Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebakaran
Siang itu, matahari membakar desa pesisir dengan terik yang menyengat. Angin kering berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan pohon kelapa di sepanjang jalanan tanah.
Radhit masih setia berada di desa itu. Pria kaya raya yang biasa hidup nyaman di ruangan ber-AC itu kini duduk di bangku kayu dekat dermaga tua, menatap nanar ke arah warung kue Vivian dari kejauhan. Wajahnya makin tirus, matanya sembap, dan penampilannya jauh dari kata rapi.
Ia hanya ingin menjaga Vivian dan Bumi dari jauh. Memastikan mereka aman, meski hadirnya tak lagi diharapkan.
Tiba-tiba...
"KEBAKARAN! KEBAKARAN DI PUSKESMAS KECIL!"
Teriakan histeris warga pecah membakar keheningan siang!
Asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara dari arah bangunan puskesmas kayu di ujung jalan desa. Api menjalar sangat cepat, dilalap oleh angin laut yang berembus kencang dan dinding kayu yang mulai melapuk.
DEG.
Jantung Radhit berhenti berdetak seketika saat melihat Vivian berlari histeris dari arah warung menuju bangunan yang terbakar itu.
"Bumi! BUMIII!" jerit Vivian melengking, suaranya pecah dipenuhi ketakutan yang luar biasa.
Ternyata, beberapa menit sebelum kejadian, Julian membawa Bumi ke puskesmas untuk mengambil vitamin. Namun saat kebakaran terjadi akibat ledakan tabung gas di dapur belakang, Bumi yang sedang tertidur di ruang tunggu terisolasi oleh kobaran api yang mendadak membesar!
"Mbak Vivian, jangan masuk! Apinya terlalu besar!" teriak Julian seraya menahan tubuh Vivian yang mencoba menerobos kobaran api. Wajah Julian penuh jelaga, pakaiannya koyak akibat mencoba menembus ruang tengah yang sudah ambruk.
"Lepasin aku, Dok! Anak aku di dalam! BUMI! IBU DI SINI, NAK!" raung Vivian histeris. Air mata ketakutan membasahi wajahnya yang pucat. Ia meronta-ronta gila, siap mengorbankan nyawanya sendiri demi menembus lautan api itu.
"Lantai duanya mau ambruk! Jangan masuk, berbahaya!" jerit warga desa seraya menyiramkan air seadanya dengan ember.
Dari tengah asap hitam yang membumbung, terdengar suara jeritan mungil yang sangat samar dan ketakutan dari balik jendela lantai dua yang terkepung api.
"Ibu... Ibuuu! Bumi takut... UHUK... Ibuuu!"
DUAR!
Suara tangisan anak mungil itu bagaikan lecutan cambuk beracun yang menghantam jiwa Radhit!
Tanpa berpikir panjang, tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Radhit berlari kencang membelah kerumunan warga!
"MAS RADHIT! MAU KE MANA?!" teriak Vivian saat melihat sosok mantan suaminya itu menerobos barikade warga.
Radhit meraih sebuah karung goni bekas di tepi jalan, menyiramkan sisa air ember ke tubuh dan kepalanya, lalu menatap Vivian sekilas di tengah riuhnya kepulan asap.
Tatapan mata Radhit saat itu... tidak lagi memancarkan keangkuhan. Hanya ada ketulusan, rasa cinta yang mendalam, dan keputusasaan seorang ayah yang siap menukar nyawanya demi sang anak.
"Vivian..." panggil Radhit seraya tersenyum tipis di balik selimut asap, suaranya begitu lembut namun bergetar.
"Maafin saya atas semua luka di masa lalu... Tolong jaga diri kamu baik-baik..."
"Mas Radhit, jangan! APINYA BESAR!" jerit Vivian dengan mata membelalak lebar.
Namun Radhit tidak peduli. Pria bersetelan kemeja mahal itu langsung menerobos masuk melompati kobaran api yang melahap pintu depan puskesmas!
BAM!
Dinding kayu puskesmas ambruk tepat setelah Radhit berhasil menembus bagian dalam bangunan!
"MAS RADHIT!" jerit Vivian histeris, jatuh berlutut di tanah berdebu seraya mencengkeram dadanya yang terasa mau pecah.
Di dalam bangunan yang membara bagai neraka itu, hawa panas membakar kulit dan asap pekat menggerogoti paru-paru Radhit. Pria itu terbatuk-batuk hebat, matanya perih menembus kepulan asap tebal. Dinding-dinding kayu berjatuhan di sekitarnya.
"Bumi! Jagoan Ayah... kamu di mana?!" teriak Radhit dengan suara parau seraya menahan rasa sakit saat balok kayu membara menggores lengannya.
