Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Langkah kaki Bella mendadak terhenti setelah keluar dari kamar. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar, sesak dan menyakitkan. Ketika dia melihat kakak keduanya yang bernama Aaron menemui pelayan dirumah nya.
"Jangan biarkan dia menyentuh barang Olivia... barang yang pernah disentuhnya membuat Olivia tak nyaman." Ucapnya pada pelayan
"Baik tuan muda Aaron"! Jawab pelayan tersebut dengan hormat pada tuan muda di rumah ini.
Bella yanga mendengar hal itu sangat sakit hati dan dia mencengkeram erat pinggiran railing tangga hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia" yang dimaksud Aaron sudah pasti adalah dirinya.
Mendengar jawaban patuh dari pelayan tersebut, Aaron hanya mengangguk dingin sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi tanpa tahu bahwa Bella telah menyaksikan seluruh interaksi tersebut dari balik pilar tangga.
Pelayan itu, yang menyadari suasana canggung dan tegang jika Bella sampai mendengar, segera menundukkan kepala dalam-dalam dan bergegas pergi menuju dapur, meninggalkan Bella sendirian dalam keheningan yang menyiksa.
Bella segera memutar tubuhnya untuk kembali ke atas, berusaha melarikan diri sebelum air matanya tumpah. Namun, baru memutar tubuhnya dia melihat sosok Olivia menaiki tangga dan mereka berpapasan di atas.
Mata mereka beradu dan Olivia menyapa kakaknya dengan senyum polosnya, membuat atmosfer di sekitar mereka seketika terasa mencekam."Eh, Kak Bella?" sapa Olivia dengan nada suara yang terdengar begitu lembut dan polos. "Kakak mau ke bawah juga?"
Mendengar sebutan 'kakak. Bella hanya menganguk kepalanya saja dan Olivia masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya Olivia tidak membenciku seperti kakak-kakakku yang lainnya, hanya saja dia tidak akrab denganku, dan aku tidak bisa menyalahkannya karena dia tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu.
Sejak kecil dia sangat disayang dan selalu dimanjakan sama saudara-saudaraku. Dan dia juga tahu itu, dia adalah bintang kecil yang dipertahankan mama dengan nyawanya. Kehadiran Olivia dibayar dengan helaan napas terakhir Mama di ruang bersalin belasan tahun lalu. Dan di mata ketiga kakak laki-lakiku,
akulah alasan mengapa Mama harus bertaruh nyawa malam itu—akulah si pembawa sial yang membuat mereka kehilangan sosok ibu, ayah dan juga kakekku.
Dan aku melihat seisi koridor rumah yang ada foto disana ada kk Ethan, kk Aaron, kk charles dan juga Olivia yang ada di pangkuan kk Ethan tapi fotoku satupun tidak ada disana
Rasa tersisih itu semakin nyata ketika aku melangkah keluar dari gudang dan menatap dinding koridor utama rumah. Tidak ada satu pun fotoku di sana.
Di sepanjang dinding yang megah itu, berjejer rapi bingkai-bingkai foto keluarga berukuran besar. Ada foto Kak Ethan, Kak Aaron, dan Kak Charles. Di tengah-tengah mereka, ada Olivia yang sedang tertawa lebar di pangkuan Kak Ethan, diperlakukan layaknya seorang putri kerajaan.
Rumah ini merekam seluruh pertumbuhan Olivia dengan sangat detail, namun menghapus jejak keberadaanku sepenuhnya. Seolah-olah sejak awal, aku memang tidak pernah dilahirkan di keluarga ini.
Dan aku yang tidak tahan dengan semua ini akhirnya aku berlari ke dalam kamar gudangku dan menangis di sana sejadi-jadinya. Aku menumpahkan seluruh rasa sakit yang telah kupendam belasan tahun di atas kasur tipisku.
Setelah aku menangis sepuasnya, aku menghapus sisa air mata di pipi dan menguatkan diriku sendiri.
Begitulah aku di rumah yang besar dan megah ini yang tak pernah dianggap ada dan yang tak pernah diinginkan oleh siapapun. Tidak ada yang peduli dan tidak ada yang khawatir padaku dalam hal apapun.
Aku hidup bagai bayangan yang bernapas di dalam kegelapan.
Hingga pada ulang tahunku yang ke dua puluh lima tahun ini, aku akhirnya melihat hari kematianku sendiri di telapak tanganku, seperti yang pernah kulihat di telapak tangan orang tuaku dulu.
