisah hidup orang lain. Rona wajahnya yang anggun dan binar matanya yang hidup membuat Alana menjadi pusat perhatian yang menyenangkan di meja tersebut. Banyak teman lamanya berdecak kagum menatap betapa mandiri dan berkelasnya sosok Alana saat ini.

​Di saat Alana mulai menemukan kembali serpihan kebahagiaannya yang sempat hilang, hal sebaliknya justru terjadi pada Gema.

​Di kantornya yang megah di lantai paling atas gedung pencakar langit, Gema duduk mematung di balik meja kerja kayunya. Berkas-berkas laporan keuangan dan dokumen kerja sama penting menumpuk di hadapannya, tetapi tak satu pun kalimat yang berhasil dicerna oleh otaknya. Pikiran pria itu sepenuhnya tertahan pada peristiwa tadi pagi di teras rumahnya.

​Kata-kata Alana terus bergema di telinganya, memantul bagaikan pukulan bertubi-tubi yang meremukkan harga diri dan keangkuhannya.

​"Saya berdandan cantik pagi ini bukan untuk pria mana pun... dan yang paling penting, bukan untuk menarik perhatian Mas Gema lagi."

​Gema meremas pena di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak yang asing mendesak di dadanya sebuah perasaan panik, kehilangan, dan kehampaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Selama enam tahun, Gema selalu merasa aman. Dia selalu menganggap Alana akan tetap berada di sana: menunggu di pintu rumah, tersenyum meski diabaikan, dan selalu memaafkan setiap dingin dan ketusnya sikap yang dia lontarkan.

​Gema mengira Alana tidak akan pernah pergi. Pria itu mengira bahwa rasa cinta dan pengabdian Alana adalah sesuatu yang mutlak dan tak terbatas. Namun hari ini, Gema menyadari betapa fatal kekeliruannya. Keheningan dan kepatuhan Alana belakangan ini bukanlah bentuk perlawanan sementara, melainkan tanda dari seorang wanita yang sudah benar-benar selesai dengan rasa sakitnya.

​Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi eksekutifnya, memejamkan mata rapat-rapat. Tiba-tiba bayangan saat Tania kelepasan bicara tadi pagi melintas di benaknya.

​Pingsan... cairan di tangan... obat-obatan...

​Gema membuka matanya seketika. Sebuah kecurigaan yang tajam menelusup ke dalam pikirannya. Alana bilang dia hanya kelelahan dan terkena maag biasa.

"Tapi kenapa respons Tania dan Bi Sastro begitu tegang? Kenapa Maya harus mengantarkan obat khusus ke rumah?."

​Tanpa membuang waktu, Gema meraih ponsel pintarnya di meja. Tangannya yang biasa sangat tenang saat menandatangani dokumen miliaran rupiah, kini sedikit gemetar saat mencari nama sebuah kontak.

​Pria itu menekan tombol panggil ke nomor Maya kepala koki sekaligus kepercayaan Alana di toko kue.

​Nada dering terdengar beberapa kali sebelum akhirnya suara Maya menyapa dari seberang telepon dengan intonasi formal dan sedikit canggung.

​"Halo, selamat siang Pak Gema. Ada yang bisa saya bantu?"

​"Maya," suara Gema meluncur berat dan penuh penekanan. "Saya mau tanya satu hal, dan saya minta kamu jawab jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi."

​Di seberang sana, Maya sempat menghentikan napasnya sejenak. "Soal apa ya, Pak?"

​"Apa yang terjadi pada Alana dua hari lalu?" desak Gema, matanya memicing tajam menatap kaca jendela kantornya. "Tania bilang Alana sempat pingsan dan dipasangi infus. Alana sakit apa sebenarnya?"

​Keheningan yang tebal menggantung di seberang saluran telepon. Maya terdiam cukup lama, ragu antara menjaga amanat Alana atau meluapkan rasa gemasnya pada pria yang menjadi sumber penderitaan majikannya itu.

​"Maya, jawab saya!" tegas Gema dengan nada menuntut yang keras.

​Maya akhirnya menghela napas panjang. Rasa kasihan dan amarah yang tertahan di dada sang kepala koki akhirnya memuncak. Maya memutuskan bahwa sudah saatnya pria angkuh ini mengetahui kebenarannya.

