Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Ketenangan yang Terusik
Rendra kembali mencoba menghubungi Tantya. Sudah berkali-kali ia menekan nomor ponsel istrinya itu, tetapi tak satu pun panggilannya dijawab. Semakin lama, wajah Rendra semakin terlihat kesal. Ia menurunkan ponselnya, lalu mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tengah.
"Bu, Tya nggak mengangkat teleponnya,” keluh Rendra.
Bu Martha yang mendengar laporan itu langsung menunjukkan wajah masam. Dahinya berkerut, sementara bibirnya mengatup rapat menahan kekesalan. "Kurang ajar!” gerutunya.
"Ditelepon berkali-kali malah nggak mau mengangkat. Memangnya dia pikir dia itu siapa?”
Rendra tidak menjawab. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa. Sejak Tantya meninggalkan rumah, istrinya itu seolah sengaja menjauh dan tidak ingin diganggu. Namun, ada urusan yang membuat mereka harus datang ke tempat Tantya berada.
"Ya sudah, pakai mobil kita saja, Bu,” sahut Arya yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.
Bu Martha menoleh, lalu mengamati Arya dengan tatapan kurang yakin.
"Tapi mobilmu kecil. Bagaimana nanti kalau barang-barangnya banyak?”
Arya mengangkat bahu, berusaha meyakinkan ibunya bahwa masalah itu bukan sesuatu yang perlu dipusingkan. "Nggak apa-apa, Bu. Nanti diatur saja. Kalau nggak bisa diangkut sekali jalan, ya kita kembali lagi. Yang penting berangkat dulu.”
Bu Martha terdiam sejenak. Sebenarnya ia kurang puas dengan usulan tersebut. Ia ingin semuanya berjalan praktis tanpa harus bolak-balik, tetapi tidak ada pilihan lain jika mereka tetap ingin menggunakan mobil yang tersedia.
"Ya sudah, kalau begitu,” putusnya akhirnya. Niken yang sedang menyisiri rambut anaknya ikut angkat bicara. Ia melirik Rendra yang masih berdiri dengan wajah kesal karena Tantya tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Mas, susul Mbak Tya ke sana. Jangan seenaknya saja bawa mobil, padahal mobil itu kan sekali-sekali bisa dimanfaatkan,” ujar Niken.
Rendra menoleh kepada adiknya. “Iya, siap. Bentar lagi aku ke sana.”
"Jangan bentar lagi terus, Mas. Kalau memang ada perlu, ya datangi langsung. Dari tadi menelepon terus, tetapi nggak diangkat juga kan?”
Rendra menghela napas. Ia malas berdebat dengan adiknya sendiri. Setelah memasukkan ponsel ke saku celana, ia pun bersiap untuk pergi menemui Tantya.
Rendra akhirnya keluar dari rumah setelah berpamitan sekadarnya kepada ibunya. Ia memutuskan memesan ojek online untuk pergi ke rumah mertuanya. Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama, terlebih setelah berkali-kali menghubungi Tantya tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Tak berapa lama, pengemudi ojek online yang dipesannya tiba. Rendra segera menghampiri motor tersebut, memastikan tujuan yang tertera di aplikasi, lalu naik ke jok belakang.
"Ke alamat yang di aplikasi, ya, Pak.” katanya singkat.
"Baik, Mas.”
Motor pun melaju meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan, Rendra tampak gelisah. Sesekali ia membuka ponselnya, memeriksa apakah ada pesan atau panggilan dari Tantya. Namun, layar ponselnya tetap tidak menunjukkan pemberitahuan apa pun dari sang istri.
Kekesalannya semakin bertambah. Memangnya dia pikir bisa seenaknya saja mengabaikan teleponku? gerutunya dalam hati. Rendra merasa Tantya sengaja menghindarinya. Ia sama sekali tidak mencoba memikirkan alasan istrinya pulang ke rumah ibunya. Baginya, tindakan Tantya sudah keterlaluan, apalagi sekarang perempuan itu bahkan tidak bersedia menjawab teleponnya.
Motor terus melaju melewati jalanan yang mulai ramai. Beberapa kali pengemudi harus memperlambat kendaraan karena kondisi lalu lintas yang padat. Rendra hanya bisa duduk dengan wajah masam, sesekali melihat ke arah jalan, berharap perjalanan segera berakhir.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di depan rumah ibu Tantya.
"Sudah sampai, Mas.”