Aku menatap telapak tangan kananku yang gemetar di bawah temaram lampu gudang yang berkedip-kedip. Garis-garis halus di kulitku mendadak tampak bersinar dengan warna merah pekat yang mengerikan.
Dulu, saat aku masih kecil, aku melihat di telapak tangan Kakek tanggal kematiannya, dan tak lama kemudian dia benar-benar terjatuh di tangga hingga mengembuskan napas terakhir.
Setelah dua tahun kemudian, aku juga melihat tanggal kematian kedua orang tuaku di telapak tangan mereka. Aku sudah mencoba menangis dan memohon agar papa tidak pergi hari itu, tetapi tidak ada yang mendengarkan anak kecil ini. Papa saat itu sedang mengendarai mobil dan terjadilah kecelakaan beruntun yang merenggut nyawanya seketika. Di hari yang sama, Mama juga meninggal di rumah sakit saat melahirkan Olivia. Mama yang sedang berjuang di ruang bersalin mendadak syok berat mendengar kabar kepergian Papa. Jantungnya tidak kuat menahan kesedihan itu.
Dan dari sanalah kakak-kakakku membenciku dan mengatakan kalau aku pembawa sial.
Bagi Kak Ethan, Kak Aaron, dan Kak Charles, akulah pembunuh yang sesungguhnya. Mereka tidak menyalahkan takdir; mereka menyalahkan sepasang mata dan telapak tanganku yang bisa membaca kematian. Mereka menganggap kata-kataku sebagai kutukan yang mencabut nyawa Kakek, Papa, dan Mama sekaligus. Sejak hari mengerikan itu, statusku turun drastis dari seorang anak menjadi monster pembawa sial yang dikurung di dalam gudang lantai tiga.
Aku kembali menatap lekat-lekat angka dan tanggal yang terukir di telapak tanganku sendiri malam ini. Tanggal kematianku.
Jika penglihatan ini sama akuratnya dengan kematian Kakek dan orang tuaku dulu, artinya sisa umurku tidak akan lewat dari tahun ini. Di rumah yang megah namun dingin ini, hidupku akan berakhir tragis tanpa pernah sekali pun merasakan pelukan hangat sebuah keluarga setelah belasan tahun lamanya.
Namun, ada satu hal yang berbeda kali ini. Dulu aku hanya seorang anak kecil tak berdaya yang bisa melihat kematian orang lain tanpa bisa mengubahnya. Sekarang, yang tertulis di sini adalah kematianku sendiri.
Bertahan selama bertahun-tahun, akhirnya aku bebas," batinku di dalam hati sambil tersenyum, pada saat aku di dalam kamar gudangku meratapi nasib yang sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini.
Langkah kaki Bella terhenti tepat di ambang pintu dapur. Dari dalam ruangan yang harum oleh aroma masakan itu, samar-samar ia mendengar percakapan beberapa pelayan yang sedang sibuk.
"Sarang walet untuk Tuan Putri Kecil sudah aku masakkan lebih awal," seru pelayan bernama Marni. "Tuan Putri Kecil tidak suka terlalu manis, jadi gula batunya sengaja dikurangi."
"Itu Tuan Muda Kedua yang memesannya?" tanya Bi Ayu sembari tangannya telaten mengaduk bubur di atas kompor untuk Olivia—Tuan Putri Kecil baru di rumah ini.
"Iya, Tuan Muda Kedua yang mengirim pesan. Dia juga khusus berpesan untuk memakai mangkuk yang ini untuk Tuan Putri Kecil," sambung Bi Marni seraya menunjukkan sebuah mangkuk porselen yang indah.
Namun, obrolan hangat itu mendadak terhenti. Atmosfer di dapur seketika berubah canggung saat sosok Bella—nona besar di rumah itu—melangkah masuk menemui mereka.
"Eh, Nona Besar!" Bi Marni terlonjak kaget. "Kenapa Anda turun ke dapur?"
"Aku ingin makan sesuatu," ujar Bella datar, berusaha mengabaikan rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya akibat perhatian berlebihan yang baru saja ia dengar.
Mendengar permintaan itu, Bi Marni dan Bi Ayu saling berpandangan dengan raut wajah serba salah.
"Aduh, maaf, Nona Besar... makanan ini semua disiapkan khusus untuk Tuan Putri Kecil," jawab Bi Marni dengan sangat hati-hati, takut menyinggung perasaan Bella namun tidak berani melanggar perintah para majikan laki-lakinya.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~