"P-Paman... Bumi di sini..." suara rintihan lemah terdengar dari balik lemari kayu yang roboh di sudut ruangan lantai atas.
Radhit merayap menaiki tangga kayu yang hampir runtuh. Matanya menangkap sosok balita mungil itu terhimpit di sudut ruangan, batuk-batuk hebat dengan wajah penuh jelaga hitam.
"Bumi!" Radhit merangkak cepat, melompati kayu membara, lalu mengarungi asap pekat demi merengkuh tubuh kecil anaknya ke dalam dekapannya.
Radhit memeluk erat Bumi, menjadikan tubuh besarnya sendiri sebagai perisai dari percikan api dan reruntuhan kayu yang jatuh bertubi-tubi.
"Gak apa-apa, Nak... Ayah di sini... Ayah jaga kamu..." bisik Radhit menangis haru seraya menciumi kepala anaknya yang bergetar ketakutan.
Bumi yang lelah dan kehabisan oksigen meremas kemeja Radhit yang panas. "Paman... panas..." bisiknya luntur.
"Tahan sebentar ya, Sayang..." Radhit melepas jas tebalnya, membalutkan tubuh mungil Bumi rapat-rapat, lalu melangkah menerobos lautan api untuk turun ke lantai bawah.
Namun, tepat saat Radhit berada di ambang pintu keluar...
KRAAAK... BRAAAKKK!
Sebuah balok kayu atap yang sangat besar dan menyala membara runtuh dari langit-langit, menghantam keras tepat di punggung dan kepala belakang Radhit!
"AAAGHHHHH!"
Jeritan kesakitan Radhit menggelegar menembus deru kobaran api!
Darah segar menyembur keluar dari mulut Radhit, membasahi kain pelindung Bumi. Tubuh Radhit ambruk ke tanah berdebu di teras puskesmas. Namun, meski kesadarannya mulai menghilang dan badannya tertindih kayu membara, kedua lengan Radhit tetap mendekap erat tubuh Bumi. melindunginya agar tidak tersentuh api sedikit pun!
"B-Bumi..." bisik Radhit lirih dengan sisa-sisa nafasnya, sebelum akhirnya memeluk erat anak itu dan mendorongnya keluar ke pangkuan warga yang histeris.
"ANAKNYA SELAMAT! BUMI SELAMAT!" teriak warga seraya menarik tubuh balita itu dari dekapan Radhit.
Vivian memburu maju, menangis histeris memeluk Bumi yang terbatuk-batuk namun dalam kondisi utuh tanpa luka bakar sedikit pun.
"Anakku... Ya Allah, Bumi..." tangis Vivian pecah menciumi anaknya.
Namun, saat Vivian menoleh ke arah sosok pria yang tergeletak di tanah...
Radhit terbaring kaku. Punggung dan kepalanya bersimbah darah berpadu dengan luka bakar yang memilukan. Matanya yang redup menatap wajah Vivian untuk terakhir kalinya sebelum kelopak matanya tertutup perlahan.
"M-Mas... Radhit...?" panggil Vivian dengan suara bergetar hebat. Tubuhnya mendadak membeku kaku saat melihat darah segar mengalir deras dari kepala pria yang dulu sangat dibencinya itu.
Bip... Bip... Bip...
"Denyut nadinya sangat lemah! Dia kehabisan banyak darah dan mengalami trauma kepala berat!" teriak Julian panik setelah memeriksa leher Radhit. "Cepat bawa ke ambulan! Pria ini bisa meninggal dalam hitungan menit!"
DEG.
Dunia Vivian seketika menjadi gelap gulita.
Pria yang dulu menghancurkan hidupnya... kini terbaring tak bernyawa setelah mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan anak mereka.
Saat ambulan melaju kencang menembus kegelapan menuju rumah sakit kota, genggaman tangan Radhit yang dingin dan terkulai lemas mendadak meremas pelan ujung kain gaun Vivian.
Di antara hembusan napasnya yang hampir terputus di atas tabung oksigen, bibir Radhit yang pecah-pecah berbisik lirih tanpa suara:
"V-Vivian... maafin... Mas... Ya..."
Lalu, monitor detak jantung di samping ranjang ambulan mendadak mengeluarkan suara berdengung panjang yang mengerikan!
BIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP!
Garis merah di layar monitor berubah lurus datar!
"DOKTER! DETAK JANTUNG PASIEN BERHENTI!" teriak perawat panik.
Vivian membelalak lebar, air matanya menetes deras membasahi jemari dingin Radhit.
Apakah penyesalan Radhit harus berakhir dengan kematian di depan mata wanita dan anak yang baru saja ditemukannya? Ataukah masih ada keajaiban untuk penebusan dosa terakhirnya?
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian