NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Menyangka

Malam telah larut ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah Hansen dan Jihan.

Pintu mobil terbuka. Hansen turun dengan langkah sempoyongan. Aroma alkohol tercium kuat dari tubuhnya, sementara kemeja yang dikenakannya tampak kusut. Sejak meninggalkan kantor, laki-laki itu menghabiskan waktunya di sebuah bar, berusaha menenggelamkan kegelisahan yang sejak siang terus mengganggu pikirannya.

Namun, semakin banyak ia minum, semakin jelas bayangan Jihan memenuhi kepalanya.

Perempuan itu yang menolak rumah pemberiannya.

Perempuan itu yang tidak meminta sepeser pun hartanya.

Perempuan itu yang memilih pergi tanpa memohon agar pernikahan mereka dipertahankan.

Dan semakin Hansen memikirkannya, semakin besar pula kemarahannya.

Ia membuka pintu rumah menggunakan kunci yang masih dibawanya.

Di dalam, Jihan baru saja selesai membereskan beberapa pakaian yang akan dibawanya ke tempat tinggal baru. Mendengar pintu terbuka, ia menoleh. Senyumnya yang semula muncul karena mengira Hansen pulang seperti biasa langsung menghilang ketika mencium bau alkohol.

"Mas Hansen?"

Hansen tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekat, menatap Jihan dengan mata merah dan sorot yang sulit diartikan.

"Kenapa belum tidur?" tanyanya dengan suara berat.

"Saya masih merapikan barang-barang."

"Barang-barang untuk pindah?"

Jihan terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Iya. Tinggal beberapa lagi."

Jawaban sederhana itu membuat wajah Hansen mengeras.

"Bahkan sekarang pun kamu masih memikirkan kepergianmu?"

Jihan mengerutkan kening. "Mas, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kamu sedang mabuk."

"Aku tahu aku sedang mabuk!" bentak Hansen. "Aku masih tahu apa yang kulakukan!"

Jihan tersentak. Ia belum pernah melihat Hansen pulang dengan keadaan seperti itu, apalagi berbicara kepadanya dengan nada setinggi ini.

"Saya tidak bermaksud membuat Mas marah."

"Tidak bermaksud?" Hansen tertawa hambar. "Kamu sudah menyiapkan tempat tinggal baru, mengirim barang-barangmu, menolak semua yang kutawarkan, lalu sekarang masih berpura-pura tidak mengerti?"

Jihan menarik napas panjang.

"Mas Hansen sendiri yang meminta kita bercerai. Saya hanya berusaha menyelesaikan semuanya dengan baik."

Kalimat itu justru membuat Hansen semakin tersulut.

"Jadi, sekarang kamu menyalahkanku?"

"Saya tidak menyalahkan siapa pun."

"Lalu apa? Kamu benar-benar sudah tidak menginginkanku?"

Jihan menatap suaminya dengan mata lelah.

Pertanyaan itu terdengar begitu aneh. Selama bertahun-tahun, Hansen tidak pernah peduli apakah Jihan menginginkannya atau tidak. Laki-laki itu bahkan jarang bertanya tentang perasaannya.

Mengapa sekarang, ketika perceraian mereka sudah di depan mata, Hansen justru menuntut jawaban seperti itu?

"Mas, kita sebaiknya membicarakan ini besok. Sekarang kamu perlu istirahat."

Jihan berusaha melewatinya untuk mengambilkan air minum. Namun, Hansen meraih pergelangan tangannya.

"Mau ke mana?"

"Mengambilkan air untuk Mas."

"Aku tidak butuh air."

Cengkeramannya mengencang. Jihan meringis dan berusaha menarik tangannya.

"Mas, sakit."

Hansen akhirnya melepaskannya, tetapi hanya untuk berdiri lebih dekat.

"Aku suamimu, Jihan."

Jihan terdiam.

"Aku masih suamimu," ulang Hansen. Suaranya merendah, tetapi justru terdengar lebih mengancam. "Kita memang sedang mengurus perceraian, tetapi sampai semuanya selesai, kamu masih istriku."

Jihan mulai memahami arah pembicaraan itu. Seketika tubuhnya menegang.

"Mas, jangan."

Hansen menatapnya tajam. "Jangan apa?"

"Saya tidak mau."

Jawaban itu keluar pelan, tetapi tegas.

Untuk sesaat, Hansen terdiam. Seolah-olah ia tidak pernah membayangkan Jihan akan menolak dirinya secara langsung.

"Kamu menolakku?" tanyanya tidak percaya.

Jihan menelan ludah. "Mas sedang mabuk. Kita tidak seharusnya melakukan apa pun dalam keadaan seperti ini."

"Aku bertanya, apa kamu menolakku?"

"Mas, tolong dengarkan saya. Kita sedang dalam proses perceraian. Saya tidak ingin—"

"Diam!"

Bentakan itu membuat Jihan mundur selangkah.

Hansen yang selama ini selalu menjaga jarak darinya kini berdiri dengan kemarahan yang tidak bisa dipahami Jihan. Laki-laki itu menganggap penolakan tersebut sebagai penghinaan, seolah-olah Jihan sengaja mempermainkan harga dirinya.

Padahal, Jihan hanya sedang berusaha mempertahankan batas terakhir yang masih dimilikinya.

"Selama sepuluh tahun, kamu selalu ingin berada di dekatku," ujar Hansen dengan suara bergetar oleh amarah. "Sekarang, ketika aku mendekatimu, kamu justru menolakku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?"

Jihan menggeleng. Air matanya mulai menggenang.