Rendra turun, kemudian menyelesaikan pembayaran melalui aplikasi. Setelah mengucapkan terima kasih singkat kepada pengemudi, ia langsung melangkah menuju rumah mertuanya.
Dari luar, ia mendengar suara plastik berkeresek dan kardus yang sesekali bergeser. Pintu rumah terbuka, memperlihatkan beberapa tumpukan kardus di ruang tengah.
Ternyata, Tantya sedang sibuk membantu Tara, adik laki-lakinya, mengemas pesanan camilan yang masuk melalui toko online mereka.
Di hadapan Tantya, terdapat aneka keripik dan makanan ringan khas Jawa Barat. Ada keripik singkong, keripik pisang, aneka seblak kering, serta beberapa jenis camilan lainnya. Semuanya sudah disiapkan dalam kemasan plastik yang nantinya akan dimasukkan ke dalam kardus untuk dikirim kepada para pembeli.
Tantya mengambil sebungkus keripik, memeriksa kembali kemasannya, lalu memasukkannya ke dalam kardus sesuai jumlah pesanan. Setelah itu, ia meraih gulungan selotip untuk merekatkan bagian atas kardus agar paket aman selama perjalanan.
"Yang ini pesanan dari Bandung, Ra. Jangan sampai tertukar sama yang buat Sumedang,” ujar Tantya sambil memeriksa catatan pesanan di ponselnya.
"Iya, Mbak. Yang Bandung sudah aku pisahin. Tinggal dua paket lagi yang belum selesai,” jawab Tara yang juga sibuk menyiapkan pesanan lainnya.
Keduanya bekerja dengan serius. Mereka berusaha menyelesaikan semua paket hari itu agar bisa segera diserahkan kepada kurir. Tantya bahkan tidak sempat memikirkan hal lain karena jumlah pesanan yang harus disiapkan cukup banyak.
Namun, suasana tenang itu mendadak pecah ketika Rendra muncul di ambang pintu. Tanpa mengetuk pintu, tanpa menyapa ibu mertuanya, dan tanpa memedulikan sopan santun, ia langsung melangkah masuk dengan wajah penuh amarah.
"TANTYA!”
Bentakannya yang keras membuat Tantya seketika menghentikan pekerjaannya. Tara pun menoleh, terkejut melihat kedatangan kakak iparnya yang tiba-tiba.
Rendra menatap Tantya tajam. Napasnya terdengar berat, seolah seluruh kekesalan yang dipendamnya selama perjalanan hendak ditumpahkan saat itu juga.
"Kamu sebenarnya maunya apa, hah?!” bentaknya. "Ditelepon berkali-kali nggak diangkat! Kamu pikir aku ini siapa sampai telepon suamimu sendiri saja nggak mau kamu jawab?!”
Tantya tersentak mendengar bentakan suaminya. Sebungkus keripik yang sejak tadi dipegangnya hampir terlepas karena ia begitu terkejut. Perempuan itu segera menoleh ke arah Rendra yang berdiri dengan wajah merah padam. Ia sungguh tidak menyangka suaminya akan menyusul ke rumah ibunya. Apalagi, Rendra datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu dan langsung meluapkan kemarahan di hadapan semua orang.
"Mas Rendra?” ucap Tantya spontan. Dahinya berkerut, masih berusaha mencerna kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
Di sampingnya, Tara menghentikan aktivitas mengemas pesanan. Adik laki-laki Tantya itu menatap Rendra dengan wajah tidak senang. Namun, ia memilih diam untuk sementara, menunggu apa yang sebenarnya ingin disampaikan kakak iparnya.
Sementara itu, ibu Tantya yang berada di ruangan yang sama ikut terlonjak. Ia bahkan sempat meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja dengan tergesa-gesa. Matanya membesar, menatap menantunya dengan perasaan campur aduk antara terkejut dan kecewa.
Selama ini, ia memang mengetahui rumah tangga putrinya tidak selalu berjalan mulus. Namun, melihat sendiri bagaimana Rendra membentak Tantya dengan begitu kasar membuat hatinya terasa panas.
"Nak Rendra, kamu itu kenapa?” tegur ibu Tantya, berusaha menahan emosinya. “Kok datang-datang langsung membentak istrimu begitu? Memangnya Tantya melakukan kesalahan apa sampai kamu memperlakukannya seperti itu?”
Rendra melirik ibu mertuanya sekilas, tetapi wajahnya tetap menunjukkan kemarahan. Sementara itu, Tantya hanya terdiam, menunggu apa lagi yang akan dikatakan suaminya.