Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASEHAT SENIOR
Sambil mengenakan sepasang sarung tangan kain tipis yang disodorkan Wang Yun, Xiao Luo mulai berjongkok di samping petak-petak hidroponik yang tertata modern. Tangannya bergerak lincah mencabuti rumput-rumput liar yang mencuri nutrisi dari tanaman selada air dan pakcoy. Meski pekerjaannya tampak sederhana, berada di atas rooftop gedung pencakar langit dengan angin pagi yang sejuk memberikan ketenangan tersendiri setelah malam yang melelahkan.
"Oh ya, Kak," ujar Xiao Luo di tengah aktivitas mereka. "Tadi Sekretaris He bilang ada Dahui dan Yun Yi juga. Di mana mereka berdua?"
Wang Yun menunjuk ke sisi utara taman menggunakan sarung tangannya. "Dahui sedang mengecek sistem irigasi tetes di ujung sana, biasanya dia memang paling telaten mengurusi bagian mesin dan pipa air. Kalau Yun Yi... nah, itu dia orangnya."
Dari arah tangga darurat, seorang gadis yang Xiao Luo kenal dengan apron melangkah mendekat, membawa keranjang bambu kosong. Itulah Yun Yi, Office girl sekaligus anggota tim rooftop yang juga memegang tanggung jawab khusus sebagai pengolah hasil kebun untuk sajian eksklusif para petinggi perusahaan.
"Wah, kedatangan tenaga bantuan baru rupanya," sapa Yun Yi ramah begitu tiba di dekat mereka. Ia melirik Xiao Luo dengan senyuman lebar. "Pantas saja suasana kebun terasa jauh lebih segar hari ini. Oh ya, pagi tadi kenapa kamu tidak terlihat saat briefing?"
Xiao Luo sedikit tersentak, lalu tersenyum kikuk sambil merapikan helai rambutnya yang tertiup angin. "Maaf, Kak. Tadi malam aku kurang tidur, jadi tadi sempat bangun kesiangan dan berujung terlambat."
Mimik wajah Yun Yi yang tadinya santai berubah sedikit lebih serius, meski sorot matanya tetap memancarkan kehangatan seorang senior. "Lain kali jangan diulangi lagi, ya. Bekerja di lantai sembilan ini tidak sama rasanya dengan bekerja di divisi lantai bawah. Kita berada di lingkaran terdekat para petinggi perusahaan. Sedikit saja ada kecerobohan atau kesalahan fatal, bukan tidak mungkin kita langsung didepak. Jadi, cobalah mengatur waktu istirahatmu dengan lebih baik."
Mendengar nasihat itu, Xiao Luo mengangguk patuh dengan penuh kesadaran. "Baik, Kak... terima kasih banyak atas nasihatnya. Aku akan berusaha keras agar ke depannya tidak terlambat lagi."
"Baguslah kalau kamu mengerti," balas Yun Yi sambil tersenyum lega. "Tetapi tenang saja, selama kita bekerja dengan jujur, teliti, dan sungguh-sungguh, pihak manajemen juga tidak akan memecat karyawan secara membabi buta. Sudahlah... yang penting kamu ingat baik-baik pesanku tadi. Sekarang, yuk bantu aku memanen beberapa jenis sayuran segar ini." selada dan tomat ceri yang sudah matang? Sebentar lagi Dahui juga mau bergabung untuk membantu membawa keranjang panen ke lift servis."
"Boleh, Kak. Dengan senang hati," jawab Xiao Luo bersemangat.
Bagi Xiao Luo, tugas baru di kebun atap ini bukan sekadar rutinitas kantor tambahan. Diam-diam, pikirannya langsung melompat jauh melintasi dimensi. Melihat kesuburan tanaman organik modern di hadapannya membuatnya berpikir: Bagaimana jika bibit atau teknik pertanian modern seperti ini kelak juga diperkenalkan kepada keluarga Shen dan keluarga Xin di pulau pengasingan?
Tanah di pulau terpencil itu memang keras dan cuacanya tidak menentu, tetapi dengan pasokan metode dan bantuan logistik yang tepat, masalah pangan para orang buangan perlahan-lahan pasti bisa diatasi.
Sambil memetik buah tomat ceri merah yang ranum ke dalam keranjang, sudut bibir Xiao Luo terangkat membentuk senyuman tipis. Dunia modern dengan segala teknologinya dan dunia lampau dengan segala pergolakannya kini seolah berputar dalam poros yang sama di dalam kehidupannya. Dan ia, di tengah-tengah semua itu, bersiap menulis takdir baru yang sama sekali berbeda.Sambil membantu Yun Yi memilah tomat ceri dan menata sayuran ke dalam keranjang bambu, pikiran Xiao Luo kembali berputar pada dunianya yang lain. Pekerjaan di kantor mewah ini memberinya stabilitas finansial dan kedok yang sempurna, tetapi ikatan emosionalnya kini justru semakin kuat tertanam pada orang-orang buangan di pulau pengasingan.
Setelah keranjang panen terisi penuh, Dahui—pemuda bertubuh tegap yang tadi sibuk mengecek pipa—datang menghampiri sambil menyeka keringat di dahinya.
"Wah, hasil panen hari ini kelihatan segar sekali. Cocok untuk stok bahan makanan kalau sewaktu-waktu Tuan Besar datang mendadak," puji Dahui, lalu menatap Xiao Luo. "Omong-omong, selamat bergabung di tim rooftop, Xiao Luo. Jangan jera ya kalau nanti sering disuruh memanjat tangga ke sini."
"Tenang saja, Dahui. Xiao Luo ini anak yang rajin, tidak seperti kamu yang suka ngaret kalau disuruh bersih-bersih pipa," sahut Wang Yun berkelakar, memancing gelak tawa dari mereka berempat.
Suasana kerja di atas rooftop yang cair dan akrab membuat beban pikiran Xiao Luo sedikit terangkat. Setelah jam istirahat siang tiba, ia membantu Yun Yi membawa hasil panen ke dapur khusus yang ada di lantai sembilan. Barulah setelah itu ia kembali memegang peralatan pembersih untuk merapikan area lobi dan koridor lantai sembilan.
Namun, di balik kesibukan rutinitas kantornya, benak Xiao Luo tidak bisa lepas dari rencana besar yang telah ia diskusikan bersama keluarga Shen dan keluarga Xin semalam. Pembuatan pagar kayu yang mengelilingi sumur tua dan area kediaman utama di pulau pengasingan adalah langkah awal yang krusial. Begitu ia kembali ke sana, ia harus memastikan keamanan jalur lintas dimensi itu benar-benar terjaga dari intip-an para penjaga pulau yang licik.
Hari berlalu dengan cepat. Jam dinding di ruang istirahat karyawan menunjukkan pukul 17.00 sore, menandakan jam kerja resmi telah usai. Setelah memastikan seluruh sudut lantai sembilan kembali bersih dan steril, Xiao Luo berpamitan kepada rekan-rekannya dan melangkah keluar dari gedung pencakar langit.