"Saya tidak pernah meminta Mas melakukan apa pun. Saya hanya ingin kita menyelesaikan perceraian ini dengan baik."

"Perceraian lagi!" Hansen membentak. "Apa hanya itu yang ada di kepalamu?"

Jihan mencoba mundur, tetapi Hansen kembali menghadangnya.

"Mas, saya mohon. Jangan seperti ini."

Namun, Hansen tidak mendengarkan.

Malam itu, kemarahan, alkohol, dan egonya mengalahkan akal sehatnya. Ia mengabaikan penolakan Jihan, mengabaikan air mata yang mulai membasahi wajah perempuan itu, bahkan mengabaikan permohonan yang berkali-kali diucapkan kepadanya.

Jihan berusaha melepaskan diri.

"Mas, jangan! Saya tidak mau!"

Namun, suaranya tidak mampu menghentikan Hansen.

Ketika Jihan menyadari bahwa suaminya tidak akan mendengarkan, ketakutan perlahan menguasai dirinya. Ia tidak lagi berusaha membujuk Hansen agar memahami perasaannya. Ia hanya ingin semuanya segera berakhir.

Dan pada akhirnya, Jihan berhenti melawan.

Bukan karena ia menginginkannya.

Bukan karena penolakannya berubah menjadi persetujuan.

Melainkan karena ia kehabisan tenaga untuk mempertahankan dirinya dari orang yang seharusnya menghormati dan melindunginya.

Malam itu, Hansen melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Jihan akan dilakukan oleh suaminya sendiri.

Sesuatu yang tidak bisa dihapus hanya dengan permintaan maaf.

Sesuatu yang membuat seluruh kenangan tentang sepuluh tahun pernikahan mereka terasa semakin menyakitkan.

Beberapa waktu kemudian, kamar itu kembali sunyi.

Hansen tertidur dalam keadaan mabuk, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu, Jihan duduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar. Selimut menutupi tubuhnya, tetapi tidak mampu menghilangkan rasa dingin yang merayap hingga ke dalam dadanya.

Ia menatap laki-laki yang terbaring di sampingnya.

Laki-laki yang selama bertahun-tahun ia cintai.

Laki-laki yang kehadirannya selalu ia nantikan.

Laki-laki yang diam-diam masih ia harapkan akan berubah, bahkan ketika ia sudah memutuskan untuk pergi.

Air mata Jihan jatuh tanpa suara.

Selama ini, ia mengira permintaan cerai Hansen adalah luka terbesar yang harus diterimanya. Ia mengira berpisah dari laki-laki itu akan menjadi hal paling menyakitkan dalam hidupnya.

Ternyata ia salah.

Ada luka yang jauh lebih dalam ketika seseorang yang pernah kita cintai tidak lagi menghargai hak kita atas diri sendiri.

Jihan mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan isak yang terus mendesak keluar.

"Kenapa, Mas?" bisiknya lirih. "Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku?"

Tidak ada jawaban.

Hansen tetap tertidur.

Jihan menunduk, memeluk tubuhnya sendiri. Di dalam hati, masih ada sisa cinta yang selama ini berusaha ia kubur. Namun, malam itu, cinta tersebut bercampur dengan rasa sakit yang begitu besar hingga ia tidak tahu apakah masih sanggup menyebutnya cinta.

Ia teringat Raka.

Teringat ucapan putranya tentang rasa malu memiliki ibu yang pincang.

Teringat bagaimana Hansen tidak membelanya.

Dan sekarang, ia harus menghadapi kenyataan bahwa laki-laki yang menjadi alasan dirinya bertahan selama sepuluh tahun justru telah melukai dirinya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Jihan menoleh ke arah koper di sudut kamar.

Besok, ia akan pergi.

Tidak ada lagi alasan untuk menunda.

Tidak ada lagi harapan yang perlu dipertahankan.

Ia akan menyelesaikan proses perceraian itu dan meninggalkan rumah tersebut, meskipun hatinya harus hancur berkeping-keping.

Jihan mengusap air matanya sekali lagi, lalu berbisik kepada dirinya sendiri.

"Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, Mas. Aku sudah berusaha mencintaimu dengan segala kekuranganku."

Suaranya patah.

"Tapi aku juga manusia. Aku juga punya hati. Dan aku tidak pantas diperlakukan seperti ini."

Malam semakin larut.

Di luar kamar, rumah itu tetap sunyi. Tidak ada yang tahu bahwa di dalamnya, sesuatu yang begitu berharga telah hancur.

Dan Hansen, yang masih terlelap dalam pengaruh alkohol, belum menyadari bahwa ketika ia terbangun nanti, Jihan mungkin masih berada di rumah itu secara fisik.

Namun, hati perempuan yang selama sepuluh tahun selalu menunggunya pulang telah mengambil keputusan untuk pergi.

Kali ini, Jihan tidak akan pergi untuk membuat Hansen mengejarnya.

Ia akan pergi karena dirinya sendiri tidak sanggup lagi bertahan.

Bersambung...

1
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
sunaryati jarum
Semoga nanti.Jihan memberi kabar Hanzen
Setyowati Setyowati
lanjut lagi Thor..sangat bagus ceritanya
sunaryati jarum
Segera telpon tanya keadaan putramu ,Jihan.Dia sakit dan mencarimu
Setyowati Setyowati
episode ini ikut nangiss Thor 😭😭
sunaryati jarum
Jika kau hamil itu Reziky yang patut disyukuri, tetap beritahukan pada Hanzen.
Halimah
Lama" bosmu jd gila itu Juan🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!