​"Mbak Alana pingsan di toko dua hari lalu karena pendarahan lambung kronis, Pak Gema," jawab Maya dengan nada dingin dan lurus. "Kondisinya drop parah akibat stres berat yang menumpuk dan pola makan yang rusak. Dokter mengharuskan Mbak Alana dirawat inap di rumah sakit VIP selama beberapa hari."

​Brak.

​Pena di genggaman Gema terlepas dan jatuh menghempas meja. Darah serasa berdesir hebat meninggalkan wajah pria itu.

​"Dirawat inap... di rumah sakit?" bisik Gema tercekat. Suaranya mendadak serak dan kehilangan pijakan. "Kenapa... kenapa Alana tidak ada di rumah sakit saat saya pulang kemarin sore?"

​"Karena Mbak Alana memaksa keluar lebih cepat dan memilih rawat jalan!" potong Maya, suaranya kini menyiratkan ketegasan yang penuh kejujuran tajam.

"Mbak Alana tidak mau Pak Gema tahu. Beliau rela menahan sakit dan mengabaikan kesehatannya sendiri hanya karena takut Pak Gema akan marah, takut dikira membuat drama untuk mencari perhatian Pak Gema, dan takut mengganggu dinas Pak Gema di Surabaya!"

​Setiap kata yang meluncur dari mulut Maya menghantam kesadaran Gema bagaikan gada besi yang menghancurkan seluruh benteng keangkuhannya.

​"Mbak Alana melewati malam di rumah sakit itu sendirian, Pak," lanjut Maya, suaranya makin emosional. "Tanpa ada keluarga, tanpa ada suami yang mendampingi. Dan waktu Pak Gema pulang, bukannya ditanya keadaannya, Pak Gema malah menceramahi dan menuduh Mbak Alana yang tidak-tidak. Apa Pak Gema pernah sadar betapa hancurnya hati Mbak Alana selama ini?"

​Tuk.

​Maya memutus sambungan telepon secara sepihak, menyisakan suara nada tut-tut-tut yang menggema di ruang kerja Gema yang hening.

​Gema terduduk mematung di kursinya. Ponsel di tangannya terasa amat berat. Dada pria itu naik turun menahan gelombang rasa bersalah yang sangat dahsyat. Napasnya terasa sesak, seolah pasokan udara di dalam ruangan berpendingin itu mendadak menguap habis.

​Bayangan Alana yang terbaring lemas sendirian di ranjang rumah sakit yang dingin... bayangan wajah pucat istrinya di meja makan yang memaksakan diri tersenyum... dan ingatan akan kata-kata tajam yang selalu dia lontarkan pada Alana selama enam tahun ini kini berputar di kepalanya bagaikan mimpi buruk yang menyiksa.

​Gema menyertakan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya.

​Bukan Alana yang mencari perhatian. Bukan Alana yang berpura-pura tertindas. Alana-lah yang selama ini memendam seluruh penderitaannya di dalam diam, menelan sendiri semua penolakan dan luka yang sengaja Gema goreskan setiap hari. Gema ingat betul bagaimana dia menolak perhatian Alana, bagaimana dia membandingkan Alana, dan bagaimana dia selalu mengabaikan keberadaan wanita itu di rumah mereka sendiri.

​Rasa penyesalan yang teramat dalam dan terlambat merayap cepat, mengoyak-ngoyak sanubari pria yang selama ini merasa paling benar itu.

​Gema mendongak, matanya yang biasa dingin dan tajam kini memerah berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun sejak kematian Kirana, Gema merasakan rasa takut yang amat sangat bukan takut akan kegagalan bisnis atau kehilangan harta, melainkan ketakutan nyata akan kehilangan sosok wanita yang selama ini diam-diam telah menjadi bagian dari napas kehidupannya.

​Pria itu berdiri tergesa-gesa, meraih kunci mobilnya di meja, dan melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama Alana. Gema tahu, dinding yang dibangun Alana kini sudah terlampau tinggi dan dingin. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gema bertekad untuk meruntuhkan dinding itu, tak peduli seberapa keras dia harus berjuang untuk mendapatkan kembali kehangatan yang telah dia sia-siakan.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!