Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
****
Suara ketukan sepatu tumit tinggi milik Clara terdengar makin nyaring menghentak lantai marmer lorong privat. Setiap pijakan kakinya bagaikan detak jarum jam yang menghitung mundur kehancuran Lyn.
Di dalam ruang kerja yang remang dan terkunci rapat, tubuh Lyn menegang hebat. Ia tersudut kaku di antara pintu kayu mahoni yang kaku dan tubuh tegap Wiliam yang mengurungnya tanpa celah. Sensasi dingin kayu pintu di punggungnya beradu tajam dengan kehangatan membakar dari dada bidang pria paruh baya di hadapannya.
"C-Clara... dia mendekat, Wiliam..." bisik Lyn dengan suara yang nyaris tak terdengar, bergetar hebat oleh kombinasi rasa takut yang luar biasa dan gejolak asing yang memabukkan.
Wiliam tidak menunjukkan sedikit pun riak kepanikan di wajah tampan bergaris tegas itu. Sebaliknya, mata sehitam jelaga milik pria matang itu justru berkilat memancarkan kepuasan dan dominasi mutlak. Senyum tipis yang penuh kemenangan terukir di sudut bibirnya saat mendengar betapa paniknya gadis berusia 21 tahun di kungkungannya.
"Biarkan dia mendekat, Little Lady," bisik Wiliam tepat di pelipis Lyn. Suaranya yang amat rendah dan berat membuat dada Lyn bergetar.
"S-saya mohon... lepaskan saya dulu..." Lyn berusaha meremas kain kemeja hitam Wiliam, berniat menolak, namun seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas tak berdaya.
Sentuhan Wiliam justru makin berani dan liar. Sebelah tangan besarnya yang hangat menyusup ke balik gaun sutra hitam Lyn, membelai lembut area sensitif di atas buah dada manis gadis itu, sementara jemari tangannya yang lain dengan kelihaian pria dewasa meluncur ke bawah, menelusuri lekuk tubuh Lyn hingga menyentuh area inti yang mulai memanas dan basah di balik kain tipisnya.
DEG.
Mata jernih Lyn membelalak sempurna. Sensasi sentuhan yang begitu intim dan terlarang di tempat tersembunyi itu mengirimkan gelombang sengatan listrik yang dahsyat ke seluruh sarafnya.
"Ngg... hmph!"
Sebuah lenguhan kenikmatan nyaris lolos dari tenggorokan Lyn. Namun sebelum suara bernada pasrah itu sempat terdengar keluar ruangan, Wiliam menundukkan kepalanya dengan amat cepat. Bibir tebal nan hangat milik sang tuan langsung membungkam dan menyesap bibir mungil Lyn secara posesif dan penuh tekanan.
Wiliam melumat bibir manis Lyn dengan sangat pekat, menyerap setiap helaan napas panik dan desahan nikmat yang hendak keluar. Lidahnya menyusup lihai, menuntut kepatuhan mutlak saat jemari tangannya di bawah sana mempermainkan titik peka Lyn dengan ritme yang lambat namun memabukkan.
Di luar pintu, langkah kaki Clara terhenti tepat di depan ambang pintu ruang kerja.
KLAK.
Gagang pintu kayu itu terangkat dan diputar dari luar.
Lyn memejamkan matanya erat-erat dalam ciuman Wiliam. Air mata kepasrahan dan rasa takut menetes pelan membasahi pipinya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Jika pintu itu terbuka, jika Clara menggunakan kunci cadangan... habis sudah seluruh dunianya.
Namun, pintu itu terkunci rapat dari dalam.
"Lho? Terkunci?" suara Clara terdengar sangat jelas dari balik pintu yang tipis, hanya berjarak beberapa sentimeter dari punggung Lyn. "Aneh... bukannya Papa tadi bilang mau mengambil dokumen di sini? Apa Papa sudah kembali ke pesta, ya?"
Di dalam ruangan, Wiliam makin memperdalam gesekan jemarinya di area sensitif Lyn, menikmati bagaimana tubuh lugu gadis muda itu gemetar hebat dalam kungkungannya. Tatapan mata Wiliam yang tajam dan sarat akan kemenangan terus mengunci mata Lyn yang basah oleh air mata. Sensasi terlarang karena nyaris tertahuan di balik pintu justru membakar daya pikat pria paruh baya itu hingga ke tingkat yang paling ekstrem.
Lyn harus menggigit bibir bawahnya sendiri di sela-sela ciuman Wiliam demi menahan desahan nikmat yang membuncah hebat di dadanya. Daya pikat pria di usia ayahnya ini benar-benar melumpuhkan seluruh logika dan rasa bersalahnya.
"Lyn... kamu di mana sih?" gumam Clara di luar lorong, suaranya perlahan makin menjauh seiring dengan ketukan sepatu tumit tingginya yang kembali melangkah pergi menuju aula utama.
Setelah suara langkah kaki Clara benar-benar menghilang dan keheningan kembali menguasai koridor privat, Wiliam secara perlahan melepaskan tautan bibirnya dari bibir Lyn.
Napas Lyn memburu dengan dada yang naik-turun tak beraturan. Wajah manisnya memerah padam, dan matanya sayu memancarkan kepasrahan total di bawah tatapan sang tuan.
"Lihat?" bisik Wiliam seraya mengusap jejak air mata di pipi Lyn dengan ibu jarinya yang hangat. "Aku sudah memberitahumu... tidak ada yang bisa menyentuhmu atau membongkar rahasia kita selama kamu berada di dalam kendaliku."
Lyn menundukkan kepalanya lemas, menyandarkan dahi yang berkeringat dingin pada dada bidang Wiliam yang kokoh. "Wiliam... ini gila... saya nyaris mati berdiri karena takut..."
Wiliam terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang sarat akan rasa kepemilikan. Pria paruh baya itu merapikan gaun hitam Lyn yang sedikit berantakan, lalu melepaskan jemarinya dari area sensitif gadis itu dengan sangat perlahan, meninggalkan sensasi denyut hangat yang membakar kulit Lyn.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Lyn untuk memprotes lagi, Wiliam menggenggam jemari mungil Lyn dan membimbingnya melangkah menuju pintu rahasia di balik rak buku besar—sebuah jalur privat yang menghubungkan ruang kerja langsung ke kamar utama lantai atas tanpa harus melewati lorong umum villa.
Suasana kamar tidur pribadi milik Wiliam begitu tenang dan beraroma sandalwood yang pekat. Cahaya lampu dinding berwarna keemasan menyinari ranjang king size yang megah dan sofa kulit mahal di sudut ruangan.
Wiliam menutup pintu rapat-rapt, lalu membalikkan badan menghadapi Lyn yang berdiri gemetar di tengah ruangan.
"Duduklah, Lyn," perintah Wiliam dengan nada suara yang tenang namun tidak menerima bantahan.
Lyn melangkah canggung dan duduk di tepi ranjang. Ia meremas jemari tangannya yang dingin di atas pangkuan gaun sutranya.
Wiliam melepaskan jas tuxedo-nya, melonggarkan dasi kupu-kupu yang melilit lehernya, lalu melangkah mendekati Lyn. Pria paruh baya itu berlutut dengan satu kaki di hadapan Lyn, menyejajarkan tingginya dengan gadis muda itu. Tangan besarnya yang hangat terangkat, menangkup kedua belah pipi Lyn agar mata jernih itu menatap lurus ke dalam matanya yang sehitam malam.
"Malam ini kamu sudah melihat sendiri betapa rapuhnya posisimu di luar sana," ujar Wiliam dengan suara beratnya yang mengintimidasi sekaligus menenangkan. "Mantan kekasihmu yang tak berguna, pria-pria muda seperti Julian yang memandangmu seperti mangsa... dan ketakutanmu pada Clara."
Mata Lyn berkaca-kaca. "Wiliam... saya hanya tidak ingin menyakiti Clara..."
"Kalau begitu, dengarkan aku baik-baik, Little Lady," potong Wiliam tegas, ibu jarinya mengusap bibir mungil Lyn yang sedikit bengkak akibat ciuman panas mereka tadi. "Aku tidak akan biarkan kamu melangkah keluar dari rumah ini sebagai gadis yang bisa dipermainkan oleh siapa pun lagi."
"M-maksud Anda...?"
Wiliam menyunggingkan senyum dominan yang sangat memikat. "Mulai malam ini, kita akan membuat ikatan rahasia. Kamu akan tetap berada di sisiku, menerima seluruh perlindunganku, kekuasaanku, dan kemewahan yang kubuka untukmu. Sebagai gantinya... kamu hanya milikku. Kamu tidak boleh menatap pria lain, dan kamu tidak boleh mencoba lari dariku lagi."
Lyn menahan napasnya. "Wiliam... itu... itu sama saja mengurung saya..."
"Bukan mengurungmu, Lyn," bisik Wiliam tepat di depan wajah Lyn, napas hangatnya yang beraroma whisky menyapu kulit halus gadis itu. "Ini adalah janji bahwa kamu aman di bawah kuasaku. Janji bahwa aku akan menghancurkan siapa pun yang berani menyakiti atau mengambilmu dariku."
Daya pikat pria matang yang penuh kekuasaan dan proteksi mutlak ini meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diri Lyn. Di tengah rasa bersalah pada sahabatnya, kepolosan Lyn tak sanggup menolak pesona dan rasa aman yang ditawarkan oleh ayah dari sahabatnya sendiri.
Lyn mengangguk pelan secara pasrah, membiarkan jemari besarnya menyusup ke balik rambutnya. "S-saya berjanji... Wiliam..." bisik Lyn dengan suara yang tenggelam dalam kepasrahan emosional.
Wiliam tersenyum puas. Pria paruh baya itu mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan yang dalam dan lama di dahi Lyn, mengunci ikatan terlarang di antara mereka di dalam kamar yang sunyi.
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